I

Pada lomba ini ada banyak "puisi", tetapi cuma segelintir yang bisa disebut puisi. Perbandingan yang bermutu dan yang tak, begitu jomplang. Yang berkualitas bisa dihitung jari. Yang tak, jumlahnya nyaris tidak tepermanai.

Puisi-puisi prematur tersebut bermasalah dalam penguasaan tata bahasa, mengulang tamsil-tamsil yang sudah kerap ditulis, berambisi menggunakan kata-kata arkaik meski tidak pas, dan menyimpan ide jumud yang berputar-putar dalam imajinasi sumpek. Paling tidak, puisi-puisi ini tak memenuhi kreativitas berbahasa, kesegaran tematik, dan keluasan imajinasi.

Di babak penyisihan, sebagian besar puisi berupaya mengangkat peristiwa sejarah dan legenda. Sayangnya, meski cukup bebas dari masalah teknis bahasa, puisi-puisi tersebut cuma menulis ulang tanpa ikhtiar reinterpretasi sejarah dan remitikalisasi legenda. Di sini, peran seorang penyair sebagai bagian dari komunitas intelektual tidak tampak.

Akan tetapi, puisi "Delirium Dewi Saini" berusaha memaknai ulang peristiwa sejarah/legenda yang diangkat. Ia memperluas ide 'ibu' dengan memberi peran almamater kepada hutan. Siasat tersebut memberi apologi pada 'dosa' Dewi Saini dan melegitimasi takhta putranya. Di puisi juara II ini, kecakapan bahasa, kekuatan afeksi, dan kecerdasan kognitif penganggitnya bertaut.

Sementara itu, puisi "Kau adalah Luka yang paling Luka" memindahkan peristiwa sejarah ke imaji panggung opera. Meski strategi demikian pernah digarap beberapa penyair sebelumnya, puisi yang menghadirkan kisah Prasena-Ambami tersebut tampak 'lebih' dibandingkan puisi-puisi 'sejarah' dari kebanyakan peserta. Karya juara III ini tak tergiur menghambur-hamburkan bahasa walaupun tampil dalam bentuk balada, insaf akan bobot kata dan kepadatan puisi, serta menguasai materi.

Di puisi "Lanskap Berwarna Klise", keinsafan berbahasa kian intens ketika penyairnya tidak mengkhianati bunyi. Kesan romantik atas Ampenan dilanggamkan dalam tuturan yang presisi tanpa mengabaikan emosi. Puisi juara I ini terasa pas dan manis.

Royyan Julian

 

II

Secara umum, puisi-puisi yang masuk lomba Tulis.me ini kali masih banyak yang terjebak pada empat kelemahan mendasar. Pertama, klise. Kata-kata atau ungkapan yang digunakan tak mengandung kesegaran dan kebaruan, melainkan hanya mengulang kata dan metafora yang sudah galib ditemui. Kedua, slogan. Puisi-puisi yang bertema sosial sering hanya bergerak di permukaan dan tidak mengupas lapis demi lapis peristiwa hingga mencapai intinya. Alhasil, kerap bertebaran kata-kata abstrak dan jargon yang terlihat gagah tapi tak meyakinkan. Ketiga, ruwet. Kadang penyair terlalu fokus pada permainan kata dan metafora sehingga kata dan metafora itu bertumpukan tanpa memendarkan cahaya makna. Keempat, nada mengiba. Entah kenapa banyak sekali puisi bernada cengeng dan rengekan yang tanpa kedalaman sama sekali, melainkan sekadar menyingkapkan lemahnya hati si penyair. Puisi menjadi tumpahan emosi yang tak terkendali, ratapan yang mengiba tapi justru jadi tak meyakinkan.

Puisi-puisi yang jadi pemenang lomba ini sudah relatif terbebas dari empat jebakan itu. Dengan kata lain, puisi-puisi tersebut sudah menunjukkan kesegaran cara ucap, ketekunan menggali inti sampai titik paling jauh, mengupas ihwal sejarah dan sosial dengan menembus lapis permukaannya dan menukik jauh ke kedalamannya, dengan cakrawala wawasan yang luas dan ketenangan yang menakjubkan.

Tia Setiadi

 

III

Panitia Lomba Menulis Puisi Tingkat Nasional Ke-13 Tulis.me memberikan waktu kurang lebih selama satu bulan bagi kami, para juri, untuk menyeleksi puisi-puisi yang telah dinilai lolos dalam administrasi lomba. Mau tak mau, kami harus berhadapan dengan naskah-naskah yang mengolah tema bervariasi. Mau tak mau juga, dalam menulis catatan pertanggungjawaban ini, harus saya akui bahwa puisi-puisi yang saya sisihkan pada seleksi tahap pertama adalah puisi-puisi yang membicarakan hal-hal klise, semacam cinta sepasang insan, kedekatan dengan Tuhan, keterpanaan di hadapan alam, kekaguman pada sosok-sosok terdekat, dan sebagainya yang hampir—saya rasa—belum mengalami pengolahan (fisik dan batin puisi) secara maksimal.

Ada pula puisi-puisi yang terlalu asyik mengkritik pihak-pihak tertentu tanpa fokus yang jelas, sehingga ia terjebak dalam kedangkalan dan kemelompongan ungkapan. Juga nasihat-nasihat yang menyamar dalam wujud fisik atau tipografi puisi, yang—dengan sekali tebak, terbaca akan memberi—larik-larik motivasi di ending puisi. Yang saya cukup sayangkan, puisi-puisi demikian terasa terlalu asyik dengan dirinya sendiri, yang dalam hal ini bisa jadi suara atau hasrat dari sang pengarangnya. Ia lupa, bahwa puisi hadir bagi “mereka di luar sana”. Memang, ada upaya dialog atau komunikasi dengan pembaca, terutama yang bertipe orasi dan motivasi, namun strategi pengemasannya lebih ke arah mendikte—dan secara subjektif, menikmati puisi dalam kemasan demikian adalah hal yang menjenuhkan.

Puisi-puisi terbaik, yang muncul sebagai pemenang dalam event ini, tentunya adalah puisi-puisi yang kami lihat dan kami nilai telah mengalami pengolahan yang baik, baik tubuh puisi maupun segi kedalamannya, serta lepas dari beberapa kecenderungan cukup fatal yang telah disebutkan di atas. Kami akhirnya memilih—secara berurutan dari yang pertama, kedua, dan ketiga—puisi-puisi berikut sebagai pemenang: “Lanskap Berwarna Klise” karya Tjak S. Parlan; “Delirium Dewi Saini” karya Faidi Rizal Alief; dan “Kau adalah Luka yang Paling Luka” karya M. Helmy Prasetya.

Saya melihat tiga karya tersebut, pertama-tama, berbenang merah mampu menarik keterlibatan pembaca ke dalam gerak-gerik aku-lirik dalam puisi dengan “jalan damai”. Ada perasaan dilibatkan dengan intim, pula yang lebih urgen, ialah saya menikmati pelibatan tersebut. Berikutnya, dari segi komposisi seperti pilihan diksi, metafora, permainan rima-irama, citraan yang hidup, enjambemen, pada posisi mana bait harus diterus-dan-dipisahkan, bagi saya makin mengutuhkan tarikan puisi kepada saya selaku pembaca untuk masuk ke dalam bangunan suasana. Sementara, alasan umum pemilihan ketiganya adalah itu. Saya coba memaparkan hasil pembacaan terhadap masing-masing puisi dalam tiga paragraf berikut.

Puisi “Lanskap Berwarna Klise” karya Tjak S. Parlan, sebagai pemenang pertama, saya rasa benar-benar berhasil menghamparkan kepada saya, selaku pembaca, kondisi Ampenan hari ini yang hampir pure menjadi destinasi wisata sektor pantai, dan dilupakan bagaimana “peran”-nya dalam pembangunan peradaban di Lombok, di Kota Mataram: terjadinya dialektikan antaretnis yang berdampak pada dinamika perekonomian dan sebagainya pula di wilayah Lombok. Jembatan di sisi Malomba (atau “titian” dalam puisi) saya lihat dihadirkan sebagai simbol untuk menegaskan bahwa Ampenan, seiring pemasifan destinasi, memang makin piruk orang-orang, wisatawan lokal terutama, namun ingatan tetaplah belum dan tidak ikut terpaut—pertautan antara ramai orang-orang dengan tubuh Ampenan, bersifat sekadar fisik belaka, tanpa ada ikatan yang lebih intim. Konflik dalam puisi bergerak sangat “tenang dan ritmis” di dasar, dan dihadirkan lewat gambaran kondisi kedirian aku-lirik sejak awal hingga pemungkas puisi. Teknik pengolahan struktur fisik puisi ini terlihat sederhana, namun nyatanya menyimpan “pukulan angin terpendam” perihal keprihatinan aku-lirik pada kotanya. Bersama dengan puisi “Delirium Dewi Saini” karya Faidi Rizal Alief di posisi kedua, puisi karya Tjak S. Parlan ini kian erat mengikat saya ke dalam konflik/tragedi dalam puisi. “Lanskap Berwarna Klise” ini cenderung menciptakan akhir terbuka bagi imajinasi, namun setelah dibaca kembali untuk kesekian kali, saya menikmati keterbukaan puisi dan terkaan-terkaan yang kemudian (di)muncul(kan) di benak saya.

Untuk Puisi “Delirium Dewi Saini” karya Faidi Rizal Alief yang telah saya singgung di atas, bagi saya selaku pembaca di luar konteks Madura—atau mereka yang barangkali lebih karib dengan cerita Jokotole—Dewi saini mungkin adalah nama yang lebih tersisih karena nama Jokotole selaku pemeran sentral, juga mungkin lantaran ia lebih familiar berpanggilan Potre Koneng (berdasar obrolan dengan rekan-rekan atau bacaan cerita rakyat Nusantara). Puisi “Delirium Dewi Saini”, cukup banyak berbicara kepada saya perihal apa yang terjadi dalam cerita, tanpa pernah terlebih dahulu membuka-buka cerita Jokotole atau Potre Koneng yang banyak bertebaran di jagat maya—kendati pada akhirnya saya juga tetap membuka sedikit demi sedikit kisah tersebut. Saya pikir, puisi ini jadi semacam upaya pengarang untuk menawarkan sekaligus menyentralkan posisi seorang ibu, sekaligus perempuan, perihal apa yang ia rasakan, dan apa yang ia alami ke hadapan pembacanya, ke dalam pembicaraan atau satu bentang wacana.

Puisi yang kami pilih menempati posisi ketiga, yakni “Kau adalah Luka yang Paling Luka” karya M. Helmy Prasetya, hampir selaras dengan puisi pemenang kedua: ada hal-hal atau pembicaraan baru yang ditawarkan. Untuk kelihaian penulis dalam hal penyajian, terutama bagaimana ia mengambil sudut pandang, saya merasa bukan justru tersendat untuk masuk pada narasi dalam puisi—yang jikalau tak salah tangkap, berisi konflik suami-istri (Prasena dan Ambami) karena permohonan kekuasaan dan turunan—melainkan tetap terlibat dengan intens karena penghadiran juru kisah, yang ia mengajak kita untuk ikut duduk, menonton jalannya pertunjukan. Itu makin diperkental dengan penghadiran elemen-elemen semacam Nada pedihnya terpilin//violin 1 dan C kress minor bar kedua, atau larik-larik berisi perbandingan Seperti Kota La Rinconada yang dingin//Cahaya menyulam kelam,//bagai Varosha yang tenggelam—meskipun untuk perbandingan dengan Kota La Rinconada tersebut, saya agak kesulitan menemukan elemen lain dalam puisi yang bertaut, atau setidak-tidaknya menjadi titik ancangan (di awal/pembuka puisi) untuk kemudian dihadirkan sebagai “Kota La Rinconada dan Varosha yang tenggelam” jelang akhir puisi. Pada titik ini, lekatan antara Prasena dan Ambami dengan Kota La Rinconada dan Varosha—sepembacaan saya—tidak begitu kuat. Lekatan itu juga yang akhirnya membuat saya menempatkan puisi ini di posisi ke-3, setelah proses diskusi dengan dua juri lainnya.

Di luar kami, tentu akan ada pembacaan lain, akan ada pembacaan-pembacaan yang lebih beragam lagi. Oleh sebab itulah, penilaian kami bukanlah penilaian yang bersifat final—dalam artian terpakem, tidak boleh ada pembacaan dan penilaian lain atas ketiga puisi tersebut. Pun, di sisi puisi-puisi pemenang juga, bukan berarti ketiganya hadir sebagai karya yang tidak memiliki celah sama sekali untuk diberi kritik dan saran. Hanya saja, inilah buah kesepakatan kami dalam ajang ini. Setiap puisi, toh bakal menampakkan wajah lainnya, wajah barunya, di hadapan pembaca yang berbeda-beda.

Ilham Rabbani

 

Berikut daftar peringkat 100 besar Lomba Menulis Puisi ke-13 Tulis.me. Selamat kepada semua peserta yang telah mengirimkan puisi terbaiknya. Hasil ini, peringkat berapa pun itu, kami harapkan dapat terus memotivasi teman-teman untuk terus mengembangkan kemampuan menulis. Jika belum sesuai dengan harapanmu, tidak apa-apa. Masih ada hari esok untuk terus belajar dan berkembang. Kami yakin pada suatu saat nanti kamu dapat mencapainya.

Kepada pemenang, kami akan menghubungi hanya melalui nomor 085156907360. Pastikan nomornya sama untuk menghindari penipuan. Karya pemenang akan diunggah di story dan hightlight Instagram @tulis.me serta bisa dibaca dalam e-book antologi lomba ke-13. Mohon pelajari karya pemenang agar karyamu dapat lebih baik lagi. Apabila pada kemudian hari ditemukan pelanggaran berupa plagiarisme maka karya tersebut akan gugur, digantikan karya peringkat di bawahnya, dan penulis yang bersangkutan di-blacklist dari lomba Tulis.me selanjutnya.

PERHATIAN: Kepada peserta paket 2, 3, dan 4, fasilitas lomba segera kami kirimkan melalui e-mail dan chat Whatsapp maksimal 10 April 2022. Jika setelah 10 April 2022 belum mendapatkan fasilitas lomba, silakan menghubungi via chat Whatsapp 085156907360 ya. Tetap semangat berproses. Selamat bertemu pada lomba berikutnya.

PERINGKAT JUDUL PENULIS
1 Lanskap Berwarna Klise Tjak S. Parlan
2 Delirium Dewi Saini Faidi Rizal Alief
3 Kau adalah Luka yang Paling Luka M. Helmy Prasetya
4 Tanèyan Rozekki
5 Persoalan Dapur Ibu I.R. Zamzami
6 Narasi Bambu Talang Budi Saputra
7 Hikayat Tanah Wasiat Romzul Falah
8 Empat Lanskap Jogja Daviatul Umam
9 Lima Babak Sebelum Bengkulu Menyala Muhammad Ali Zulfikar
10 Tiga Narasi Rusa Budi Saputra
11 Adorasi Nathanio Chris Maranatha Bangun
12 Munajat Para Malaikat Yohan Fikri Mu’tashim
13 Aku Melihat Lukisan, Aku Melihat Bayangan Muzammil Frasdia
14 Kuil Afkar Aristoteles Mukhaer
15 Gerimis di Relung Rengganis Fiky Yustika
16 Kasidah Darwanto
17 Candi Sewu Paulus Catur Wibawa
18 Obituarium Bandara Schiphol Vania Kharizma
19 Dewabrata Paulus Catur Wibawa
20 Sepenggal Rindu Pada Rempemaja Petrus Nandi
21 Pada Senja, Kami Mulai Menenun Sisa Putri M.A. Erline
22 Nyanyian Taman Prisetyadi Teguh Wibowo
23 Rahim Teweraut Stebby Julionatan
24 Retakan Cermin WD Gafoer
25 Al-Masih Afkar Aristoteles Mukhaer
26 Detak di Detik-Detik Akhir Ilham Nuryadi Akbar
27 Ornamental Kesedihan Ilham Nuryadi Akbar
28 Tunjangan untuk Usia Raihan Robby
29 Lelaki yang Membangun Rumah dengan Kata-Kata Angga Wiwaha
30 Tersesat di Jogja WD Gafoer
31 Khidmat Perawan Suci: Maryam Binti Imran Ahmad Ijazi Hasbullah
32 Rindu Jakarta Maria Bernadeth Tukan
33 Pengakuan Laki-Laki di Usia Tiga Puluh Sembilan Dian Hardiana
34 Ode untuk Altruis pada Zaman yang Kais Andreas Agil Munarwidya, S.Pd.
35 Perempuan yang Termaktub di Tubuh Nisan Ilham Nuryadi Akbar
36 Fourier Kehidupan Aditya Idris
37 Aku Tidak Cantik Muhammad Gibrant Aryoseno
38 Lalu Malam Berganti Pagi JR Dami
39 Apakah Puisi-Puisi Ini Ahmad Karomi
40 Paradoks Tsamarah Atikah Nurdiyanah
41 Duhkitawara Y Agusta Akhir
42 Hikayat Sang Wanodya Ahmad Alif Azka
43 Menggubit Nasib Suci Wulandari
44 Pada Sebuah Kisah Afin Burhan Prapsita
45 Matahari dan Bumi Evi Tsabita Aprillia
46 Wanita Bergincu Merah Hati yang Membawa Peti Mati Bayuningrum Wijiastuti
47 Sebelum Alif Lam Mim Erka Muhammad
48 Badai dan Peziarah Pertama Salamandara Prila Aulin
49 Suatu Hari di Pulau Ibu Rio Huwae
50 Asing JR Dami
51 Katastrope Muhammad Mizan Paruk
52 Kalau Joko Pinurbo Punya Aplikasi Kencan Alvin Edhy
53 Pohon Kata Rizkiansya Maulid
54 Sekadar Jarak Ahmad Sopian
55 Sebuah Percakapan Ringan JR Dami
56 Menabur Cinta Ibu di Atas Raga Bapak Maulidia
57 Seperti Teluk yang Gagal Dipeluk Kalistus Gaudensius Ogilvie Daut
58 Musafir Tak Berarti Ahmad Sopian
59 Sesuap Bahala Suci Wulandari
60 Hujan yang Dirindukan Ni Made Ida Yanti
61 Selasa Santri Nurhafni
62 Galiung di Bibir Musi Putri M.A. Erline
63 Kontras Syahdan Malahayari
64 Sepanjang Jalan Serian Menuju Bintulu Hadiwinata
65 Jatuh Bebas Ketidakpastian Rodapersegi
66 Kisah di Negeri Ottoman Fadlurachman Faizal Fachrirakarsie
67 Kereta Takdir Yuyuk Masarroh
68 Labirin Astuti
69 Surat Perahu Kertas Ivonne Olivia
70 Merupakan Karunia, Merupakan Angkara Rianti Devi Candra
71 Berdagang Perang di Tanah Merah Suhandayana
72 Kesadaran Lestari Sulthan Muhammad Hakim
73 Menempuh Kampung Halaman Afin Burhan Prapsita
74 Balada Rumah Kontrakan Muhammad Syahdan Keliat
75 Senja di Teluk Bayur Revi Kasman
76 Sangkuni Pengganggu Mimpi Afan Ferianto
77 Kelana Raudhia Maghfirah
78 Berkabung Mia Santy Purnamasari
79 Rahasia Malam di Kota Jogja Refi Wulandari
80 Menjadi Biru Syaka Hasri Hasan
81 Waktu Kelabu Muhamad Komarudin
82 Patuah Jendral Na Poso Khoirunnisa Nasution
83 Balada Istri Seorang Nelayan Mario D.E. Kali
84 Kupetik Bunga Melati di Tubuhmu Jean Rivaldo Mansa
85 Kita, Sastra dan Senjata S. Andre Prasetyo Utomo
86 Upacara Pemakaman Rosdiana
87 Wanita Pada Februari Santri Nurhafni
88 Customer Service M. Fahrisi Abdillah
89 Dari Gerbang ke Gerbang Raptanaria Sinurat
90 Perempuan Sarang Moh. Rifqi Wahyudi
91 Catatan Pemilik Toko Bunga: Florentia Bayuningrum Wijiastuti
92 Amin yang Tak Seiman Marwah Nasrah
93 Sang Pria Berjarah Mujahidah, S.IP
94 Gaun Putih Marie Nisa Bidayatul Hidayah
95 Kapan Kita Rayakan Lagi Valentine di Rumah Ini Mario D.E. Kali
96 Renjana Membisu Yosua Christiawan Tedja
97 Sedetik Saja Mariana Silviani
98 Melihat Diriku Mariana Silviani
99 Hikayat Nirmawati Palolo
100 Ibu dan Lebaran Topa Ladha Joko Rabsodi

Perubahan data nominasi: Peringkat 11 dan 26 atas nama Sa'diyah Noval Izzah mencabut karya yang dikirimkan untuk diterbitkan sendiri. Untuk itu, peringkat tersebut digantikan peringkat di bawahnya.

Salam literasi,
Tulis.me