Baca Karya FiksiCerpen

Cerpen – Remember When – Qurrotul A’yun

Remember When
karya Qurrotul A’yun

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Hari ini, tepat di penghujung bulan Februari. Matahari mulai bersemangat memancarkan sinarnya. Layaknya melempar senyuman pada setiap orang yang beraktivitas ria di atas pijakan bumi. Tak kalah lagi, burung-burung berhamburan memenuhi langit biru berawan putih yang terlihat cerah. Dedaunan spontan jatuh berkat semilir angin yang berembus lembut. Saat itu pula, aku berjalan santai, menggendong beberapa buku, sambil menyimpul senyum menuju gedung kampusku.

Tepat ketika langkahku mulai memasuki wilayah kampus, terdengar suara menyambar telinga, meneriakan namaku. “Kiki…!” Spontan, aku terkejut mendengarnya. Menoleh kanan-kiri mencari sumber suara. Kemudian, aku mendapati seseorang mempercepat larinya sambil memeluk bukunya. Wajahnya seakan sengaja ia sembunyikan dari dunia, menunduk dalam, menatap datarnya tanah.

“Ada apa denganmu?” tanyaku setelah langkahnya terhenti tepat di depanku. Sekarang, ia mendongakkan wajahnya sambil sibuk mengatur napasnya.

“Aku … sedang berusaha menyembunyikan keresahanku,” jawabnya, lalu kulihat tangannya mencengkeram erat buku yang ia peluk.

“Astagfirullah. Istigfar.” Seakan memahami apa yang terjadi padanya, aku mencengkeram pergelangan tangannya, menariknya cepat, menjadikan rencanaku untuk membawanya ke sebuah kedai kecil dekat kampus. Efeknya, dia mengikuti langkahku karena tak tahu bagaimana menolak ajakanku.

***

Kami memasuki sebuah kedai kecil samping kampus. Kuizinkan mataku untuk sebentar melirik detail kedai yang bernama Di Atas Awan. Warna putih dan biru sangat mendukung nama yang tertumpu pada kafe itu. Dindingnya penuh dengan lukisan anak muda yang abstrak. Lampu-lampu yang tertancap di langit-langit bangunan sengaja dibentuk seperti awan. Tentu saja tampilan tersebut berhasil mengundang banyak pengunjung.

Selesai melihat suasana kafe itu, aku melanjutkan “misi” ku. Kutarik salah satu kursi kayu di sana dan kududukkan Kiya dengan perlahan. Meninggalkanya lalu pergi untuk memesan setidaknya dua gelas minuman.

“Kiki,” panggilnya pelan setelah aku datang sambil menaruh dua cangkir minuman. Wajah Kiya masih menunduk sambil mencengkeram erat tangannya. Bisa kupastikan bahwa ia sedang menangis.
Kugerakkan pelan tanganku agar aku bisa meraih tangannya. Berusaha menguatkan. “Baiklah, katakan apa yang mau kau katakan.”

“Hari ini, aku mendapat masalah. Sebenarnya, bukan hanya hari ini saja, beberapa hari yang lalu aku sudah terjebak dalam masalah ini. Mungkin, hari ini adalah puncaknya.” Dari penjelasannya, aku bisa menebak apa yang terjadi padanya. Ini bukan masalah hari ini saja, bahkan sudah menjadi masalah dari beberapa tahun silam baginya.

“Apa masalahmu?” tanyaku pura-pura tak mengetahui maksudnya.

Tangisannya semakin isak, membasahi pipinya lalu menembus ke kerudung tosca yang ia kenakan. Aku beristigfar. Mengingat bahwa setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Mengingat bahwa aku pun masih penuh dengan dosa.

“Ayah …” lontarnya pelan tapi terdengar jelas meski bersamaan dengan isak tangisnya. Aku menyimpul senyum kecil, artinya, tuh kan benar apa yang kuduga. “Ayah akan berhenti menyekolahkanku jika aku masih menyanyi.” Kiya melanjutkan. Sambil mengusap pipinya yang sembam. Dan tebakanku, benar.
Aku tahu, Kiya memang suka menyanyi sejak kecil. Berbagai juara pernah dapatkan. Mulai dari tingkat sekolah, daerah, provinsi sampai nasional, semua pernah ia ambil. Satu, yang membuatnya ragu, ia sama sekali tak mendapat dukungan dari ayahnya.

Pernah suatu ketika, aku dan Kiya masih duduk di bangku SMA, Kiya meminta izin untuk mengikuti lomba. Dan hasilnya, Ayah Kiya memarahinya, lalu menyuruh Kiya untuk pergi dari rumah. Aku memahaminya. Namun, pada saat itu, aku masih tidak tahu mana yang sekiranya bisa kulakukan untuk menenangkannya. Aku tidak ingin memihak pada Kiya, karena mungkin seorang Ayah memiliki maksud yang lebih baik bagi seorang anak. Intinya, aku masih belum tahu mana yang harus dibela.

Aku yang masih memaku di hadapan Kiya, sambil memikirkan apa yang seharusnya aku katakan atau aku lakukan agar membuatnya lebih tenang, mulai angkat bicara. “Kiya, boleh aku mengatakan sesuatu?”

Kiya mengangkat wajahnya, lalu menatap mataku dalam, dan mungkin sambil membatin, silakan. Melihatnya seperti memberiku keyakinan, aku menarik napas lalu kudesahkan pelan, bersiap untuk melontarkan kalimat, yang semoga bisa membantunya. Bismillah, aku membatin.

“Jujur, setelah sekian lama aku mengetahui masalah ini, aku tak tahu mana yang menurutku benar atau pun salah. Aku tak ingin memihak ke Ayahmu karena kau tak sepenuhnya salah. Selain itu, aku juga tak ingin memihakmu karena tidak sepenuhnya Ayahmu salah.” Dengan sangat hati-hati aku berkata. Ini sebenarnya yang ingin aku katakan semenjak beberapa tahun sebelumnya, tapi, aku sedang berkomunikasi oleh makhluk hawa di mana mereka lebih mengedepankan hati ketimbang akal.

Aku tak tahu apa yang Kiya rasakan, tapi tergambar di rautnya, seakan kata-kataku masuk ke hatinya. Untuk kesekian kalinya, aku mengaba-aba, “Bismillah, ya aku mulai.”

“Setiap orang itu pasti punya tujuan dan harapan. Kamu punya tujuan untuk jadi penyanyi misalnya, lalu, Ayahmu juga punya harapan darimu, karena itulah sewajarnya orang tua. Bukan aku lebih memihak ke Ayah, tapi coba kita memandang lebih luas ketika kita ingin melakukan sesuatu.” Kujeda sejenak perkataanku, berusaha memberi contoh dari kejadian yang ada. “Waktu itu misalnya, ketika kita masih SMA. Apa kau bisa membayangkan apa yang terjadi waktu itu?”

Kiya berpikir mengingat kejadian waktu SMA, “Waktu itu, aku berhasil masuk sebagai delegasi sekolah untuk maju ke nasional.”

“Apa Ayahmu marah?” Kiya mengangguk pasti.

“Kau ingat waktunya?” Lagi-lagi ia mengangguk.

“Kapan?”

“Beberapa minggu sebelum SBMPTN.”

Aku menceletukkan jari, “Nah, itu poinnya. Kau melakukannya tidak pada waktu yang tepat. Mungkin, saat itu Ayahmu ingin kau fokus pada pelajaran agar lulus dan masuk ke universitas terbaik.”
Kiya yang sedari tadi sudah berhenti menangis, mulai memahami. Iya juga ya.

“Apa kau pernah bertanya, kenapa Ayah melarangmu untuk bernyanyi?”

Kiya menggeleng. Seperti tak ada jawaban lain, karena memang itu yang terjadi.

“Kalau kita ingin seseorang memahami kita, maka kita harus memahami orang itu terlebih dahulu.”

“Lalu, apa yang harus kulakukan?”

“Kau bisa memulainya dengan mencari tahu alasan dari seorang Ayah untuk anaknya. Aku yakin, seorang Ayah selalu memiliki alasan terbaik untuk anak nya. Percayalah.” Terpasang raut bingung di wajah Kiya. Ditambah karena aku pergi meninggalkannya begitu saja. Aku yakin, dia akan baik-baik saja, bahkan jauh lebih baik. Suatu saat nanti.

***

Alhamdulillah, hari-hariku berjalan normal. Begitu banyak kejadian datang dan berhasil membuat perjalanan kehidupan ini lebih berwarna. Inilah hidup, enggak pernah rata, selalu ada kerikil kecil bahkan batuan besar menghadang langkah kita. Selalu ada batu karang atau pun ombak menghambat perjalanan kita. Hakikatnya, bagaimana pun kehidupan di dunia, tetap bersyukur dan bahagia.

Terdengar jelas salam jumpa dari dosen Filsafatku yang mengakhiri kelas pagi ini. Teman-teman yang lain mulai berhamburan meninggalkan kelas. Suara langkah mereka benar-benar bersemangat, sangat memekik telinga. Keluar kelas, menuruni tangga, melewati koridor, menaiki kendaraan, lalu pulang. Hari ini adalah hari yang tidak begitu padat bagi kami.

Aku menjadi orang terakhir yang keluar dari kelas. Menuruni anak tangga dengan pelan sambil memeluk buku. Seseorang mengikuti langkahku dari belakang. “Kenapa?” aku melontar pertanyaan sebelum ia menyapaku. Dia hanya membalas dengan senyuman. Dia, Kiya.

“Aku …” tiba-tiba, terlukis di wajah Kiya senyuman yang sumringah. Beda dengan tempo lalu saat ia menemuiku. Aku bersyukur melihatnya.

Kiya menyamai langkahku, “Aku sudah tahu alasan mengapa Ayah tidak suka melihatku menyanyi.”
“Kau menanyakanya?” Aku memutar badan 90 derajat agar bisa bertatap dengan Kiya. Menjadi tertarik dengan topik pembicaraan kali ini.

Kiya menggeleng, “Intinya, Ayah ingin aku lebih dekat dengan Allah. Ayah ingin aku lebih bisa mengahafalkan Al-Qur’an ketimbang lagu. Ayah ingin aku lebih banyak mengejar akhirat daripada dunia.”

“Dari mana kau tahu sedangkan kau tak menanyakannya?”

“Karena aku, berusaha memahaminya.” Katanya lalu tersenyum.

Aku membiarkan tanganku memeluk pundaknya agar kita berjalan beriringan. Aku bersyukur, bukan karena berkatku, Kiya jadi lebih baik. Tapi, aku bersyukur karena Allah selalu memiliki cara untuk membuat hambanya kuat.

“Tapi, Ki.” Kiya tiba-tiba menghentikan langkah, seakan terjadi sesuatu yang membuatnya harus berpikir lebih keras. Aku memasang raut, kenapa?

“Aku tak tahu bagaimana harus memulai untuk menjadi lebih baik?”

Aku menarik napas panjang lalu kuembuskan pelan. “Menghindar dari kata maaf dan terima kasih adalah cara untuk membuat ego lebih besar. Jadi, mintalah maaf dan tunjukkan perubahan. Karena seseorang tak pernah membutuhkan tangisan, melainkan perubahan.”

***

Hari ini, tepat di penghujung bulan Februari, di tahun kemudian.

Aku, yang tahun lalu masih berjalan menuju kampus sambil menggendong buku, saat ini tengah duduk manis di antara ribuan pengunjung. Suara hiruk-pikuk para pengunjung menemani kedatanganku yang sendiri. Di hadapanku terpampang background bernuansa biru-silver bertuliskan, Musabaqotu Hifdhil Qur’an dengan bahasa Arab. Beberapa alat shooting dan kamera berhamburan di setiap sudut panggung. Dan saat itu pula, aku benar-benar melihat foto “Aulia Rahma Atkiya”  di layar LED yang sudah terpampang di kanan kiri panggung. Ia berhasil menjadi salah satu peserta di antara peserta lainya.

Mataku tertuju pada langit-langit studio yang penuh lampu sorot. Tapi, bukan lampu sorot yang berhasil menarik perhatianku. Aku sedang mengingat masa lalu ketika Kiya kecewa karena Ayahnya, ketika ia benar-benar merasa terpuruk, ketika ia tak tahu apa yang harusnya ia lakukan.

Pelan tapi pasti, bibirku tertarik, mengembang lalu membentuk senyuman. Aku mengingat tentang apa yang pernah kukatakan pada Kiya.

“Ingat, dunia adalah kehidupan yang sementara. Di mana kita pasti menemukan masalah, di mana kita pernah terpuruk, di mana kita pernah kecewa bahkan menyesal. Tapi, semua itu sungguh berpahala apabila kita mengingat bahwa akan ada kehidupan yang kekal nantinya. Akan ada kehidupan yang lebih baik nantinya. Ketika masalah datang, bersabarlah. Lalu ingat, bahwa akan ada surga menanti kita. Ketika kita dibenci, bersabarlah. Lalu ingat, bahwa akan ada bidadari yang menunggu kita di surga. Ketika merasa keinginan belum tercapai, bersabarlah. Lalu ingat, bahwa selalu ada kebaikan yang akan kita temui di surga. Poinnya, kejarlah akhirat. Apabila yang kita kejar adalah untuk akhirat, segala urusan dunia akan mengikuti. Hiduplah dengan baik untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Karena kita hidup untuk kembali pada Sang Pencipta. Bagaimana pun kehidupan dunia yang kita hadapi, ingat, bahwa masih ada kehidupan selanjutnya. Ihfadzillah, yahfadhki.”

Biodata Penulis
Perkenalkan, anak yang bertempat tinggal di Surabaya ini memiliki nama lengkap Qurrotul A’yun. Biasa dipanggil A’yun. Hadir untuk pertama kalinya di dunia pada tanggal 3 September 2001 melalui pasangan Ayah Anas dan Ibu Hidayatul Mabruroh. Menjadi kakak pertama untuk dua orang adik. Nama ini pun masih tercatat sebagai mahasiswi aktif di Universitas Darussalam Gontor.

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *