Baca Karya NonfiksiEsai

Esai – Belajar Seputar “Selangkangan” melalui Sastra – Galih Pangestu Jati

Belajar Seputar “Selangkangan” melalui Sastra
karya Galih Pangestu Jati
Juara 5 Lomba Menulis Esai Tulis.me

Baca tips belajar menulis dari penulis lain di menu Tips Belajar Menulis.

Baca esai tentang sastra dari penulis lain di menu Esai.

Di Indonesia, seksualitas merupakan hal yang dianggap tabu atau saru. Pembicaraannya dilakukan secara diam-diam di dalam ruang tertutup dan gelap, juga berbisik-bisik. Di sekolah-sekolah, pembicaraan mengenai seksualitas dalam kelas biologi disampaikan guru-guru dengan pipi merah. Para siswanya mempelajarinya sembari mengeluarkan kelakar-kelakar kecil. Sementara itu, di lingkungan keluarga, pembicaraan mengenai seksualitas sangatlah minim. Sangat jarang ditemui orang tua yang bersedia membicarakan seksualitas kepada anak-anaknya. Selain karena dianggap tabu, tidak adanya pembicaraan mengenai seksualitas di lingkungan keluarga disebabkan oleh kurangnya informasi para orang tua mengenai seksualitas.

Minimnya akses informasi mengenai seksualitas menyebabkan berbagai macam perilaku seksual yang tidak sehat. Seks bebas dan hamil pranikah merupakan dampak nyata dari minimnya informasi mengenai seksualitas. Kecanduan terhadap konten pornografi dan kekerasan seksual juga menjadi dampak yang mengintai para remaja. Tidak hanya itu, minimnya toleransi terhadap kelompok yang memiliki orientasi seksual berbeda, dalam konteks ini yakni kelompok LGBTIQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Interseks, dan Queer), juga menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Dewasa ini, diskriminasi dan kekerasan terhadap kelompok LGBTIQ pun sangat mudah dijumpai di mana saja, termasuk di media sosial. Akses yang mudah dan tak terbatas menjadikan para warganet bebas mengutarakan pendapatnya dan berkomentar sesukanya mengenai isu LGBTIQ. Belum lama ini, salah seorang bintang iklan asal Thailand menjadi bulan-bulanan warganet karena orientasi seksualitasnya yang seorang gay. Akun Instagram pribadinya menjadi sasaran empuk para warganet untuk melakukan perundungan. Sampai ia harus membuat semacam klarifikasi di akum media sosial tersebut.

Tidak hanya di lini media sosial, di dunia media diskriminasi terhadap kelompok LGBTIQ pun bertebaran. Beberapa waktu lalu, waria di Aceh menjadi sasaran sweeping para aparat. Mereka yang berdandan perempuan digunduli secara massal dan dipaksa mengikut “kodratnya” sebagai laki-laki. Dua kasus tersebut hanya segelintir kekerasan yang dialami oleh para penyintas LGBTIQ di masyarakat Indonesia. Sebagai kaum marjinal, mereka terus-menerus diopresi oleh lingkungan dan tidak bisa mendapatkan haknya secara penuh dalam masyarakat. Padahal, tentu saja mereka adalah warga negara yang berhak mendapatkan perlindungan dari berbagai macam diskriminasi dan hidup secara aman. Namun, sayangnya pengetahuan mengenai seksualitas yang kurang di Indonesia menyebabkan diskriminasi ini terus berlanjut.

Selain diskriminasi terhadap kelompok LGBTIQ, banyak kekerasan seksual yang dialami oleh para remaja. Mirisnya, kekerasan seksual tersebut dialami dalam lingkup terdekat mereka, yakni lingkup sekolah dan lingkup keluarga. Dilansir dari Kumparan, beberapa waktu yang lalu seorang anak SMA di Sukabumi diperkosa oleh ayah tirinya sendiri. Sementara itu, di Jambi, beberapa waktu lalu, seorang siswa MTS disodomi oleh gurunya sendiri. Pendidikan seksual yang digadang-gadang banyak orang nyatanya masih belum maksimal diterapkan di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan cara lain untuk mengedukasi masyarakat mengenai seksualitas.

Karya sastra mungkin bisa menjadi cara lain untuk masyarakat dalam memperoleh informasi mengenai seksualitas. Sebab, karya sastra merupakan sebuah cerminan dari kehidupan masyarakat yang bisa memberikan perspektif lain kepada para pembacanya. Seperti dikemukakan oleh Abrams (1981) sastra memiliki 4 paradigma. Salah satu paradigm yang dikemukakannya adalah paradigma pragmatis. Maksudnya, paradigm yang berkaitan dengan fungsi atau manfaat karya sastra terhadap para pembacanya. Apabila dikaitkan dengan informasi mengenai seksualitas, karya sastra dapat berfungsi sebagai sarana informasi mengenai seksualitas bagi para pembacanya.

Oleh karena sastra merupakan cerminan kehidupan sosial, seksualitas yang merupakan fakta sosial pun tidak bisa dilepaskan darinya. Hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas pasti dimunculkan di dalam sebuah karya sastra meskipun kadarnya berbeda-beda. Misalnya, dalam novel klasik Belenggu karya Armijn Pane, isu seksualitas yang berkaitan dengan hubungan di luar komitmen pernikahan (extradyadic relationships) ditampilkan secara gamblang. Kemudian, novel serial Supernova karya Dewi “Dee” Lestari malah mengangkat tokoh homoseksual di dalamnya. Tokoh sepasang homoseksual atau gay, Dimas dan Ruben, ditampilkan sebagai sepasang kekasih yang hidup selayaknya “manusia normal”. Selain itu, cerpen-cerpen Djenar Maesa Ayu juga dapat mengangkat berbagai macam kekerasan seksual yang dialami oleh para perempuan.

Meskipun banyak orang yang kontra dan mencibir karya-karya sastra semacam itu karena dianggap “berbau lender”, bagi saya karya sastra demikian cukup penting dan dapat menjadi media alternatif mempelajari seksualitas untuk para remaja. Misalnya, dari novel Belenggu, para remaja bisa mengenal bagaimana rumitnya hubungan dalam sebuah pernikahan. Kemudian, melalui novel Supernova, para remaja dapat belajar bahwa kaum homoseksual merupakan kaum yang memiliki kehidupan normal seperti layaknya kaum heteroseksual lainnya. Cerpen-cerpen Djenar Maesa Ayu yang terkenal vulgar pun bisa menjadi media belajar para remaja mengenai kekerasan seksual.

Akan tetapi, pembelajaran seksualitas melalui sastra ini diperlukan partisipasi aktif dari para edukator, termasuk guru. Apabila langkah ini masuk ke ranah sekolah dan dikhususkan bagi remaja, guru harus berperan aktif dalam menyesuaikan bacaan yang cocok bagi siswanya, sesuai jenjang dan usia mereka. Selain dapat mengedukasi mengenai seksualitas, langkah ini juga bisa menumbuhkan budaya membaca bagi para remaja.

Biodata Penulis
Galih Pangestu J, tak suka dilabeli dan melabeli, tetapi suka teh dan kue jahe. Bisa diajak ngobrol melalui Line dan Twitter di akun @pangestujati. Tidak Merokok.

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya dan tips menulis, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca tips belajar menulis dari penulis lain di menu Tips Belajar Menulis.

Baca esai tentang sastra dari penulis lain di menu Esai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *