
Raedu Basha
Bebasnya tema yang ditawarkan lomba puisi Tulis.me kepada calon peserta perlombaan ini adalah sebuah pekerjaan rumah yang cukup menantang (bagi calon-calon peserta yang tertantang, dan bagi yang tidak tertantang, akan melewatkannya). Saya cukup mengapresiasi nyali peserta yang tertantang untuk berkompetisi bersama ribuan peserta yang lain. Bagi saya, keberanian untuk berlomba merupakan pilihan yang hanya dilakukan jiwa petarung. Bukankah masa depan milik mereka yang menerima segala tantangan?
Dengan bebasnya tema yang ditawarkan, beragam corak dan ragam karya ditawarkan para peserta ke meja penjurian. Mulai dari yang menampilkan kebaruan berbahasa, memainkan nada, penggalian tema, hingga respon puisi atas puisi, lokalitas, religiusitas, historisitas, bahkan tawaran tema-tema populer, antara lain seperti budaya metropolitan dan animasi, adalah dari sekian pemandangan eksplorasi yang epik ditawarkan dan menarik perhatian kami. Kalau saja semangat kreatif seperti ini dibarengi dengan napas panjang, mungkin dari Sabang sampai Merauke bukan hanya berjajar pulau-pulau, melainkan berjajar penyair-penyair. Itulah Indonesia. Hehe.
Tampak beberapa penulis puisi mengalami kegelisahan puitik dalam merajut bentuk dan tema, namun sayangnya kami harus memilih 6 jawara. Banyak puisi yang menarik, namun banyak juga puisi yang lebih menarik untuk dimenangkan.
Puisi Nenek dan Celengan Bambu (A. Warits Rovi) cukup mencuri perhatian dewan juri karena menawarkan kompleksitas. Bukan hanya sebuah hidangan yang konstruksinya utuh dengan logika terjaga sebagai sebuah cerita, tetapi juga mampu menyuarakan sentimen, antara lain suara perempuan yang diwakili nenek, cukup membuat kami 'dilukai'. Kemudian bagaimana suara masyarakat akar rumput dengan persoalan ekonomi menjadi nada puisi tersebut sebagai suara bangsa yang layak sekali untuk diperhatikan dan dipertimbangkan. Bahwa tugas kemanusiaan kita masih belum selesai baik dalam pembangunan SDM, sosial-ekonomi, hingga emansipasi dan subordinasi terhadap perempuan. Puisi ini ditetapkan sebagai pemenang pertama.
Puisi Aroma Malam Telu Likur (Silvia Arina Hidayati) adalah percobaan menulis puisi lokalitas yang cukup liar melukiskan kesakralan malam telu likur. Keliaran yang saya maksud dalam puisi ini adalah sketsa sosial dan ingatan-ingatan pengalaman atas kejadian-kejadian yang terekam dalam memori-memori literer penulisnya. Saya melihat gaya puisi ini dimainkan dengan gaya opera. Puisi ini ditetapkan sebagai pemenang kedua.
Puisi Mengenang Sebatang Lisong (Agnes Pratiwi Senduk) adalah puisi yang cukup gagah dibacakan di panggung untuk menggerakkan jiwa kemanusiaan sekaligus responsif atas pemikiran Rendra pada zamannya yang direduksi dengan pemikiran Agnes zaman ini. Suara Agnes tak kalah perkasa dengan Rendra kendati tak harus berupaya menirukan pamflet. Ia sadar, untuk menghadapi puisi sekuat pamflet sekaligus untuk berhadapan dengan Rendra, tidak harus menjadi pamflet dan tidak baik bila meniru Rendra. Agnes melakukan pilihan menjadi diri sendiri. Kendati--sebagai masukan saya--bahwa puisi ini belum cukup khas disebut sebagai "menjadi diri sendiri". Puisi ini ditetapkan sebagai pemenang ketiga.
Ketiga jawara lainnya juga menawarkan keterampilan yang tak kalah unik dan menarik. Bahkan 30 besar dalam perlombaan puisi ini cukup baik dari beberapa hal dan perlu dipikirkan ulang dalam beberapa hal.
Sebagai pesan saya yang terakhir dalam catatan ini, bahwa yang dibutuhkan dalam berkreasi adalah nyawa konsistensi dalam kreatifitas dan berinovasi sehingga pengabdian penulis akan hidup dan terbentuk, karena harapan besar dari kreativitas ialah manfaatnya dapat dirasakan masyarakat seluas-luasnya. Dalam rangka apa? Dalam rangka membawa semangat zaman. Anda juara hari ini, bukan berarti tidak butuh masukan, kritik maupun saran. Oleh karena itu, kerendahan hati diperlukan dari sekadar kreativitas, karena kerendahan hati adalah nafas panjang kreator. Salam kreatif. Tumbuh berkembang terus sastra Indonesia.
Pulau Madura, 16 April 2021
hormat saya,
Raedu Basha
Mario F. Lawi
Panitia memberi waktu para juri beberapa minggu untuk membaca semua karya peserta lomba puisi Tulis.me yang dikirim ke panitia. Pada umumnya, puisi-puisi yang dikirim para peserta belum bisa terlepas dari pandangan umum tentang puisi dan ungkapan-ungkapan klise yang sudah terlalu sering digunakan untuk menulis puisi. Penilaian ini saya ambil berdasarkan pembacaan atas puisi-puisi yang dikirim kepada saya untuk diseleksi dan dibawa ke rapat penetapan pemenang. Bagaimanapun, puisi adalah bentuk sekaligus isi. Puisi-puisi yang secara gramatika tidak beres, dan secara terang-terangan tidak dimaksudkan sebagai bagian dari pengolahan licentia poetica, langsung saya singkirkan dari penilaian tahap pertama.
Proses awal penjurian menggunakan mekanisme pemungutan suara untuk menentukan puisi-puisi apa saja yang layak dibicarakan lebih lanjut untuk ditentukan sebagai pemenang. Dalam hal ini, referensi dan khazanah masing-masing juri tak bisa tidak ikut menentukan puisi-puisi terpilih.
Melalui diskusi dan serangkaian pertimbangan, kami memilih puisi Nenek dan Celengan Bambu karya A. Warits Rovi sebagai pemenang pertama karena tema puisi tersebut sangat menarik, dan jauh berbeda dari nyaris sebagian besar tema yang diusung para peserta lomba. Puisi tersebut pun ditulis dengan baik, dan menampilkan protes dari kaum yang terpinggirkan (perempuan, miskin, tak berdaya), representasi orang-orang yang kehilangan suaranya di tengah banyak aspek kehidupan.
Puisi Aroma Malam Telu Likur (Silvia Arina Hidayati) dipilih sebagai pemenang kedua karena meskipun temanya, perjalanan fisik yang bermetamorfosis menjadi perjalanan spiritual, telah diolah selama lebih dari 2 milenium (contoh paling tua bisa kita temukan dalam epik Gilgamesh dan Odysseia), puisi tersebut ditulis dengan bahasa yang cakap dan imaji yang jernih (terutama penggunaan unsur aroma). Metamorfosis perjalanan, dari fisik ke spiritual, dalam puisi ini berpindah secara perlahan sepanjang alur puisi: membuat efek kejutan di akhir puisi menjadi menghentak dalam ketenangan penyampaian puisinya.
Pemenang ketiga adalah Mengenang Sebatang Lisong (Agnes Pratiwi Senduk) sebuah puisi yang hipoteksnya jelas dalam konteks sastra Indonesia, sebuah puisi kanonik milik sastrawan besar kita WS Rendra. Hal yang menarik dari puisi tersebut adalah keberanian Agnes menginterupsi dan menambahkan wacana-wacana ke dalam puisi kanonik untuk menjadikannya suara milik si pengujar dalam puisi Mengenang Sebatang Lisong.
Pemenang-pemenang lain, mulai dari juara harapan sampai 30 besar, berasal dari puisi-puisi yang dipilih oleh mayoritas juri. Dengan demikian, ada setidaknya aspek keberesan berbahasa, referensi masing-masing juri dan cara si penyair mengolah tema yang membedakan puisi-puisi tersebut dari sebagian besar puisi yang tidak lolos 30 besar.
Saya ucapkan selamat kepada para pemenang, dan terima kasih telah menulis puisi-puisi tersebut. Dari puisi-puisi kalian, kami juga ikut belajar.
Dirga Am
Bila sebulan belakangan saya yang menilai karya teman-teman, sekarang adil rasanya bila teman-teman yang menilai posisi dan pengalaman saya selama proses penjurian. Proses penjurian terdiri dari dua tahap: penjurian mandiri dan bersama.
Selama proses penjurian mandiri, ada empat kriteria yang saya gunakan: kebaruan, kepaduan, kemahiran, dan ‘insting’. (Saya akan kembali ke kriteria keempat ini nanti.) Kriteria pertama merujuk pada kebaruan karya relatif terhadap tradisi sastra (dan dalam konteks sebuah kompetisi, kebaruan relatif terhadap kompetitor-kompetitor lain). Satu contoh untuk menjelaskan maksud saya: Di “Canto I”, Pound seakan-akan hanya menulis ulang Buku XI, Odyssey. Namun, di bagian akhir dia lalu menyentak pembacanya dengan sebuah anakronisme: “Lie quiet Divus I mean that is Andreas Divus[.]” Dengan kriteria kedua maksud saya adalah keterhubungan antar bagian atau pilihan dalam sebuah karya. Misal, padunya pengulangan bunyi (/ɪŋ/), kata (e.g. “churches”, “greeting”), dan frasa (e.g. “one another, ”in the half light”, “walk across the bridges”) di “Nuns Go Walking” (terjemahan Rothenberg dari puisi Palazzeschi) dalam mendramatisir aktivitas berulang yang merupakan isi puisi terjemahan ini. Akhirnya, maksud saya dengan kemahiran adalah kemampuan menangani berbagai pola dalam waktu yang sama, seperti kemahiran juggler dengan bolanya. Di “Sonnet 135”, Shakespeare tidak hanya berhasil mengontrol ritma, rima, dan maksud permukaan lima kalimatnya, tetapi juga dua register diksi ‘kontradiktif’ (doa dan seksual) dan berbagai maksud “Will” (William, hasrat, penis, vagina, William yang lain, kata kerja bantu) hanya dalam empat belas baris. Barangkali idealnya ketiga kriteria ini hadir bersamaan. Sementara ini, saya pikir kehadiran salah satunya sudah cukup.
Dalam karya teman-teman yang tidak saya pilih, saya tidak menemukan satu dari ketiga kriteria di atas. Apa yang bisa saya tangkap adalah suara yang terlalu familier (suara lagu pop, suara pidato, suara pengamat politik, suara motivator TV), ‘alur’ yang terlalu umum (memulai dengan deskripsi benda langit atau cuaca kemudian turun ke isi puisi sebenarnya), ekspresi yang sudah layu, majas yang sudah mati. Ini membuat banyak dari puisi teman-teman yang saya baca seperti satu puisi yang ditulis berulang-ulang. Ketidakpaduan: tidak adanya hubungan pencampuran diksi à la Vicky atau hubungan kata dari Bahasa Sanskerta, Arab, dan Melayu Klasik dengan bagian lain di dalam puisi. Atau ketidakmahiran: yang paling banyak adalah membuat rima yang terdengar seperti metronom, atau membuat rima sesuka hati (di sini iya, di sana tidak).
Sebaliknya, dalam puisi teman-teman yang saya pilih untuk masuk timbangan dua juri lain, saya menemukan satu dari ketiga kriteria tersebut. Namun, dalam beberapa kasus, saya akui saya mengandalkan ‘insting’ saja. Barangkali karena keterbatasan saya sendiri, beberapa karya tidak bisa saya labeli dengan pasti dengan kegita kriteria yang lain, tetapi terasa salah bila tidak saya beri jalan ke tahap selanjutnya. Nyatanya, ada dari karya tersebut yang mendapat dukungan kuat dari juri lain.
Ketiga juri memang tidak selalu sependapat di penjurian bersama. Karya yang menurut saya baik karena baru, padu, dan mahir gagal lolos sebagai finalis. (Candaan puisi ini jadi kenyataan). Ketiga juri berembuk, mengakomodasi pilihan masing-masing, dan akhirnya menyepakati karya-karya juara. Selamat bagi teman-teman terpilih.

Berikut adalah daftar peringkat 100 besar Lomba Menulis Puisi ke-11 Tulis.me. Selamat kepada semua peserta yang telah mengirimkan puisi terbaiknya. Hasil ini, peringkat berapa pun itu, kami harapkan dapat terus memotivasi teman-teman untuk terus mengembangkan kemampuan menulis. Jika belum sesuai dengan harapanmu, tidak apa-apa. Masih ada hari esok untuk terus belajar dan berkembang. Kami yakin pada suatu saat nanti kamu dapat mencapainya.
Kepada pemenang, kami akan menghubungi hanya melalui nomor 085156907360. Pastikan nomornya sama untuk menghindari penipuan. Karya pemenang bisa dibaca di fasilitas lomba dalam e-book antologi lomba ke-11. Saat ini sedang dalam tahap pembuatan e-book dan akan kami unggah menyusul sekitar dua minggu lagi di dalam folder Fasilitas Lomba. Pelajari karya pemenang agar karyamu dapat lebih baik lagi. Apabila pada kemudian hari ditemukan pelanggaran berupa plagiarisme maka karya tersebut akan gugur, digantikan karya peringkat di bawahnya, dan penulis yang bersangkutan di-blacklist dari lomba Tulis.me selanjutnya.
Kepada semua peserta, fasilitas lomba segera kami kirimkan melalui e-mail maksimal 2 Mei 2021. Fasilitas lomba ini berisi beberapa hal yang kami harapkan dapat membantumu untuk meningkatkan kemampuan menulismu. Jika setelah 2 Mei 2021 belum mendapatkan fasilitas lomba, silakan menghubungi via chat Whatsapp 085156907360 ya. Tetap semangat berproses. Jaga kesehatan. Semoga harimu menyenangkan.

| Peringkat | Nama | Judul |
| 1 | A. Warits Rovi | Nenek dan Celengan Bambu |
| 2 | Silvia Arina Hidayati | Aroma Malam Telu Likur |
| 3 | Agnes Pratiwi Senduk | Mengenang Sebatang Lisong yang Diisap WS Rendra |
| 4 | Pasya Alfalaqi | Dandan |
| 5 | Muhammad Daffa | Improvisasi Susi |
| 6 | Raihan Robby | Efesus |
| 7 | Petrus Nandi | Malam Emansipasi |
| 8 | Nafi Abdillah | Stagnasi di Angka Dua Belas, Led Zeppelin |
| 9 | Alfi BS | Perjamuan Kudus |
| 10 | Budi Saputra | Anomali Meja Makan |
| 11 | Badruz Zaman | Santri 1887 |
| 12 | Hadiwinata | Senandika Seorang Pengembara |
| 13 | Pasya Alfalaqi | Siapa Kamu di Luar Telepon |
| 14 | Antonio Da Costa Viera | Jalan Salib Ibu |
| 15 | Maria Kartika | Ketika Tuhan Menyajikan Hidangan Istimewa |
| 16 | Novi Marsael | Not Alone |
| 17 | Mafira Fitri | Senandika Ingatan Singgalang |
| 18 | Ibrahim Rasyid Zamzami | Solastalgia |
| 19 | Benediktus Dosa Ndun | Thomas, Percayalah! |
| 20 | Agung Saputro | Nasib |
| 21 | Novemberia Nila | 9 November |
| 22 | Petrus Nandi | Pantar |
| 23 | Risky Mey Linda | Bocah Hujan |
| 24 | Ibrahim Rasyid Zamzami | Alegori Manusia Pesisir |
| 25 | Lee Ann Naa | Plak… Dang… Dang… Tak… |
| 26 | Hikmah Karimatul Maghfiroh | Rinai Renjana |
| 27 | Putri Mariam Anindita Erline | Dermaga |
| 28 | Abd. Halim | Mizan - Muhammad |
| 29 | Agnes Pratiwi Senduk | Dan Sidoarjo Hari Kemarin |
| 30 | Arief Rahmanto | Pertempuran Anjing Otakku dan Kucing Hatiku |
| 31 | Khrisko Suprastiwara | Seismogram Cemasmu |
| 32 | Ahmad Mulyadi | Kepada Waris Kawali |
| 33 | Ajitama Syachputra | Menuliskan Nama-Nama |
| 34 | Ahmad Ginanjar | Menyelam di Aquascape |
| 35 | Ahmad Mulyadi | Kajao: Yang Tersisa dari Bicaramu |
| 36 | Ian Hasan | Mengeja Subuh |
| 37 | Michael Dhadack Pambrastho | Sandiwara yang Tak Ditayangkan |
| 38 | Adriansyah Subekti | Kematian Sang Penyair |
| 39 | Moh. Ahsanul Umam | Kitsch |
| 40 | Okta Fajar Andiran | Menuju Muara |
| 41 | Nurjali Salam | Sang Cipta Rasa |
| 42 | Adnan Guntur | Hanyalah Langit Tak Berujud |
| 43 | Ajitama Syachputra | Menuliskan Ingatan |
| 44 | Arief Rahmanto | Kepada Ayah |
| 45 | Tunjung Sunggingsari | Meraba Karsa Sangkala |
| 46 | Shafa Ichwanus | Kepada RA (Selagi Aku di Jogja) |
| 47 | Muhammad Daffa | Hikayat Bunga Api |
| 48 | Haksena Kurniawan | Ekspedisi Si Pelaut |
| 49 | Oktriana Widarsih | Jonggrang |
| 50 | Alvin Alwi | Jagat Ibu |
| 51 | Istikomah | Ainun Majnun |
| 52 | Rahmat Alamin Maba | Anak Ghetto |
| 53 | Muhammad Daffa | Bernyanyi Kesesatan |
| 54 | Haidar Luthfi Amrullah | Aku dan Nasar yang Lapar |
| 55 | Putri Mariam Anindita Erline | Delusi |
| 56 | Wirda Wulan | Terima Kasih |
| 57 | Gus Muhlisin | Enigma |
| 58 | Wendy | Cerita |
| 59 | Riska Bagas Purnama | Selamat Pagi Tuhan |
| 60 | Raja Khamsatun | Zoom Meeting |
| 61 | Suci Sri Wahyuni | Kuning, Merah, dan Biru |
| 62 | Rospita Harianja | Awal 20 |
| 63 | Sidiq Nulhaq | Lirih Kebangkitan |
| 64 | Ajitama Syachputra | Nyanyian Partitur |
| 65 | Daviatul Umam | Suatu Hari Sebuah Mimpi Mengenang tentang Sebatang Tubuh Tempatnya Tumbuh |
| 66 | Fadlir Nyarmi Rahman | Layu Janur Kuning |
| 67 | Ramadhan Eka Syaputra | Maria: Di Tanahmu, Kukandung Biji Terlarang |
| 68 | Fadlir Nyarmi Rahman | Kaki Ranjang |
| 69 | Paulus Catur Wibawa | Jadikan Aku Lebih Daripada |
| 70 | Ani Kusnawati | Pilu Nasib Bharata Kini |
| 71 | Eko Saputra | Di Dalam Rumah |
| 72 | Paulus Catur Wibawa | Cicilan Hati |
| 73 | Hendra Gunawan | Alangkah Mesra Tuhan Menyapaku |
| 74 | Sherlynn Yuwono | Soneta itu Menceritakan Akhir Dunia |
| 75 | Fadlir Nyarmi Rahman | Kue Untuk Kalian |
| 76 | Hendra Gunawan | Ruang Temu |
| 77 | Faizal Muhammad Pramudya | Dua Cangkir Jahe Hangat |
| 78 | Aba Idris Shalatan | Apakah Aku Berdosa? |
| 79 | Almahdi Zainuddin | Sekeping Kisah dalam Ingatan |
| 80 | Pandanwangi Candraningrat | Antartika Mendekat |
| 81 | Gundul Keriting | Kopi Hitamku |
| 82 | Puji Lestari | Benciku Pada Bapakku |
| 83 | Warissuddin Soleh | Oh! Musthafawiyahku (Tribute to Pondok Pesantren Musthafawiyah) |
| 84 | Roydo Ari Pratama | Singkarak Pagi Ini |
| 85 | Nabila Ayu Ramadhani | Bangsal |
| 86 | Ramadhan Eka Syaputra | Tentang Perawan Tua Pemikul Bunga |
| 87 | Petrus Nino | Mellifluous "Lewo Ro Piring Sina" |
| 88 | Dini Cahyani | Kegelapan |
| 89 | Putri Mariam Anindita Erline | Sayat-Sayat Rahim |
| 90 | Hani Arifah | Kehidupan di Dua Halaman Kertas |
| 91 | Majdi R. Al Jihad | Klandestin |
| 92 | Istinianing Ujilestari | Nayanika Bunda |
| 93 | Deden R.H. | Sang Parna |
| 94 | Mohamad Rivan Ferianto | Panggilan Tak Terjawab |
| 95 | Hironimus Deo | Janji Mawar Pucat |
| 96 | Gisela Putri | Simulakrum |
| 97 | Haksena Kurniawan | Bolehkah Aku Merindu? |
| 98 | Hanafi Yabie | Rumah Makan Alibi |
| 99 | Ahmad Ridho Nur | Di Dalam Matamu |
| 100 | Irfan Aditiya Nugraha | Cerita tentang Rupa |
Berikut 100 peserta yang mengirimkan puisi tercepat. Bersama dengan peringkat 100 besar, peserta pengirim tercepat dapat mengikuti Kelas Menulis Daring Pelatihan Menulis Puisi. Nomor WA akan kami masukkan ke grup khusus.
| No. | Nama |
| 1 | Afriza Saharlina |
| 2 | Winda Rosa Murti |
| 3 | Ni Komang Sulistiawati |
| 4 | Putri Mariam Anindita Erline |
| 5 | Siyuk Sujarwati |
| 6 | Amirda Nuroman Permatasari |
| 7 | Arnoldus Yansen Vinsensius Bin Afang |
| 8 | Usyhida Isthofani Zahwa Diastika |
| 9 | Arsyi Fakhrani Kurniawan |
| 10 | Budianto Sutrisno |
| 11 | Amilah Hasna Fathiyyah |
| 12 | Valeria Intan Wahyuni Cipta Raharja |
| 13 | Soraya Umi Damayanti |
| 14 | Ita Prawitasari |
| 15 | Adelia Pratiwi Warrow |
| 16 | Zaed Birril Ghuzi |
| 17 | Yuliana Ndahong |
| 18 | Gabriela Vialetta |
| 19 | Wiranti Nugrah Andini |
| 20 | M. Habib Syafa'at |
| 21 | Annisa Hutami |
| 22 | Hanna Soraya |
| 23 | Ibnu Hairinnor |
| 24 | Erda Rachmawati |
| 25 | Okta Krisnawati |
| 26 | Ni Made Asih Nirmala Sari |
| 27 | Khrisko Suprastiwara |
| 28 | Poni Melati Apriansyah |
| 29 | Lilis Safitri |
| 30 | Nurrila |
| 31 | Farras Alifia Rahman |
| 32 | Dwi Prasuciarti, S.Pd |
| 33 | Ulfia Nur Faiqoh |
| 34 | Tamara Syifa |
| 35 | Firda Rahma Annisaa' |
| 36 | Hadyatul Muizzatissalmi |
| 37 | Adeleandra Sufiah El Amin |
| 38 | Yuyum Sumyati |
| 39 | Ayu Wulandari |
| 40 | Didik Nursahid |
| 41 | Pita |
| 42 | Febby Novita |
| 43 | Pranminiac |
| 44 | Wahyu Nugraha |
| 45 | Amiena Siti Raisa |
| 46 | Ade Karmila |
| 47 | Frisca Awwaliyah |
| 48 | Pindi Natania Tarigan |
| 49 | Susi Retno Utami |
| 50 | Sandi Rawakil |
| 51 | Akhodiyah Evisienna Kindah Nindya |
| 52 | Sulpadli |
| 53 | Listiati Nainggolan |
| 54 | Crisna Kemala |
| 55 | Lisna Riani |
| 56 | Fatimah Azzahrah |
| 57 | Kenchi |
| 58 | Arga Purnama |
| 59 | Elyada Adi Santoso |
| 60 | Alfin Ari Indria Kusuma Wardani |
| 61 | Wulan R.W. |
| 62 | Lilik Nur Rokhmah |
| 63 | Z. Naristina |
| 64 | Muhammad Sultan Ramadhan |
| 65 | Yaumi Hidayati |
| 66 | Risky Putri |
| 67 | Sulastri Indriani |
| 68 | Siti Haryati |
| 69 | Maria Kartika |
| 70 | Holly Poinsettia |
| 71 | Adam Hadiana Aminudin |
| 72 | Sri Hartati |
| 73 | Rudi Hartono |
| 74 | Anika Maharani |
| 75 | Komang Herisca Angreni |
| 76 | Sairijal Wijaya |
| 77 | Roydo Ari Pratama |
| 78 | Bisma Hadinata |
| 79 | Muhamad Dinik |
| 80 | Novya Nur Febriyanti |
| 81 | Hasriza Eka Putra |
| 82 | Muhammad Ilyasa |
| 83 | Isni Laelasari |
| 84 | Arya Shidqi Firmansyah |
| 85 | Yogi Dwi Prastyo |
| 86 | Schatzi Aprilluna Nur'aini |
| 87 | Hardini Boupasha |
| 88 | Wildan Ihsaniyah Syafa'ah |
| 89 | Sang Ayu Putu Diah Oktayanti |
| 90 | Levina Geby Dwi Putri A. |
| 91 | Wendy |
| 92 | Apria Randi Saputra |
| 93 | Andhini Meilis Dwiana |
| 94 | Mansur |
| 95 | Jona Megantara |
| 96 | Juman Sahbandi |
| 97 | Agnes Dewi Handayani |
| 98 | Novita Yullianti |
| 99 | Vira Ruainiah Ruswandari |
| 100 | Arya Shidqi Firmansyah |
Salam literasi,
Tulis.me

