Lomba Menulis Cerpen Nasional 2023 Berhadiah Rp12 Juta

I
Kecenderungan Naskah Peserta
Dari seluruh naskah yang masuk, beragam tema disodorkan oleh peserta. Dari cerita fantasi, drama anak-anak kuliah, cerita berlatar etnografis, hingga cerita-cerita remaja. dengan latar budaya anak-anak SMP atau SMA. Keberagaman tema ini tentu merupakan kabar baik bagi dunia literasi Indonesia. Karena para penulis tidak hanya menggarap satu tema yang barangkali kini sedang populer di masyarakat saja, tapi para penulis juga berusaha menggarap tema lain yang tak banyak dikerjakan oleh para penulis Indonesia.
Sayangnya, dari seluruh naskah yang masuk ini, tidak semua naskah dapat dikatakan layak. Banyak naskah yang masih sangat berantakan dalam hal tata tulis dan tanda baca. Beberapa karya dikirim tanpa menyertakan judul. Selain itu kecenderungan lain yang banyak diterima oleh juri selama perlombaan, adalah naskah-naskah yang secara penulisan telah rapi, tapi sangat kacau dalam pembangunan karakter dan plot. Misalnya, pada naskah-naskah yang memaksakan dialog bahasa Inggris tanpa memperhatikan latar tempat dan budaya tokoh-tokohnya. Bahkan ada beberapa cerpen yang menggunakan nama-nama tokoh yang begitu modern, tapi mereka hidup di suatu lingkungan yang jauh dari kata modern.
Beberapa cerita fantasi yang masuk ke meja juri pun adalah naskah-naskah yang tidak mengedepankan logika cerita dalam penggarapnya. Naskah-naskah seperti ini biasanya membuat formula gelap pada suatu kejadian, tempat, atau alat yang sulit diterima oleh pembaca secara logis. Padahal sebagai sebuah cerita yang baik, logika adalah unsur paling penting karena dapat berterima kepada pembaca. Bila unsur ini dilupakan, hal yang terjadi adalah yang demikian. Maka cerita-cerita fantasi tersebut akan kehilangan konteks penceritaannya di tangan pembaca yang lebih luas di Indonesia.
Akan tetapi, kecenderungan yang paling sering ditemukan oleh juri di dalam lomba ini, adalah cerpen-cerpen dengan latar sekolah, seperti SMP atau SMA. Cerpen-cerpen dengan tema seperti ini biasanya akan bergulat pada roman percintaan yang plotnya sudah dapat ditebak sejak kalimat atau paragraf pertama. Kemonotonan cara mengerjakan plot, karakter, dan konflik ini akhirnya membuat cerita-cerita berlatar SMP dan SMA ini gugur di tangan juri. Apalagi konsep ‘Korea Dream’ atau ‘K-Pop’ yang sering kali dipaksakan untuk masuk ke dalam cerita-cerita dengan latar dan konflik bangku sekolah. Konsep ‘Korea Dream’ akhirnya berbenturan dengan setting dan karakter kebanyakan tokoh di dalam cerita, hingga membuat cerita-cerita tersebut terbaca sebagai karya klise tanpa konteks yang jelas pada pembaca Indonesia.
Keunggulan Naskah Pemenangan
Di tengah dominasi dan monotonitas cerita yang banyak berkutat dengan drama tanpa konteks sosial yang jelas, juri juga menemukan naskah-naskah unggulan yang layak untuk dipertimbangkan dan dimenangkan dalam perlombaan. Misalnya pada cerita berjudul Persembahan Terakhir untuk Ambe bercerita dengan problem kehidupan masyarakat Toraja yang kompleks dengan budaya pemaknaannya yang mahal. Unsur etnografis Toraja dihadirkan secara padu di dalam naskah tanpa meninggalkan esensi sebuah cerita. Konflik sosial dari mewahnya upacara pemakaman tidak luput disorot oleh penulis. Hal ini lah yang kemudian menarik perhatian para juri untuk memilih naskah tersebut sebagai juara pertama perlombaan.
Kemudian pada cerpen berjudul Anak-Anak Maut para juri menemukan keunikan dan kesegaran ide. Cerpen tersebut dengan satir menceritakan kematian yang sebenarnya getir menjadi satu ritus yang begitu biasa dan umum. Penulis juga dengan santai dan penuh humor menceritakan kesibukan para malaikat yang jenuh menjatat dan mencabut nyawa umat manusia di bumi. Karena alasan ini para juri kemudian memilih naskah berjudul Anak-Anak Maut sebagai pemenang kedua dalam perlombaan ini.
Terakhir cerpen berjudul Dia, Si Tanpa Nama adalah cerpen dengan tema cerita fantasi/dongeng yang menarik perhatian juri. Cerpen ini secara apik memainkan karakter dan plotnya sehingga para juri tercengang dengan ending cerpen tersebut. Naskah-naskah lain yang masuk di dalam daftar dua puluh besar pun adalah naskah-naskah pilihan yang sangat layak untuk dibaca. Naskah-naskah tersebut memiliki keunggulan mengenai kerapian cara penulisan, logika , plot, dan karakter. Ide-ide yang ditawarkan pun cukup menarik. Dari drama percintaan, ekologi, tragedi 1998, hingga cerita satir moralis-keagamaan.
Juri sangat senang menerima naskah-naskah yang menonjol ini di tengah naskah lain yang masuk kepada juri. Dengan demikian para juri berharap keberagaman tema ini dapat menjadi tawaran bagi publik pembaca di Indonesia.
-- Risda Nur Widia
II.
Lomba penulisan cerpen ke-14 yang diadakan Tulis.me ini merupakan kali kedua saya terlibat sebagai salah satu juri. Secara menyeluruh, mayoritas karya-karya peserta lomba kali ini memiliki kecenderungan bercerita seputar dunia sekolah. Hal tersebut barangkali karena lomba ini dibuka untuk umum dan peserta pelajarnya lebih banyak. Beberapa tema unik yang tergolong baru juga saya temukan dalam karya-karya kali ini, dari fan fiction, fantasi, hingga komedi.
Seluruh karya tersebut saya pilih dengan mempertimbangkan beberapa hal, yakni judul, pembuka, tata bahasa, cara bercerita, dan ending. Secara sederhana, saya memilih judul dan pembuka cerpen yang menarik sebagai modal untuk saya membaca secara keseluruhan. Pembuka yang kurang menarik dan bertele-tele tidak saya baca sampai akhir karena mengingat tenggat waktu penjurian. Karya yang berhasil menarik saya sejak pembuka akan saya baca sampai akhir hingga saya mempertimbangkan tata bahasa, cara bercerita, hingga ending untuk saya masukkan ke karya unggulan saya.
Karya-karya yang tidak masuk unggulan saya, biasanya memiliki judul dan pembuka yang kurang menarik. Sebagai contoh, di awal, penulis cerpen terlalu bertele-tele memperkenalkan diri atau menceritakan perasaannya, padahal medium cerpen ini singkat sehingga dibutuhkan kepadatan dalam bercerita. Tata bahasa juga menjadi pertimbangan saya dalam memilih cerpen unggulan. Salah tik, salah susunan kalimat, atau pemilihan kata yang tidak tepat akan mengganggu cara pembacaan saya. Beberapa cerpen bahkan memiliki pemilihan kata yang kurang tepat yang justru membuat makna jadi kabur.
Selain itu, banyak di antara cerpen-cerpen yang saya terima tidak melalui penyuntingan sehingga pembacaan cerpen jadi terganggu. Beberapa bagian yang kurang rapi tersebut mayoritas ada pada penulisan dialog, dalam hal penempatan tanda petik ganda, koma, dan titik. Untuk itu, para peserta sebaiknya membaca ulang karya dan meminta teman atau editor untuk menyunting sebelum dikirim ke lomba. Naskah yang sudah rapi tentu akan membuat para juri nyaman membacanya.
Cara bercerita juga menjadi salah satu pertimbangan saya dalam memilih cerpen unggulan. Cara penceritaan yang menarik akan membuat saya terhanyut dalam ceritanya. Saya lebih suka cerpen yang memiliki teknik bercerita yang baik, seperti menunjukkan sesuatu (show don’t tell) alih-alih menceritakan sesuatu. Gaya bertutur tersebut bukan hanya membuat kami tidak bosan dalam membaca, melainkan juga membuat kami membuat tafsir-tafsir atas kata-kata yang ditulis.
Beberapa cerpen juga saya pertimbangkan ending-nya. Ending yang baik akan mempengaruhi nilai saya terhadap suatu cerpen. Sebaliknya, ending yang kurang baik atau ending yang tidak memberikan kesempatan pembaca untuk menafsirkannya akan merusak sebuah cerpen. Untuk itu, penggunaan kalimat didaktis atau menerangkan maksud cerpen di ending sebaiknya dihindari. Cerpen dengan ending yang multitafsir akan memberikan nilai plus sekaligus membuat karya tersebut layak dibaca berulang-ulang.
Akan tetapi, dari beberapa karya yang menurut saya kurang tersebut, beberapa karya lain dalam lomba ini berhasil menyentuh hati saya. Karya-karya tersebut berhasil membuat saya penasaran sejak judul, lalu pembuka, ditambah dengan cara bercerita dan tata bahasa yang baik, plus ending yang memikat, sehingga saya masukkan ke karya unggulan. Karya-karya unggulan ini kemudian ditandingkan dengan karya-karya unggulan dari dua juri lainnya saat rapat penjurian.
Akhirnya, kami telah memutuskan para pemenang lomba cerpen Tulis.me ini. Para pemenang dan urutan karya ini sudah disetujui secara bersama oleh ketiga juri. Untuk itu, saya ucapkan selamat kepada para peserta yang menang dan karyanya masuk dua puluh besar. Untuk para peserta yang belum masuk, jangan berkecil hati karena masih ada potensi dan kesempatan di lain watu untuk terus belajar. Untuk peserta yang masuk dua puluh besar, selamat, kami masih menantikan cerita-cerita baru kalian. Kemudian, untuk semua peserta, jangan berhenti menulis! Salam literasi!
-- Achmad Muchtar
III
Membaca cerpen-cerpen dalam lomba Tulis.me kali ini adalah pengalaman yang menarik sekaligus menantang. Topik yang diangkat cukup variatif. Ada yang menanamkan muatan sejarah, cinta, orientasi seksual, kritik sosial, kesehatan mental, agama, dan sebagainya.
Sebagai seorang editor bahasa, saya tidak bisa menyingkirkan insting dan pengetahuan menyunting yang saya miliki ketika sedang meninjau cerpen. Memang, perkara ejaan dan kaidah bukanlah tanggung jawab utama seorang penulis. Namun, penulis yang memperhatikan unsur ini punya nilai lebih di mata saya. Tandanya, mereka membaca ulang tulisan mereka sendiri guna meminimalkan saltik. Ditambah lagi, mereka tidak malas untuk membuka kamus dan mengecek ejaan serta terbiasa membaca karya bermutu lainnya yang mampu memperkaya referensi penulisan. Mereka membuktikan bahwa menulis adalah pekerjaan yang memerlukan kedisiplinan dan ketekunan.
Saya lihat, hampir semua cerpen masih tergesa-gesa untuk mencapai garis akhir; banyak penulis yang ingin menyudahi cerpennya dengan segera. Dugaan saya, hal ini tidak terlepas dari kebingungan dalam membangun tegangan cerita, mungkin tenggat yang mengintai, dan keterbatasan halaman. Apa imbasnya? Tentu karakterisasi yang tidak matang. Tokoh berubah watak dalam waktu yang cepat pada dunia yang realistis. Harus saya katakan, inilah tantangan utama dalam menulis cerpen: membangun cerita yang utuh dan berlogika di rentang halaman yang singkat.
Ketika mengikuti lomba, kita memang sebaiknya berpegangan penuh pada aturan yang tersedia dan memanfaatkannya sebaik mungkin sebagai batu loncatan. Khazanah sastra kita sudah berwarna sejak sekian lama. Banyak cerpen-cerpen Indonesia yang tidak memerlukan dua belas halaman untuk membangun suatu cerita yang utuh. Semoga mereka bisa jadi bahan refleksi dan referensi bagi penulis untuk ke depannya.
Membaca dan menilai adalah dua hal yang berbeda. Saya suka membaca, namun sebagai juri tentu saya sempat gamang untuk menentukan pemenang. Buat saya, siapa pun yang berani menulis sudah pantas menjadi pemenang, paling tidak untuk dirinya sendiri. Jadi, untuk penulis yang belum berhasil memenangkan lomba ini, jangan berkecil hati, bukan berarti tulisanmu buruk. Lomba seni bukanlah pacuan kuda, sisi subjektivitas selalu menjadi isu utama dalam penjurian. Bisa saja, tulisanmu tidak sesuai dengan selera saya, Mas Risda, serta Mas Muchtar sebagai juru nilai. Dan tidak ada yang salah dengan itu, kita sedang berbicara tentang keberuntungan.
Kemudian, saya ucapkan selamat kepada para penulis yang berhasil mengambil hati kami, juri-juri. Semoga kemenangan ini tidak menjadi modal kamu untuk menyombongkan diri. Berbanggalah dengan tetap merunduk, beranjak, dan kembali menulis.
Salam.
-- Yudhistira

Kepada seluruh peserta, fasilitas lomba segera kami kirimkan melalui e-mail dan chat Whatsapp maksimal 9 Oktober 2022. Jika setelah tanggal tersebut belum mendapatkan fasilitas lomba, silakan menghubungi via chat Whatsapp 081340723620 ya.
Kelas Menulis Daring akan diinformasikan waktu pelaksanaannya melalui story dan higlihght IG @tulis.me. Harap selalu memantaunya ya!

Berikut daftar peringkat 200 besar Lomba Menulis Cerpen ke-14 Tulis.me. Selamat kepada semua peserta yang telah mengirimkan cerpen terbaiknya. Hasil ini, peringkat berapa pun itu, kami harapkan dapat terus memotivasi teman-teman untuk terus mengembangkan kemampuan menulis. Jika belum sesuai dengan harapanmu, tidak apa-apa. Masih ada hari esok untuk terus belajar dan berkembang. Kami yakin pada suatu saat nanti kamu dapat mencapainya.
Kepada pemenang, kami akan menghubungi hanya melalui nomor 081340723620. Pastikan nomornya sama untuk menghindari penipuan. Karya pemenang akan diunggah di story dan hightlight Instagram @tulis.me serta bisa dibaca dalam e-book antologi lomba ke-14. Mohon pelajari karya pemenang agar karyamu dapat lebih baik lagi. Apabila pada kemudian hari ditemukan pelanggaran berupa plagiarisme maka karya tersebut akan gugur, digantikan karya peringkat di bawahnya, dan penulis yang bersangkutan di-blacklist dari lomba Tulis.me selanjutnya.

| Peringkat | Judul Cerpen | Nama Penulis |
| 1 | Persembahan Terakhir untuk Ambe | Prima Aksara |
| 2 | Anak-Anak Maut | Atikribo |
| 3 | Dia, Si Tanpa Nama | Dwi Intan Permatasari |
| 4 | Setelah Runtuh Pelabuhan, Setelah Rapuh Pelukan | Daruz Armedian |
| 5 | Warisan Melipat Ketupat | Erna Widi |
| 6 | Amplop | Romanto |
| 7 | Umat di Genggaman Android Sang Ngustaz | Wahyu Ciptadi Pratama |
| 8 | Ibuku Seorang Pencuri | Sasti Pebry Ayuni |
| 9 | Perihal Menyiapkan Sambal | Salimulloh Tegar Sanubarianto |
| 10 | Boneka Milik Anna | Said Adji Faturrahman |
| 11 | Virus di Ordo Su | Nathanio Chris Maranatha Bangun |
| 12 | Janda itu Aib | Saroya Rizkiya Anggi |
| 13 | Terbiasa untuk Mencintai | Greensasa |
| 14 | Jangan Taruh Jenazah Bapak di Luar! | Mariemon Simon Setiawan |
| 15 | Perempuan Berat Dosa | Petrus Setiawan |
| 16 | Tulah di Tanah Kutai | Nur Cholish Majid |
| 17 | Hendra dan Titipannya | Fathimah Aqila Dhiya |
| 18 | Langit Merah dan Ralin Pemberian Bapak | Windy Marthinda |
| 19 | Frontier Kalimantan | Dan Jak |
| 20 | Rangkaian Kata | Felicia Putri Ramadhani |
| 21 | Perburuan Cincin | Sarah Monica |
| 22 | Ain | Mustofa |
| 23 | Kegelisahan Karmin | Ayu Riyadul Fitri |
| 24 | Dendam Membara | Katria Rosa Indrianti |
| 25 | Dendam di Makam Sumianah | Yudha Pradina |
| 26 | Kajan | Desmira Feri Susanti |
| 27 | Guyonan Maut | Neng Lilis Nuraeni |
| 28 | Pengadilan Sinta | Antonius Fadjar Tri Prasetyo |
| 29 | Bondan Kejawan | Risen Dhawuh Abdullah |
| 30 | Penjaga Kuburan | Dyah Kustiyanti |
| 31 | Sungai Rengganis | Y.P. Purwa |
| 32 | Sarangan | Moh. Tsabit Husain |
| 33 | Tikungan Tajam | Febriana Christiani |
| 34 | 1000 Bangau Kertas | Isabel Davyna |
| 35 | Russian Roullete | Aliurridha |
| 36 | Merantau | Ade Mulyono |
| 37 | Fila Rai Moris Fatin | Yanti Mesak |
| 38 | Janji Kunto | Petrus Setiawan |
| 39 | Suwage | Banta Johan |
| 40 | Risiko Sebuah Tekad | Bunda Tisti |
| 41 | Surga yang Sirna di Telapak Kakinya | Sukron Tajudin |
| 42 | Hari Ini dan Kemarin | Arami Kasih |
| 43 | Halte Bus Dini Hari | Geofanny Adityo Wibowo |
| 44 | Pertalian Harsawijaya dan Yikomusu | Risen Dhawuh Abdullah |
| 45 | Raminem | Bernarda Prihartanti |
| 46 | Konversi | Ach. Rofiq |
| 47 | Yang Tersembunyi dari Balik Sungai Narmada | Dewandaru Ibrahim Senjahaji |
| 48 | Gearza dan Enyx: Lahirnya Kesatria dari Kekuatan Jahat | M Rizki Febriansah |
| 49 | Sang Putri Mahkota | Fitriyana Ayu Aprilyanti |
| 50 | Elara | Dyalicate |
| 51 | Kepada Seorang yang Bapak Ingin Dirinya Segera Pulang | Tiara Rahmayanti |
| 52 | Kreator & Kacamata Pride Not to be Proud of | Ridlo Al Damanova Diyan Hangasti |
| 53 | Seorang Bajing dan Bajak Lautnya | Zainal A. Hanafi |
| 54 | Senandika Lara | Aprillia Ratna Sasmita |
| 55 | Kucing dan Pengemis (Gila) | Wahida |
| 56 | Farewell, Aurora Borealis | Rania Alma Adiva |
| 57 | Glosophobia | Ratna Purwaningtyas |
| 58 | Seruan Juang di Tanah Eropa | Adrias Moha |
| 59 | Sosok Bermata Hijau | Indah Sri Wahyuni |
| 60 | Layu, kemudian mati | Rizal |
| 61 | ETHEREAL | Naleta |
| 62 | Tujuh Impian | Andreas Kevin Hadinata |
| 63 | Amanat Sang Majikan | Chairani |
| 64 | Lihat Aku | Aina Mardiah |
| 65 | Bunian | Hetrys Jailani |
| 66 | Rid dan Albert | Sigit Candra Lesmana |
| 67 | Selamat Hari Guru | Dhifa Sephi Parameswari |
| 68 | Terima Kasih Paduka Yang Mulia Kaisar Chow Wen Whang! | Tateng Gunadi |
| 69 | First Love | Binti Fitriana Devi |
| 70 | Kembali ke Titik 0 (Nol) | Hartati |
| 71 | Anak dan Pohon Terakhir | Ilham Khalid Pramunsyi Hamid |
| 72 | Abian dan si Pembunuh Kecil dari Wuhan | M. Yunus |
| 73 | Tanah Berlian | Sarita Rahel Diang Kameluh |
| 74 | Senandika Tanpa Suara | Mayllema_Sprouse |
| 75 | Cahaya 1972 | Marenda Posya |
| 76 | Sehari untuk Selamanya | Munawar Mardin |
| 77 | Daun Setengah Mengering | Royadi |
| 78 | Rembang Petang yang Tersayang | Hijranisa Ditami |
| 79 | Mencari Dominicus | Iqbal Dewanto Abizars |
| 80 | Sarung Suamiku | Qonitatillah |
| 81 | Catatan Bunga | Vivid Noor Cholifah |
| 82 | Ini Langit Kita Juga, Sam | Antonius Fadjar Tri Prasetyo |
| 83 | Jakarta dan Dendam | Michelia Aisha Rangkuti |
| 84 | Sia-sia | Aftania Mahisna |
| 85 | Asal mula Desa Sangen dan Siraman | Hery Anggorowati |
| 86 | Pil Kedua Puluh Lima | Darma Melati |
| 87 | Bertolak | A. Zahra |
| 88 | Rasa Kopi Tempo Hari | Dewi Santa Florida |
| 89 | Rumpang | Fizianissya Amandarizki |
| 90 | Jatuh Tempo | Ketrin Wulandari |
| 91 | Perjalanan Selembar Uang untuk Mimpi Tina | Bima Suci Kuat Ariyo Sasongko, S.Pd. |
| 92 | Pembusukan | Akiraka Ramadhan |
| 93 | Selesai. | Nadhira Eka Maharani |
| 94 | Self Love Is True Love | Ayunda Wulan Candrawati |
| 95 | Anak Nelayan yang Menjadi Cerdikiawan | Andreas Widjaya |
| 96 | Batu di Depan Rumah Kosong | Ilham M. Anam |
| 97 | Takut terhadap Hujan | Arnila Trisna Putri |
| 98 | Si Tanpa Nama | Azura Urfa |
| 99 | Suatu Malam di Bulan Desember | Irma Malinda |
| 100 | Hilangnya Rasa Kemanusiaan | Safira Amalia Kristanto |
| 101 | Bullying | Giniawan Risna Sofiani |
| 102 | Bad Girl | Shoipa Try Anggraini |
| 103 | Sakumu Bolong, Tuan Koki | Muhammad Zulhilmi Zaim |
| 104 | Short Biography Study by Theressa Judy Rose | Faiqa Hadya Hanifa |
| 105 | Menabur Cinta Ibu di Atas Tulang Bapak | Maulidia |
| 106 | A Regret | Nuraini Dwi Pratiwi |
| 107 | Suara Hati Ayah | Mutiara Balqis Harahap |
| 108 | Cik Anna | Rayhan Aulia Prakoso |
| 109 | Asa dalam Sangkar | Ni Putu Ristia Ayu Ningsih |
| 110 | Rajapatni | Andreas Agil Munarwidya |
| 111 | Juru Selamat dari Siera Maestra | Sigit Candra Lesmana |
| 112 | Seorang Bocah dalam Dongeng Ateefa Amberlee | Kalistus Gaudensius Ogilvie Daut |
| 113 | Eloise dan Kanigaranya | Priska Maharani Setiawati |
| 114 | Perjumpaan Bermakna | Bintang David Hutabarat |
| 115 | Place We Went To | Zihahintya Birhami |
| 116 | Penyembuhan Mistis | Bangkit Rahardian Pamungkas |
| 117 | Pribadi Cahaya Surga | Gardeneo Harra Paradisva |
| 118 | Endless Chevienety | Aireen Gwen Amaura Subiantono |
| 119 | Dekapan Petaka | Mey Thaniuss |
| 120 | Di Balik Sembilan Nyawa | nyayu agustina dewi |
| 121 | Bercahayalah | Jilly Anggriani |
| 122 | Dream | Llénara |
| 123 | Jas Hujan Merah | Wa Ode Firan Salwa Suri |
| 124 | Home | Laila Larasati |
| 125 | Bukan Putri Tidur | Alfiyung |
| 126 | Jodoh Menurutku | Reza Khaidar Achmad |
| 127 | Aku Juara, Bu Mir | Otih Mei Ratna Puri |
| 128 | Dragonsword | Nayla Ilmira Azmi |
| 129 | Mati Hati | Stephanie Cindy |
| 130 | I’m Here | Felicia Putri Ramadhani |
| 131 | Lili Putih, Kaulah Saksi Hidupku | Lily_Rain |
| 132 | Aku dan Diriku | Tikah |
| 133 | Good By Covid – 19 dan Daring, PTM Yes | Anggi Amalya Putri |
| 134 | Bunga yang Layu | Nuna_Dee |
| 135 | Hujan dan Boneka Beruang | Ragiel JP |
| 136 | Hujan di Tanah Abang | Raia |
| 137 | Ibu Jari dan Bola | Della Nurfadilah |
| 138 | Izinkan Aku Pulang | Nindita Bella |
| 139 | Jalan Kematian | Najwa Fitria Ramadhani |
| 140 | Gaudira | Licia Setiadarma |
| 141 | Cinta yang Jahanam | Budi Faizal |
| 142 | Gonggongan Anjing | Kinanti Dadana |
| 143 | Jangan Panggil Namaku | Annurul Hasan |
| 144 | Nirmala | Khorihah |
| 145 | Ia Hanya Mendengar | Joceline Candra Kanti Tara |
| 146 | Nisan Tanpa Penanggalan | Ridlo Al Damanova Diyan Hangasti |
| 147 | Para Penanti Hujan | Dona Windasari Septiana |
| 148 | Pada Tepian Senja | Elisa Dwi Susanti |
| 149 | Sartono di Lembah Iblis | Rahmad Alam |
| 150 | Eksplorasi, Penelitian, dan Pemusnahan Anomali di Sungai Anomali (Anomali-006) | Achmad Liem Souliyong |
| 151 | Pekerti Rohan | Wiken Kamal |
| 152 | Setetes Peluh Diantara Setangkup Cinta | Aishah Wulandari |
| 153 | Rinai di Kala Sore | Gregorius Narayana Perbawa |
| 154 | Penusupan | Fani Farhatul Aini |
| 155 | Oscuro Segreto | Sekarayu Faradi Susilo |
| 156 | Nama Gadis Itu dan Tragedi di Sudut Kafe | Yoga A. Pratama |
| 157 | Mesin Pompa Air Kami Rusak | Rudi Ardiansah |
| 158 | Soto Ayam Mang Ujan | Anisa Nursabilah |
| 159 | Tanah Tak Bertuan | Teuku Daniel Arfan |
| 160 | Siklus Malam | Ubaidillah Kamal Faseh |
| 161 | Lima Pertanyaan | Dea Amartia |
| 162 | The Battlefield | Joanna Chelsea Patricia Salvi |
| 163 | Penemuan Jasad Misterius | Noor Syarifudin |
| 164 | Perempuan dengan Gelang Gading di Tangan Kanannya | Yosep Molan Tapun |
| 165 | Harapan Si Sandwich | Suhartommy Salim |
| 166 | Kesedihan Bapak | Risen Dhawuh Abdullah |
| 167 | Panggil Aku Ame Rungge | Yuan Jonta |
| 168 | Dupo Satu Suro | Fauzi Nanda Saputra |
| 169 | Setangkai Anggrek Bulan Merah | Andi |
| 170 | Mayat itu Masih Sari | Nabilla Feirizky Chairunnisa |
| 171 | Tukang Gosok Sepatu | Febriana Kusuma Dian Mayasari |
| 172 | Pesan Pencopet untuk Pacarku | Angga Sentosa Wijaya |
| 173 | Kentut | Dian Guci |
| 174 | Elegi Spektator Dunia | Nur Ilmi Eka Putri |
| 175 | Lembayung | Azura Urfa |
| 176 | Menjadi Priyayi | Octa Berlina |
| 177 | Petak Umpet | Dini Farikhatul Izza |
| 178 | Ndi & Bapak | N. Salsabila |
| 179 | Operasi Mata Angkasa | Maximillian Montero C U |
| 180 | Bualan Asmara di Kaki Senja | Rizqi Maulana |
| 181 | De Lucio | Fadillah Adelia |
| 182 | Gubuk Tua Dakocan | Widya Rosita Liliani |
| 183 | Di Balik Robot Penghibur | Rico Ricardo Lumban Gaol |
| 184 | Tanggal Tua | Muhammad Bambang Hasanuddin |
| 185 | The Twins’ Adventures | eyes0cream |
| 186 | Perjuangan yang Belum Usai | Kiki Luluk Khondziroh |
| 187 | Garwa | Ramdani |
| 188 | Potret Buram di Museum | Puspa Seruni |
| 189 | Dua Detektif dan Satu Pembunuhan | Nayla Mahira |
| 190 | Pilihan | Lana Patricia Chen |
| 191 | Pengorbanan Seorang Anak | Lailatul Rahmadini |
| 192 | Mystery of 2201 | Isabel Davyna |
| 193 | Mengalir di Diriku | Daud Iffa Fauzan Argana |
| 194 | Lily | Rabiatul Wahyu |
| 195 | Legenda Asal Mule Muang Jong | Rizqi Iu Alhaura |
| 196 | Kenapa Tidak Ada Pemburu Tikus di Rumah Tikus Kaya? | Wulan Putri Irawan |
| 197 | Ketika Tuhan Rindu | Latifah Aida |
| 198 | Kutuk Kamera | Dona Windasari Septiana |
| 199 | Aku yang Lain | Andi Putri Yasmin |
| 200 | Sebait Sajak di Penghujung Napas | Mulyadi |
Tetap semangat berproses. Selamat bertemu pada lomba berikutnya. Salam literasi,
Tulis.me

