Raedu Basha

Bebasnya tema yang ditawarkan lomba puisi Tulis.me kepada calon peserta perlombaan ini adalah sebuah pekerjaan rumah yang cukup menantang (bagi calon-calon peserta yang tertantang, dan bagi yang tidak tertantang, akan melewatkannya). Saya cukup mengapresiasi nyali peserta yang tertantang untuk berkompetisi bersama ribuan peserta yang lain. Bagi saya, keberanian untuk berlomba merupakan pilihan yang hanya dilakukan jiwa petarung. Bukankah masa depan milik mereka yang menerima segala tantangan? 

Dengan bebasnya tema yang ditawarkan, beragam corak dan ragam karya ditawarkan para peserta ke meja penjurian. Mulai dari yang menampilkan kebaruan berbahasa, memainkan nada, penggalian tema, hingga respon puisi atas puisi, lokalitas, religiusitas, historisitas, bahkan tawaran tema-tema populer, antara lain seperti budaya metropolitan dan animasi, adalah dari sekian pemandangan eksplorasi yang epik ditawarkan dan menarik perhatian kami. Kalau saja semangat kreatif seperti ini dibarengi dengan napas panjang, mungkin dari Sabang sampai Merauke bukan hanya berjajar pulau-pulau, melainkan berjajar penyair-penyair. Itulah Indonesia. Hehe. 

Tampak beberapa penulis puisi mengalami kegelisahan puitik dalam merajut bentuk dan tema, namun sayangnya kami harus memilih 6 jawara. Banyak puisi yang menarik, namun banyak juga puisi yang lebih menarik untuk dimenangkan. 

Puisi Nenek dan Celengan Bambu (A. Warits Rovi) cukup mencuri perhatian dewan juri karena menawarkan kompleksitas. Bukan hanya sebuah hidangan yang konstruksinya utuh dengan logika terjaga sebagai sebuah cerita, tetapi juga mampu menyuarakan sentimen, antara lain suara perempuan yang diwakili nenek, cukup membuat kami 'dilukai'. Kemudian bagaimana suara masyarakat akar rumput dengan persoalan ekonomi menjadi nada puisi tersebut sebagai suara bangsa yang layak sekali untuk diperhatikan dan dipertimbangkan. Bahwa tugas kemanusiaan kita masih belum selesai baik dalam pembangunan SDM, sosial-ekonomi, hingga emansipasi dan subordinasi terhadap perempuan. Puisi ini ditetapkan sebagai pemenang pertama. 

Puisi Aroma Malam Telu Likur (Silvia Arina Hidayati) adalah percobaan menulis puisi lokalitas yang cukup liar melukiskan kesakralan malam telu likur. Keliaran yang saya maksud dalam puisi ini adalah sketsa sosial dan ingatan-ingatan pengalaman atas kejadian-kejadian yang terekam dalam memori-memori literer penulisnya. Saya melihat gaya puisi ini dimainkan dengan gaya opera. Puisi ini ditetapkan sebagai pemenang kedua.

Puisi Mengenang Sebatang Lisong (Agnes Pratiwi Senduk) adalah puisi yang cukup gagah dibacakan di panggung untuk menggerakkan jiwa kemanusiaan sekaligus responsif atas pemikiran Rendra pada zamannya yang direduksi dengan pemikiran Agnes zaman ini. Suara Agnes tak kalah perkasa dengan Rendra kendati tak harus berupaya menirukan pamflet. Ia sadar, untuk menghadapi puisi sekuat pamflet sekaligus untuk berhadapan dengan Rendra, tidak harus menjadi pamflet dan tidak baik bila meniru Rendra. Agnes melakukan pilihan menjadi diri sendiri. Kendati--sebagai masukan saya--bahwa puisi ini belum cukup khas disebut sebagai "menjadi diri sendiri". Puisi ini ditetapkan sebagai pemenang ketiga. 

Ketiga jawara lainnya juga menawarkan keterampilan yang tak kalah unik dan menarik. Bahkan 30 besar dalam perlombaan puisi ini cukup baik dari beberapa hal dan perlu dipikirkan ulang dalam beberapa hal. 

Sebagai pesan saya yang terakhir dalam catatan ini, bahwa yang dibutuhkan dalam berkreasi adalah nyawa konsistensi dalam kreatifitas dan berinovasi sehingga pengabdian penulis akan hidup dan terbentuk, karena harapan besar dari kreativitas ialah manfaatnya dapat dirasakan masyarakat seluas-luasnya. Dalam rangka apa? Dalam rangka membawa semangat zaman. Anda juara hari ini, bukan berarti tidak butuh masukan, kritik maupun saran. Oleh karena itu, kerendahan hati diperlukan dari sekadar kreativitas, karena kerendahan hati adalah nafas panjang kreator. Salam kreatif. Tumbuh berkembang terus sastra Indonesia. 

Pulau Madura, 16 April 2021
hormat saya,
Raedu Basha

 

Mario F. Lawi

Panitia memberi waktu para juri beberapa minggu untuk membaca semua karya peserta lomba puisi Tulis.me yang dikirim ke panitia. Pada umumnya, puisi-puisi yang dikirim para peserta belum bisa terlepas dari pandangan umum tentang puisi dan ungkapan-ungkapan klise yang sudah terlalu sering digunakan untuk menulis puisi. Penilaian ini saya ambil berdasarkan pembacaan atas puisi-puisi yang dikirim kepada saya untuk diseleksi dan dibawa ke rapat penetapan pemenang. Bagaimanapun, puisi adalah bentuk sekaligus isi. Puisi-puisi yang secara gramatika tidak beres, dan secara terang-terangan tidak dimaksudkan sebagai bagian dari pengolahan licentia poetica, langsung saya singkirkan dari penilaian tahap pertama. 

Proses awal penjurian menggunakan mekanisme pemungutan suara untuk menentukan puisi-puisi apa saja yang layak dibicarakan lebih lanjut untuk ditentukan sebagai pemenang. Dalam hal ini, referensi dan khazanah masing-masing juri tak bisa tidak ikut menentukan puisi-puisi terpilih.

Melalui diskusi dan serangkaian pertimbangan, kami memilih puisi Nenek dan Celengan Bambu karya A. Warits Rovi sebagai pemenang pertama karena tema puisi tersebut sangat menarik, dan jauh berbeda dari nyaris sebagian besar tema yang diusung para peserta lomba. Puisi tersebut pun ditulis dengan baik, dan menampilkan protes dari kaum yang terpinggirkan (perempuan, miskin, tak berdaya), representasi orang-orang yang kehilangan suaranya di tengah banyak aspek kehidupan.

Puisi Aroma Malam Telu Likur (Silvia Arina Hidayati) dipilih sebagai pemenang kedua karena meskipun temanya, perjalanan fisik yang bermetamorfosis menjadi perjalanan spiritual, telah diolah selama lebih dari 2 milenium (contoh paling tua bisa kita temukan dalam epik Gilgamesh dan Odysseia), puisi tersebut ditulis dengan bahasa yang cakap dan imaji yang jernih (terutama penggunaan unsur aroma). Metamorfosis perjalanan, dari fisik ke spiritual, dalam puisi ini berpindah secara perlahan sepanjang alur puisi: membuat efek kejutan di akhir puisi menjadi menghentak dalam ketenangan penyampaian puisinya.

Pemenang ketiga adalah Mengenang Sebatang Lisong (Agnes Pratiwi Senduk) sebuah puisi yang hipoteksnya jelas dalam konteks sastra Indonesia, sebuah puisi kanonik milik sastrawan besar kita WS Rendra. Hal yang menarik dari puisi tersebut adalah keberanian Agnes menginterupsi dan menambahkan wacana-wacana ke dalam puisi kanonik untuk menjadikannya suara milik si pengujar dalam puisi Mengenang Sebatang Lisong. 

Pemenang-pemenang lain, mulai dari juara harapan sampai 30 besar, berasal dari puisi-puisi yang dipilih oleh mayoritas juri. Dengan demikian, ada setidaknya aspek keberesan berbahasa, referensi masing-masing juri dan cara si penyair mengolah tema yang membedakan puisi-puisi tersebut dari sebagian besar puisi yang tidak lolos 30 besar.

Saya ucapkan selamat kepada para pemenang, dan terima kasih telah menulis puisi-puisi tersebut. Dari puisi-puisi kalian, kami juga ikut belajar.

 

Dirga Am

Bila sebulan belakangan saya yang menilai karya teman-teman, sekarang adil rasanya bila teman-teman yang menilai posisi dan pengalaman saya selama proses penjurian. Proses penjurian terdiri dari dua tahap: penjurian mandiri dan bersama.

Selama proses penjurian mandiri, ada empat kriteria yang saya gunakan: kebaruan, kepaduan, kemahiran, dan ‘insting’. (Saya akan kembali ke kriteria keempat ini nanti.) Kriteria pertama merujuk pada kebaruan karya relatif terhadap tradisi sastra (dan dalam konteks sebuah kompetisi, kebaruan relatif terhadap kompetitor-kompetitor lain). Satu contoh untuk menjelaskan maksud saya: Di “Canto I”, Pound seakan-akan hanya menulis ulang Buku XI, Odyssey. Namun, di bagian akhir dia lalu menyentak pembacanya dengan sebuah anakronisme: “Lie quiet Divus  I mean that is Andreas Divus[.]” Dengan kriteria kedua maksud saya adalah keterhubungan antar bagian atau pilihan dalam sebuah karya. Misal, padunya pengulangan bunyi (/ɪŋ/), kata (e.g. “churches”, “greeting”), dan frasa (e.g. “one another, ”in the half light”, “walk across the bridges”) di “Nuns Go Walking” (terjemahan Rothenberg dari puisi Palazzeschi) dalam mendramatisir aktivitas berulang yang merupakan isi puisi terjemahan ini. Akhirnya, maksud saya dengan kemahiran adalah kemampuan menangani berbagai pola dalam waktu yang sama, seperti kemahiran juggler dengan bolanya. Di “Sonnet 135”, Shakespeare tidak hanya berhasil mengontrol ritma, rima, dan maksud permukaan lima kalimatnya, tetapi juga dua register diksi ‘kontradiktif’ (doa dan seksual) dan berbagai maksud “Will” (William, hasrat, penis, vagina, William yang lain, kata kerja bantu) hanya dalam empat belas baris. Barangkali idealnya ketiga kriteria ini hadir bersamaan. Sementara ini, saya pikir kehadiran salah satunya sudah cukup.

Dalam karya teman-teman yang tidak saya pilih, saya tidak menemukan satu dari ketiga kriteria di atas. Apa yang bisa saya tangkap adalah suara yang terlalu familier (suara lagu pop, suara pidato, suara pengamat politik, suara motivator TV), ‘alur’ yang terlalu umum (memulai dengan deskripsi benda langit atau cuaca kemudian turun ke isi puisi sebenarnya), ekspresi yang sudah layu, majas yang sudah mati. Ini membuat banyak dari puisi teman-teman yang saya baca seperti satu puisi yang ditulis berulang-ulang. Ketidakpaduan: tidak adanya hubungan pencampuran diksi à la Vicky atau hubungan kata dari Bahasa Sanskerta, Arab, dan Melayu Klasik dengan bagian lain di dalam puisi. Atau ketidakmahiran: yang paling banyak adalah membuat rima yang terdengar seperti metronom, atau membuat rima sesuka hati (di sini iya, di sana tidak).

Sebaliknya, dalam puisi teman-teman yang saya pilih untuk masuk timbangan dua juri lain, saya menemukan satu dari ketiga kriteria tersebut. Namun, dalam beberapa kasus, saya akui saya mengandalkan ‘insting’ saja. Barangkali karena keterbatasan saya sendiri, beberapa karya tidak bisa saya labeli dengan pasti dengan kegita kriteria yang lain, tetapi terasa salah bila tidak saya beri jalan ke tahap selanjutnya. Nyatanya, ada dari karya tersebut yang mendapat dukungan kuat dari juri lain.

Ketiga juri memang tidak selalu sependapat di penjurian bersama. Karya yang menurut saya baik karena baru, padu, dan mahir gagal lolos sebagai finalis. (Candaan puisi ini jadi kenyataan). Ketiga juri berembuk, mengakomodasi pilihan masing-masing, dan akhirnya menyepakati karya-karya juara. Selamat bagi teman-teman terpilih.

Berikut adalah daftar peringkat 100 besar Lomba Menulis Puisi ke-11 Tulis.me. Selamat kepada semua peserta yang telah mengirimkan puisi terbaiknya. Hasil ini, peringkat berapa pun itu, kami harapkan dapat terus memotivasi teman-teman untuk terus mengembangkan kemampuan menulis. Jika belum sesuai dengan harapanmu, tidak apa-apa. Masih ada hari esok untuk terus belajar dan berkembang. Kami yakin pada suatu saat nanti kamu dapat mencapainya.

Kepada pemenang, kami akan menghubungi hanya melalui nomor 085156907360. Pastikan nomornya sama untuk menghindari penipuan. Karya pemenang bisa dibaca di fasilitas lomba dalam e-book antologi lomba ke-11. Saat ini sedang dalam tahap pembuatan e-book dan akan kami unggah menyusul sekitar dua minggu lagi di dalam folder Fasilitas Lomba. Pelajari karya pemenang agar karyamu dapat lebih baik lagi. Apabila pada kemudian hari ditemukan pelanggaran berupa plagiarisme maka karya tersebut akan gugur, digantikan karya peringkat di bawahnya, dan penulis yang bersangkutan di-blacklist dari lomba Tulis.me selanjutnya.

Kepada semua peserta, fasilitas lomba segera kami kirimkan melalui e-mail maksimal 2 Mei 2021. Fasilitas lomba ini berisi beberapa hal yang kami harapkan dapat membantumu untuk meningkatkan kemampuan menulismu. Jika setelah 2 Mei 2021 belum mendapatkan fasilitas lomba, silakan menghubungi via chat Whatsapp 085156907360 ya. Tetap semangat berproses. Jaga kesehatan. Semoga harimu menyenangkan.

 

Peringkat Nama Judul
1 A. Warits Rovi Nenek dan Celengan Bambu
2 Silvia Arina Hidayati Aroma Malam Telu Likur
3 Agnes Pratiwi Senduk Mengenang Sebatang Lisong yang Diisap WS Rendra
4 Pasya Alfalaqi Dandan
5 Muhammad Daffa Improvisasi Susi
6 Raihan Robby Efesus
7 Petrus Nandi Malam Emansipasi
8 Nafi Abdillah Stagnasi di Angka Dua Belas, Led Zeppelin
9 Alfi BS Perjamuan Kudus
10 Budi Saputra Anomali Meja Makan
11 Badruz Zaman Santri 1887
12 Hadiwinata Senandika Seorang Pengembara
13 Pasya Alfalaqi Siapa Kamu di Luar Telepon
14 Antonio Da Costa Viera Jalan Salib Ibu
15 Maria Kartika Ketika Tuhan Menyajikan Hidangan Istimewa
16 Novi Marsael Not Alone
17 Mafira Fitri Senandika Ingatan Singgalang
18 Ibrahim Rasyid Zamzami Solastalgia
19 Benediktus Dosa Ndun Thomas, Percayalah!
20 Agung Saputro Nasib
21 Novemberia Nila 9 November
22 Petrus Nandi Pantar
23 Risky Mey Linda Bocah Hujan
24 Ibrahim Rasyid Zamzami Alegori Manusia Pesisir
25 Lee Ann Naa Plak… Dang… Dang… Tak…
26 Hikmah Karimatul Maghfiroh Rinai Renjana
27 Putri Mariam Anindita Erline Dermaga
28 Abd. Halim Mizan - Muhammad
29 Agnes Pratiwi Senduk Dan Sidoarjo Hari Kemarin
30 Arief Rahmanto Pertempuran Anjing Otakku dan Kucing Hatiku
31 Khrisko Suprastiwara Seismogram Cemasmu
32 Ahmad Mulyadi Kepada Waris Kawali
33 Ajitama Syachputra Menuliskan Nama-Nama
34 Ahmad Ginanjar Menyelam di Aquascape
35 Ahmad Mulyadi Kajao: Yang Tersisa dari Bicaramu
36 Ian Hasan Mengeja Subuh
37 Michael Dhadack Pambrastho Sandiwara yang Tak Ditayangkan
38 Adriansyah Subekti Kematian Sang Penyair
39 Moh. Ahsanul Umam Kitsch
40 Okta Fajar Andiran Menuju Muara
41 Nurjali Salam Sang Cipta Rasa
42 Adnan Guntur Hanyalah Langit Tak Berujud
43 Ajitama Syachputra Menuliskan Ingatan
44 Arief Rahmanto Kepada Ayah
45 Tunjung Sunggingsari Meraba Karsa Sangkala
46 Shafa Ichwanus Kepada RA (Selagi Aku di Jogja)
47 Muhammad Daffa Hikayat Bunga Api
48 Haksena Kurniawan Ekspedisi Si Pelaut
49 Oktriana Widarsih Jonggrang
50 Alvin Alwi Jagat Ibu
51 Istikomah Ainun Majnun
52 Rahmat Alamin Maba Anak Ghetto
53 Muhammad Daffa Bernyanyi Kesesatan
54 Haidar Luthfi Amrullah Aku dan Nasar yang Lapar
55 Putri Mariam Anindita Erline Delusi
56 Wirda Wulan Terima Kasih
57 Gus Muhlisin Enigma
58 Wendy Cerita
59 Riska Bagas Purnama Selamat Pagi Tuhan
60 Raja Khamsatun Zoom Meeting
61 Suci Sri Wahyuni Kuning, Merah, dan Biru
62 Rospita Harianja Awal 20
63 Sidiq Nulhaq Lirih Kebangkitan
64 Ajitama Syachputra Nyanyian Partitur
65 Daviatul Umam Suatu Hari Sebuah Mimpi Mengenang tentang Sebatang Tubuh Tempatnya Tumbuh
66 Fadlir Nyarmi Rahman Layu Janur Kuning
67 Ramadhan Eka Syaputra Maria: Di Tanahmu, Kukandung Biji Terlarang
68 Fadlir Nyarmi Rahman Kaki Ranjang
69 Paulus Catur Wibawa Jadikan Aku Lebih Daripada
70 Ani Kusnawati Pilu Nasib Bharata Kini
71 Eko Saputra Di Dalam Rumah
72 Paulus Catur Wibawa Cicilan Hati
73 Hendra Gunawan Alangkah Mesra Tuhan Menyapaku
74 Sherlynn Yuwono Soneta itu Menceritakan Akhir Dunia
75 Fadlir Nyarmi Rahman Kue Untuk Kalian
76 Hendra Gunawan Ruang Temu
77 Faizal Muhammad Pramudya Dua Cangkir Jahe Hangat
78 Aba Idris Shalatan Apakah Aku Berdosa?
79 Almahdi Zainuddin Sekeping Kisah dalam Ingatan
80 Pandanwangi Candraningrat Antartika Mendekat
81 Gundul Keriting Kopi Hitamku
82 Puji Lestari Benciku Pada Bapakku
83 Warissuddin Soleh Oh! Musthafawiyahku (Tribute to Pondok Pesantren Musthafawiyah)
84 Roydo Ari Pratama Singkarak Pagi Ini
85 Nabila Ayu Ramadhani Bangsal
86 Ramadhan Eka Syaputra Tentang Perawan Tua Pemikul Bunga
87 Petrus Nino Mellifluous "Lewo Ro Piring Sina"
88 Dini Cahyani Kegelapan
89 Putri Mariam Anindita Erline Sayat-Sayat Rahim
90 Hani Arifah Kehidupan di Dua Halaman Kertas
91 Majdi R. Al Jihad Klandestin
92 Istinianing Ujilestari Nayanika Bunda
93 Deden R.H. Sang Parna
94 Mohamad Rivan Ferianto Panggilan Tak Terjawab
95 Hironimus Deo Janji Mawar Pucat
96 Gisela Putri Simulakrum
97 Haksena Kurniawan Bolehkah Aku Merindu?
98 Hanafi Yabie Rumah Makan Alibi
99 Ahmad Ridho Nur Di Dalam Matamu
100 Irfan Aditiya Nugraha Cerita tentang Rupa

 

Berikut 100 peserta yang mengirimkan puisi tercepat. Bersama dengan peringkat 100 besar, peserta pengirim tercepat dapat mengikuti Kelas Menulis Daring Pelatihan Menulis Puisi. Nomor WA akan kami masukkan ke grup khusus.

No. Nama
1 Afriza Saharlina
2 Winda Rosa Murti
3 Ni Komang Sulistiawati
4 Putri Mariam Anindita Erline
5 Siyuk Sujarwati
6 Amirda Nuroman Permatasari
7 Arnoldus Yansen Vinsensius Bin Afang
8 Usyhida Isthofani Zahwa Diastika
9 Arsyi Fakhrani Kurniawan
10 Budianto Sutrisno
11 Amilah Hasna Fathiyyah
12 Valeria Intan Wahyuni Cipta Raharja
13 Soraya Umi Damayanti
14 Ita Prawitasari
15 Adelia Pratiwi Warrow
16 Zaed Birril Ghuzi
17 Yuliana Ndahong
18 Gabriela Vialetta
19 Wiranti Nugrah Andini
20 M. Habib Syafa'at
21 Annisa Hutami
22 Hanna Soraya
23 Ibnu Hairinnor
24 Erda Rachmawati
25 Okta Krisnawati
26 Ni Made Asih Nirmala Sari
27 Khrisko Suprastiwara
28 Poni Melati Apriansyah
29 Lilis Safitri
30 Nurrila
31 Farras Alifia Rahman
32 Dwi Prasuciarti, S.Pd
33 Ulfia Nur Faiqoh
34 Tamara Syifa
35 Firda Rahma Annisaa'
36 Hadyatul Muizzatissalmi
37 Adeleandra Sufiah El Amin
38 Yuyum Sumyati
39 Ayu Wulandari
40 Didik Nursahid
41 Pita
42 Febby Novita
43 Pranminiac
44 Wahyu Nugraha
45 Amiena Siti Raisa
46 Ade Karmila
47 Frisca Awwaliyah
48 Pindi Natania Tarigan
49 Susi Retno Utami
50 Sandi Rawakil
51 Akhodiyah Evisienna Kindah Nindya
52 Sulpadli
53 Listiati Nainggolan
54 Crisna Kemala
55 Lisna Riani
56 Fatimah Azzahrah
57 Kenchi
58 Arga Purnama
59 Elyada Adi Santoso
60 Alfin Ari Indria Kusuma Wardani
61 Wulan R.W.
62 Lilik Nur Rokhmah
63 Z. Naristina
64 Muhammad Sultan Ramadhan
65 Yaumi Hidayati
66 Risky Putri
67 Sulastri Indriani
68 Siti Haryati
69 Maria Kartika
70 Holly Poinsettia
71 Adam Hadiana Aminudin
72 Sri Hartati
73 Rudi Hartono
74 Anika Maharani
75 Komang Herisca Angreni
76 Sairijal Wijaya
77 Roydo Ari Pratama
78 Bisma Hadinata
79 Muhamad Dinik
80 Novya Nur Febriyanti
81 Hasriza Eka Putra
82 Muhammad Ilyasa
83 Isni Laelasari
84 Arya Shidqi Firmansyah
85 Yogi Dwi Prastyo
86 Schatzi Aprilluna Nur'aini
87 Hardini Boupasha
88 Wildan Ihsaniyah Syafa'ah
89 Sang Ayu Putu Diah Oktayanti
90 Levina Geby Dwi Putri A.
91 Wendy
92 Apria Randi Saputra
93 Andhini Meilis Dwiana
94 Mansur
95 Jona Megantara
96 Juman Sahbandi
97 Agnes Dewi Handayani
98 Novita Yullianti
99 Vira Ruainiah Ruswandari
100 Arya Shidqi Firmansyah

 

Salam literasi,
Tulis.me