Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Terima kasih atas kesabaran #TemanTulisme peserta Lomba Menulis Puisi Tingkat Nasional Ke-7 dari Tulis.me sehingga juri dapat membaca seluruh karya puisi teman-teman dengan baik dan memutuskan puisi yang terbaik. Sebelum mengumumkan nama-nama pemenang, mari terlebih dahulu simak catatan juri berikut ya.
Catatan Juri
I
Bahasa adalah salah satu anugerah terbesar yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Hanya dengan bahasa pulalah manusia mampu mengaktualisasikan apa yang ada dalam alam pikirannya. Tanpa bahasa, manusia hanya akan hidup dalam alam ide yang abstrak. Untuk mewujudkan gambaran ide yang ada dalam pikirannya itulah manusia menggunakan bahasa sebagai media. Bahasa bisa berwujud dalam berbagai hal, lisan, tulisan, simbol, dan lain-lain.
Puisi adalah salah satu wujud konkret dari bahasa. Dalam konteks ini, manusia menggunakan bahasa untuk mengekspresikan momen-momen puitik dalam kehidupannya dengan wujud berupa puisi. Namun, puisi memiliki bahasa yang cenderung khas. Alih-alih hadir sebagai sesuatu yang lugas dan spontan, puisi cenderung bermain-main dalam menggunakan bahasa, seringkali konotatif bahkan bisa keluar dari dari kecenderungan umum. Ia hadir sebagai sesuatu yang “menjungkirbalikkan” bahasa tetapi tetap indah. Puisi juga hadir tak sekadar sebagai ekspresi bahasa atau ekspresi ide belaka. Ia lebih jauh dari itu. Ada estetika di sana, kedalaman kontemplasi, serta keluasan dan kekuatan dalam memahami realitas.
Oleh sebab itulah, puisi yang baik tak sekadar rangkaian kata-kata indah. Puisi yang baik juga tak sekadar narasi yang kompleks mengenai kehidupan atau sekadar ungkapan kedalaman spiritual. Puisi yang baik adalah puisi yang utuh sekaligus penuh, yang di dalamnya terkandung keindahan bahasa, daya khayal (imajinasi), penghayatan dan keluasan dalam memahami kehidupan. Karena itulah, hingga saat ini, puisi menjadi sebuah hal yang “sakral”. Ia terasa dekat tapi sekaligus sulit dijangkau. Setiap orang barangkali berusaha menulis puisi tapi tak selamanya hasil karyanya bisa dikatakan sebagai sebuah puisi yang baik. Puisi yang baik adalah yang lahir dari sebuah proses yang begitu panjang. Puisi yang baik selayaknya sebuah karya yang pada akhirnya memiliki makna dalam kehidupan, tak hanya bersifat personal, tapi bisa juga menjadi sesuatu yang universal.
Puisi-puisi yang diikutsertakan dalam lomba ini memiliki berbagai macam tema, dari yang sederhana hingga yang kompleks. Demikian juga dengan ragam gaya penulisan, termasuk penggunaan gaya bahasa maupun pemilihan diksi. Semua peserta saya kira telah sangat berusaha dan saling berlomba untuk menciptakan sebuah karya yang bagus. Tak mudah menentukan mana karya yang layak untuk disebut sebagai sebuah puisi yang baik apalagi puisi yang layak menjadi pemenang sebuah ajang perlombaan. Puisi yang terpilih kemudian adalah puisi yang menurut hemat saya sudah mampu mendekati hal-hal selayaknya ada dalam puisi seperti apa yang saya katakan di atas.
Saya bersyukur banyak anak muda yang tertarik untuk menulis puisi dan tak lelah untuk terus memaknai kehidupannya. Segala hal bisa ditulis menjadi puisi. Kita hanya perlu sedikit bersusah payah untuk mengenal, apa itu puisi. Demikian.
Fitriawan Nur Indrianto
Lulusan program studi Pascasarjana Ilmu Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Aktif dalam kegiatan literasi baik sebagai pengelola ruang sastra dan budaya maupun sebagai penulis. Seringkali diminta untuk menjadi juri ajang perlombaan penulisan puisi. Saat ini menjadi redaktur puisi di situs kibul.in. Karya-karya tulisnya khususnya puisi termuat di dalam surat kabar baik cetak maupun online, juga berbagai buku antologi bersama. Beberapa karyanya juga termuat dalam buku antologi Angin Apa Ini Dinginnya Melebihi Rindu bersama Ramayda Akmal dan Asef Saeful Anwar. Buku puisi tunggalnya berjudul Monte Carlo dan Satu Babak Kisah Cinta.
II
Dari seluruh karya yang kami terima, umumnya tak banyak yang lepas dari kecenderungan penulisan yang menunjukkan kepasrahan. Pasrah terhadap alam, kesemena-menaan, takdir, tuhan, cinta, bahkan makna dan bahasa. Tak banyak yang bersedia keluar; bermain dengan bentuk bahkan arti dan kiasan. Hal ini menyebabkan mayoritas puisi bersifat afirmatif terhadap dunia dan seisinya dengan cara yang cenderung sama. Kecenderungan ini minim tampak pada 100 puisi terpilih. Sebaliknya, puisi-puisi terpilih memberikan perlawanan yang menggairahkan, lugas, dan juga tersusun rapi secara bentuk maupun isi. Selain menunjukkan potensi, puisi-puisi terpilih juga menunjukkan kekayaan pengalaman observasi, kontemplasi, dan penulisan sehingga saya yakin tak ada yang terlambat untuk disadari maupun diasah. Antusiasme yang tinggi dari peserta menunjukkan bahwa semangat literasi yang ada perlu dikembangkan dan saya tak heran jika tahun-tahun mendatang teman-teman sekalian mampu belajar dari kegiatan ini.
Bagi saya, menulis dan membaca puisi adalah proses menemukan yang tidak henti-henti. Sekarang bisa jadi teman-teman masih melalui jalan curam dalam berliterasi. Namun, semangat untuk menemukan pembaca yang menggenapi karya teman-teman akan selalu menjadi pemandu, motivasi, maupun tantangan yang perlu juga dijalani. Untuk itu, saya mendorong teman-teman untuk berusaha, jatuh cinta, patah hati, bersedih, terjatuh, melompat, dan lain sebagainya; setidaknya dalam puisi. Dalam segelintir kebebasan yang kita alami di muka bumi, saya ingin teman-teman berani berekspresi, berkreasi, dan menanyakan serta menggugat apa saja sebab terlalu banyak yang tidak kita pahami dan lewat puisi kita bisa menjawab apa saja. Mari kita bersiap dengan pertanyaan-pertanyaan.
Innezdhe Ayang Marhaeni
Lulusan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Saat ini sedang menempuh pendidikan program studi Pascasarjana Ilmu Sastra di kampus yang sama. Karyanya terkumpul dalam buku Berlian dari Perempuan Belian (Javakarsa, 2015), Kosmonot (Oksana, 2016), dan Tuhan dari Hal-Hal Bisu (Gambang Buku Budaya & Pusat Studi Kebudayaan UGM, 2017).
Berikut judul puisi dan nama pemenang. Selamat kepada pemenang yang telah menghasilkan puisi yang terbaik. Untuk peserta yang belum lolos 100 besar, teruslah menulis. Tidak ada keberhasilan yang diraih dengan instan. Demikian pula dengan peserta yang lolos 100 besar, ini adalah awal yang baik untuk terus meningkatkan potensi dan bakatmu. Tetap berjuang dan berdoa hingga kamu bisa meraih apa yang diinginkan.

- Caravansary oleh Eko Setyawan
- Syair Kecil untuk K. H. R. As’ad Syamsul Arifin oleh Ita Puspita Sari
- Entar Lalabat oleh Siti Ramlah
- Puisi dari Polandia oleh Stanislaus Flaviflorius Joshua
- Berdialog dengan Kaca oleh Rizaldi Noverisman
- Dadamu Sebidang Kebun oleh Chandra Wulan
- Senja Winaya oleh Jumiati
- Bola di Balik Jendela oleh Elis Nur Vita Sari
- Menguap di Kebun Sendiri oleh Audy Ramadhani Sekar Syahesti
- Semadi Tentang Tuhan oleh Sarita Rahel Diang Kameluh
- Halte oleh Ahmad Fauzi Rahmatullah
- Aswatama oleh Y. Agusta Akhir
- Perjalanan Menuju Rumah Tubuhmu oleh Robertus Bellarminus Onul Unggas
- Ayah yang Membisikkan Anaknya oleh Ricky Dwiyulianto Putra
- Batari Kamaratih oleh Ayu Aprilia Putri
- Doa Bayi Tua oleh Fahmi Ghifari
- Memorabilia oleh Mitha Fetrianti
- Gadis Kecil dan Kakek Pohon oleh Ricky Dwiyulianto Putra
- Sarazvana oleh Muhammad Daffa
- Nahkoda Ranum oleh Sugma Shalas Purwanti
- Epigram Tuhan oleh Shoca Badar Bayanillah
- Berbahagialah Kamu yang Bertobat dan Selamat oleh Gregorius Gerry Santiano
- Semesta Dapur yang Mengamanatkan Kisah tentang Ibu oleh Richardus Bahan
- Lebih Sendiri oleh Jumiati
- Memoar Patriark di Batavia oleh Muhammad Aidhul Bakri
- Takziah Bunga-Bunga Luka oleh Muhammad Daffa
- Alam Nafs oleh Fadzul Haka
- Tromso dan Dimensi Cedera oleh Silvia Agustina
- Saat Itu, Sebelas September Sebelas oleh Bagas Wira Paksi
- Makan Malam oleh Intan Maharani
- Letih oleh Lastri Juli Siagian
- Senandika oleh Rani Hijrianti
- Perempuan yang Memeluk Malam oleh Abdullah Zamasari
- Perkuliahan oleh Beni Irawan
- Tobaku Kini oleh Bayu Pratiwi
- Perihal Puisi oleh Venushara
- Kereta Menuju Bandara oleh Yosi Oktasari
- Wantahan Dalang Muda oleh Wahyu Wulandari
- Aku dan Cucian oleh Eka Wahyu Prasetya
- Aku Mencintaimu Lebih dari Buku-Buku oleh Chandra Wulan
- Sumarah oleh Brada Reinaldus Sidabutar
- Zenith dan Nadir oleh Desi Winarti
- Pecahan Guci oleh Farina Afari
- Catatan Kaki oleh Siti Hodijah
- Kamar Redup dan Lingkar Mata oleh Fariza Rizky Ananda
- Seribu Satu Malam Berbintang oleh Gusti Nita Amalia
- Durja oleh Megawati
- Surat untuk Kekasihku: Suti oleh Bagus Nur Aldiawan
- Perjalanan Mimpi Penyair Risen oleh Muhammad Daffa
- Kelekatu oleh Muhammad Zukhruf Firdaus Hanindra
- Seruah Abang Kurir oleh Ayu Aprilia Putri
- Bayangnya dan Aku oleh Betti Xu
- Lupa oleh Bara Bhiswara
- Kapal oleh Chandra Wulan
- Elegi Berkala oleh Salamandara Prila Aulin
- Dendang Temberang oleh Desi Afita
- Mata Berhujan oleh Halimah Mardhyah
- Fragmen Frasa oleh Sylvia Wanda Ekawati
- Labuhan Bahtera Panggung oleh Abda Ilah Farizal Khan
- Balada Pribumi oleh Fahmi Ghifari
- Kabar Angin oleh Dwi Puji Estriana
- Pemburuan oleh Athiyyah Dzakirah
- Gadis Macau Bergincu oleh Yose S. Beal
- Si Redam dalam Tempurung oleh Tiara Khapsari Puspa Negara
- Yang Dikatakan Secangkir Teh oleh Ade Novia Ashari
- Kuringkit oleh Dena Ariefah
- Asmaradana oleh Eka Prismawati
- Sudarmi oleh Yanti Puspita
- Kisah Karam Ditenggelamkan Dongeng Putri oleh Fayza Syadjida Mahmudi
- Mar oleh Elang Maulana Naufal
- Kemungkinan oleh Dita Nur Rizkiani
- Di Bawah Payung Itu oleh Dita Nur Rizkiani
- Midahku oleh Fiona Wiputri
- Gurat Hasrat oleh Zakka Tafwidh Mubarok
- Dongeng Cinta di Musim Dingin: yang Semati oleh Jumiati
- Puncak Ahuawali oleh Laode Muhaimin
- Aku Hanya Sering Lupa oleh Yanti Puspita
- Catatan Kontroversial Sebuah Rencana oleh Ajeng Sri Retno
- Rahasia yang Bukan Rahasia oleh Intan Maharani
- Petualangan Air Mata oleh Deprits Mangune
- Ambisi Skeptis oleh Dzikrina Istighfar Zahrani
- Kompulsif oleh Dita Satiti Purbaningrum
- Mendekap Kenangan oleh Istianingsih Ujilestari
- Titik oleh Anzal Rachman Fathoni
- Galat oleh Fitri Nur Asih Wijayanti
- Sendiri oleh Arvie Anugerah Putri Nasution
- Musimku, Diba oleh Wahid Hidayaturrohman
- Hampa Tak Kunjung Sudah oleh Heru Kurniawan
- Langit Biru Merindu oleh Imam Fajri
- Bumi Rantau oleh Imroatul Azizah
- Telah Usai oleh Siti Rofiqoh
- Sejarah Kenangan oleh Indah Ervania Uniser
- Setetes Hujan di Atas Buku Lamaku oleh Ita Arianti
- Legenda Sebuah Bangsa oleh Yudi Harmeka
- Paras Perempuan Jawa oleh Farda Raytha
- Tuhan Atas Garis oleh Yosika Greace Viollita
- Lara Bumiputera di Batas Negara oleh Hadistya Nazwa
- Sepasang oleh Trimal Jummarta Erlan
- Berita, Pak Juri oleh Elang Maulana Naufal
- Kepada Bapak yang Terhormat oleh Yullin Lololuan
Fasilitas untuk semua peserta berupa 2 e-book, e-sertifikat, dan e-calendar akan dikirimkan ke e-mail teman-teman secara bertahap maksimal satu minggu dari sekarang. Harap sabar menunggu ya. Jika sampai seminggu belum ada, baik di kotak masuk/inbox maupun folder spam, silakan hubungi kami melalui chat Whatsapp 085883608022.
Untuk pemenang akan kami hubungi untuk penyerahan hadiahnya. Peserta peringkat 31-50 yang berhak mengikuti Kelas Menulis akan kami masukkan ke dalam grup Whatsapp, sehingga jika nomor telepon yang kamu tulis saat pendaftaran dulu tidak terdaftar di Whatsapp, silakan hubungi kami untuk penggantian nomor telepon.
Karya pemenang dapat dibaca di https://www.tulis.me/tag/pemenang-lomba-menulis-ke-7/. #TemanTulisme bisa mempelajari puisi mereka ya.
Akhir kata, semoga Lomba Menulis Puisi ini dapat memberikan manfaat bagi teman-teman.
Salam literasi,
Tulis.me

6 pemikiran pada “Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Puisi Tingkat Nasional Ke-7 Tulis.me”
Puisi saya belum masuk 100 puisi terbaik.. tapi saya masih tetap semangat.. ?. Mudah -mudahan di lain kesempatan masih dapat berpartisipasi..
Terima kasih atas semuanya. Walaupun saya belum dapat memenangkan lomba ini, setidaknya ini akan menjadi pengalaman yang mengesankan bagi saya.
Buat pangalaman saya , harus semangat lain waktu pasti ikut berpartisipasi lagi . Dan saya baru pertama kali itu membuat puisi ?
selamat yah buat pemenang, dan yang blum menang harus belajar lagi..
Saya sangat tertarik dengan lomba ini
Selamat untuk semua pemenang dan semoga hasil karya nya bisa menjadi motivasi untuk saya pemula agar terus berkarya