Baca Karya FiksiCerpen

Cerpen – Perihal Jarak dan Rindu – Shofaria Annajah Qodir

Perihal Jarak dan Rindu
karya Shofaria Annajah Qodir

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Semesta sangat baik padaku. Aku tidak memahami maksud semesta mengenalkanku padanya. Seorang pria, yang sudah benar-benar aku tunggu sejak lama. Seorang pria yang mampu mengatasi buruknya diriku. Seorang pria yang bisa membuat aku mabuk kepayang dibuatnya. Sungguh aku sudah terlampau jatuh pada pria yang bagiku begitu tampan, oh kalian boleh saja tertawa. Aku tidak peduli, aku sudah jatuh benar benar jatuh padanya. Aku tidak bisa mendengarkan siapa pun. Aku hanya mendengarkan detak jantungku yang kian cepat saat mendengar namanya.

Rolando. Ya, dia pria itu. Tiap malam, dia selalu hadir dalam mimpiku. Sebab jauhnya tak bisa kuraih bahkan untuk kupeluk. Rinduku tersalurkan via ponsel cerdasku. Lewat suaranya aku merinding dalam balutan rindu. Lewat fotonya aku menggigil ingin memeluknya dalam ikatan rindu. Sungguh sangat lama tak ada perjumpaan di antara kita. Sesekali aku mengirimkan salam lewat gemuruh hujan, aku harap dia merasakan dinginnya kisah cinta ini. Tak lupa pula pada angin aku menitipkan sebait puisi rindu, aku harap dia merasakan damainya cinta ini lewat embusan angin yang menerpa wajahnya.

Arianna. Sebut saja aku Anna. Gadis yang sedang terperangkap dalam kisah cinta yang telah jarak pisahkan. Aku bahagia, bersama Rolando aku belajar banyak tentang sebuah hubungan. Tentang kepercayaan, tentang kesabaran, tentang rasa ikhlas dan juga banyak lagi. Aku mencintai Rolando sangat dalam. Aku juga merindukannya begitu banyak. Aku tidak pernah meragukannya. Dia selalu menepati janjinya. Dia juga pandai menenangkanku saat aku lepas kendali dalam merindu. Aku malu, cintaku begitu menggebu-gebu padanya. Sampai dia kewalahan menghadapiku saat aku bersikap keras kepala ingin menemuinya.

***

Minggu pagi ini, ditemani secangkir kopi pahit aku menangis dalam diam. Air mata ini begitu saja turun tanpa bisa kucegah. Pertengkaran tadi malam masih terngiang jelas di telingaku. Pertengkaran yang sangat hebat, yang selama satu tahun ini baru kali ini terjadi. Aku tidak tahu, apa Rolando sedang lelah atau bosan denganku. Dia tidak pernah membentakku. Dia selalu menasihatiku dengan caranya yang halus. Dia tidak pernah mengumpat atau pun memojokkanku. Tapi semalam dia sepertinya, ah tidak, tidak. Kumohon jangan pernah bosan mencintaiku.

“Berengsek!”

“Anna please, cinta tidak melulu soal rindu. Kau paham?”

“Setop bertingkah seperti anak kecil.”

“Aku lelah dengan sikap egoismu.”

Menyingkirlah dari otakku. Kenapa kata-kata Rolando masih terngiang jelas. Kata-kata itu sangat menusuk jantungku. Rolando, kau kenapa? Aku mohon jangan lelah menghadapiku. Jangan bosan mendengar kata rindu dariku. Maaf, maafkan aku, juga maafkan cintaku. Aku terlampau banyak mencintaimu.

“Berhentilah menangis, Anna.”

Batinku terus berteriak mencoba menghentikan air mata ini. Namun gagal, jantungku serasa berhenti sedetik, hatiku seperti tertusuk jarum tak kasat mata, dadaku sesak. Sesak sekali. Bagaimana mungkin aku bisa menghentikan tangisku saat seluruh jiwaku tersakiti.

Rolando, kenapa kau melakukan ini padaku?

Aku memujamu begitu bangga. Tapi kau menghancurkannya dalam puluhan detik. Kata-katamu menyinggung cintaku. Kau tahu besarnya cintaku, bukan? Tapi kau masih saja menyalahkanku dalam perkara rindu. Bukankah sudah sangat lama tak ada pertemuan di antara kita. Lalu kenapa? Kenapa kau marah saat aku memintamu untuk menemuiku. Kau pergi di awal tahun, lalu kenapa aku tidak bisa memintamu pulang di akhir tahun ini. Di penghujung waktu ini, bukan hanya aku yang merindukanmu. Tapi juga ibuku, ibuku terus saja menanyakan padaku kapan kau kembali?

Kapan? Jawab aku!

Jika kau justru memarahiku, lantas jawaban apa yang harus aku berikan pada ibuku hemm?!

“Kau baik-baik saja, Anna?”

Aku tersentak, buru buru menghapus jejak air mataku. Sampai tanpa sengaja aku menjatuhkan secangkir kopi yang hanya tinggal separuh saja.

“Kau menangis?”

Aku menoleh ke sumber suara. Ibuku, yup ibuku menatapku dengan raut ibanya. Aku hanya membalasnya dengan gelengan kepala disertai senyum tipis sedikit terpaksa.

“Katakan pada ibu. Rolando menyakitimu?” tanyanya seraya duduk di sebelahku.

“Rolando tidak pernah menyakitiku, ibu,” jawabku. Entah aku sedang berbohong atau tidak. Jelasnya aku sedang tersakiti, baik dari diriku sendiri atau pun dari Rolando. Perasaanku sekarang abu-abu, tidak bisa aku jelaskan.

“Ibu percaya padamu. Rolando tidak pernah bisa menyakiti cintanya,” balas ibuku dengan senyuman di bibirnya.

Sesegera aku menoleh ke arah ibuku dengan satu alis terangkat. Seolah bertanya, kenapa ibuku bisa sepercaya itu pada Rolando. Oh ya, ibuku tidak tahu pertengkaranku dengan Rolando tadi malam jadi ia bisa mengatakannya dengan mudah.

“Anna. Cobalah mengerti.”

“Apa maksud ibu?”

“Maksudku, bersikaplah dewasa. Cinta adalah kepercayaan. Jangan hanya dengan satu kesalahan, kau melupakan segala hal baik darinya. Kau mempercayainya setengah mati maka kau tak memiliki hak untuk bertanya pada dirimu sendiri. Apakah dia telah menyakitimu atau tidak. Jelasnya kepercayaan itu tidak bisa ternoda hanya dengan satu kesalahan yang masih belum bisa kau pahami dengan jelas.”

“Ibu, aku ….”

“Menangislah, kecewa itu lumrah. Ibu mempercayai kalian berdua, segera berbaikan. Ibu ada urusan, Kau bisa jaga dirimu baik-baik, kan?”

“Ya, ya ten … tentu, ibu.”

Aku masih belum bisa percaya. Ibuku tahu jika aku sedang bertengkar? Oh gosh! Aku melupakan satu fakta bahwa Rolando sangat dekat dengan ibuku. Sudah dipastikan jika Rolando yang mengatakan segalanya.

***

Detik berlalu terlampau cepat, menit berlari terlampau jauh. Jarum jam kian berputar tanpa terpeleset sedikitpun. Siang berganti malam dengan tanpa memiliki jeda. Satu minggu telah berlalu sejak pertengkaranku dengan Rolando. Tak ada komunikasi di antara kami. Penghujung tahun kian dekat, rindu kian kuat, tapi gengsi dan egois makin melekat. Sesungguhnya di penghujung waktu ini tepatnya malam ini, malam pergantian tahun, aku ingin sekali merayakan kebahagiaan bersama Rolando.

Di pergantian tahun ini, aku juga ingin menjawab pertanyaan Rolando dua bulan lalu saat dia melamarku. Aku ingin menerimanya saat ini juga. Aku sudah berpikir jernih saat ibuku mengatakan tentang sebuah kepercayaan. Namun sampai saat ini, aku masih takut menghubungi Rolando. Takut kalau dia benar benar lelah denganku. Meski aku mempercayainya, aku juga sempat meragukannya. Maaf. Maaf. Aku selalu seperti ini, selalu tidak pernah bisa mengatakan sebenarnya perasaan takutku akan kehilanganmu. Aku lebih baik menunggu, menunggumu untuk kembali menghubungiku dan menarik segala ucapanmu.

Drrtttt dddrttt drrrtt ddrrttt

Ponselku bergetar, sebuah panggilan masuk. Tertera jelas nama Rolando di sana. Seketika aku tersenyum bahagia. Yang ditunggu akhirnya kembali menghubungiku. Dengan penuh harapan besar Aku segera menekan tombol hijau di layarku.

“Halo, Roland,” sapaku dengan sedikit bergetar. Entah mengapa perasaanku sangat campur aduk.

“Ya!”

Jawaban dari telepon seberang begitu singkat. Perasaan bahagiaku kian menciut mendengar tanggapan dari Rolando yang seolah acuh akan sapaanku. Kuat-kuat aku menahan air mata ini agar tidak jatuh dan menghasilkan suara serak.

“Ro … Roland ada apa?” Tanyaku takut takut.

“Ada apa! Kau bilang ada apa?”

“Apa maksudmu?”

“Maksudku, apa aku memiliki kesalahan yang sangat besar. Apa kepercayaanmu padaku sudah tidak berlaku lagi. Apa hanya dengan sedikit kemarahanku kemarin membuat cintamu melemah padaku. Apa aku sudah tidak memiliki arti lagi sampai sampai kau tidak menghubungiku. Kau justru menunggu aku menghubungimu. Kau tahu jelas, aku tidak pernah sanggup untuk melakukannya, aku selalu menghubungimu, Aku selalu melakukannya. Kali ini aku ingin kau yang melakukan itu padaku. Tapi harapanku hancur, satu minggu berlalu tapi sama sekali kau tidak menghubungiku. Aku sangat kecewa padamu juga pada besarnya cintaku. Anna”

“Roland, aku … aku … maa ….”

“Kemarin aku sedang lelah, aku tidak sengaja membentakmu. Dan baru kali ini bukan aku membentakmu. Tapi kau tidak bertanya kenapa aku melakukan itu. Aku juga memiliki rindu yang sama untukmu. Aku kelepasan saat itu. Aku menyesal melakukan itu Anna. Tapi sepertinya penyesalanku sia-sia. Saat kau memilih untuk diam dan mencoba meragukanku.”

“Roland, dengarkan aku. Itu semua salah. Aku tidak menghubungimu karena aku takut jika kau benar-benar marah padaku pada besarnya rinduku. ” Aku mencoba menjelaskan semuanya pada Rolando. Aku sampai bingung harus mengatakan apa. Ya Tuhan!

“Ya kau takut jika aku benar benar marah padamu. Itu artinya kepercayaanmu padaku sudah tak ada sisa. Aku lelah mengimbangi sikapmu Anna,” balas Rolando dari seberang sana.

Aku menggeleng-gelengkan kepala kuat. “Tidak Roland, jangan lelah padaku. Aku mohon.”

“Aku benar-benar lelah, Anna. Maafkan Aku. Aku butuh istirahat dari hubungan ini. Terima kasih atas segalanya atas segala rindumu padaku. Aku rasa hubungan ini harus diakhiri, saat meragukan satu sama lain tidak bisa dihindarkan. Maaf sekali lagi maaf.”

Tuut tuut tuuut

Aku menggelengkan kepala kuat. Sambungan telepon terputus tanpa seizinku. Air mata ini turun sangat deras. Dadaku sangat sakit. Sesak sekali ya tuhan.

“Jangan lakukan ini padaku Rolando, aku mohon please aku mohon!”

Aku kacau. Aku berteriak sekuatku. Aku tidak peduli hari sudah malam. Aku tidak peduli jika ibuku mendengar teriakanku. Saat ini yang Aku butuhkan hanya Rolando. Tidak yang lain.

“Roland maafkan Aku. Aku begitu egois.”

Arrrggghhh.

Kalut. Aku melempar semua yang ada di hadapanku sampai sampai kaca riasku terkena imbasnya akibat lemparan ponselku. Aku tidak peduli, Aku menangis kian keras. Aku terduduk lemas menyender ranjang milikku. Aku memeluk lututku dengan kuat. Aku memejamkan mataku berharap air mata ini berhenti. Namun tidak, semua sia sia. Di penghujung waktu ini, harapanku hancur. Keinginanku terhempas. Di penghujung waktu ini Aku lebur bersama kerinduan. Inilah akhir dari penghujung rinduku. Tersayat, terkoyak, hancur lebur tak bersisa.

Aku tersakiti. Aku yang egois. Aku terluka. Aku yang sempat meragukannya. Aku buruk sangat buruk. Aku merindukannya setiap malam tapi aku sempat tidak mempercayainya. Maaf. Aku yang salah. Maaf aku yang ke kanak-kanakan. Maaf. Aku kurang dewasa. Maaf. Aku selalu mengganggumu. Maaf maaf maaf sayang maaf.

“Jangan pergi. kembalilah Roland, aku minta maaf. Maafkan aku. Aku mencintaimu sangat dalam. Aku mencintaimu.”

Aku sesenggukan hebat, suaraku mendadak serak. Sangat menyakitkan. Aku tidak peduli siapa yang sudah memasuki kamarku. Aku hanya menginginkan Rolando. Itu saja, Aku tidak ingin yang lain. Aku … aku … aku ….

“Aku di sini sayang.”

Aku mengenal suaranya. Dengan cepat aku segera menoleh ke sumber suara. Suara yang sudah membuka pintu kamarku tanpa lebih dulu meminta izin dariku. Aku terbelalak kaget melihat siapa yang datang. Senyuman itu.

“Ro … Rolando.”

Surprise!  Happy anniversary, sweetheart.

Biodata Penulis
Shofaria Annajah Qodir
dilahirkan di kota mungil Tegal, 10 Maret 2000. Penikmat sastra sejak sajak-sajak indah terus berputar di dalam otak, sejak saat itulah aku menjadi pengabdi sastra, menjadikan sastra saksi bisu dalam setiap embus napas yang meliputi banyak sekali luka maupun bahagia. Akun IG @shofariabie.

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *