Baca Karya FiksiCerpen

Cerpen – Layang-Layang – Maria Bernadeth Tukan

Layang-Layang
karya Maria Bernadeth Tukan

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Angin tenang berembus pelan di bawah langit yang cerah. Burung-burung di udara beterbangan ke sana-ke mari, sambil berkicau dalam bahasa yang hanya mereka yang mengerti. Di bawahnya, rerumputan bergoyang ke sana-ke mari mengikuti arah angin.

Pada sebuah padang rumput di bukit kecil dengan satu dua pohon, seseorang sedang berbaring telentang, membiarkan ujung rumput hijau menusuk tubuh yang dibalut pakaian berwarna tanah. Orang itu memejamkan mata, merasakan angin tenang meniupkan helai-helai rambut, dan merasakan rumput hijau sebagai kasur. Ia menikmati kicau burung yang melengkapi sepenggal harinya ini. Dia hanya sendiri. Menikmati semua itu hanya untuk dirinya sendiri.

Cahaya matahari masih cukup hangat dari atas langit. Dia masih punya banyak waktu untuk telentang di padang rumput sebelum cahaya matahari membakarnya.

“Angin yang sangat menyegarkan,” ucapnya dengan mata tertutup.

Tak lama kemudian orang itu bangun dengan perlahan. Dia membersihkan baju dan rambut pendeknya dari helai-helai rumput yang menempel. Orang itu cukup tinggi dengan bahu yang tegap. Dia seorang pemuda yang gagah, dilihat dari sisi mana pun.

Pemuda itu merentangkan tangannya dan memandang alam sekitarnya sejauh kemampuan matanya. Di padang yang luas itu hanya ada dia seorang dan burung-burung di udara yang masih berkicau.

Pemuda itu masih bertahan di padang rumput meski angin mulai sepi dan matahari menaikkan temperaturnya. Seakan tak peduli akan cuaca, pemuda itu meniti padang rumput sembari menyentuhkan tangan pada ujung-ujung rumput. Terkadang ia berlarian kecil di antara rerumputan.
Dia terus berada di padang rumput hingga matahari mulai condong ke arah barat dan membawa kehangatan petang. Angin pun mulai berembus pelan dan mesra, menghiasi sore. Pemuda itu seperti seorang anak kecil yang tak ingin pulang dari taman bermain. Mungkin dia menancapkan hati pada setiap semilir angin, pancaran matahari,dan helai-helai rumput.

Saat petang mulai menipis dan matahari hanya seukuran puncak gunung yang nan jauh, pemuda itu meninggalkan padang rumput dengan janji bahwa dia akan kembali lagi. Entah dia berjanji kepada siapa, yang pasti dia telah berjanji.

***

Hari baru telah tiba. Matahari malu-malu merangkak dari ufuk timur setelah berkelana di sudut dunia yang lain. Sebelum fajar benar-benar utuh, cahaya bulan masih sedikit mencuri-curi kesempatan untuk menerangi langit.

Pemuda yang kemarin bermain-main di padang rumput baru saja bangun dari tidur malam yang panjang. Dia adalah salah satu penduduk sebuah permukiman kecil di kaki bukit di mana padang rumput terbentang luas.

Dia tinggal di sebuah rumah bertembok kayu dan beratap jerami kering. Rumah itu dilengkapi dengan halaman kecil di depannya, tempat tumbuh beberapa jenis sayuran juga satu dua kuncup bunga liar. Salah satunya tanaman Hemlock yang mekar indah tanpa pernah benar-benar diperhatikan.
Pemuda itu tinggal bersama seorang wanita berusia 40-an yang sering dipanggilnya Bibi Marcela. Dan Bibi Marcela sering memanggilnya Waban.

Pemuda itu, Waban, memulai pagi seperti kebanyakan penduduk permukiman kecil itu. Dengan ditemani cahaya pagi yang tumpah-ruah, dia menimba air dari sebuah sumur tua di belakang rumah untuk menyirami sayuran dan tanaman di halaman rumah. Kemudian ia berjalan-jalan mengelilingi permukiman. Aroma masakan tercium dari beberapa rumah yang dia lewati. Angin yang bertiup membawa aroma telur yang digoreng, nasi yang ditanak serta daging yang dibumbui seadanya dan kemudian digoreng dengan mentega.

Waban terus melangkah menikmati jalan-jalan paginya. Pada beberapa rumah para wanita sedang menjemur beberapa potong baju, ada juga yang sedang menyiram tanaman, dan ada yang masih terkantuk-kantuk di depan pintu.Beberapa pria terlihat mengurus ternak, ada yang membelah kayu, ada pula yang sedang mengepulkan asap dari cerutu.

Langkah kaki Waban semakin jauh dari permukiman menuju ke bukit berpadang rumput hijau. Dia akan memenuhi janjinya kemarin. Kembali ke padang rumput.

Di sana embusan angin benar-benar terasa, tidak terhalang apa pun. Tidak terhalang atap rumah, tidak terhalang daun-daun jendela, tidak ditahan pohon-pohon tinggi. Di atas bukit berpadang rumput hijau angin memiliki kebebasan seutuhnya. Berembus, meliuk, bahkan melingkar ke sana-ke mari. Angin yang bebas ini telah menjadi alasan Waban banyak menghabiskan waktu di sana.

Tanpa menunggu lama, tubuh Waban sudah rebah telentang di antara hamparan rumput hijau, bagai setangkai gulma di antara ribuan padi. Burung-burung masih beterbangan bebas di udara sambil berkicau ria.

Waban selalu datang ke padang rumput di atas bukit itu. Dia tidak pernah sehari pun absen untuk bertandang kesana. Di sana tidak ada siapa-siapa untuk dia ajak berbincang. Hanya ada rumput yang selalu tumbuh, mati dan berganti. Tidak ada emas atau harta karun apapun yang yang terpendam. Hanya terlihat permadani hijau dan burung beterbangan. Namun, Waban merasa nyaman. Dia tidak butuh alasan, penjelasan, dan teori apapun selama dia merasa nyaman.

Pernah suatu waktu, usai makan malam, Bibi Marcela bertanya kepadanya.

“Waban, kenapa kau sering sekali pergi ke padang rumput? Bibi perhatikan, kau jarang berkumpul dengan pemuda yang lain dan lebih memilih pergi ke padang rumput. Memangnya apa istimewanya padang rumput itu, Waban?”

“Bibi, aku merasa nyaman tiap kali berada di sana. Aku tidak bisa menggambarkan kepada Bibi rasa nyaman itu. Aku hanya merasa nyaman. Itu saja,” jawab Waban.

“Tapi bergabunglah lebih sering dengan pemuda-pemuda yang lain. Pergilah berburu, duduklah di kedai. Jangan selalu sendirian,” pinta Bibi Marcela.

Waban hanya memberikan senyuman sebagai jawaban dan tidak pernah berjanji kepada Bibi Marcela. Dia pernah mencoba bergabung bersama pemuda-pemuda yang lain. Dia pergi berburu. Dia bersenda gurau di kedai. Namun, itu hanya satu dua kali. Dia tidak menemukan kenyamanan. Dia bukan bagian dari dunia seperti itu.

Sudah lebih dari satu jam dia berbaring di atas rumput. Hingga tiba-tiba dia terusik oleh sesuatu yang menyentuh wajahnya. Ketika dia membuka mata yang sedari tadi tertutup, dia melihat sebuah layangan tergolek persis di depan wajahnya, lengkap dengan benangnya.

Aneh, batin Waban.

Layangan itu berwarna langit dengan benang panjang terjuntai. Layangan itu terlihat masih baru.
Waban cukup terkejut melihat ada sebuah layangan jatuh di padang rumput. Selama ini dia tidak pernah melihat atau merasakan kehadiran orang lain di sana. Tidak mungkin burung-burung yang memainkan layangan.

Waban menoleh ke kanan dan ke kiri. Di kejauhan dia melihat seseorang berlari cepat menuruni bukit. Waban hendak mengejar dan bertanya kepada orang itu apakah dia adalah pemilik layang-layang yang kini ada di tangan Waban. Namun, dia mengurungkan niat itu. Dihitung dari jarak keduanya dan kecepatan langkah orang itu, dia yakin dia hanya akan menemukan kesia-siaan.

Waban akhirnya kembali ke permukiman, bersama layangan berwarna langit di tangan dan rasa penasaran dalam hati. Mungkin suatu hari dia akan mendapat jawaban.

Keesokan harinya Waban kembali lagi ke padang rumput. Kali ini dia membawa layangan yang kemarin tanpa sengaja terjatuh di wajahnya.

Satu jam berlalu, namun tidak ada tanda seorangpun kecuali dirinya di sana. Angin masih berembus seperti biasa. Waktu yang tepat untuk rebah dan memejamkan mata.

Baru saja dia hendak menutup mata, dilihatnya sebuah layangan berwarna sama dengan yang dibawanya, terbang bebas dibawa angin. Dan matanya menangkan sosok seseorang di padang rumput itu. Tidak jelas siapa orang itu sebab dia hanya melihatnya samar-samar.

Tanpa banyak pertimbangan, Waban melangkah menuju orang itu. Jarak mereka semakin dekat. Namun, Waban merasa asing dengan sosok itu. Dia tidak mengenalnya. Orang itu, yang sedang asyik menerbangkan layangan, ternyata adalah seorang gadis berambut ikal kekuningan, berkulit sawo matang dengan gaun panjang yang hampir menyentuh mata kaki.

Sosok itu seperti tahu bahwa ada seseorang di belakangnya, langsung berbalik. Di hadapannya berdiri seorang pemuda berambut acak-acakan. Pemuda itu membawa sebuah layangan berwarna sama dengan yang sedang dia terbangkan.

“Siapa kau?” tanya gadis itu dengan dingin.

Waban mengangkat alis.

“Aku bertanya padamu, siapa kau?” gadis itu bertanya lagi dengan dingin.

“Aku Waban, pemuda yang tinggal di permukiman,” jawab Waban.

Gadis itu menatap Waban penuh selidik. Layangan yang tadi dia terbangkan kini terjatuh di antara rerumputan hijau.

“Siapa dirimu?” tanya Waban.

“Dari mana kau mendapat layangan yang kini ada di tanganmu?” gadis itu balik bertanya.

“Aku menemukannya kemarin saat aku sedang berada di padang rumput ini. Tiba-tiba saja layangan ini jatuh tepat di wajahku. Apa ini milikmu, Nona?”

“Iya, itu milikku. Berarti kau laki-laki yang kemarin kulihat.”

“Tapi boleh aku tahu siapa dirimu?”

Gadis itu menatap Waban lekat-lekat. Mengangkat alis, mengerucutkan bibirnya, seperti mempertimbangkan sesuatu. “Hmmm … baiklah. Sepertinya bukan masalah membiarkanmu tahu siapa aku. Kau tidak terlihat seperti orang jahat. Aku Abel. Dan aku bukan penduduk permukiman,” jawab gadis itu masih dengan dingin.

“Abel … Abel … aku akan mengingatnya.”

Abel menyodorkan tangannya kepada Waban, dan Waban hanya bisa bingung melihat tingkah gadis di hadapannya yang baru saja dia kenal.

Telunjuk Abel menunjuk-nunjuk pada benda yang di pegang Waban. Layangan berwarna langit.

“Itu milikku dan kau sudah membawanya terlalu lama bersamamu. Boleh kau mengembalikannya kepadaku?” ujar Abel sambil matanya terus menatap pada layangan di tangan Waban.

Sebuah senyuman mengembang di wajah Waban. Dia punya ide yang lain. “Bagaimana jika kita bermain layangan bersama. Angin sedang bagus, cuaca juga cerah. Dan layanganmu yang jatuh kemarin ini masih layak untuk diterbangkan. Setuju?”

“Tapi itu layanganku. Sedangkan kau tidak membawa layanganmu,” protes Abel.

“Aku pinjam punyamu yang ada di tanganku. Kau gunakan yang sedari tadi kau terbangkan. Tenang saja, aku hanya meminjamnya, nanti akan kukembalikan,” jelas Waban.

Abel terlihat ragu. “Tapi aku tidak bermain layangan bersama orang asing.”

“Hei, aku bukan orang asing. Kita baru saja berkenalan tadi. Aku Waban, kau Abel. Aku dari permukiman, kau bukan dari permukiman.”

Abel tidak punya senjata lagi untuk menolak permintaan Waban. Maka ketika angin bertiup indah menggerakkan rerumputan, menerbangkan helai-helai rambut, dua orang sedang berdiri berdampingan menggerak-gerakkan benang, memainkan layangan berwarna langit.

“Abel, boleh aku bertanya?” ucap Waban.

Fokus Abel seketika teralihkan. Dari yang tadinya ia berfokus pada layangan yang diterbangkannya, kini dia terfokus pada orang yang baru dikenalnya beberapa saat yang lalu.

“Hei, Abel. Boleh aku bertanya tidak?” tanya Waban lagi.

“Hmmm. Silakan. Kau ingin bertanya apa?”

“Sejak kapan kau sering bermain layangan di padang rumput ini. Selama ini aku tidak pernah melihatmu. Hanya ada beberapa orang yang datang ke sini. Jadi aku bisa mengingat mereka dengan baik.”

“Dua hari. Kemarin dan hari ini. Kau sendiri, apakah hampir setiap hari kau ada di sini?”

“Ya. Hampir setiap hari aku ada di sini. Melewati siang, menyambut sore, dan meninggalkan tempat ini saat gelap.”

Layang-layang keduanya masih menari indah di langit bersama embusan angin. Sementara matahari makin meninggi. Sembari terus menerbangkan layangan, percakapan keduanya berlanjut.

Abel ternyata adalah gadis dari desa yang berjarak dua bukit dari permukiman tempat tinggal Waban. Desanya adalah desa para perajin. Perajin kayu, perajin besi, perajin perhiasan, dan perajin-perajin lainnya. Abel sendiri adalah anak seorang perajin mainan. Dia selalu ditugaskan untuk menguji tiap mainan sebelum dijual.

Dua hari terakhir yang dia habiskan di padang rumput hanya untuk menguji kelayakan mainan yang dibuat dengan tangannya. Layang-layang berwarna langit.

“Kenapa kau harus jauh-jauh datang ke sini untuk melakukan uji coba layangan ini?” tanya Waban yang masih asyik mengatur layangannya yang terbang ke sana-ke mari.

“Angin di sini bagus untuk menerbangkan layangan. Tidak ada yang menghalangi embusan angin di sini. Ya begitulah. Tidak ada alasan yang istimewa,” jawab Abel.

Usai itu Abel kembali fokus pada layangannya sembari mendendangkan sebuah lagu. Lagu yang asing di telinga Waban. Tapi meskipun asing di telinganya, Waban menikmati dendangan lagu itu. Dia tidak berusaha bertanya lagu apa itu atau dari mana Abel tahu lagu itu. Dia tidak bertanya karena dia tidak ingin mengganggu alunan itu.

Selama Abel berdendang, Waban dapat merasakan angin yang bertiup dengan lebih dalam. Dia dapat mendengar pula kepakan sayap burung di atas sana menambah indah dendangan Abel. Waban seperti berada pada padang rumput yang lain. Lebih indah, lebih tenang, dan lebih berjiwa.
Lagu itu berakhir. Pendendangnya sudah terdiam tidak ingin mengulang lagi lagu yang telah dia nyanyikan.

Waban merasa kehilangan. Dia merasa sesuatu yang indah telah pergi. Sampai-sampai dia tak sadar bahwa layangan yang tadi dia terbangkan telah jatuh diantara rerumputan.

“Hei, Waban, lihat layanganmu telah jatuh. Jatuh dengan amat sedih. Sepertinya bukan karena layangan itu tidak bagus tapi karena kamu yang tidak fokus menerbangkannya. Sayang sekali,” ujar Abel kepada Waban. Dengan cepat Abel menurunkan layangannya dan juga mengambil layangan yang dipinjam Waban. Sudah saatnya dia kembali ke desanya.

“Waban, aku harus kembali sekarang. Senang berkenalan denganmu,” ujar Abel. Ketika dia hendak berbalik, Waban menahannya.

“Lagu apa tadi? Lagu apa yang kau dendangkan tadi?” tanya Waban kepada Abel yang merasa risih ditahan kepergiannya.

“Lagu yang mana? Ohhh … lagu yang tadi. Aku tidak tahu pasti lagu apa itu, tapi itu lagu yang sering dinyanyikan ayah dan ibuku saat membuat mainan,” jelas Abel.

“Bisakah kau menyanyikannya sekali lagi?” pinta Waban.

Abel hanya menggelengkan kepalanya. Dia harus segera kembali ke desanya. Perjalanan melewati dua bukit bukan perkara gampang. Dia dengan segera berlari meninggalkan Waban seorang diri di padang rumput.

“Akankah kau kembali ke sini lagi, Abel?” tanya Waban setengah berteriak. Abel yang sedang berlari kecil berbalik. Dia hanya mengangkat bahu dan tersenyum. Kemudian meninggalkan Waban benar-benar sendirian di sana.

***

Sudah terhitung tujuh hari semenjak hari di mana Waban berpisah dengan Abel. Dan selama hari-hari itu Waban selalu kembali ke padang rumput. Melihat burung beterbangan, merasakan angin berembus, dan menentramkan diri di antara rerumputan. Tapi ada satu alasan lagi yang membuatnya selalu kembali ke padang rumput. Keinginan untuk bertemu Abel.

Hari-harinya di padang rumput tak pernah sama lagi. Jika dahulu dia selalu merasa tenteram di sana, kini dia merasa ada yang kurang. Kenyamanannya yang dahulu telah terusik. Dia ingin mendengar lagi nyanyian Abel waktu itu. Dia ingin melihat gadis itu lagi.

Tepat delapan hari setelah pertemuannya dengan Abel, Waban kembali lagi ke padang rumput. Dia mencoba merasakan embusan angin seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang kurang. Dia memperhatikan burung-burung yang terbang. Tetap ada yang kurang. Dia mencoba rebah di atas rerumputan. Tetap saja ada yang kurang.

“Jika Abel tidak datang, maka aku yang akan membawanya datang,” ucap Waban.

Seketika itu dia berlari sekuat tenaga meninggalkan padang rumput. Dia berlari sekuat kakinya menghentak. Sebab dia tahu perjalanan melewati dua bukit akan memakan waktu dan dia tidak ingin membuang waktu.

Dia berlari sekuat tenaganya. Bukit padang rumput dan permukiman tempatnya tinggal sudah jauh di belakang.

Dia masih terus berlari. Ketika dia tersandung bebatuan, dia bangun dengan seketika dan kembali berlari. Ketika ada semak dan perdu yang menghalangi, dia akan melompatinya dan terus berlari. Satu bukit telah tertinggal di belakangnya. Tinggal satu bukit lagi.

Waban terus berlari. Lagi dan lagi. Rambutnya sudah mulai basah oleh peluh. Pakaiannya pun tak ketinggalan. Basah disana-sini. Dan bukit terakhir telah tertinggal di belakangnya. Desa Perajin ada tepat di hadapannya. Desa tempat tinggal Abel, gadis yang membuatnya terus berlari.

Ketika memasuki desa itu, dia melihat perajin dimana-mana, sibuk dengan pekerjaan mereka. Perajin kayu, perajin besi, perajin kain, perajin sepatu, perajin patung, dan masih banyak lagi. Desa itu amat bising dengan suara manusia beradu suara alat-alat perajin. Tapi yang dia cari adalah perajin mainan.

“Permisi,” seru Waban pada seorang wanita seumuran Bibi Marcela dengan wajah lembut kemerah-merahan.

“Iya anak muda. Ada apa?” ujar wanita itu sambil sibuk melipat kain.

“Aku mencari rumah seorang perajin mainan. Tahukah bibi di mana letak rumah perajin mainan?” tanya Waban sambil menyeka keringatnya.

“Perajin mainan mana yang kau maksud, Anak Muda? Di desa ini ada dua perajin mainan. Yang mana yang kau cari?” Wanita itu masih sibuk dengan kain-kainnya tapi dia menyimak dengan baik tiap perkataan Waban.

“Aku mencari perajin mainan yang memiliki seorang putri bernama Abel.”

“Abel? Oh, aku tahu gadis itu. Anak perajin mainan paling handal di desa ini. Kau berjalan lurus saja di jalan setapak ini. Rumah ketiga dari sini adalah rumah orang tua Abel.”

“Terima kasih, Bibi.” Waban langsung melesat meninggalkan wanita itu yang masih saja sibuk dengan kainnya.

Rumah ketiga itu adalah rumah kayu dengan mainan di sana-sini. Waban berdiri di depan rumah itu sambil memperhatikan dengan seksama bangunan sederhana berlantai dua itu.

“Waban? Kau kenapa berada di sini?” Abel tiba-tiba muncul dari rumah sambil membawa sekotak penuh mainan yang terlihat masih baru. “Apa yang kau lakukan di sini? Dari mana kau tahu rumahku? Dan lihatlah, kau berkeringat di sana-sini.” Abel mencecar Waban dengan berbagai pertanyaan.

“Nyanyikan untukku. Nyanyikan lagi lagu itu untukku. Datanglah lagi ke padang rumput,” ucap Waban tersengal-sengal tapi semringah.

“Ya ampun Waban, hanya untuk itu kau datang ke sini?”

“Maukah kau? Mungkin itu tak ada artinya bagimu. Tapi itu berarti untukku. Maukah kau?” Waban menginginkan jawabannya.

Abel tertawa. “Tentu saja, Waban. Aku akan sering-sering datang ke padang rumput.”
Waban tersenyum. Dia telah mendapatkan jawabannya. Jawaban yang dia inginkan.

“Bawa ini bersamamu. Dan tiap kali kita bertemu di padang rumput itu, kita akan memainkannya,” ucap Abel sambil menyodorkan sebuah layangan berwarna langit kepada Waban. Layangan yang sama yang jatuh tepat di wajahnya tempo hari.

Biodata Penulis
Maria Bernadeth Tukan
bernama pena Ona T. adalah seorang gadis kelahiran Larantuka, Flores Timur, yang kini sedang menempuh pendidikan  S1 di Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada. Dalam kesehariannya penulis lebih dikenal dengan nama lengkap Maria Bernadeth Tukan atau sapaan akrabnya ialah Ona Tukan.  Kini penulis tinggal di Sleman Yogyakarta. penulis dapat dihubungi via instagram (@ona_tukan).

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *