Baca Karya FiksiCerpen

Cerpen – The Bitter Commandier – Nining Winarsih

The Bitter Commandier
karya Nining Winarsih

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

“Patah hati adalah pekerjaan orang lemah, dan aku tidak mau berlemah-lemah terhadap diriku apalagi perasaaanku.” Sherly, 2019

Cuplikan video ini kulihat dari story salah seorang temanku di media sosialnya. Sontak ini mengingatkan pada kisah masa lalu yang enggan kuingat lagi. Ya, kisah memilukan yang membuat hati utuhku menjadi terhantam badai dan membuatnya berkeping-keping.

Kisah ini dimulai dengan background alam semesta. Perjalanan menuju Gunung Semeru adalah awal pertemuan kami. Di jalan setapak itu terdengar derap-derap langkah para pecandu alam yang menamai dirinya Marabunta, komunitas mahasiswa pecinta alam sebuah kampus ternama di sudut kotaku. Marabunta sendiri diambil dari nama semut yang kuat dan tahan di segala kondisi. Komandan Pait, begitu kami mengenalnya. Nama lapang yang cukup unik bagi kami para pecinta alam.

“Dingin Komandan,” ujar salah seorang anggota diklat. Sambil tersenyum sinis dia berkata: dingin itu bohong! di sini kita belajar mencintai alam, di sini kita diajar berbakti pada alam. Bertahanlah dengan segala kondisi bahkan itu terburuk sekalipun, tambahnya.

Tubuh tegap dan sikapnya yang humble menarik perhatianku. Serasa terhipnotis dengan sosok di hadapanku. Aku tak berhenti menatap. Capai? Pertanyaan itu membuyarkan lamunanku. Asih, dia temanku yang cantik namun agak tomboi. Sikapnya yang ramah dan penyabar membuat kami menjadi sahabat dalam waktu yang lama. “Ah, enggak,” ujarku dengan sikap salah tingkah.

Kami melanjutkan perjalanan menyusuri perbukitan dan menuruni lembah memanjakan mata dengan menikmati lukisan alam semesta ciptaan Ilahi. Tak ada polusi di sana, tak ada jabatan dan pangkat yang biasa kami pamerkan di lingkungan kantor. Gelak tawa riuh candaan mewarnai perjalanan kami. Bau tanah basah dan pepohonan yang lebat serta langit biru menjadikan tenteram di sanubari.

Estetika yang eksotis memuncak ketika kami sampai di hamparan danau luas bernama Ranu Kumbolo. Danaunya para dewata. Konon di danau ini di Ranu Kumbolo konon terdapat ikan mas yang tidak diketahui asal usulnya. Ikan Mas itu oleh masyarakat sekitar disebut sebagai jelmaan para dayang dewi penunggu Danau Ranu Kumbolo. Berbagai cerita mistis banyak beredar tentang danau ini. Namun apa pun itu keindahannya tak mampu mengalahkan keseraman kisah di baliknya hingga tak elak bila di setiap malam minggu dan hari libur daratan sekitarnya bak pasar malam yang tak sepi pengunjung.

***

Pagi ini ….

Sejenak, otakku berseluncur menembus masa lalu. Aku menelaah dan menelusuri memori tentang pendakian Semeru 3 tahun silam, ketika diriku yang sama sekali tidak peduli dengan hal-hal berbau asmara sejak 6 tahun patah hati dan luka mulai merasakan kembali cinta.

Aku melalui 5 hari yang berharga dalam hidupku. Bagaimana aku mulai mencintai apa yang dulunya kubenci, bagaimana aku mempelajari caranya mencintai alam dan seisinya, bagaimana aku dibina untuk tidak mengeluh dalam segala keadaan. Aku mengenal solidaritas yang tanpa batas, aku mendapat banyak teman yang sudah menjadi saudara dari berbagai pulau, dan aku mendapati dirinya.

“Kau butuh bantuan?”

Itulah kali kedua aku mendengar suaranya. Ketika aku tidak bisa melintasi sungai karena kakiku kram, sementara aku harus mengejar ketertinggalanku. Sepatuku sudah penuh dengan lumpur dan aku tidak bisa melangkah, aku pun berjalan dengan terseok-seok sambil menahan sakit di kakiku.

Ia datang kepadaku ketika aku tersandung batu dan terjatuh, mengakibatkan luka baru di lututku. Aku menoleh ke arahnya, dan terpana. “Mm, kurasa aku tidak apa-apa,” ujarku bohong. Entah kenapa aku ingin terlihat kuat di hadapannya.

Ia duduk di depanku dan memeriksa kakiku. “Kakimu kram, ya? Dan lututmu terluka.” Aku meringis ketika ia menempelkan es batu yang entah didapat dari mana ke kakiku yang membengkak. Sementara ia yang tidak kukenal ini mengobatiku, aku mengamati wajahnya lamat-lamat.

Rambut yang basah karena terkena hujan, terlihat membingkai wajahnya yang persegi. Kulitnya putih sekali, bersih tanpa jerawat. Matanya berwarna cokelat hazel, membuatku menyangka ia mempunyai buyut seorang Eropa.

“Masih sakit dibuat jalan?” tanyanya ketika ia selesai mengobati kakiku. Aku memaksakan diri untuk berdiri, dan ternyata rasa sakitnya memang berkurang.

“Kau tertinggal gara-gara aku,” ujarku merasa bersalah.

***

“Pahit?”

Sosok yang kupanggil menoleh. “Sedang apa kamu malam-malam begini?” tanyanya ketika menyadari sosok yang memanggilnya adalah aku.

Aku menghampirinya, memandang ke arah nyala api unggun itu. “Aku mencari kehangatan,” jawabku dramatis.

Ia menggeser duduknya, mempersilakanku untuk duduk di batang pohon besar yang telah tumbang itu, di sisinya. Aku mencondongkan badanku ke arah sumber kehangatan itu, menggosokkan kedua tanganku lalu menempelkannya di pipi.

“Kau suka api, ya?” tanyanya, membuyarkan konsentrasiku pada api itu. Satu hal yang dulunya tidak kusadari, kini terungkap. “Iya, ya … ternyata aku suka api,” jawabku.

“Api itu, ketika kecil membawa kedamaian. Jika terlalu besar, ia membawa celaka,” ujarnya berfilosofi.

“Sama seperti cinta. Jika terlalu cinta, malah membawa rasa sakit. Rindu yang berkepanjangan. Depresi akut, dan rasa hampa yang kekal.” Aku tidak tahu telah mendapatkan kekuatan dari mana, hingga bisa berkata-kata se’mahal’ itu.

Ia menoleh ke arahku dan tersenyum, lalu bertanya menggoda. “Ciee … lagi jatuh cinta ya?”

Wajahku memerah, entah karena hangat yang menerpaku atau gara-gara ucapan  barusan. “Aku tidak tahu apa itu cinta.”

“Mungkin aku bisa mengajarkannya padamu,” ujarnya, membuat wajahku semakin memerah.

Sejak malam itu kami selalu bersama dan tepat 2 Oktober tahun itu kami resmi menjadi sepasang kekasih. Hari-hari indah nan penuh warna kami lalui. Aku sangat bergantung padanya, bahkan bernapas pun tak mampu tanpanya.

***

Malam itu .…

Malam tragedi di mana aku dan dia harus berpisah. Watak kerasku membuatnya hilang kesabaran. Kekasih tersabarku yang tahan dengan segala kerewelan dan manjaku. Yap, aku kehilangannya malam itu. Semenjak pertengkaran sore itu aku melontarkan kata “putus” untuk kesekian kalinya dan dia menerimanya. Aku mempermainkan hati tulusnya dengan kata itu. Aku lupa dia begitu dikagumi wanita sementara aku menyia-nyiakannya.

“Kamu buang aku masih banyak yang mau sama aku. Aku akan tunjukin itu sama kamu,” ujarnya sambil berkaca-kaca.

Perpisahan kami diiringi tangis pilu dan air mata berdera tanpa henti dari pipiku. “Jangan lupakan aku ya,” pungkasku melepas peluknya.

Setelahnya kami memilih jalan masing- masing ….

Berhari-hari yang ada di otakku hanyalah ingin mati, tak tahu bagaimana harus melanjutkan hidup.
Ini terjadi hingga 2 minggu aku tidak makan dan hanya berpikir untuk mati. Sampai tiba saatnya aku sakit dan harus dirawat. Kulihat wajah tua ibu bapakku. Saudara-saudara dan sahabatku yang mengunjungiku. Apa yang kupikirkan? Aku ingin menukar nyawaku demi dia yang telah meninggalkanku. Ia membuktikan bahwa ia bisa mendapat wanita lebih baik dari aku. Lantas aku hanya merana tanpa arah dan tujuan hidup.

Sakit memang, tapi bertahan dalam segala keadaan itu harus. “Ingatlah Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik lagi, bersabarlah,” ujar ibuku sambil membelai rambut panjangku. Ibuuu …. kata pertama yang terlontar dari mulutku setelah sekian minggu aku mogok bicara dan makan.
“Ingatlah di saat semua orang meninggalkanmu, ibumu adalah orang yang tidak akan pernah meninggalkanmu,” lanjut ibu. Nasihat yang menenteramkan hati sementara aku hanya memikirkan diri sendiri.

Keadaanku mulai pulih tapi setiap ingat dia aku kritis dan menjadi gila. Tapi tidak ada yang bisa diperbuat keluargaku selain juga menangis menyaksikan aku histeris. Kasihanilah ayah, kasihanilah ibu … ucap mereka.

Kucoba menguatkan hatiku menatanya dan memaksanya menerima takdir, lagu manusia kuat dari tulus selalu kuperdengarkan di telingaku. Aku bisa aku pasti melewati masa kritis ini. Kisah ini sudah berlangsung setahun lalu. Tapi aku belum mampu membuka hati untuk orang baru. Aku tak jelek kata teman-temanku. Tapi aku terlalu takut untuk memulai kembali.

Beberapa waktu lalu aku melihatnya dari jauh dia sudah berbahagia dengan wanitanya. Dalam hati aku bergumam “Dulu, rumah itu menjadi tempatku pulang dan istirahat. Tempat itu menjadi sumber perlindungan, kenyamanan, dan rasa bahagia. Kini rumah itu sudah retak bahkan luluh lantak tapi kini itu menjadi sumber kekecewaan, kemarahan, dan air mata. Aku menjadi gelandangan di sana” ujarku dalam hati.

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *