Baca Karya FiksiCerpen

Juara Lomba Menulis Cerpen Forum Tunas Bangsa – Skenario Indah dari Sang Pencipta – Alifia Nihayatul Safitri

Skenario Indah dari Sang Pencipta
Juara Lomba Menulis Cerpen Forum Tunas Bangsa Distrik Tambora Taman Sari
Karya Alifia Nihayatul Safitri

Layaknya burung yang  terbang bebas di angkasa, seperti itu inginku tuk bisa menikmati dunia. Bebas dan lepas melakukan sesuatu sesuai inginku. Layaknya pohon yang kokoh berdiri di hutan, seperti itu inginku tuk bisa bertahan. Kokoh dan kuat menjalani kehidupanku. Aku juga ingin seperti ikan yang berenang dan menyelam di birunya lautan, seperti halnya inginku tuk terus berjuang dan tak ingin tenggelam dalam peradaban.

Nyatanya, aku  hanyalah  burung kecil dalam sarang mungil yang telah terjatuh dan tak mampu tuk terbang. Nyatanya, aku hanyalah pohon muda di sebuah lahan yang ditebang bahkan sebelum aku mengokohkan akarku di dalam tanah. Nyatanya, aku hanyalah ikan kecil yang telah kehilangan karangnya di luasnya samudera dan terombang-ambing dalam derasnya arus.

Sebut saja aku orang yang sedang berputus asa. Sebut saja aku orang yang sedang merendahkan diri sendiri. Sebut saja aku orang yang sedang meragukan kenikmatan yang aku punya. Nyatanya memang iya.

Hidup indah yang berada di bayanganku serasa menguap bersama angin. Hidup yang aku dambakan serasa menghilang bersamaan dengan waktu yang mengungkapkan kenyataan. Aku sudah mengerti itu. Nyatanya di sinilah aku. Di ambang keputusasaanku.

Aku bukanlah gadis kuat yang akan terus melangkah maju setelah diberi ujian oleh-Nya. Bohong jika aku bilang aku kuat. Bohong jika aku bilang aku tidak menangis. Bohong jika aku terus tersenyum. Bohong jika aku terus bahagia. Nyatanya di sinilah aku. Di ambang rasa kuatku.

Aku selalu menyalahkan semua kejadian yang aku alami. Selalu tidak terima dengan keputusan-Nya mengujiku dengan cara yang membuatku ingin mati saja. Dan inilah kebodohanku, terpuruk dalam luka yang sangat  dalam dan tak bisa memaksa diri untuk keluar dari lubang kesedihan.

***

Bulan Januari 2016, aku ingat sekali bagaimana Yang Maha Kuasa telah mengatur garis takdir keluarga yang aku cintai. Aku menyandarkan punggungku di tembok bersamaan dengan tawa yang ku dengar dari ruang keluarga.

Hari ini, adikku genap berumur 17 tahun. Kami merayakan tasyakuran di rumah sederhana yang kami tinggali. Sekedar makan dan doa bersama dengan beberapa anak yatim yang diundang.

Waktu itu aku sempat bertanya, “Mengapa tidak mengadakan pesta seperti teman-temanmu yang lain?”

“Mubazir, kak. Nanti uang yang Mama sama Papa keluarin banyak. Lebih baik berbagi bersama saja sama anak-anak yatim piatu. Lebih berkah. Umur tujuh belas nanti aku hanya ingin berkumpul bersama dengan keluarga kita. Hanya itu,” jawabnya.

Gadis yang berulang tahun ini memang luar biasa. Aku yang mendengarnya hanya bisa tersenyum kagum. Di zaman sekarang ini, banyak sekali anak-anak muda yang ingin pesta mewah di ulang tahun ke 17nya. Namun, adikku dengan mudahnya menolak pesta seperti itu.

Mama dan Papaku memang mendidik kami untuk berlaku hemat dan bijak. Juga saat diberi rezeki kami dididik untuk berbagi kepada sesama. Ya, dan kini didikan beliau berhasil. Adikku kini menerapkan itu.

Acara tasyakuran sudah berakhir 2 jam yang lalu, setelah shalat asyar berjamaah. Kini kami sedang berkumpul bersama di ruang keluarga setelah berberes dan bersih diri. Membicarakan banyak hal tentu saja. Aku tersenyum senang. Begitu pula Mama, Papa, dan tentunya sang empunya acara hari ini, adikku.

“Kakak sekarang semester berapa?” Papa bertanya padaku.

“Enam, Pa.” Sembari mengangkat ibu jari kananku aku menjawab.

“Kalau begitu, nanti sarjana pendidikan harus bisa mengajar anak didiknya dengan baik. Apalagi mengajar diri sendiri untuk menuju jalan Allah. Nanti kakak akan sendirian, Papa sama Mama hanya bisa melihat dari jauh,” ujar Papa. Lalu Papa menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. “Kakak gak boleh menyerah. Harus kuat, oke?”

“Oke siap, Papa ganteng!” Aku melakukan pose hormat bersamaan dengan jawaban tegas dari bibirku. Membuat tiga pasang mata tertawa melihatku. Ah, aku senang bisa membuat mereka bahagia.

Obrolan hangat kali ini berlanjut hingga adzan magrib berkumandang. Kami memutuskan untuk shalat berjamaah dan dilanjut dengan membaca Al-Qur’an bersama di ruang shalat di rumah. Papa pernah berkata pada kami agar selalu menjaga shalat. Juga agar selalu membaca Al-Qur’an meskipun hanya saru halaman tiap hari. Mama juga begitu, pasti beliau akan marah dan kesal jika aku dan adik masih sibuk sendiri dan mengulur waktu shalat. Subhanallah, aku cinta sekali dengan keluargaku.

“Kak, sini bentar deh. Mama mau ngomong,” ucap Mama yang sedang duduk di kasur kamarnya.

Aku segera mendekat ke arah Mama dan memeluk tubuhnya. “Mama cantik mau ngomong apa?”

Elusan Mama di puncak kepalaku membuatku tersenyum. “Ambilin kotak biru itu dong, kak.” Aku bergegas mengambil dan memberikan benda yang disebutkan Mama.

Tangan Mama membuka kotak itu dan mengambil sebuah kalung berliontin lingkaran. “Kakak tolong jagain ini buat Mama ya.”

Aku menyerit bingung namun Mama langsung memakaikannya di leherku. “Kenapa, Ma?”

“Ya, nanti kan sayang kalo liontin seindah ini tidak dipakai oleh bidadari Mama.” Mama menangkup sisi wajahku dengan kedua tangannya. “Itu hadiah buat kakak yang sudah masuk semester enam. Nanti kalau sudah waktunya kuliah bikin kakak capek, penat, atau mungkin kesel dan sedih, kakak pegang aja kalung ini sambil berdoa. Mama juga bakal berdoa demi kelancaran masa depan kakak.”

“Uuhh… Sayang Mama deh.” Aku segera menghanbur ke pelukan Mama dengan mata berkabut.

Ya Allah, jaga keluargaku di dunia dan di akhiratMu

***

Bulan Februari 2016, aku tak tahu bagaimana perasaanku. Kabut pekat seakan menutupi seluruh jiwaku. Aku tak berbahagia. Aku tak memiliki alasan untuk berbahagia.

Tubuhku dihantam kenyataan. Pikiranku ditimbun bayangan kelam. Kakiku lunglai tak kuat berdiri sendirian. Tanganku kaku tak mampu berpegangan. Hatiku gaduh terpenuhi riuh kemalangan.

Pagi itu, seminggu setelah tasyakuran adikku yang berusia 17 tahun, aku berada di rumah sendirian. Aku menolak ajakan Mama dan Papa menuju ke rumah pamanku. Sederhana, ada sahabat yang datang berkunjung. Jadilah aku bersama sahabat SMAku berdua di rumah. Adikku ikut dengan Mama dan Papaku tentunya.

Hingga pukul dua siang, ponselku berdering. Nomor tak dikenal. Namun aku langsung saja menerima panggilan itu.

Aku ingin lupa saja.

Aku tak ingin mengingatnya.

Aku benci mendengar itu.

Keluarga anda mengalami kecelakaan dan kini…”

Aku benci mendengar itu.

Tubuhku bergetar hebat. Air mataku langsung membuncah. Aku ambruk dengan tangisan hebat. Segera Aqilah, sahabatku, menenangkanku. Ia mengajakku untuk segera menuju ke rumah sakit.

Saat sampai di rumah sakit, aku tak bisa mengendalikan tangisku. Aku terus berdoa dalam hati dan berucap, Semua akan baik-baik saja.

Jantungku terasa berhenti berdetak. Nafasku tercekat di tenggorokan. Aku tak sadarkan diri setelah mendengar seorang dokter berucap.

Mohon maaf, kami tidak berhasil menyelamatkan ketiga korban. Kami  berbela sungkawa atas meninggalnya keluarga anda.

***

Bulan Februari 2017, kini aku berlutut di depan nisan orang-orang yang aku sayangi. Air mataku turun tanpa permisi. Dadaku masih sesak menyadari kenyataan ini. Aku sendiri.

Meskipun dulu Papa pernah berkata bahwa aku harus kuat, nyatanya aku tidak bisa. Meskipun dulu Mama pernah berkata jika aku lelas aku bisa menggenggam liontinnya dan berdoa, nyatanya aku tetap tidak bisa. Mengingat harapan adikku yang ingin selalu bersama satu keluarga semakin membuatku tak bisa bergerak. Aku tertahan dalam kesedihan.

Doa aku panjatkan kepada mereka yang telah berada di alam sana. Sebuah kecupan aku berikan di masing-masing nisan Mama, Papa, dan adikku. Berjalan menuju luar area pemakaman dengan perasaan yang masih sama dengan satu tahun lalu.

Aqilah menungguku di dalam mobilnya. Lalu tersenyum padaku saat aku masuk dan duduk di kursi penumpang bagian depan. “Sudah?” tanyanya yang kujawab dengan jawaban iya.

“Allah tidak akan membukakan hati kamu jika kamu tidak bisa ikhlas, Ra.”

Aku meremas tanganku di atas bawahan gamis yang aku kenakan. “Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, La. Kamu tidak tahu rasanya ditinggalkan oleh ketiga orang yang kamu cintai sekaligus. Kamu tidak mengerti, La!” Tanpa sadar aku meninggikan suaraku. Lalu air mataku kembali membasahi kedua pipiku.

Mobil yang dikemudikan Aqilah masih terus melaju dan aku menundukkan wajahku seraya menutupnya dengan kedua telapak tanganku. Entah aku dibawa kemana oleh sahabatku ini. Namun kemudian aku merasa bahuku ditepuk.

Pantai. Aqilah membawaku ke pantai. Ia lalu menarikku untuk turun dan mengikutinya mendekati bibir pantai.

“Lautan itu luas sekali, Ra. Kamu tidak bisa berdiam diri dalam perahumu yang terhenti di tengah lautan. Kamu perlu melanjutkan perjalan menuju tujuanmu,” ujarnya.

Aku mengedarkan pandanganku di birunya lautan. Semilir angin laut membelai wajahku dan membuat hijab yang aku kenakan sedikit terbang ke belakang. Aqilah benar, pikirku.

“Hatimu itu masih penuh dengan kebencian yang bahkan tidak memiliki kepastian. Kamu akan tetap terpuruk semakin dalam dan kelam,” lanjut Aqilah yang kini memandang lautan.

“Aku ini egois ya?” tanyaku dengan senyum miris. “Egois karena memikirkan diriku sendiri yang sedang bersedih. Padahal aku tidak tahu jika mereka di sana pasti akan sedih melihatku seperti ini. Iya, kan?”

Aqilah diam dan menutup matanya. “Yang kamu butuhkan hanyalah kesadaran. Kamu masih memiliki anggota keluargamu yang lain. Kamu masih memiliki teman dan sahabatmu. Bahkan mungkin kamu sedang tidak sadar, bahawa Allah masih bersamamu.”

“Terima kasih.” Aku tersenyum sembari membuka mata.

Mata di kepalaku juga mata di hatiku.

Saat aku tersadar dari mimpi kelamku, aku sudah sepatutnya meminta maaf kepada-Nya. Meminta maaf atas aku yang selalu menyalahkan setiap keadaan yang terjadi. Meminta maaf atas aku yang selalu mengaduh kepada-Nya atas ujian yang diberikan kepadaku.

Aku memang seekor burung kecil dengan sarang yang terjatuh dan tak mampu tuk terbang. Namun aku masih berusaha untuk berjalan dan menemukan cara bagaimana tuk bertahan.

Aku memang sebuah pohon muda yang telah ditebang. Namun aku masih bisa tersenyum sebab batangku masih bisa dimanfaatkan.

Aku memang seekor ikan kecil yang telah kehilangan karangnya dan terombang-ambing di lautan. Namun aku masih bisa menggerakkan sirip dan ekorku tuk berenang mengikuti arus dan akan menemukan karang baruku tuk hidup dan berjuang.

Segala sesuatu telah tersusun indah oleh Yang Maha Kuasa. Ya, kini aku belajar untuk mengikhlaskan dan berlapang dada menerima setiap ujian. Belajar untuk mengikuti setiap alus dari skenario yang Allah ciptakan.

 

Alifia Nihayatul Safitri dapat dihubungi melalui FB (Alifia Nihayatul Safitri), Instagram (lfn_ft), dan email (alifianihay@gmail.com). Saat ini tinggal di Jl. Kalimantan X no. 173 Tegalboto lor, Sumbersari, Jember, Jawa Timur.

 

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya dan tips, buka menu Submit Karya & Tips.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *