Baca Karya & TipsCerpen

Cerpen – Di Ujung Lorong Perpisahan – Wahidah

Di Ujung Lorong Perpisahan
Cerpen karya Wahidah

Baca karya lain di menu Baca Karya & Tips

Senja itu matahari tak seperti biasanya. Bukan merah kejinggaan yang biasa datang, namun kelam abu-abu hitam yang ada. Reina, gadis yang duduk di pinggir kolam itu hanya diam tanpa kata. Matanya yang cantik nan lentik seolah-olah seperti mata boneka porselin di toko. Angin bertiup menerpa jilbab yang ia pakai. Gadis itu hanya melamun memikirkan kejadian tepat 7 tahun yang lalu.

Sekarang Reina adalah mahasiswi S2 Fakultas Hukum Havard University. Dia merupakan lulusan terbaik Universitas Muhammadiyah Surakarta, tidak heran dia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan gelar S2 dan S3 di Harvard University. Dia gadis yang sangat cerdas, mandiri, cantik, ceria dan salehah. Di umurnya yang menginjak 23 Tahun dia masih saja sendiri. Bukan karena tidak ada laki-laki yang datang untuk meminang, tapi karena Reina masih belum bisa melupakan orang yang masih menempati banyak ruang dihatinya.

Seperti biasanya rutinitas Reina di Cambridge pada hari Minggu hanya berdiam di kamar dan membaca buku saja. Bukan karena dia tidak mempunyai teman di sana, tapi dia lebih menutup diri saja daripada saat dia berada di rumahnya. Banyak laki-laki yang telah menyatakan cinta bahkan ingin melamarnya. Tapi, Reina selalu saja mempunyai 9099 cara untuk menolak mereka semua. Jujur saja Ia masih menunggu laki-laki yang 7 tahun lalu berjanji akan datang untuk melamarnya. Anggap saja Reina memang bodoh dengan urusan cinta. Bagaimana bisa selama 7 tahun ini rasa itu masih sama untuk laki-laki itu.

Laki-laki itu tak lain bernama Rian Muhammad Triyanto.

Dia adalah kakak kelas Reina saat dulu dia masih SMP. Umur mereka terpaut hanya 3 tahun di atasnya. Rian adalah sosok yang menurut Reina adalah laki-laki yang cerdas, pengertian, ganteng, dan saleh. Mereka memang belum pernah pacaran karena pada saat itu Rian telah bergabung dengan organisasi Rohis di SMP 2 Cendana yang tak lain SMP Reina juga. Mereka pernah dekat walaupun hanya sebatas adik kelas dengan kakak kelas namun Rian sudah membuat Reina nyaman dan mencintainya hingga detik ini atau mungkin sampai nanti. Rian terlalu sempurna di mata Reina, hingga Reina berani mematahkan niatnya yang ingin menikah muda pada usia 21 tahun. Namun, Reina tidak pernah menyesali keputusannya untuk terus menunggu Rian datang padanya dan memenuhi janjinya.

Reina mulai terdiam di depan buku yang baru saja selesai ia baca. Dia mulai melamun masa di mana untuk pertama kalinya dia jatuh cinta pada seorang laki-laki. Flashback 7 Tahun yang lalu. Reina remaja berjalan dengan menunduk untuk ke kantin membeli minuman. Tiba-tiba saja dia menabrak seorang laki-laki dan membuat buku yang dibawa laki-laki itu jatuh. Refleks Reina mengambil buku itu dan meminta maaf pada si pemilik tubuh yang telah ia tabrak tadi. Tanpa sengaja tangannya di bawah tangan laki-laki itu yang juga ingin mengambil bukunya. Setelah beberapa detik mereka hanya diam tanpa kontak mata. Reina langsung menarik tangannya dan melihat si pemilik tubuh yang telah ia tabrak. Laki-laki itu pun juga melihatnya dan saling pandanglah mereka berdua untuk beberapa detik. Reina merasa dunianya berhenti beberapa detik karena detak jantungnya bergejolak seperti beduk azan yang telah dipukul. Dia sadar hari ini dia terlalu banyak mendekati dosa dan akhirnya dia memutuskan kontak mata dengan laki-laki tersebut. Tanpa memandang lagi Reina meminta maaf dan buru-buru melanjutkan tujuan awalnya untuk beli minum ke kantin.

Setelah kejadian itu Reina masih saja terbayang-bayang dengan wajah laki-laki yang tidak ia ketahui namanya dan kelas berapa. Reina hanya bisa menduga-duga kalau laki-laki tadi pasti kakak kelasnya karena melihat penampilannya yang rapi dan lebih berwibawa dari siswa seusianya membuat Reina yakin akan hal itu. Reina mencoba menghapus bayang-bayang yang jika terus ia pupuk akan menjadi dosa dia dan orang tuanya.

Hingga pada suatu waktu pada acara HUT SMP 2 Cendana laki-laki yang selama ini menghantui pikirannya ada di atas panggung dan membaca ayat suci Al-Qur’an. Bertambah baperlah Reina mendengar dan mengetahui laki-laki itu sangat merdu dan indah membaca ayat suci Al-Qur’an. Hingga beberapa menit berlalu Reina masih fokus menatap laki-laki itu tanpa mengedipkan matanya. Setelah laki-laki itu selesai membaca Al-Qur’an Reina tersadar dan buru-buru melepas kontak mata karena takut laki-laki itu sadar dengan pandangan Reina.

Semenjak kejadian itu Reina merasa ada yang beda dengan kesehatan jantungnya. Setiap kali Reina tidak sengaja berpapasan dengan laki-laki itu, ia merasakan debaran di dadanya. Dia bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Baru pertama kali ini dia merasakan rasa yang berbeda dengan laki-laki, bahkan Reina juga belum tahu siapa nama laki-laki itu. Setelah kejadian itu berlalu Reina mencoba melupakan tentang perasaannya yang tak menentu dan bayangan-bayangan laki-laki misterius. Untuk sementara Reina lebih suka menjulukinya laki-laki misterius. Sampai nanti ia mengetahui nama asli laki-laki itu.

Mungkin keberuntungan baru bertamu pada Reina karena dia mempunyai teman yang punya saudara sekelas dengan laki-laki misterius itu. Riri mungkin hanya satu-satunya teman Reina yang populer. Riri mempunyai kakak sepupu yang sekelas dengan laki-laki misterius itu. Riri tahu kalau Reina mulai menyiram benih cinta di hatinya untuk si misterius tadi. Akhirnya Riri berinisiatif untuk menggali informasi tentang laki-laki misterius yang dimaksud Reina. Bukan dengan maksud untuk menikung tapi Riri tulus ingin membantu kedekatan Reina dan laki-laki misterius itu.

Setelah memaksa kakak sepupunya, Riri berhasil mendapatkan beberapa info mengenai laki-laki misterius itu. Dia bernama Rian Muhammad Triyanto, dia merupakan kakak kelas Reina dan Riri. Dia aktif di organisasi Rohis dan menjabat menjadi ketua Rohis dua kali berturut-turut. Reina merasa sangat senang karena ia telah mengetahui nama dari orang yang telah membuatnya merasakan virus pink. Reina mencoba mencari akun sosmed Rian karena dia ingin mengetahui sisi dari Rian secara mendalam. Namun, sayangnya tidak ada nama akun yang dia harapkan. Reina mulai putus asa dan memilih untuk memendam rasa ingin tahunya terhadap Rian. Raisa mulai galau dengan perasaannya, berulang kali dia mencoba melupakan bayang-bayang Rian, berulang kali pula muncul wajah Rian.

Hingga pada suatu hari Reina mulai membentengi perasaannya agar tidak terlalu jatuh pada pesona Rian. Dia mulai jarang keluar kelas hanya agar tidak berpapasan dengan Rian si kakak kelas yang mulai disukai Reina. Reina terlalu takut mencintai seseorang yang bukan menjadi takdirnya nanti. Dia tapi tidak bisa membohongi perasaannya yang mulai kagum dengan Rian. Dia menyesal dengan perasaannya yang tak semestinya dia rasakan di masa remajanya. Tapi bagaimanapun manusia dia tidak bisa mengatur perasaannya untuk jatuh pada siapa dan sejak kapan. Tapi Reina yakin Allah tidak akan turut andil memelihara perasaan yang belum sah. Reina akhirnya hanya bisa pasrah dan terus memohon ampun pada Allah agar dijauhkan dari rasa yang tidak seharusnya ia rasakan sekarang dan dengan orang yang belum sah menjadi miliknya.

Tak terasa sudah hampir setahun Reina menjalani masa SMP, itu artinya habis sudah masa SMP Rian. Memang Reina sudah bisa mengatur perasaannya kepada Rian. Dia mulai biasa saja saat bertemu dengan Rian. Namun, pada acara perpisahan kelas 9 di sore itu mengubah semua prinsip Reina dan runtuhlah sudah benteng yang selama ini dia rawat.

Saat acara perpisahan itu Rian yang selama Reina menjadi adik kelasnya tidak pernah sekalipun mengajak Reina berbicara tiba-tiba sore itu Rian berbicara dengan Reina. Rian mengatakan bahwa dia mencintai Reina dan ingin melamarnya setelah dia kembali dari pondok pesantrennya di Kairo. Reina begitu terkejut dengan apa yang telah Rian katakan.

Dia bukannya tidak senang, justru sebaliknya Reina begitu senang dan ingin menjawab hal yang sama. Namun, dia merasa tenggorokannya kering hingga tak bisa mengeluarkan suaranya. Setelah Reina hanya diam cukup lama.

“Rein aku tahu ini terlalu cepat, aku tidak sedang menembakmu untuk jadi pacarku, karena kita tahu kalau pacaran itu haram walaupun nanti kita hanya LDR aku hanya ingin kamu tahu isi hatiku dan jujur pada diriku sendiri Rein,” kata Rian.

Reina hanya diam terpaku dan mencoba mencerna semua yang diucapkan Rian. Mendadak gadis yang sangat pintar itu susah mencerna kalimat Rian karena dia sendiri bingung dia harus bagaimana. Rian hanya tersenyum dengan diamnya Reina. Lalu dia berkata lagi “Tunggu aku 5 tahun lagi Rein, setelah pondokku selesai aku akan kembali lagi ke Indonesia dan melamarmu, jaga dirimu baik-baik Rein”.

Semenjak hari itu Reina tidak baik-baik saja khususnya kondisi hatinya. Diamnya Reina karena dia bingung untuk mengungkapkan hal yang sama. Tapi semenjak hari itu Reina juga sudah berjanji bahwa dia akan menunggu penghuni separuh hatinya yang tak lain Rian kakak kelas SMP-nya. Anggap saja di terlalu bodoh, tapi dia tidak bisa bohong kalau dia berharap Rian akan menepati janjinya. Dia terlalu naif untuk melihat dunia sekarang dan masa depan.

Reina tersadar dari lamunannya dan dia mulai beristigfar untuk menenangkan hatinya. Selalu saja sama dia selalu menghabiskan beberapa menitnya tak berharga hanya karena untuk bernostalgia perasaannya terhadap Rian. Jika pun mau Reina dari dulu pasti sudah memilih salah satu laki-laki yang telah melamarnya di depan kedua orang tuanya. Namun, dia merasa mati rasa, ia sudah tidak bisa merasakan jatuh cinta lagu apalagi sebesar cintanya pada Rian.

Sebenarnya Reina capek harus menunggu seseorang yang sampai sekarang pun dia tidak tahu kabarnya bagaimana, apakah dia masih single atau sudah mempunyai anak. Sungguh membayangkannya membuat nyeri di dada Reina. Reina merasa bosan dengan penantiannya yang tak berujung. Ingin dia bertemu dengan Rian dan mengatakan semua Rindu yang telah ia simpan dengan baik di hatinya. Ia masih sana dengan Reina 7 tahun yang lalu. Sama-sama masih mencintai dan berharap seorang Rian Muhammad Triyanto. Reina bahkan lupa kalau dia terlalu berharap pada manusia. Dia selalu memikirkan Rian dibanding memikirkan dosanya.

Hingga pada hari itu di mana Reina sedang datang di SMP-nya dia melihat sepasang keluarga yang sedang bermain bersama di taman belakang kantin. Dia merasa tidak asing dengan perawakan laki-laki yang sedang menggendong anak berumur 4 tahun itu. Dia mulai menepis pikiran-pikiran negatif yang ada di kepalanya.

Namun, saat dia ingin pergi dari tempat itu tiba-tiba ada bola yang datang padanya. Bola itu tak lain milik anak keluarga yang sedang bermain di taman. Saat si anak ingin mengambil bolanya dia datang bersama bapaknya.

Setelah itu Reina baru tahu rasanya dikhianati oleh seseorang yang selalu kita banggakan dulu mungkin sampai detik ini juga. Bapak dari anak tersebut atau keluarga yang sedang bermain di sana tak lain adalah keluarga Rian. Kecewa itu pasti bahkan setelah 7 tahun tidak bertemu rasanya seperti tak bertemu 1 tahun. Tatapan itu masih sama Reina tahu artinya, namun keadaan yang tak sama. Sekarang Reina tahu mengapa sampai telat 2 tahun dari janjinya dulu. Karena Rian sudah mengingkarinya sejak awal. Dia tidak jujur kalau sudah menikah.

Marah, sedih, benci, kecewa, dan segala hal yang dapat mendeskripsikan keadaan Reina sekarang. Bukan dia membenci Rian, tapi dia benci dengan dirinya sendiri. Reina mungkin memang cerdas di bidangnya namun dia sangat lemah di bidang cinta. Reina sekarang tahu bahwa dia telah banyak melakukan dosa.

Dia berniat setelah ini akan ke luar negeri mencari tempat wisata yang masih sepi dan pemandangannya bagus. Dia ingin melupakan kebodohan-kebodohan yang pernah ia lakukan. Reina juga sangat bersyukur karena rangkulan dari teman-temannya, keluarganya, dan orang-orang yang menyayanginya dapat menguatkannya. Allah itu Maha Baik. Kita sudah tahu zina banyak jenisnya dan kita masih sering terbiasa dengan hal tersebut. Namun, Allah tetap mengampuni hambanya yang bersungguh-sungguh bertaubat dan mohon ampun kepada-Nya.

Terakhir kali Reina mencoba ikhlas dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan harapannya. Ia mencoba berdamai dengan masa lalunya. Memaafkan Rian dan dirinya sendiri. Ia bertekad setelah ini akan mencoba untuk menerima laki-laki yang ingin serius dengannya. Reina ikhlas dengan perpisahan kisahnya dengan Rian. Dia sadar bahwasanya tak seharusnya dia berharap lebih pada janji Rian, karena dia terlalu egois hingga meragukan takdir Allah yang telah menjamin seluruh umatnya dalam urusan jodoh, rezeki, dan kematian. Jika pun iya sudah terlanjur mengharapkan Rian melebihi harapan yang lain.

Reina harusnya lebih mendekatkan diri dan hati kepada Allah Ta’ala. Karena sebaik-baiknya penjaga hati manusia adalah yang membuatnya yaitu Allah SWT. Allah juga sudah menjamin kepada umatnya bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik. Begitu juga sebaliknya. Jadi, mungkin Rian yang Reina anggap baik untuknya tidak baik baginya menurut Allah. Reina menangis menyadari kesalahannya. Dia lalu berjanji akan lebih selektif untuk memberikan rasa cintanya kepada manusia. Jika pun sudah terlanjut jatuh cinta dia akan mencoba mendekatkan diri pada Allah dan memohon perlindungan diri dan penjagaannya.

 

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya dan tips, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca karya lain di menu Baca Karya & Tips

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *