Cerpen – Usai Bersama Surutnya Fajar – Rosiyana Muflikhatul Azizah

Usai Bersama Surutnya Fajar
karya Rosiyana Muflikhatul Azizah

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Sinar mentari masih asyik bersembunyi di balik bumi. Menyinari sebagian kulit bumi di bagian sana. Hanya semburat fajar yang mulai berpendar. Sinar emas yang benar-benar membuai.

Pagi ini aku masih menikmati secangkir teh hangat dan biskuit susu yang terasa nikmat. Apalagi kunikmati dengan ditemani sosok tampan di sebelahku. Teh hangat, biskuit, sinar fajar, dan dia, adalah kombinasi paling sempurna di dunia ini.

“Tamara, lihatlah sinar fajar itu.” Liam, pria teristimewa di hidupku menginterupsiku.

“Ada apa?”

“Lihatlah,” perintahnya tak ingin dibantah. Langsung saja kutatap fajar itu, lalu dia melanjutkan ucapannya, “Fajar itu indah. Muncul di penghujung gelap. Dia juga enggak serakah. Kalau udah waktu siang, dia mempersilakan mentari untuk menyinari hari-hari kita.”

Aku hanya tersenyum simpul. Fajar memang indah, dan dia adalah sinar yang entah kenapa paling kusuka. “Tapi Am, apa bedanya fajar sama senja? Bukankah senja juga akan mengalah pada rembulan jika malam tiba?”

Liam justru balik tersenyum, seolah telah memiliki jawaban yang tak bisa ditentang. “Bagiku, fajar adalah pertanda kebaikan. Sinarnya yang akan membawa kita menuju kecerahan. Itulah yang membuatku lebih menyukainya.”

“Begitukah?”

“Ya. Fajar juga adalah sesuatu yang perlu usaha untuk dinikmati. Seperti dirimu.”

“Menikmatiku maksudmu?”

“Bukankah sayang jika parasmu dibiarkan saja? Tapi Ra, bukan dengan begitu artinya aku mencintaimu karena parasmu yang kelewat elok itu, bukan. Aku tulus. Dan kebersamaan ini, kurasa sangat sulit untuk dinikmati.”

“Kenapa?”

“Jelaslah, Ra. Mencairkan kutub bukanlah hal yang mudah.”

“Jika itu persepsimu, aku hargai.”

“Itu memang realita dirimu, Tamara.”

Aku hanya bergumam mengiyakan, lalu berujar,”Dan kurasa, kamu adalah mentari yang fajar pertandakan untukku.”

“Pertanda baik?”

“Iyalah, Liam.”

“Yakin?”

“Yakin,” jawabku mantap. Untuk apa tak yakin? Tapi, gelagatnya sedikit aneh. Seperti ada hal yang ia sembunyikan.

“Seandainya kamu menyukai senja bagaimana?”

Nah kan, aneh banget. Kenapa juga nyambungnya ke sana? Tapi, apa pun itu, aku akan menjawabnya. Setulus mungkin. “Apa salahnya? Meski senja mengantarkan kita pada gelapnya dunia, tapi dia adalah satu-satunya jalan di mana kita bias menemukan sosok purnama hidup kita, yang membuat kita baik-baik saja. Dan purnama itu kamu.”

“Seandainya yang ada gerhana bagaimana? Apa tetap baik-baik saja?”

Aku sedikit aneh dengan pertanyaannya. Obrolan ini terasa asing. Seperti ada hal tersirat yang ingin dia katakan, namun tertahan. Entah apa, yang jelas firasatku berhalu pada hal-hal negatif karena pertanyaannya yang seolah menjurus bahwa dia bukan purnama, tapi gerhana.

“Gerhana memang enggak baik. Meski ia datang sekejap, namun merusak. Seperti mantanku dulu, yang datang menawarkan cinta dan pergi meninggalkan luka. Tapi, aku bersyukur, karena luka itu masih memiliki penawar, yang nggak lain adalah Liam Dharana.”

Aku menjawab demikian dengan tulus. Apa sekarang Liam mulai ragu dengan hubungan ini? Padahal, dia adalah pria satu-satunya yang mampu menaklukkan hatiku setelah Dirga membuatnya dingin tak tersentuh.

Dulu, saat aku masih kuliah, Dirga mengajakku berpacaran, dan jujur saja aku tak bisa menolaknya. Aku bahagia bersamanya. Ia terlalu tinggi menerbangkanku ke langit bahagia. Namun, dengan teganya ia menjatuhkanku. Mendorongku ke telaga duka yang penuh tangisan dan luka. Membuatku menjadi wanita dingin yang trauma akan hangatnya cinta.

Kemudian Liam datang. Ia kembali menawarkan ketulusan cinta yang menggiurkan. Mungkin awalnya saja, hatiku menolaknya. Namun lama kelamaan, hatiku meluluh bersama kehangatan cinta tulus yang Liam tawarkan. Andai bisa dilukiskan, ketulusannya tak seluas samudra, pun tak setinggi menara tertinggi di dunia ini. Ia benar-benar tulus mencintaiku. Tanpa balasan, tanpa pamrih, tanpa alasan, dan tanpa-tanpa yang lainnya.

Karena ketulusannya itulah aku meluluh. Hatiku tak bisa menolak cintanya.

“Terima kasih untuk semuanya, Tamara. Aku ingin selalu bersamamu,” ucapnya seolah tiada hari esok di mana kita masih bisa bersama.

“Kita masih bisa bersama, Liam.”

“Tapi, takdir Tuhan itu tidak bisa ditentang.”

“Ya, dan percayalah bahwa Tuhan telah menyiapkan takdir kita sebaik-baiknya,” balasku bermaksud menenangkannya. Sejujurnya aku pun cemas.

Liam memandangku. Hangat, lembut, dan sendu. Opsi terakhir itu membuatku cemas. Sepertinya Liam sedang ada masalah. Tapi, aku tak berniat untuk bertanya.

Percakapan kami selesai. Kami kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap-siap berangkat kerja.

Hari-hariku begini adanya. Tiada yang menarik. Hanya Liam yang membuat hidupku terasa berwarna dan berharga. Tanpanya mungkin hidupku sudah benar-benar hancur tak bermakna. Sekalipun kuakhiri, penyesalan tak mungkin menyapa. Namun, kehadiran Liam membuat persepsiku berbanding terbalik. Rasanya sesal yang teramat sangat akan menyesakkan hati jika aku sampai mengakhiri hidupku dulu, karena menyia-nyiakan Liam yang menjadi mentari dalam hidupku.

“Tamara,” sapa Ana, rekan kerjaku. “Ke kafetaria yuk,” ajaknya.

Kulirik arlojiku. Ini memang sudah masuk jam makan siang. Maka kuakhiri sejenak pekerjaanku dan aku mengiyakan ajakannya untuk ke kafetaria.

Sesampainya di tempat tujuan, Ana justru memesankan pesananku juga. Akhirnya aku menunggunya seraya memainkan ponsel karena kebetulan tadi juga ada satu pesan masuk.

Liam Dharana.

“Liam kirim pesan?” gumamku lalu buru-buru kubuka pesan darinya.

Siang, Tamara Herfiza. Jangan lupa makan siang ya, Ra. Aku sayang kamu, jangan buat aku khawatir. Sekarang aku ada namun bersama yang lain. Baik-baik Tamara. I love you.

Air mataku langsung mengalir begitu saja. Pesan Liam benar-benar tidak masuk akal. Jika dia berniat mengerjaiku, tak mungkin. Apa ini maksud dari hal tersirat yang ia sembunyikan pagi tadi?

Langsung saja kuhubungi dia, beruntungnya Liam langsung mengangkat.

“Halo, Liam, apa maksud pesanmu?”

“Itu ….” Liam terdengar seperti menghelas napasnya. Terdengar sangat berat seolah ada masalah besar yang membebaninya.

“Jawab Liam. Kamu bercanda, kan? Jawab iya, Am.”

“Maaf, Ra, itu nyata.”

“Kenapa, Am? Kenapa tiba-tiba?”

“Ini sudah lama kupikirkan. Maaf Tamara. I love you, baik-baik di sana.”

Setelah itu, Liam memutuskan panggilan sepihak. Percuma kata ‘I love you’-nya itu. Karena itu merujuk pada perpisahan. Dan apa katanya tadi? Sudah lama kupikirkan? Apa ini rencana piciknya untuk mendekatiku, menerbangkanku, lalu menjatuhkanku ke tepian terjal yang membuatku mati.

Padahal baru saja pagi tadi kami bercengkerama penuh cinta. Meski Liam sudah mengirimkan tanda-tanda perpisahan, tapi kupikir ini takkan terjadi. Kupikir Liam sedang kalut. Aku tak rela sebenarnya jika Liam pergi, tapi ini keputusannya yang tak bisa kuganggu.

Heran aku kepada Liam. Dia yang mendekatiku. Mencoba merobohkan tembok es yang mendindingiku diriku. Dan ketika ia berhasil mencairkannya dengan cinta yang entah nyata atau fatamorgana, ia justru meninggalkannya begitu saja.

Lalu apa bedanya dia dengan Dirga?

Sama-sama menanam bibit, menyiramnya dan tumbuh, tapi kembali membiarkannya tanpa mau memeliharanya? Hingga ia layu, rusak, dan mati dengan sendirinya.

Kisah ini telah usai bersama surutnya sang fajar. Tanpa penjelasan.

Biodata Penulis
Rosiyana Muflikhatul Azizah
, kelahiran 20 Desember 2002, siswa kelas 11 di SMA Takhassus Al-Quran Wonosobo.

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *