Lomba Menulis Cerpen Nasional 2023 Berhadiah Rp12 Juta

I

Kecenderungan Naskah Peserta

Dari seluruh naskah yang masuk, beragam tema disodorkan oleh peserta. Dari cerita fantasi, drama anak-anak kuliah, cerita berlatar etnografis, hingga cerita-cerita remaja. dengan latar budaya anak-anak SMP atau SMA. Keberagaman tema ini tentu merupakan kabar baik bagi dunia literasi Indonesia. Karena para penulis tidak hanya menggarap satu tema yang barangkali kini sedang populer di masyarakat saja, tapi para penulis juga berusaha menggarap tema lain yang tak banyak dikerjakan oleh para penulis Indonesia.

Sayangnya, dari seluruh naskah yang masuk ini, tidak semua naskah dapat dikatakan layak. Banyak naskah yang masih sangat berantakan dalam hal tata tulis dan tanda baca. Beberapa karya dikirim tanpa menyertakan judul. Selain itu kecenderungan lain yang banyak diterima oleh juri selama perlombaan, adalah naskah-naskah yang secara penulisan telah rapi, tapi sangat kacau dalam pembangunan karakter dan plot. Misalnya, pada naskah-naskah yang memaksakan dialog bahasa Inggris tanpa memperhatikan latar tempat dan budaya tokoh-tokohnya. Bahkan ada beberapa cerpen yang menggunakan nama-nama tokoh yang begitu modern, tapi mereka hidup di suatu lingkungan yang jauh dari kata modern.

Beberapa cerita fantasi yang masuk ke meja juri pun adalah naskah-naskah yang tidak mengedepankan logika cerita dalam penggarapnya. Naskah-naskah seperti ini biasanya membuat formula gelap pada suatu kejadian, tempat, atau alat yang sulit diterima oleh pembaca secara logis. Padahal sebagai sebuah cerita yang baik, logika adalah unsur paling penting karena dapat berterima kepada pembaca. Bila unsur ini dilupakan, hal yang terjadi adalah yang demikian. Maka cerita-cerita fantasi tersebut akan kehilangan konteks penceritaannya di tangan pembaca yang lebih luas di Indonesia.

Akan tetapi, kecenderungan yang paling sering ditemukan oleh juri di dalam lomba ini, adalah cerpen-cerpen dengan latar sekolah, seperti SMP atau SMA. Cerpen-cerpen dengan tema seperti ini biasanya akan bergulat pada roman percintaan yang plotnya sudah dapat ditebak sejak kalimat atau paragraf pertama. Kemonotonan cara mengerjakan plot, karakter, dan konflik ini akhirnya membuat cerita-cerita berlatar SMP dan SMA ini gugur di tangan juri. Apalagi konsep ‘Korea Dream’ atau ‘K-Pop’ yang sering kali dipaksakan untuk masuk ke dalam cerita-cerita dengan latar dan konflik bangku sekolah. Konsep ‘Korea Dream’ akhirnya berbenturan dengan setting dan karakter kebanyakan tokoh di dalam cerita, hingga membuat cerita-cerita tersebut terbaca sebagai karya klise tanpa konteks yang jelas pada pembaca Indonesia.

Keunggulan Naskah Pemenangan

Di tengah dominasi dan monotonitas cerita yang banyak berkutat dengan drama tanpa konteks sosial yang jelas, juri juga menemukan naskah-naskah unggulan yang layak untuk dipertimbangkan dan dimenangkan dalam perlombaan. Misalnya pada cerita berjudul Persembahan Terakhir untuk Ambe bercerita dengan problem kehidupan masyarakat Toraja yang kompleks dengan budaya pemaknaannya yang mahal. Unsur etnografis Toraja dihadirkan secara padu di dalam naskah tanpa meninggalkan esensi sebuah cerita. Konflik sosial dari mewahnya upacara pemakaman tidak luput disorot oleh penulis. Hal ini lah yang kemudian menarik perhatian para juri untuk memilih naskah tersebut sebagai juara pertama perlombaan.

Kemudian pada cerpen berjudul Anak-Anak Maut para juri menemukan keunikan dan kesegaran ide. Cerpen tersebut dengan satir menceritakan kematian yang sebenarnya getir menjadi satu ritus yang begitu biasa dan umum. Penulis juga dengan santai dan penuh humor menceritakan kesibukan para malaikat yang jenuh menjatat dan mencabut nyawa umat manusia di bumi. Karena alasan ini para juri kemudian memilih naskah berjudul Anak-Anak Maut sebagai pemenang kedua dalam perlombaan ini. 

Terakhir cerpen berjudul Dia, Si Tanpa Nama adalah cerpen dengan tema cerita fantasi/dongeng yang menarik perhatian juri. Cerpen ini secara apik memainkan karakter dan plotnya sehingga para juri tercengang dengan ending cerpen tersebut. Naskah-naskah lain yang masuk di dalam daftar dua puluh besar pun adalah naskah-naskah pilihan yang sangat layak untuk dibaca. Naskah-naskah tersebut memiliki keunggulan mengenai kerapian cara penulisan, logika , plot, dan karakter. Ide-ide yang ditawarkan pun cukup menarik. Dari drama percintaan, ekologi, tragedi 1998, hingga cerita satir moralis-keagamaan.

Juri sangat senang menerima naskah-naskah yang menonjol ini di tengah naskah lain yang masuk kepada juri. Dengan demikian para juri berharap keberagaman tema ini dapat menjadi tawaran bagi publik pembaca di Indonesia.

-- Risda Nur Widia

II.

Lomba penulisan cerpen ke-14 yang diadakan Tulis.me ini merupakan kali kedua saya terlibat sebagai salah satu juri. Secara menyeluruh, mayoritas karya-karya peserta lomba kali ini memiliki kecenderungan bercerita seputar dunia sekolah. Hal tersebut barangkali karena lomba ini dibuka untuk umum dan peserta pelajarnya lebih banyak. Beberapa tema unik yang tergolong baru juga saya temukan dalam karya-karya kali ini, dari fan fiction, fantasi, hingga komedi.

Seluruh karya tersebut saya pilih dengan mempertimbangkan beberapa hal, yakni judul, pembuka, tata bahasa, cara bercerita, dan ending. Secara sederhana, saya memilih judul dan pembuka cerpen yang menarik sebagai modal untuk saya membaca secara keseluruhan. Pembuka yang kurang menarik dan bertele-tele tidak saya baca sampai akhir karena mengingat tenggat waktu penjurian. Karya yang berhasil menarik saya sejak pembuka akan saya baca sampai akhir hingga saya mempertimbangkan tata bahasa, cara bercerita, hingga ending untuk saya masukkan ke karya unggulan saya.

Karya-karya yang tidak masuk unggulan saya, biasanya memiliki judul dan pembuka yang kurang menarik. Sebagai contoh, di awal, penulis cerpen terlalu bertele-tele memperkenalkan diri atau menceritakan perasaannya, padahal medium cerpen ini singkat sehingga dibutuhkan kepadatan dalam bercerita. Tata bahasa juga menjadi pertimbangan saya dalam memilih cerpen unggulan. Salah tik, salah susunan kalimat, atau pemilihan kata yang tidak tepat akan mengganggu cara pembacaan saya. Beberapa cerpen bahkan memiliki pemilihan kata yang kurang tepat yang justru membuat makna jadi kabur.

Selain itu, banyak di antara cerpen-cerpen yang saya terima tidak melalui penyuntingan sehingga pembacaan cerpen jadi terganggu. Beberapa bagian yang kurang rapi tersebut mayoritas ada pada penulisan dialog, dalam hal penempatan tanda petik ganda, koma, dan titik. Untuk itu, para peserta sebaiknya membaca ulang karya dan meminta teman atau editor untuk menyunting sebelum dikirim ke lomba. Naskah yang sudah rapi tentu akan membuat para juri nyaman membacanya.

Cara bercerita juga menjadi salah satu pertimbangan saya dalam memilih cerpen unggulan. Cara penceritaan yang menarik akan membuat saya terhanyut dalam ceritanya. Saya lebih suka cerpen yang memiliki teknik bercerita yang baik, seperti menunjukkan sesuatu (show don’t tell) alih-alih menceritakan sesuatu. Gaya bertutur tersebut bukan hanya membuat kami tidak bosan dalam membaca, melainkan juga membuat kami membuat tafsir-tafsir atas kata-kata yang ditulis.

Beberapa cerpen juga saya pertimbangkan ending-nya. Ending yang baik akan mempengaruhi nilai saya terhadap suatu cerpen. Sebaliknya, ending yang kurang baik atau ending yang tidak memberikan kesempatan pembaca untuk menafsirkannya akan merusak sebuah cerpen. Untuk itu, penggunaan kalimat didaktis atau menerangkan maksud cerpen di ending sebaiknya dihindari.  Cerpen dengan ending yang multitafsir akan memberikan nilai plus sekaligus membuat karya tersebut layak dibaca berulang-ulang.

Akan tetapi, dari beberapa karya yang menurut saya kurang tersebut, beberapa karya lain dalam lomba ini berhasil menyentuh hati saya. Karya-karya tersebut berhasil membuat saya penasaran sejak judul, lalu pembuka, ditambah dengan cara bercerita dan tata bahasa yang baik, plus ending yang memikat, sehingga saya masukkan ke karya unggulan. Karya-karya unggulan ini kemudian ditandingkan dengan karya-karya unggulan dari dua juri lainnya saat rapat penjurian.

Akhirnya, kami telah memutuskan para pemenang lomba cerpen Tulis.me ini. Para pemenang dan urutan karya ini sudah disetujui secara bersama oleh ketiga juri. Untuk itu, saya ucapkan selamat kepada para peserta yang menang dan karyanya masuk dua puluh besar. Untuk para peserta yang belum masuk, jangan berkecil hati karena masih ada potensi dan kesempatan di lain watu untuk terus belajar. Untuk peserta yang masuk dua puluh besar, selamat, kami masih menantikan cerita-cerita baru kalian. Kemudian, untuk semua peserta, jangan berhenti menulis! Salam literasi!

-- Achmad Muchtar

III

Membaca cerpen-cerpen dalam lomba Tulis.me kali ini adalah pengalaman yang menarik sekaligus menantang. Topik yang diangkat cukup variatif. Ada yang menanamkan muatan sejarah, cinta, orientasi seksual, kritik sosial, kesehatan mental, agama, dan sebagainya.

Sebagai seorang editor bahasa, saya tidak bisa menyingkirkan insting dan pengetahuan menyunting yang saya miliki ketika sedang meninjau cerpen. Memang, perkara ejaan dan kaidah bukanlah tanggung jawab utama seorang penulis. Namun, penulis yang memperhatikan unsur ini punya nilai lebih di mata saya. Tandanya, mereka membaca ulang tulisan mereka sendiri guna meminimalkan saltik. Ditambah lagi, mereka tidak malas untuk membuka kamus dan mengecek ejaan serta terbiasa membaca karya bermutu lainnya yang mampu memperkaya referensi penulisan. Mereka membuktikan bahwa menulis adalah pekerjaan yang memerlukan kedisiplinan dan ketekunan.

Saya lihat, hampir semua cerpen masih tergesa-gesa untuk mencapai garis akhir; banyak penulis yang ingin menyudahi cerpennya dengan segera. Dugaan saya, hal ini tidak terlepas dari kebingungan dalam membangun tegangan cerita, mungkin tenggat yang mengintai, dan keterbatasan halaman. Apa imbasnya? Tentu karakterisasi yang tidak matang. Tokoh berubah watak dalam waktu yang cepat pada dunia yang realistis. Harus saya katakan, inilah tantangan utama dalam menulis cerpen: membangun cerita yang utuh dan berlogika di rentang halaman yang singkat.

Ketika mengikuti lomba, kita memang sebaiknya berpegangan penuh pada aturan yang tersedia dan memanfaatkannya sebaik mungkin sebagai batu loncatan. Khazanah sastra kita sudah berwarna sejak sekian lama. Banyak cerpen-cerpen Indonesia yang tidak memerlukan dua belas halaman untuk membangun suatu cerita yang utuh. Semoga mereka bisa jadi bahan refleksi dan referensi bagi penulis untuk ke depannya.

Membaca dan menilai adalah dua hal yang berbeda. Saya suka membaca, namun sebagai juri tentu saya sempat gamang untuk menentukan pemenang. Buat saya, siapa pun yang berani menulis sudah pantas menjadi pemenang, paling tidak untuk dirinya sendiri. Jadi, untuk penulis yang belum berhasil memenangkan lomba ini, jangan berkecil hati, bukan berarti tulisanmu buruk. Lomba seni bukanlah pacuan kuda, sisi subjektivitas selalu menjadi isu utama dalam penjurian. Bisa saja, tulisanmu tidak sesuai dengan selera saya, Mas Risda, serta Mas Muchtar sebagai juru nilai. Dan tidak ada yang salah dengan itu, kita sedang berbicara tentang keberuntungan.

Kemudian, saya ucapkan selamat kepada para penulis yang berhasil mengambil hati kami, juri-juri. Semoga kemenangan ini tidak menjadi modal kamu untuk menyombongkan diri. Berbanggalah dengan tetap merunduk, beranjak, dan kembali menulis.

Salam.

-- Yudhistira

Kepada seluruh peserta, fasilitas lomba segera kami kirimkan melalui e-mail dan chat Whatsapp maksimal 9 Oktober 2022. Jika setelah tanggal tersebut belum mendapatkan fasilitas lomba, silakan menghubungi via chat Whatsapp 081340723620 ya.

Kelas Menulis Daring akan diinformasikan waktu pelaksanaannya melalui story dan higlihght IG @tulis.me. Harap selalu memantaunya ya!

 

Berikut daftar peringkat 200 besar Lomba Menulis Cerpen ke-14 Tulis.me. Selamat kepada semua peserta yang telah mengirimkan cerpen terbaiknya. Hasil ini, peringkat berapa pun itu, kami harapkan dapat terus memotivasi teman-teman untuk terus mengembangkan kemampuan menulis. Jika belum sesuai dengan harapanmu, tidak apa-apa. Masih ada hari esok untuk terus belajar dan berkembang. Kami yakin pada suatu saat nanti kamu dapat mencapainya.

Kepada pemenang, kami akan menghubungi hanya melalui nomor 081340723620. Pastikan nomornya sama untuk menghindari penipuan. Karya pemenang akan diunggah di story dan hightlight Instagram @tulis.me serta bisa dibaca dalam e-book antologi lomba ke-14. Mohon pelajari karya pemenang agar karyamu dapat lebih baik lagi. Apabila pada kemudian hari ditemukan pelanggaran berupa plagiarisme maka karya tersebut akan gugur, digantikan karya peringkat di bawahnya, dan penulis yang bersangkutan di-blacklist dari lomba Tulis.me selanjutnya.

Peringkat Judul Cerpen Nama Penulis
1 Persembahan Terakhir untuk Ambe Prima Aksara
2 Anak-Anak Maut Atikribo
3 Dia, Si Tanpa Nama Dwi Intan Permatasari 
4 Setelah Runtuh Pelabuhan, Setelah Rapuh Pelukan Daruz Armedian
5 Warisan Melipat Ketupat Erna Widi
6 Amplop Romanto
7 Umat di Genggaman Android Sang Ngustaz Wahyu Ciptadi Pratama 
8 Ibuku Seorang Pencuri Sasti Pebry Ayuni
9 Perihal Menyiapkan Sambal Salimulloh Tegar Sanubarianto
10 Boneka Milik Anna Said Adji Faturrahman 
11 Virus di Ordo Su Nathanio Chris Maranatha Bangun
12 Janda itu Aib Saroya Rizkiya Anggi
13 Terbiasa untuk Mencintai Greensasa
14 Jangan Taruh Jenazah Bapak di Luar! Mariemon Simon Setiawan
15 Perempuan Berat Dosa Petrus Setiawan
16 Tulah di Tanah Kutai Nur Cholish Majid
17 Hendra dan Titipannya Fathimah Aqila Dhiya
18 Langit Merah dan Ralin Pemberian Bapak Windy Marthinda
19 Frontier Kalimantan Dan Jak
20 Rangkaian Kata Felicia Putri Ramadhani
21 Perburuan Cincin Sarah Monica
22 Ain Mustofa
23 Kegelisahan Karmin Ayu Riyadul Fitri
24 Dendam Membara Katria Rosa Indrianti
25 Dendam di Makam Sumianah Yudha Pradina
26 Kajan Desmira Feri Susanti
27 Guyonan Maut Neng Lilis Nuraeni
28 Pengadilan Sinta Antonius Fadjar Tri Prasetyo
29 Bondan Kejawan Risen Dhawuh Abdullah
30 Penjaga Kuburan Dyah Kustiyanti
31 Sungai Rengganis Y.P. Purwa
32 Sarangan Moh. Tsabit Husain
33 Tikungan Tajam Febriana Christiani
34 1000 Bangau Kertas Isabel Davyna 
35 Russian Roullete Aliurridha
36 Merantau Ade Mulyono
37 Fila Rai Moris Fatin Yanti Mesak
38 Janji Kunto Petrus Setiawan
39 Suwage Banta Johan
40 Risiko Sebuah Tekad Bunda Tisti
41 Surga yang Sirna di Telapak Kakinya Sukron Tajudin
42 Hari Ini dan Kemarin Arami Kasih
43 Halte Bus Dini Hari Geofanny Adityo Wibowo
44 Pertalian Harsawijaya dan Yikomusu Risen Dhawuh Abdullah
45 Raminem Bernarda Prihartanti
46 Konversi Ach. Rofiq
47 Yang Tersembunyi dari Balik Sungai Narmada Dewandaru Ibrahim Senjahaji
48 Gearza dan Enyx: Lahirnya Kesatria dari Kekuatan Jahat M Rizki Febriansah
49 Sang Putri Mahkota Fitriyana Ayu Aprilyanti
50 Elara Dyalicate
51 Kepada Seorang yang Bapak Ingin Dirinya Segera Pulang Tiara Rahmayanti
52 Kreator & Kacamata Pride Not to be Proud of Ridlo Al Damanova Diyan Hangasti
53 Seorang Bajing dan Bajak Lautnya Zainal A. Hanafi
54 Senandika Lara Aprillia Ratna Sasmita
55 Kucing dan Pengemis (Gila) Wahida
56 Farewell, Aurora Borealis Rania Alma Adiva
57 Glosophobia Ratna Purwaningtyas
58 Seruan Juang di Tanah Eropa Adrias Moha 
59 Sosok Bermata Hijau Indah Sri Wahyuni
60 Layu, kemudian mati Rizal
61 ETHEREAL Naleta
62 Tujuh Impian Andreas Kevin Hadinata
63 Amanat Sang Majikan Chairani
64 Lihat Aku Aina Mardiah
65 Bunian Hetrys Jailani
66 Rid dan Albert Sigit Candra Lesmana
67 Selamat Hari Guru Dhifa Sephi Parameswari
68 Terima Kasih Paduka Yang Mulia Kaisar Chow Wen Whang! Tateng Gunadi
69 First Love Binti Fitriana Devi
70 Kembali ke Titik 0 (Nol) Hartati
71 Anak dan Pohon Terakhir Ilham Khalid Pramunsyi Hamid
72 Abian dan si Pembunuh Kecil dari Wuhan M. Yunus
73 Tanah Berlian Sarita Rahel Diang Kameluh
74 Senandika Tanpa Suara Mayllema_Sprouse
75 Cahaya 1972 Marenda Posya
76 Sehari untuk Selamanya Munawar Mardin
77 Daun Setengah Mengering Royadi
78 Rembang Petang yang Tersayang Hijranisa Ditami
79 Mencari Dominicus Iqbal Dewanto Abizars
80 Sarung Suamiku Qonitatillah
81 Catatan Bunga Vivid Noor Cholifah
82 Ini Langit Kita Juga, Sam Antonius Fadjar Tri Prasetyo
83 Jakarta dan Dendam Michelia Aisha Rangkuti
84 Sia-sia Aftania Mahisna
85 Asal mula Desa Sangen dan Siraman Hery Anggorowati 
86 Pil Kedua Puluh Lima Darma Melati
87 Bertolak A. Zahra
88 Rasa Kopi Tempo Hari Dewi Santa Florida
89 Rumpang Fizianissya Amandarizki 
90 Jatuh Tempo Ketrin Wulandari
91 Perjalanan Selembar Uang untuk Mimpi Tina Bima Suci Kuat Ariyo Sasongko, S.Pd.
92 Pembusukan Akiraka Ramadhan
93 Selesai. Nadhira Eka Maharani
94 Self Love Is True Love Ayunda Wulan Candrawati
95 Anak Nelayan yang Menjadi Cerdikiawan Andreas Widjaya
96 Batu di Depan Rumah Kosong Ilham M. Anam
97 Takut terhadap Hujan Arnila Trisna Putri
98 Si Tanpa Nama Azura Urfa
99 Suatu Malam di Bulan Desember Irma Malinda
100 Hilangnya Rasa Kemanusiaan Safira Amalia Kristanto
101 Bullying Giniawan Risna Sofiani
102 Bad Girl Shoipa Try Anggraini 
103 Sakumu Bolong, Tuan Koki Muhammad Zulhilmi Zaim
104 Short Biography Study by Theressa Judy Rose Faiqa Hadya Hanifa
105 Menabur Cinta Ibu di Atas Tulang Bapak Maulidia
106 A Regret Nuraini Dwi Pratiwi
107 Suara Hati Ayah Mutiara Balqis Harahap
108 Cik Anna Rayhan Aulia Prakoso
109 Asa dalam Sangkar Ni Putu Ristia Ayu Ningsih
110 Rajapatni Andreas Agil Munarwidya
111 Juru Selamat dari Siera Maestra Sigit Candra Lesmana
112 Seorang Bocah dalam Dongeng Ateefa Amberlee Kalistus Gaudensius Ogilvie Daut
113 Eloise dan Kanigaranya Priska Maharani Setiawati
114 Perjumpaan Bermakna Bintang David Hutabarat
115 Place We Went To Zihahintya Birhami
116 Penyembuhan Mistis Bangkit Rahardian Pamungkas
117 Pribadi Cahaya Surga Gardeneo Harra Paradisva
118 Endless Chevienety Aireen Gwen Amaura Subiantono
119 Dekapan Petaka Mey Thaniuss
120 Di Balik Sembilan Nyawa nyayu agustina dewi
121 Bercahayalah Jilly Anggriani
122 Dream Llénara
123 Jas Hujan Merah Wa Ode Firan Salwa Suri
124 Home Laila Larasati
125 Bukan Putri Tidur Alfiyung
126 Jodoh Menurutku Reza Khaidar Achmad
127 Aku Juara, Bu Mir Otih Mei Ratna Puri
128 Dragonsword Nayla Ilmira Azmi
129 Mati Hati Stephanie Cindy
130 I’m Here Felicia Putri Ramadhani
131 Lili Putih, Kaulah Saksi Hidupku Lily_Rain
132 Aku dan Diriku Tikah
133 Good By Covid – 19 dan Daring, PTM Yes Anggi Amalya Putri
134 Bunga yang Layu Nuna_Dee
135 Hujan dan Boneka Beruang Ragiel JP
136 Hujan di Tanah Abang Raia
137 Ibu Jari dan Bola Della Nurfadilah
138 Izinkan Aku Pulang Nindita Bella 
139 Jalan Kematian Najwa Fitria Ramadhani
140 Gaudira Licia Setiadarma
141 Cinta yang Jahanam Budi Faizal
142 Gonggongan Anjing Kinanti Dadana
143 Jangan Panggil Namaku Annurul Hasan
144 Nirmala Khorihah 
145 Ia Hanya Mendengar Joceline Candra Kanti Tara
146 Nisan Tanpa Penanggalan Ridlo Al Damanova Diyan Hangasti
147 Para Penanti Hujan Dona Windasari Septiana
148 Pada Tepian Senja Elisa Dwi Susanti
149 Sartono di Lembah Iblis Rahmad Alam
150 Eksplorasi, Penelitian, dan Pemusnahan Anomali di Sungai Anomali (Anomali-006) Achmad Liem Souliyong
151 Pekerti Rohan Wiken Kamal
152 Setetes Peluh Diantara Setangkup Cinta Aishah Wulandari
153 Rinai di Kala Sore Gregorius Narayana Perbawa
154 Penusupan Fani Farhatul Aini
155 Oscuro Segreto Sekarayu Faradi Susilo
156 Nama Gadis Itu dan Tragedi di Sudut Kafe Yoga A. Pratama
157 Mesin Pompa Air Kami Rusak Rudi Ardiansah
158 Soto Ayam Mang Ujan Anisa Nursabilah 
159 Tanah Tak Bertuan Teuku Daniel Arfan
160 Siklus Malam Ubaidillah Kamal Faseh
161 Lima Pertanyaan Dea Amartia
162 The Battlefield Joanna Chelsea Patricia Salvi
163 Penemuan Jasad Misterius Noor Syarifudin
164 Perempuan dengan Gelang Gading di Tangan Kanannya Yosep Molan Tapun
165 Harapan Si Sandwich Suhartommy Salim
166 Kesedihan Bapak Risen Dhawuh Abdullah
167 Panggil Aku Ame Rungge Yuan Jonta
168 Dupo Satu Suro Fauzi Nanda Saputra
169 Setangkai Anggrek Bulan Merah Andi
170 Mayat itu Masih Sari Nabilla Feirizky Chairunnisa
171 Tukang Gosok Sepatu Febriana Kusuma Dian Mayasari
172 Pesan Pencopet untuk Pacarku Angga Sentosa Wijaya
173 Kentut Dian Guci
174 Elegi Spektator Dunia Nur Ilmi Eka Putri
175 Lembayung Azura Urfa
176 Menjadi Priyayi Octa Berlina
177 Petak Umpet Dini Farikhatul Izza
178 Ndi & Bapak N. Salsabila
179 Operasi Mata Angkasa Maximillian Montero C U
180 Bualan Asmara di Kaki Senja Rizqi Maulana
181 De Lucio Fadillah Adelia
182 Gubuk Tua Dakocan Widya Rosita Liliani
183 Di Balik Robot Penghibur Rico Ricardo Lumban Gaol
184 Tanggal Tua Muhammad Bambang Hasanuddin
185 The Twins’ Adventures eyes0cream
186 Perjuangan yang Belum Usai Kiki Luluk Khondziroh
187 Garwa Ramdani
188 Potret Buram di Museum Puspa Seruni
189 Dua Detektif dan Satu Pembunuhan Nayla Mahira
190 Pilihan Lana Patricia Chen
191 Pengorbanan Seorang Anak Lailatul Rahmadini
192 Mystery of 2201 Isabel Davyna 
193 Mengalir di Diriku Daud Iffa Fauzan Argana
194 Lily Rabiatul Wahyu
195 Legenda Asal Mule Muang Jong Rizqi Iu Alhaura
196 Kenapa Tidak Ada Pemburu Tikus di Rumah Tikus Kaya? Wulan Putri Irawan
197 Ketika Tuhan Rindu Latifah Aida
198 Kutuk Kamera Dona Windasari Septiana
199 Aku yang Lain Andi Putri Yasmin
200 Sebait Sajak di Penghujung Napas Mulyadi

Tetap semangat berproses. Selamat bertemu pada lomba berikutnya. Salam literasi,
Tulis.me