Lomba Menulis Cerpen Nasional 2023 Berhadiah Rp12 Juta

I
Saya gembira melakukan penjurian dalam kompetisi ini karena antusiasme pesertanya begitu besar. Naskah-naskah yang masuk membawakan rentang tema yang kaya, bahkan beberapa di antaranya membawa tawaran-tawaran ide yang mengejutkan. Tema-tema itu juga disampaikan dalam bentuk yang penuh eksperimen.
Dari naskah-naskah itu, cerita-cerita cinta dalam berbagai manifestasinya masih menjadi istimewa. Isu lokalitas, religiusitas dan masalah-masalah sosial budaya juga menjadi sumur tema yang tidak selesai terus ditimba. Di samping itu, cerita horor dan thriller, gambaran dunia utopia dan distopia, juga isu-isu seksualitas dan gender mengemuka.
Pemenang-pemenang terpilih, mampu membawa isu-isu yang spesial di atas dalam bentuk yang keindahan dan kematangannya setimpal dengan urgensi isinya.
Hal ini hanya dimungkinkan oleh kebebasan yang disediakan panitia, yang telah menciptakan iklim tulis-menulis yang demokratis bagi siapa saja untuk menulis apa saja. Dengan demikian, penulis yang naskahnya belum terpilih tetap memiliki kesempatan dan dunia bebas untuk terus mengembara dan menguji tulisannya.
Ramayda Akmal
II
Secara umum naskah para peserta yang dikirim ke tulis.me mengusung ide-ide yang menarik. Sayangnya, hal tersebut belum diimbangi oleh kepiawaian pengarang dalam mengolahnya. Banyak naskah yang masuk menggunakan pola bertutur yang sama; seperti memperkenalkan diri, dan ujung-ujungnya jatuh pada curhatan pribadi. Bagai seorang koki, kepiawaian penulis dalam mengolah bahan-bahan dasar yang segar sangatlah dibutuhkan untuk menciptakan menu masakan yang tak hanya enak, tapi juga dapat disajikan secara menarik dan mengundang citarasa.
Di mata saya, naskah pemenang adalah naskah yang menyeruak kejamakan pola tersebut. Ia membuat saya jatuh hati sejak pertama kali dihidangkan. Saya menikmati menu masakan itu tanpa merasa jelak. Bahkan sampai akhir, ketika saya menghabiskan hidangan tersebut saya tak merasa kekenyangan atau sebah. Lelaki Gondrong dan Zikir Para Semut secara visual mampu menari di benak saya. Ia menawarkan kisah sederhana namun syarat kedalaman. Membacanya, saya tak dijejali dengan desakan pesan. Kisah tersebut mengalir lancar tanpa tendensi. Sebagai pembaca saya pun diberikan kebebasan menafsir.
Bagi yang belum berkesempatan menjadi pemenang di tahun ini, jangan putus asa. Ajang yang dihelat tulis.me bisa digunakan sebagai arena berlatih. Tarung bebas memang tidak mudah. Tapi layaknya petarung, ajang ini membantu kita mengamati medan, memperuncing taji sekaligus memperliat otot keaksaraan. Mari terus berlatih!
Stebby Julionatan
III
Secara keseluruhan, cerpen-cerpen yang masuk ke meja juri mayoritas memiliki formula yang sama. Sebagian besar cerpen dibuka dengan narasi mengenai deskripsi alam, seperti deskripsi mengenai matahari terbit, matahari tenggelam, atau dimulai dengan perkenalan tokoh utama. Untuk yang terakhir, biasanya dimulai seperti layaknya buku harian, “Namaku X. Aku...”
Kemudian, untuk tema yang diangkat, sebagian besar membahas mengenai percintaan remaja. Tidak ada yang salah dengan pengangkatan tema ini, tetapi kisah yang disajikan banyak yang mirip sehingga terkesan klise. Oleh karena itu, kami harap untuk kompetisi selanjutnya, para peserta bisa lebih menggali kreativitas masing-masing.
Meski demikian, ada beberapa cerpen yang mendobrak beberapa permasalahan tersebut. Kami telah memutuskan 20 pemenang dalam kompetisi kali ini. Di samping aspek penceritaan, tema, dan narasi yang kuat, kedua puluh cerpen ini mengangkat berbagai isu yang cukup beragam, seperti isu tentang etnisitas, agama, pandemi, lokalitas, seksualitas, gender, dan lain sebagainya. Meskipun sering diangkat dalam beberapa cerpen kontemporer, isu-isu tersebut masih relevan untuk dibicarakan hingga kini.
Galih Pangestu Jati

Berikut adalah daftar peringkat 100 besar Lomba Menulis Cerpen ke-12 Tulis.me. Selamat kepada semua peserta yang telah mengirimkan cerpen terbaiknya. Hasil ini, peringkat berapa pun itu, kami harapkan dapat terus memotivasi teman-teman untuk terus mengembangkan kemampuan menulis. Jika belum sesuai dengan harapanmu, tidak apa-apa. Masih ada hari esok untuk terus belajar dan berkembang. Kami yakin pada suatu saat nanti kamu dapat mencapainya.
Kepada pemenang, kami akan menghubungi hanya melalui nomor 085156907360. Pastikan nomornya sama untuk menghindari penipuan. Karya pemenang bisa dibaca di fasilitas lomba dalam e-book antologi lomba ke-12. Saat ini sedang dalam tahap pembuatan e-book dan akan kami unggah menyusul sekitar dua minggu lagi di dalam folder Fasilitas Lomba. Pelajari karya pemenang agar karyamu dapat lebih baik lagi. Apabila pada kemudian hari ditemukan pelanggaran berupa plagiarisme maka karya tersebut akan gugur, digantikan karya peringkat di bawahnya, dan penulis yang bersangkutan di-blacklist dari lomba Tulis.me selanjutnya.
Kepada semua peserta, fasilitas lomba segera kami kirimkan melalui e-mail maksimal 10 Oktober 2021. Fasilitas lomba ini berisi beberapa hal yang kami harapkan dapat membantumu untuk meningkatkan kemampuan menulismu. Jika setelah 10 Oktober 2021 belum mendapatkan fasilitas lomba, silakan menghubungi via chat Whatsapp 085156907360 ya. Tetap semangat berproses. Jaga kesehatan. Semoga harimu menyenangkan.

- Lelaki Gondrong dan Zikir Para Semut karya Andi Makkaraja
- Ling Wei Tobacco House karya Angga Wiwaha
- Berapa Harga Nyawa Hari Ini? karya Eko Triono
- Bagaimana Saya Memanggil Anda? karya Hadiwinata
- Cara Nasib Mengolok-Olok Kemalangannya Sendiri karya Nurillah Achmad
- Jarik Penutup Mayat karya Ulfa Khairina
- Semesta itu Hampa, Manusia Hanya Hasrat karya Galih Dwika Putra Ragayatsu
- Gerhana di Langit Nusa Wulaeng karya Prima Aksara
- Pencuri Setengah Kebun karya Ulfa Khairina
- Jiwa Dalam Raga karya Hasdevi Agrippina Dradjat
- Dam Seng Tempat Penguburan Celeng karya Daruz Armedian
- Maulin Tegar karya Abu Dzar
- 2029 karya Karina Destriani Prasrira
- Karma Candramawa karya Zulfikar Hafist Adji Pradana
- Ketut Lara dan Tukang Sulap karya Jemari Kari Menari
- Perpisahan Dua Alam karya I Gusti Ngurah Rizky Wicaksana
- Batara karya Saban Maya
- Wasesa karya Yusril Ihza F A
- Amerta karya Fraiha Khansa NurMarifah
- Pembunuhan karya Budi Faizal
- Semburat Matahari karya Ahmad Khanafi
- Perjamuan Darah karya Abu Dzar
- Riam di Pelupuk Ciujung karya Achmad Romadhon
- Narsem Merayu Nini Cowong karya Angga Wiwaha
- Otak Kedua Manusia karya Farug Haikal Oktaviano
- Doppelganger karya Aruna Areva
- Mencicipi Mati karya Budi Faizal
- Sengkarut Amarah Ibu di Ruang Tamu karya Budi Saputra
- Parmin dan Kambingnya karya Dedik Kembara
- Pak Am, Bagong dan Kunyit karya Dini Ridwan
- Perempuan Titisan Bidadari karya Jannata Nadia
- Jimat Ibu karya Dinda Ratri
- Lemari Merah karya Eko Ragil Ar-Rahman
- Raungan Malam Berdarah karya Fasya Maulina Prabasari
- Buaian Mimpi karya Yoni Gestina Hatnani
- Pelita Dusun karya Sigit Candra Lesmana
- Surat yang Berumur Pendek karya Panji Sukma
- Pulang Kembali ke Bhumi Jawa karya Syifa Luthfia
- Lelaki dalam Pasung Semen karya Rumadi
- Kirana Bening di Langit Prambanan karya Radinopianto
- Negeri Mimpi karya Riski Dwi Yuliani
- Rumah Rakit Terakhir karya Nur Cholish Majid
- K o n j u n g s i karya Putri Vira Maharani
- Martabak Terakhir karya Septyani Angeline Konkase
- Dongeng yang Salah karya Ricardo Marbun
- Dulkarim dan Desa yang Dikutuk karya Rumadi
- Bandung 1933: Dua Bekas Gantung karya Nian Inara
- Umbul Nikmat karya Novian Pratama
- Rantai Makanan karya Octa Dian Kristanti Kainakaimu
- Duka Kelahiran karya Putri Nurul Fauziah Ardiansyah
- Jendela di Sudut Ruangan karya Pramodana Nariswari Qaulan Karima
- Tak Ada Bahagia di Dalam Peta karya Deva Alfiana Pramudita
- Endless karya Aura Haliza
- Rahasia Hati Lembah Nestapa karya Choirunnisa Rahma Nadya
- Ode untuk Odama karya Fuad Farizi
- Mahkota karya Ayu Astuty
- Nostalgia, Benci, dan Cinta karya Irma Novi Damayanti
- Aku dan Tuan Badut karya Kartina
- Ketika Tuhanku dan Tuhanmu Tinggal Seatap karya Muhammad Bagus Agung Ravi Wijaya
- Di Sekitar Kita karya Melliana Dewi Santoso
- 1001 Kehilangan karya Silvia Siwi Anggraini
- Apology karya Naila Mufidah Efendy
- Badai Merah Muda di Mata Malaikat karya Benedicta Nadine Pradipta
- Larut karya Novira Ade Aulia
- Segenggam Bunga Kopi karya Tety Aprilia
- Kopi Jalan Kelimutu karya Hasdevi Agrippina Dradjat
- Pertanda Lumba-Lumba karya Beni Irawan
- Wanita Bersurai Pirang karya Vanessa Aurelia
- Di Balik Tragedi Sanggau Ledo karya Angga Tri Saputra
- Menyelam dalam Sasi di Haruku karya Hasdevi Agrippina Dradjat
- Kupu-Kupu di Negeri Hitam Putih karya Adinda Nurkamila Rabbani
- Tentang Pengembaraan Nordmann di Dunia Apung karya Anggraeni Windi Gernia
- Baliho karya Ngo Damai Azizul Hakim
- Menyebrangi Waktu karya Rangga Pristanto
- Nyinyir karya Rosa Yuliana
- Permintaan Sang Pemanah karya Wiwi Widia
- Renjananya Lindap karya Ria Anggraeni Syafnuri
- Gadis yang Hilang karya Rindyani Meyriska Mahmud
- Di Tepi Sungai Vistula karya Windy Marthinda
- Lessi, Anjing atau Malaikat? karya Sherly Maria Monalisa
- Marionette karya Octa Dian Kristanti Kainakaimu
- Fatamorgana Kenangan karya Putri Dwi Sofira
- Pulang karya Rachma Diani
- Hujan Pedih karya Reskiawati Anwar
- Pemeran Utama karya Naila Mufidah Efendy
- Rubanah karya Adriansyah Subekti
- Orang-Orangan Pasar karya Akhmad Riza Zulfikar
- Censored karya Ahmad Ijazi Hasbullah
- Tunnel karya Naila Mufidah Efendy
- Dalia, Gadis Penunggu Sungai karya Almin Patta
- Rumah Pejabat karya Desak Made Indah Dewanti
- Proprietorial karya Hana Fairuza Adnan
- Tentang Mufida karya Haryas Subyantara Wicaksana
- Hazard karya Hayuni Tria Adinafa
- Pertarungan dalam Bus karya Lina Liana
- Lelaki yang Mati di Bukit Kiamat karya Mario D.E. Kali
- Lectus and Daughter of Two Spurcius karya Nadya Rafeyfa Putri Ardian
- Benang Merah karya Nanda Anisya Fitri S.
- Janji yang Sirna karya Nasmira Ayuni
- Pada Sebuah Organ Tunggal karya Ngo Damai Azizul Hakim
Salam literasi,
Tulis.me

