Teman-teman, silakan membaca catatan juri sebagai evaluasi agar cerpen teman-teman menjadi lebih baik lagi.

Catatan Juri

Cerita-cerita yang tiba di meja penjurian memiliki beragam kualitas—dan sejak awal hasil pembacaan ini ingin saya sampaikan bahwa: kualitas cerpen yang saya pilih sebagai pemenang jauh di atas mayoritas naskah peserta lomba Tulis.me yang saya baca: kualitas dalam hal ini, kekuatan eksekusi gagasan, dan kekuatan bahasa yang para penulis gunakan sebagai jembatan yang menghubungkan gagasan cerita dengan capaian artistik: di luar dua hal tersebut, yang memberi nilai tambah ialah kesegaran yang berusaha ditawarkan oleh cerpen pemenang.

Secara umum, di luar karya para pemenang saya melihat kecenderungan cerita-cerita yang masuk ialah cerita yang belum benar-benar memperhatikan unsur-unsur pembangun cerita yang kuat. Saya menemukan cukup banyak cerpen dengan alur yang penuh lubang—tidak menampakkan hubungan sebab akibat secara kuat antara adegan satu dengan adegan lainnya. Alur yang penuh lubang bisa menjebak pembaca untuk jatuh ke lubang tersebut dan tak pernah lagi melanjutkan membaca cerita.

Hal lain ialah penokohan, tokoh adalah unsur penting—seperti alur, tokoh bisa menjadi penggerak dan nyawa sebuah cerita, sehingga keterampilan menghadirkan tokoh adalah satu bagian yang saya nilai: apakah caranya berbicara, caranya berpikir, caranya bertindak bahkan caranya berpakaian, logis jika dikaitkan dengan latar belakangnya? Hal lain mengenai tokoh, jarang sekali penulis cerita dalam lomba Tulis.me kali ini yang bisa memberi pembeda dengan jelas antara suara tokoh satu dan tokoh yang lain—padahal secara logis, terutama dalam konteks cerpen realis, mereka akan mengalami keragaman gaya tutur dan cara berpikir.

Setidaknya dua unsur di atas yang jadi permasalahkan utama cerita-cerita yang masuk, raga ide dan gagasan menawarkan hal-hal menarik dan selalu tumbuh harapan di diri saya, gagasan itu kelak dieksekusi dengan lebih matang—oleh penulis-penulisnya, jika mereka membaca tulisan ini.

Faisal Oddang
Penulis Cerpen Terbaik Kompas 2014 dan 2018. Penerima Asean Young Writers Award 2014. Pemenang IV Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. Tokoh Seni Tempo 2015. Finalis Kusala Sastra Khatulistiwa 2018. Penerima Robert Bosch Stiftung and Literary Colloquium Berlin 2018. Diundang dalam Iowa International Writing Program, USA 2018.

 

Poststrukturalisme, postmodernisme, dan postkolonialisme adalah paradigma-paradigma yang dalam dekade ini cukup banyak diperbincangkan. Kemunculan cara pandang tersebut bisa dikatakan sama-sama lahir dari upaya mengkritisi narasi besar yang cukup dominan seperti strukturalisme, modernisme, maupun kolonialisme. Selama beberapa dekade bahkan abad, narasi besar tersebut berdiri dengan sangat kokoh, bukan hanya pada ranah ilmu pengetahuan namun juga masuk dan mengakar dalam kehidupan ini sendiri. Narasi besar tersebut bersifat ideologis sekaligus praksis. Namun, kemunculan paradigma yang baru pada akhirnya berhasil menelanjangi narasi besar tersebut. Postrukturalisme, postmodernisme, maupun postkolonialisme muncul menjadi suatu cara pandang yang sama sekali baru mengenai dunia.

Pandangan-pandangan ini selain lahir dari pergulatan keilmuan di berbagai bidang juga tak bisa dilepaskan dari berbagai pembacaan terhadap produk-produk kebudayaan, tak terkecuali sastra. Produk kebudayaan merupakan media yang paling merepresentasikan bagaimana dunia ini termanifestasi. Dengan kata lain, kelahiran paradigma-paradigma ini juga terpengaruh oleh keberadaan produk kebudayaan tersebut, meskipun di sisi lain memiliki kemungkinan formatif yang mempengaruhi keberadaan produk-produk budaya itu sendiri.

Ketika melakukan penjurian terhadap naskah-naskah di ajang perlombaan ini, saya seperti menemukan keterkaitan antara paradigma-paradigma itu dengan beberapa karya yang hadir. Ketika membaca karya-karya yang bernuansa sejarah atau pun etnografis, saya seolah berdialog dengan pemikiran Foucault tentang genealogi maupun diskursus. Banyak wacana yang selama ini terinklusi tiba-tiba muncul--hal-hal yang tak pernah tergambarkan sebelumnya--lewat karya-karya dalam ajang ini. Begitu juga saat saya melihat bagaimana usaha para penulis melihat dan menuliskan kembali citra negara bekas jajahan seperti Indonesia, saya dapat melihat narasi berbeda kontra wacana kolonial, yang pernah digambarkan oleh Edward Said dalam Orientalisme.

Selama beberapa dekade, modernisme dan modernitas menjadi narasi besar yang begitu dominan. Modernitas sendiri muncul sebagai sebuah proyek intelektual dalam sejarah kebudayaan Barat, yang mencari kesatuan di bawah bimbingan suatu ide pokok yang terarah pada apa yang dinamakan kemajuan (Lyotard). Sesuatu yang dianggap tradisional kemudian hadir sebagai sesuatu yang irasional atau pun ketinggalan zaman. Proyek modernitas ini tak khayal memunculkan istilah-istilah stereotip seperti primitif, mitos, katrok, atau pun ketinggalan zaman. Modernitas sering kali menjadi pembicaraan utama terkait dengan wacana pusat, pembangunan, atau pun kemajuan bahkan peradaban itu sendiri. Meskipun begitu, wacana modernitas yang ”emansipatif” tersebut nyatanya telah menghadirkan kontradiksi dan problematika tersendiri. Sering kali modernitas tak mampu menjawab permasalahan zaman bahkan cenderung menghadirkan masalah baru.

Dalam posisi inilah, karya-karya  dalam ajang ini khususnya karya-karya yang terpilih bisa dikatakan memberikan nuansa yang berbeda, setidaknya memberikan cara pandang atau narasi baru dari narasi-narasi besar yang selama ini kita dengar atau baca. Beberapa karya yang terpilih misalnya,  berusaha untuk menceritakan sejarah yang selama ini jarang diceritakan melalui teks sejarah. Narasi sejarah khususnya tentang Indonesia dituliskan kembali seperti mengenai perjuangan kemerdekaan di daerah, persoalan komunisme dan Partai Komunisme Indonesia, Peristiwa 1998 bahkan sejarah agama, dihadirkan dengan cara dan sudut pandang yang berbeda dengan narasi-narasi sebelumnya. Proyek seperti ini tentu saja sudah banyak bermunculan di dalam karya-karya sastra Indonesia, khususnya Pascareformasi 1998. Namun setidaknya, karya-karya yang dimaksud memiliki nuansa yang sama dengan “semangat zaman” tersebut.

Selain itu, wacana bertema lokalitas, tradisi dan etnografis juga muncul di dalam beberapa karya dalam ajang perlombaan ini. Wacana bertema lokalitas, tradisional dan etnografis muncul dengan narasi yang lebih bebas,  ia tidak lagi berada dalam posisi yang inferior ketika dihadapkan dengan wacana tandingannya, tetapi hadir sebagai sesuatu yang memiliki posisi yang cukup penting di dalam wacana itu sendiri. Lokalitas, etnisitas, dan tradisi tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang eksotik, liar, atau banal, tetapi memiliki maknanya tersendiri.

Salah satu yang merepresentasikan hal tersebut adalah karya yang menjadi pemenang dalam perlombaan ini. Karya tersebut menunjukkan gejala yang menarik. Dari segi gaya penceritaan, karya ini cukup menghadirkan sesuatu yang baru, yang jarang atau barangkali tidak ditemui pada karya-karya yang sudah ada. Bisa dikatakan karya ini anti-mainstream. Dari gaya bahasa yang digunakan pun, karya ini cukup menjauh dari gejala metaforik yang sering kali digunakan dalam karya-karya yang pernah ada. Diksi-diksi yang digunakan bahkan sebagian besar merupakan diksi-diksi yang biasa ditemukan dalam penulisan karya ilmiah, yang tentu sangat berbeda dengan karya sastra secara umum. Ia seolah menjungkirbalikkan tradisi penulisan sastra yang selama ini didominasi oleh karya-karya yang “sastrawi” secara kebahasaan. Gaya penulisan yang demikian seolah menghadirkan kenyataan bahwa secara kebahasaan sekat antara yang kreatif dengan yang ilmiah itu pudar. Tak hanya berhenti sampai di situ, dari segi tema dan wacana, karya ini bisa dikatakan cukup kaya. Kita bisa melihat beberapa konsep oposisional seperti rasionalisme dan empirisme, mitos dan pengetahuan, tradisi dan modernitas, desa dan kota, nature dan culture atau pun dogma dan logika. Namun alih-alih mempertebal dikotomi dan hierakri di antara keduanya, karya ini semacam memberikan pembacaan dekonstruktif terhadap kebudayaan, memberikan kesimpulan tanpa hitam atau putih dan memilih menggunakan kata suci sebagai akhir ceritanya.

Fitriawan Nur Indrianto
Penulis Angin Apa Ini Dinginnya Melebihi Rindu dan Monte Carlo dan Satu Babak Kisah Cinta. Alumnus Pascasarjana Ilmu Sastra UGM. Redaktur kibul.in.

 

Secara isi, karya yang masuk ke perlombaan menulis cerpen Tulis.me hampir seluruhnya menunjukkan tendensi pencarian jati diri. Baik itu melalui cinta, perjalanan, proses berpikir, pembacaan terhadap karya lain, hingga observasi terhadap manusia dan lingkungan. Hal ini mengembalikan penulis dalam dimensi rasa yang penuh dengan kejujuran, ketulusan, harapan, dan kekhawatiran; oleh sebab itu, saya kira menulis tidak hanya menjadi proses refleksi penulis, tetapi juga pembaca. Dalam hal ini saya sebagai dewan juri sangat mengapresiasi beragamnya tema dan perspektif yang diupayakan teman-teman peserta sehingga perlombaan ini pun menjadi proses pembacaan yang kaya bagi saya secara individu. Meski demikian, ada beberapa hal yang kiranya patut teman-teman perhatikan dalam karya yang teman-teman sertakan.

Mengenai ide atau tema yang dibawakan; saya tidak pernah mempermasalahkan ide yang sama atau diulang, tetapi dalam karya perlu diperhatikan cara penulisan atau penyajian yang memiliki karakter atau ciri tersendiri. Hal ini dapat ditemukan dengan memperkaya bahan bacaan, memperluas genre karya yang dibaca, hingga berlatih menentukan gaya kepenulisan yang dinilai paling sesuai. Terdapat kecenderungan untuk memberi detail terhadap sesuatu yang seharusnya bisa dipersingkat dan pada karya-karya lainnya detail-detail ini justru hilang. Saya kira aspek-aspek terpenting dalam karya bisa dideskripsikan dengan baik daripada mendikte perasaan pembaca.

Secara teknis, perlu diperhatikan juga paragraf-paragraf panjang dan penggunaan tanda baca yang sesuai agar isi yang disampaikan maksimal. Saya melihat banyaknya pengaruh media digital, seperti penggunaan setting tulisan/paragraf yang banyak digunakan di laman-laman kepenulisan tetapi tidak disesuaikan dengan keinginan penulis untuk menjadikan karyanya meyakinkan bagi pembaca. Secara umum, ketelitian dalam penulisan ini saya kira perlu diperhatikan juga sebab alangkah sayangnya bila eksekusi cerita kurang maksimal karena alasan ini.

Teman-teman juga bisa mengasah kepekaan dan empati terhadap isu-isu yang menurut teman-teman menarik dan layak untuk digali lebih lanjut sebab hal ini juga berfungsi untuk memperkaya pengalaman teman-teman sebagai penulis; tak lain sebagai pencerita yang ulung. Setidaknya dengan lomba ini, teman-teman sudah selangkah lebih dekat dengan impian tersebut.

Innezdhe Ayang Marhaeni
Penulis Rencana Pembunuhan terhadap Kubu Pandawa. Saat ini menjadi mahasiswi Pascasarjana Ilmu Sastra UGM.

 

Berikut adalah daftar peringkat 100 besar Lomba Menulis Cerpen ke-10 Tulis.me. Selamat kepada semua peserta yang telah mengirimkan cerpen terbaiknya. Hasil ini, peringkat berapa pun itu, kami harapkan dapat terus memotivasi teman-teman untuk terus mengembangkan kemampuan menulis. Jika belum sesuai dengan harapanmu, tidak apa-apa. Masih ada hari esok untuk terus belajar dan berkembang. Kami yakin pada suatu saat nanti kamu dapat mencapainya.

Kepada pemenang, kami akan menghubungi hanya melalui nomor 082137454675. Pastikan nomornya sama untuk menghindari penipuan. Karya pemenang bisa dibaca di fasilitas lomba dalam e-book antologi lomba ke-10. Saat ini sedang dalam tahap pembuatan e-book dan akan kami unggah menyusul sekitar dua minggu lagi di dalam folder Fasilitas Lomba. Pelajari karya pemenang agar karyamu dapat lebih baik lagi. Apabila pada kemudian hari ditemukan pelanggaran berupa plagiarisme maka karya tersebut akan gugur, digantikan karya peringkat di bawahnya, dan penulis yang bersangkutan di-blacklist dari lomba Tulis.me selanjutnya.

Kepada semua peserta, fasilitas lomba segera kami kirimkan melalui e-mail maksimal 1 November 2020. Selain e-book antologi lomba ke-10, fasilitas lomba ini juga berisi beberapa hal yang kami harapkan dapat membantumu untuk meningkatkan kemampuan menulismu. Jika setelah 1 November 2020 belum mendapatkan fasilitas lomba, silakan chat Whatsapp 082137454675 ya. Tetap semangat berproses. Jaga kesehatan. Semoga harimu menyenangkan.

 

PeringkatJudulNama Penulis
1Dan Burung-Burung yang Sama Terbang di Atas KitaFinlan Adhitya Aldan
2Nambakor, 11 November 1947Wahyu Christian Adi Setya
3Doa Sunyi Abdullah KosterChris Wibisana
4Tak Ada Tiwah di Tanah IniRamadhan Eka Syaputra
5Gobok untuk Merimbun SauhBeri Hanna
6HongIndira Ratih
7The Silence KillerKalila Fayza
8Kisah Penusukan Pendongeng dalam IV BabakAhmad Abu Rifa'i
9Apa yang Lucu dari Kematian JamalLavenna Senjaya
10Eis Tin PolinWindi Gernia
11Misi TerakhirGhumai Namira Afda
12Kari dan Ratna; Epos Cinta PRRIWS. Djambak
13Badak PutihRedho Nugraha
14Orang-Orang MayanMeli Afrodita
15Setelah Puluhan Tahun PengembaraanHadiwinata
16Kencing IblisArafat Nur
17Ode Lelaki yang Menikahi LautWS. Djambak
18Surat 'Cinta'Alfira Rusfika
19Pencinta Tua dan Burung Gereja yang Bertengger di Dahan AkasiaEwel Galih
20Kurir MayatDimas Fahmil Haris
21Tabuh TitirAn Purbalien
22Putih Terlampau HitamJospram
23Prometheus UbudSarita Rahel Diang Kameluh
24Ember SampahNaufal Mahdi
25Mario Kempes dan Bramacorah KambuhanMajdi Roid Al-jihad
26Tragedi Keluarga Van den BergRian Efendi
27Senapan yang BerdarahYustisia Krisnawulandari Putri
28Rindu yang PincangIsma Yullia Rahma
29Ego dari Lima MenitIrish Illenia Martha Ayudya
30Perempuan yang Membelah CerminInung Setyami
31Pendulum yang Berhenti MengayunMizzart Al Fatih
32The PotraitBaby Zee
33De MarotDita Reista Nurfaizah
34Kisah Dokter dan AsistennyaTimoteus Yuanuario Jonta
35Benang yang TerputusAnisa Palupi Ningtyas
36Bermimpi Bersama BapakEmiliani Monika Paramita
37Presiden Ingin Dicukur MohawkTantan Rahmatullah
38Selembar Tiket KeramatUlfa Khairina
39Mantra Menembus WabahAdenar Dirham
40GelombangHaryo Guritno
41KlandestinRudi Rustiadi
42AyomAdhelia Imanianti
43PelautEko Hartono
44Gantikan Ayah di Dalam PetiNabilla Feirizky Chairunnisa
45MutekiHirali
46ShimbirahaElrond Rafsa Adjani
47Tikus-TikusWeni Nur Magfiroh
48Tanah AnimhaSri Winarsih
49Pak Toha Penjaga Perlintasan Rel Kereta Api dan Republik yang KolapsAfief Riezaldy Ahmad
50KeputusanEmi Nuryanti
51CarokDeni Dwi Prastiyo
52Kisah Manusia GajahMuhamad Rizki Ismail
53Mantar Hanya Ingin PulangDee Talia
54Hikayat Rapa'iUlfah Irani Z
55Virtual BattleAnak Agung Istri Dhika Dharma Putri
56Otak-Otak BandengElisa Dwi Susanti
57Di Balik Bilik Nomor TujuhSabina Anjani
58Malaikat yang Tersenyum Sepanjang WaktuAngga Wiwaha
59SoliterDeden Hardi
60Hari Perayaan CrimsonJessa Wahyuni Malikidini
61EudamoniaLintang Sasmita Hapsari
62MidnightKhaira Malayka Lohjenawi
63Nyai KanjengSyahrul Munir
64Seharusnya Aku Tidak Menemaninya Berbicara Kala ItuChaery Ma
65Berita Lelayu Pagi ItuRifan Nazhip
66Babad Kota PelitaSiti Mulia Al-Mufarrid
67Memandang Ke SeberangCharisa Dian Islami
68Pohon TuaFadhila Wahyuni Uria Hadau
69PerspektifMarita Ari Hartanti
70Jangan DibacaD. H. Najib
71MoonFrida Alviani Eka Putri
72Lelaki yang Ingatannya Dimakan MonsterDian Rizki Amalia
73Tangan Kiri Frida yang BodohYanti Mesak
74Laksana AsterismeAlfi Rahmatita Dzulkifli
75Pondok Kecil di Belakang RumahPalris Jaya
76Secarik Surat Kabar dari SemestaDinda Dwi Anjeli Siregar
77Cinta LokasiSinta Kharisma Yogiana
78MilahDrs Nursisto
79Setitik Noda dalam Belenggu RinduIiswatun Hasanah
80SycamoreSalamandara Prila Aulin
81Menantu KesayanganMisel
82ErebosDwi Retno Wati
83AkuRatna Sinta Purwaningsih
84MenungguMuhamad Adi Basari
85Rania dan JuanEl Narana
86Aku Ingin Bercerita dengan Pak PresidenAhmad Muzayyin
87SesepuhMia Auliah
88DerauElfara Wijaya
89Monyet di Bawah Pohon DewandaruAiu Ratna
90Ulang Tahun BapakDina Zubaidah
91Badai itu IbukuElsa Febriana Putri
92SkizofreniaAxel Firdaus Mancilla
93Pohon AmartyaTheresa Sidharta
94Lubang Penghisap KebahagiaanEster Ayu Nadeak
95Si Gadis AngkuhAmrina Rosdiana
96Madura Gerai PengantinSyahdan Maulana Jufri
97Kotak-KotakMahfut Hanani
98Pecahan Surga di Tanah MimpiAl Hakim Bani Ismail
99CanonadeRina Purwaningsih
100AmbuwahaIndriani Nurazizah

 

Berikut 100 peserta yang mengirimkan cerpen tercepat. Bersama dengan peringkat 100 besar, peserta pengirim tercepat dapat mengikuti Kelas Menulis Daring Pelatihan Menulis Cerpen. Nomor WA akan kami masukkan ke grup khusus.

NomorNama
1Tiara Advenia Utoyo
2Reza Ikhlas Anam
3Mutiara Permatahati Subekti
4Assyifa Nurrahim
5Zilvani Aprianti
6Ririn Mutia
7Dody Widianto
8Dinda Luthfiana Rozak
9Riky Ramadhani
10Satria Bangkit Sunandar
11Ni Komang Sulistiawati
12Quinnsha Ilmira Putri Virdaus
13Azka Ditya Prisma Ayu
14Yu'sri Faradillah Yusuf
15Muthmainnah
16Kiandra Citra Andinantk
17Tyastuti Prima Hapsari
18Dian Nur Afifah
19Debora Teresia Manurung
20Megadischa Putri
21Mariam B Cherry
22Maryam
23Radha Fadila
24Neng Jihan
25Lutfi Azizah
26Azzar Rizky
27Salma Aida Mazaya Ichsan
28Nur Afifa Wahdiah Waris
29Rachma Nurlela
30Maria Goreti Ketona Tobin
31Gilbert Eddyson Gunawan
32Jasmine Puspa Arofah
33Azelia Hakim Pradana
34Adwilianti Istiqomah Sri Rejeki
35Lisya Septefanie
36Amalia Puspitasari
37Ratna Sinta Purwaningsih
38Mulya Anshari
39Wico Pratama
40Raihanurrabb Pawestriaji
41Iqbal Lutfi Fuadi
42Kristin Juliana Limbong
43Sofia Aurora Septiani
44Wahyu Nur Kholifah
45Rahmi Indah Cahyani
46Wiwin Syafitri
47Muhammad Miftahul Huda
48Vania Rahmasari
49Prayogi Ebril Rio
50Sabila Nasuha
51Astri Sabar
52Dimarifa Dy
53Alya Salsabila
54Dedin Junaedin
55Naee Hava
56Leyca Ramayana
57Maisarah Sheilla
58Sabitha Assilmi Kaffah
59Luqman Fatahillah
60Angelia Mercy Setiawan
61Larasati Alivya Putri Pamungkas
62Uskuri Lailal Munna
63Latifah Novyanti
64Nawra Nasitha Hamzah
65Siti Rosima
66Mukhlisah Amin
67Ernallah Yati
68Ratna Gea
69Rini Rahmawati
70Aprilia Pradita Prameswari
71Aurora Adeliya Putri
72Shasha Septi Sabrina
73Ella Dian Permatasari
74El Fathia Raisya Qonitulhaq
75Amanda Gabryella
76Desvica Lidya Zahra Lubis
77Callista Clarabelle
78Lutvi Alawiyah
79Jessica Sitompul
80Nayla Salsabila
81Nailatul Asmahani
82Veti Kartika Maharani
83Safarena Ardiani
84Mas Udin
85Tariza Intan Wulandari
86Neng Lilis Nuraeni
87Tania Hade
88Fahrevi Firdaus
89Annisa Fathia Athala
90Yola Lelyta
91Amanda Inggar Puspita
92Vingkan Tifani Surya Putri
93Meilisa Rahmatika
94Bagas Suryo
95Noni Siti Novela
96Pendi Supratman
97Kardila Rahmania Putri
98Rani Salamah Marinda
99Salma Syifa Azizah
100Nainunisovic

Salam literasi,
Tulis.me