Baca Karya FiksiCerpen

Cerpen – (K)utang – Fakta Putra Buana

(K)utang
karya Fakta Putra Buana

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Seusai menunaikan shalat Isya, seorang istri sedang membujuk suaminya dengan gaya manja dan merajuk khas bocah yang sedang minta dibelikan balon kepada ibunya. Sang suami yang sedang melipat sarungnya, hanya mendengarkan dengan kepasrahan, sembari menghela napas berat. Hari ini sudah kesepuluh kalinya sang istri bertingkah seperti itu hanya demi sebuah keinginan.

“Mas, kamu enggak benar-benar lupa, kan, kalau minggu depan itu ulang tahun pernikahan kita yang ketujuhbelas? Aku mau Mas memberikan sesuatu yang spesial,” ujar sang istri yang bernama Wartini. Kerlingan mata dijadikan sihir yang dilemparkan pada sang suami dengan harap semoga hatinya luluh.

Sang suami yang diketahui bernama Mahmud, menyahut, “Sekarang aku nyerah. Daripada kamu enggak bisa tidur gara-gara yang kamu mau enggak kesampaian, coba katakan apa yang kamu mau?”

Wartini memberikan cengiran lebar dan dengan raut gembira, ia berkata, “Kutang 34B motif bunga mawar bertali tipis yang waktu itu kita lihat di tokonya Koh Tsu Long.”

“Haaah?!” balas Mahmud sambil menepuk jidat.

***

Mahmud masih ingat kala seminggu yang lalu Wartini enggan melepas pandangannya ke arah etalase toko pakaian milik Koh Tsu Long, pria paruh baya dari etnis campuran Betawi-Tionghoa dan sosok yang ulet dalam bekerja. Koh Tsu Long juga merupakan pemilik kontrakan terdahulu saat Mahmud masih berstatus bujangan, dan akhirnya hanya bertahan tiga tahun dan pindah ke kontrakan yang baru. Saat itu, Wartini seperti terhipnotis bahkan terpesona ketika memandangi sebuah alat pelindung buah dada yang model dan motifnya jarang ditemui di pasar-pasar lainnya, bahkan di kalangan tukang loak. Wartini begitu menginginkannya, namun kantung tak punya kuasa. Mahmud pun masih ingat saat langkah sepasang suami-istri itu sudah lumayan jauh, mata Wartini sesekali menoleh ke belakang, kembali tertumbuk di permukaan etalase yang begitu bening. Saat itu, bahkan hingga kini, pikiran Mahmud menjadi ruwet. Serba salah. Bayangan tentang wajah Wartini, kutang, dan dompet tipis nan kumal silih berganti menciptakan mendung di raut mukanya.

“Woi, bengong aja lu! Hidup sudah susah, Mud, kalau dibawa ngelamun terus-terusan, ya, pilihannya tinggal dua; mati bunuh diri atau jadi sinting,” tukas Bang Naim, salah satu teman seprofesi yakni penyapu jalanan. Usianya tiga tahun lebih tua dari Mahmud. Ia memang sosok yang usil, tak ada hal yang tak dikomentari oleh mulut cerewetnya.

“Sembarangan aja lu, Bang,” balas Mahmud sambil mendelik. Tarso, teman mereka yang lainnya ikut menimbrung setelah memesan kopi susu dan rokok filter dua batang. Lelaki yang satu ini selalu terlihat sebagai sosok yang gampang terombang-ambing. Penuh ambigu dan lemah pendirian. Dengar saja ucapannya,

“Benar, tuh, kata Bang Naim. Kamu jangan seperti ayam keselek karet. Ngomong saja, siapa tahu kita bisa bantu. Asal urusannya jangan yang macam begini…” Ibu jari dan telunjuk Tarso saling menggosok pelan di udara disertai alis yang mengernyit nakal. Bang Naim membalas dengan cekikikan.

“Justru itu yang jadi masalah gue sekarang.”

“Memangnya si Warti minta apa sama kamu? Anak, kulkas, cat rumah baru, atau motor?”

“Minta suami baru, kali! Yang lama sudah mulai jamuran, ubanan pula, hahahaha…,” timpal Bang Naim sembari tertawa geli. Mulut usilnya mulai menampakkan prospek cerah nan menyebalkan. Melihat itu Mahmud memilih tak mengacuhkannya, dengan sendirinya nanti Bang Naim berhenti usil lalu bergabung dengan pekerja lain yang asyik curi perhatian di warung Mak Mun. Anak gadisnyalah yang jadi sasaran empuk bagi para buaya bangkotan.

“Begini, So, istriku minta dibelikan kutang model terbaru yang dijual di tokonya Koh Tsu. Aku, sih, mau saja membelikannya, tapi coba kamu bayangkan. Untuk harga sepotong kutang, harganya benar-benar selangit. Seratus dua puluh ribu rupiah! Bayangkan! Kalau mau jujur, dengan uang segitu aku bisa beli delapan porsi nasi warteg atau mungkin dua puluh gelas kopi. Aku jadi bingung bagaimana mengatasi masalah ini. Kamu tahu sendiri, kan, kalau urusan duit itu sensitif. Pusing aku…”

Tarso kemudian mengeluarkan dompet kelabu miliknya dan mengeluarkan selembar lima puluh ribu. Sejenak ditatapinya kertas penyambung nyawa tersebut sebelum mengangsurkannya ke Mahmud. “Nih, terima dariku. Anggap saja aku ikut menyumbang sebagai bentuk solidaritas. Semoga istrimu senang.”

“Mesti kukembalikan kapan?”

“Terserah kamu. Aku enggak mau jadi lintah darat. Selain tambah dosa juga sudah banyak yang seperti itu di negeri ini.”

“Makasih banyak, ya, So.” Linangan bening mengaliri pipi Mahmud tanpa disadari. Sontak ia memeluk sobat seprofesinya yang berhati tulus. Sekembalinya dari warteg, Naim kaget melihat pemandangan ganjil di depannya.

“Masya Allah, yang benar aja kalian! Jangan bikin kiamat makin cepat datang, ya. Udah pada punya istri juga, masih doyan yang lain.” Pelukan persahabatan itu seketika terlepas dan meninggalkan guratan sebal di wajah Mahmud dan Tarso. Mereka segera meninggalkan kedai kopi dan kembali turun ke jalanan. Menyingkirkan berbagai jenis sampah bermodal sapu dan pengki demi sesuap nasi.

***

Hari gajian yang bersejarah bagi setiap pekerja, termasuk bagi Mahmud, belum juga datang. Sementara ulang tahun ketujuhbelas atas pernikahan Mahmud dan Wartini hanya menghitung hari. Uang yang akan digunakan untuk membelikan hadiah spesial pun otomatis belum genap terkumpul. Setelah menerima “sumbangan” dari Tarso, Mahmud segera menyimpan uangnya di lemari kayu kamar tidurnya, tepat di bawah tumpukan baju yang mulai rombeng dan penuh benang jahit di setiap sudutnya.

Setelah Tarso, sudah dua orang yang ikut memberi uang kepada Mahmud. Uang bagi kebahagiaan istrinya. Dua orang itu ialah Mak Mun, pemilik warteg yang jadi tongkrongan kawan-kawan seprofesinya, serta Wak Haji Basori, pemilik masjid yang didirikan di atas tanah wakaf dan terletak tak jauh dari rumah Mahmud. Mahmud akan terus mengingat jasa mereka, walau secara jujur uang yang diberikan tak mampu dikembalikan tepat waktu. Wajah mereka pun diliputi keikhlasan dan kerendahhatian ketika beberapa lembaran rupiah terulur untuk Mahmud.

“Dik, aku mau tahu, kenapa kamu mau kutang itu sebagai ulang tahun perkawinan kita?”

“Masa harus diberitahu, Mas? Aku malu. Itu … rahasia perempuan. Mas, kan, enggak perlu tahu, tho?”

“Sebagai suami, aku berhak tahu juga alasanmu, iya, kan?” Raut wajah Wartini pun bersemu merah. Entah kenapa ia mesti malu dengan suaminya. Padahal Wartini merasa bahwa suaminya itu sosok idaman dalam hidupnya. Meski perkawinan sudah berjalan cukup lama, hingga keduanya sama-sama harus merasakan kehilangan kedua orang tua dan sampai saat ini belum juga dikaruniai buah hati, suaminya tak pernah menangisi garis hidup. Garis kuasa Tuhan yang tak semua orang dengan tabah hati menerimanya.

“Sudah, katakan saja, Dik.”

“Mas tahu, kan, kalau dari SMA aku suka banget sama Sarah Azhari? Aku yakin dengan memakai kutang itu, aku jadi tambah seksi. Waktu kita jalan-jalan di mal minggu lalu itu, aku suka sama motif kutang yang dijual di toko Koh Tsu. Seksi, tipis, dan enggak bikin gerah apalagi sakit. Pokoknya pas sama ukuranku, deh, Mas. Tapi harganya itu yang susah kita jangkau…”

“Lalu kenapa kamu masih mau aku menghadiahkannya untukmu?”

“Karena aku yakin, Mas bisa membelikannya walau dengan utang sana-sini, berusaha menyimpan wajah malu pada siapa pun. Jangan salah paham dulu, ya, Mas. Bukan berarti aku menuntutmu untuk kerja lebih keras dari biasanya, tapi aku tahu Mas adalah sosok lelaki tangguh yang mau berkorban untukku, seperti Romeo dan Juliet yang pernah kubaca bukunya sewaktu SD. Jadi, aku mau Mas membuktikan pengorbanan itu sebagai bentuk kasih sayang paling tulus bagiku.”

Mendengar alasan itu, Mahmud hanya bisa menganga lebar dan matanya membeliak heran. Baru kali ini ia melihat sosok istrinya itu dihiasi kebijakan dalam lontaran katanya. Romantis pula. Ia pun secara tak langsung mengiyakan argumen Wartini bahwa figurnya begitu berharga dalam biduk asmaranya. Saat itu juga, ia meneguhkan tekad bahwa kutang idaman Wartini harus diraihnya. Ia harus mampu berkorban.

“Mas haus, kan? Aku buatkan kopi susu, ya?” Langkah Wartini membeku karena Mahmud mencekal tangannya. Mereka saling bertatapan. Mahmud pun berkata penuh keyakinan,

“Aku janji, kutang itu akan kubelikan untukmu.” Wartini hanya membalasnya dengan senyuman yang bagi Mahmud paling manis dari siapa pun, lesung pipitnya mulai membingkai raut bahagianya. Wartini segera kembali melangkah ke dapur, siap meracik kopi susu, namun yang tak disadarinya saat air panas itu dituang ke dalam gelas, sosok Mahmud sudah menghilang di balik pintu.

***

Seratus dua puluh ribu rupiah terkumpul sudah. Dengan keterpaksaan yang mengganggu pikiran, dan berusaha membuang ekspresi malu nan ragu, Mahmud mencoba mengambil hati beberapa orang yang akrab dengannya. Ia menggenapi simpanannya dengan mengunjungi tiga orang lagi—Retno, teman sekelasnya sewaktu SD yang kini tinggal di dekat terminal tempat Mahmud sering ngaso; Midun, tetangga satu kontrakan saat Mahmud masih berstatus lajang dan kini bekerja sebagai penyiar radio; serta Mas Budi, salah satu senior masa SMP yang pernah membuat usaha independen di bidang percetakan dengannya. Dari ketiga malaikat tanpa sayap inilah, kutang itu akhirnya terbeli.

“Koh, kutang yang waktu dipenginin sama istri saya masih ada, kan?”

“Ooohh, ada, ada. You tenang saja, oe masih banyak stok untuk jenis itu. Mau berapa biji?”

“Satu lah, Koh, saya, kan, enggak pake itu.”

“Pintar juga otak you, hehehe… Sebentar oe ambilkan.”  Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, hadiah spesial sudah berada di tangan Mahmud. Langkahnya melenggang mulus tapi cepat dan senyum lega menghiasi wajahnya, siap mempersembahkan rasa cintanya kepada Wartini di rumah. Sesampainya di rumah, dilihatnya Wartini sedang asyik berbincang dengan Nyonya Wika, tetangga yang tinggal sepuluh meter dari rumahnya. Sosok yang sok hedon dan cerewet yang tak pernah Mahmud sukai.

“Eeeh, Mas sudah pulang. Habis dari mana saja, kok baru pulang jam segini, Mas? Oh, ya, Mas, ini Bu Wika datang mau menawarkan dagangannya. Lihat, nih, Mas, dasternya bagus-bagus, kan? Sederhana tapi cantik. Bahan kain dan motifnya asli Yogya, Mas. Harganya juga terjangkau. Karena sekarang daster lagi disukai sama artis-artis terkenal, lho, Mas. Mau, ya? Mau, kan?”

Saat itu juga, gelap memenuhi pandangan Mahmud setelah menepuk jidat kesekian kalinya. Wartini pun masih belum menyadari kantung kubus yang sejak tadi digenggam erat suaminya.

Biodata Penulis
Fakta Putra Buana lahir pada 20 Februari 1997 di Jakarta. Saat ini berdomisili di Jatimakmur, Pondok Gede, dan berstatus mahasiswa di UHAMKA. Menulis cerpen merupakan salah satu hobinya, selain membaca dan mendengarkan musik. Mulai hobi menulis secara otodidak sejak kelas 2 SMP di atas kertas HVS. Pernah meraih juara 2 lomba cerpen tingkat nasional dari Universitas Siliwangi, mendapat peringkat 51 di ajang cerpen Tulis.me 6, dan peringkat 42 di ajang cerpen yang diadakan mediaprestasi. Penulis bisa dihubungi melalui faktaputra@gmail.com, dan @FaktaPutra97 (instagram).

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *