Baca Karya FiksiCerpen

Cerpen – Gadis – Hening Apriliananda Wikunurani

Gadis
karya Hening Apriliananda Wikunurani

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Seorang gadis kecil yang saat itu baru berumur 6 tahun. Dia tidak pernah menduga jika hidupnya akan membentuk pribadinya menjadi seorang gadis yang membenci dirinya sendiri dan keluarganya. Selama beberapa tahun yang dia kenal hanyalah nenek, kakek, tante, paman, ibu asuh beserta keluarganya. Dia tidak mengenal orang tua maupun saudaranya.

Sampai suatu ketika orang tua dan saudaranya menjemput dia untuk ikut dan tinggal bersama mereka. Gadis itu hanya bisa bersembunyi di balik tubuh ibu asuhnya, berharap kalau ibu asuhnya akan melarang orang-orang itu membawanya pergi jauh dari dirinya. Dia menangis dan takut karena harus berpisah dengan orang-orang yang selama ini merawat dan yang dia kenal. Digenggamnya ujung pakaian ibu angkatnya, gadis itu bergeming di sisi ibu asuhnya. Walau ibu asuh, nenek, kakek dan orang-orang yang dia kenal membujuknya, dia hanya menggeleng sambil terus menggenggam ujung baju ibu asuhnya. Gadis itu menolak untuk ikut dengan orang tua dan saudaranya, dia tidak mengenali mereka bertiga.

Namun dengan usaha semua orang, gadis itu terpaksa harus ikut bersama tiga orang asing yang tidak lain adalah orang tua dan kakak kandungnya. Sambil terus menangis dia berharap kalau dia tidak akan dipisahkan dari ibu asuhnya. Satu bulan pertama dia masih canggung dan belum terbiasa dengan keadaan barunya itu. Di tempat neneknya dia selalu dimanjakan, dia selalu dibela dan sayang dengan orang-orang di sana. Tapi saat tinggal bersama orang tuanya, keadaan yang biasa dilakukan kini tidak dapat lagi dia lakukan atau rasakan lagi. Gadis itu dipaksa oleh kehidupan untuk beradaptasi dengan keadaannya.

Dulu, saat bersama ibu asuh dia bisa merengek dan menangis agar keinginannya dituruti, kini hal itu tidak lagi bisa dia lakukan. Saat dia menangis, dia hanya bisa menangis tanpa bersuara, itu pun dia lakukan di dalam kamar, bersembunyi di bawah meja belajar atau menangis di balik selimutnya. Orang tuanya tidak suka mendengarkan anak-anaknya merengek dan mereka juga tidak mudah memberikan apa yang gadis kecil itu inginkan. Setiap gadis kecil itu menginginkan sesuatu, dia hanya bisa menahannya. Dia tidak bisa merengek seperti dulu agar keinginannya dikabulkan.

Ada suatu sore gadis kecil itu minum menggunakan gelas yang di atasnya ada moncongnya dan kedua sisi gelasnya ada pegangannya. Gadis itu minum sambil memandangi ibunya sibuk memasak, dia berdiri di depan pintu dapur. Sesaat setelah dia selesai minum, ibunya berkata.

“Sudah selesai minumnya?” dengan suara yang lembut.

Gadis kecil itu tersenyum menganggukkan kepalanya dan menyerahkan gelas kesayangannya itu pada ibunya. Lalu tanpa peringatan ibunya membuang gelas itu ke dalam sumur yang berada tidak jauh dari dapur tersebut. Gadis itu terkejut melihat gelas kesayangannya di lempar begitu saja tanpa peringatan dari ibunya. Ibunya kembali sibuk memasak tanpa memperhatikan ekspresi gadis kecil itu yang hampir menangis.

Gadis itu berlari ke kamarnya, menutup pintu, bersembunyi di bawah meja belajarnya dan menangis tanpa suara.

Di lain waktu gadis kecil itu berkumpul dengan orang tua dan kakaknya di ruang keluarga, saat itu ayahnya berkata:

“Kamu itu kami pungut dari tong sampah, karena kasihan ya jadinya kami bawa ke rumah,” canda ayahnya yang di dukung oleh anggukan ibunya.

Kedua orang tua itu tertawa dengan candaan mereka. Namun, tidak dengan gadis kecil itu. Gadis itu justru berfikir kalau yang diucapkan kedua orang tuanya adalah benar. Dari sanalah dia jadi mengerti dan jadi sangat iri dan kesal dengan kakaknya dan perlakuan kedua orang tuanya yang sangat berbeda memperlakukan dia dan kakaknya.

Waktu terus berjalan, hari, minggu, bulan dan tahun terus berganti. Dia terus berusaha ingin mengambil perhatian orang tuanya, tapi selalu gagal. Dia selalu tertinggal beberapa langkah di belakang sang kakak. Kebencian terhadap kakaknya semakin hari semakin besar, tidak cukup dengan kebencian terhadap kakaknya. Kini dia juga membenci orang tuanya. Ayahnya selalu membandingkan dia dengan anak tetangga, sedangkan ibunya selalu membandingkan nilai akademiknya dengan kakaknya.

Gadis itu kini telah duduk di bangku SMP, dia masih terus berusaha untuk mendapatkan peringkat di kelasnya, namun sayangnya dia tidak berhasil mendapatkan peringkat, bahkan dia tidak masuk dalam 20 besar. Saat pembagian rapor, ibunya melihat rapornya yang rata-rata nilainya 5 atau 6, sedangkan nilai tertinggi hanya di kisaran 7. Entah karena saat itu ibunya sedang kesal atau memang ibunya tidak menyukai gadis itu, ibunya memarahinya. Marah ibunya bukan yang berteriak-teriak, tapi perkataannya itu cukup membuat gadis itu semakin membenci ibunya.

“Kenapa nilaimu merah semua!? Anggak 8 pun enggak ada. Otakmu kok kayak kambing. Kenapa kamu enggak bisa seperti kakakmu? Dia saja nilainya bagus-bagus, malah dapat peringkat 2 lagi,” ucap ibunya saat itu.

Gadis itu hanya bisa menunduk diam mendengarkan, perkataan ibunya bagaikan belati yang tak tampak yang terus menghujam dadanya. Membuat luka-luka yang tak kasat mata, yang hanya bisa di rasakan oleh gadis itu. Gadis itu menahan air matanya agar tidak jatuh di hadapan ibunya. Tenggorokannya terasa sakit karena menahan air matanya.

Suatu ketika saat kamar gadis itu sedang di di perbaiki, dia terpaksa harus tidur di ruang keluarga, tempat tidur miliknya di keluarkan dan di letakkan di ruang keluarga. Selama 2 malam tidak terjadi apa pun padanya, tapi saat malam ketiga, lebih tepatnya saat subuh, seseorang menaiki tempat tidurnya. Gadis itu belum tidur dengan pulas, karena dia baru selesai menunaikan ibadah subuhnya. Seseorang menaiki tempat tidurnya, memeluknya dari belakang dan perlahan menyentuh tubuh bagian bawah gadis itu. Gadis itu berusaha menyingkirkan tangan itu, tapi tidak berhasil. Gadis itu tidak berani bersuara. Saat gadis itu terus berusaha untuk melepaskan tangan itu, suara berat itu berkata:

“Aku cuma mau lihat saja,” suara berat itu berbisik tepat di telinganya. Suara itu … suara ayahnya.

Hubungan orang tuanya beberapa tahun terakhir tidak terlalu baik. Ibunya pernah berkata pada gadis itu:

“Kalau ada orang yang pegang-pegang atau melakukan sesuatu yang buruk ke kamu, kamu harus lapor ke ibu,” ujarnya saat itu.

Namun, gadis itu berpikir ‘orang’ yang di maksud ibunya bukanlah orang yang berada di dalam rumahnya melainkan orang lain. Karena, gadis itu pernah hampir disentuh oleh pria yang tidak lain adalah tetangganya sendiri, itu sebabnya sang ibu mewanti-wanti dia.

Gadis itu pernah berpikir untuk memberitahu ibunya, tapi selalu ia urungkan. Gadis itu tidak ingin disalahkan jika ia mengadukan perbuatan ayahnya itu. Maka mereka mungkin akan bercerai dan keluarganya akan menyalahkannya karena dia mengadu. Tapi dia juga tidak ingin seperti ini terus.
Dan pada akhirnya gadis itu hanya diam, memilih untuk diam dan mengunci mulutnya.

Saat gadis itu duduk di bangku SMA, dia lebih sering berada di luar, dia memilih untuk menunggu hingga ibu dan kakaknya pulang baru dia pulang, gadis itu tidak ingin berada di rumah hanya berdua dengan ayahnya. Walaupun ayahnya sudah tidak pernah mencoba menyentuhnya lagi, masih ada rasa takut dan trauma di benaknya, dia memilih menghabiskan waktu di sekolah atau di salah satu rumah sahabatnya.

Terkadang dia kesal dengan ibu dan kakaknya yang terus menjadikannya alasan agar ayah memberi mereka uang untuk membeli makanan ringan. Kakaknya pernah bilang kalau gadis itu adalah anak kesayangan ayahnya dan ibunya juga membenarkan hal itu, tapi mereka tidak tahu di balik semua itu. Gadis itu dengan mudah mendapatkan uang dari ayahnya karena, ayahnya tahu kalau ayahnya harus menutup mulut gadis itu agar tidak mengadukan perbuatannya dulu pada istri dan anak pertamanya. Karena semua hal itu gadis itu semakin membenci ketidaktahuan ibu dan kakaknya, bahkan dia membenci dirinya karena tidak bisa mengadukannya.

Musim terus berganti, gadis itu menjadi gadis yang keras kepala. Dia bahkan sering berkelahi dengan ibunya hingga tidak saling bertegur hingga 1 bulan lamanya. Dia hanya menyalin apa yang ibunya lalukan dan ajarkan padanya.

“Jika kamu benar, maka pertahankan kebenaran itu beserta bukti konkretnya. Tapi, jika kamu salah jangan malu untuk minta maaf, sekali pun itu seorang anak kecil.”

Itu ucapan dan ajaran yang ibunya berikan padanya dan juga kakaknya.

Hubungan gadis itu dengan ibunya masih terus berlanjut. Walau mereka sempat berbaikan, namun suasana kembali memanas saat gadis itu lulus SMA dan ingin mencari kerja, alih-alih kuliah. Ibunya yang mendengar hal itu sangat tidak senang. Ibunya memaksa gadis itu untuk lanjut kuliah, tapi terus di tolak oleh gadis itu. Gadis itu ingin sekali bekerja dan keluar dari rumah itu. Namun, kakaknya kini yang berusaha membujuknya. Memintanya untuk menuruti apa yang diinginkan ibu mereka dengan sedikit ancaman dari kakaknya. Mau tidak mau gadis itu coba ikut tes dan memilih jurusan yang ibunya inginkan.

Gadis itu tidak berharap dia lulus, bahkan lulus di jurusan yang ibunya inginkan. Tapi takdir berkata lain. Dia lulus dan itu membuat kebenciannya semakin dan semakin besar pada keluarganya. Dia tidak ingin kuliah, tapi dipaksa. Dia juga tidak suka dengan jurusan itu tapi dia di paksa, lalu tiba-tiba dia lulus di jurusan yang tidak dia sukai.

Selama menjalankan kuliahnya, gadis itu sama sekali tidak terlalu mempedulikan nilai-nilainya. Saat di pertengahan semester gadis itu sempat stres dan mencoba melakukan percobaan bunuh diri.

Sebelumnua saat dia duduk di bangku SMA dia sempat melakukannya juga sebanyak 2 kali. Pertama, dia menyayat-nyayat pergelangan tangannya namun tidak berhasil. Kedua, dia meminum obat-obat dengan dosis tinggi, tapi beberapa menit kemudian dia memuntahkan semua isi lambungnya. Kini gadis itu mencoba melakukannya lagi, dia melilit-lilit tali di teralis paling atas jendelanya dan mengalungkan ujung satunya ke lehernya. Dia hampir kehabisan napas, tapi percobaan ketiganya kembali gagal. Tali yang cukup kuat itu putus dan kini hanya menyisahkan bekas lebam melingkar di leher gadis itu.

Dua hari berselang lebam itu belum memudar. Tetangganya sekaligus teman SMP gadisnya melihat lebam di leher gadis itu kan bertanya sambil lalu.

“Kenapa lehermu? Kamu habis mau bunuh diri?” ucapnya basa basi.

Gadis itu sedikit terkejut, tidak menyangka kalau temannya itu akan memperhatikan lehernya yang selalu dia usahakan tertutup. Gadis itu tidak memberi jawaban dan sepertinya temannya juga tidak membutuhkan jawaban.

Gadis itu berpikir, orang luar saja bisa melihatnya dan merespons, tapi kenapa orang tua dan kakaknya tidak pernah merespons lebam itu, atau jangan-jangan mereka tidak peduli dengan ketololan yang dia lakukan, pikir gadis itu.

Semakin ke sini orang tua gadis itu dan kakaknya sibuk dengan dunia mereka. Ayahnya lebih percaya pada perkataan teman-temannya dibandingkan keluarganya, bahkan dia lebih royal pada orang luar di banding dengan keluarganya sendiri. Ibu gadis itu juga, dia lebih mudah memberikan kasih sayangnya pada orang lain, pada anak-anak lain di bandingkan pada anaknya sendiri, bahkan dia lebih memperhatikan kesusahan dan masalah orang lain dibandingkan masalah anak-anaknya.
Kakak gadis itu juga lebih sibuk dengan pekerjaannya.

Sedangkan yang gadis itu dapatkan hanyalah beban. Beban, karena dia anak dari seorang ayah yang sabar dan kalem menurut pandangan orang luar. Dan anak dari seorang ibu yang banyak di kenal oleh orang-orang yang memiliki status tinggi, bahkan masyarakat sekitar.

Orang-orang yang mengenal ayah dan ibu gadis itu, mereka berpikir kalau gadis itu akan sama dengan ayahnya yang sabar dan ibunya yang vokal. Dan gadis itu mulai membenci orang-orang yang menganggap bahwa orang tuanya adalah orang tua yang baik. Dan bencinya terhadap kedua orangnya semakin hari semakin besar dengan beban yang terus gadis itu terima akibat dari nama ayah dan ibunya.

Sering sekali dia mengkhayal dan melakukan reka adegan di pikirannya. Reka adegan penyiksaan dan pembunuhan terhadap orang tua dan kakaknya, bukan hanya kepada keluarganya tapi juga pada orang-orang yang selalu mengagung-agungkan ayah dan ibunya. Adegan-adegan yang mengerikan selalu memenuhi pikiran gadis itu, tapi dia hanya bisa melukai orang-orang itu dalam angannya, membunuh mereka berulang-ulang kali dalam pikirannya sendiri. Dan semua itu terus berulang sampai detik ini.

Gadis itu kini hanya mengenal hitam dan gelapnya dunia, dan merahnya darah mengotori tangan dan pakaiannya setiap saat.

Biodata Penulis
Hening Apriliananda Wikunurani
. Lahir di Sidoarjo 19 April 1990. Selama 3 tahun di Sidoarjo dan di tahun berikutnya hingga saat ini tinggal dan menetap Kalimantan Timur, tepatnya di Kota Samarinda.

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

2 pemikiran pada “Cerpen – Gadis – Hening Apriliananda Wikunurani

  1. Entahlah saya suka dengan tulisan ini, seolah anda tau bagaimana keadaan hidup saya. Saya hanya menerka nerka bahwa kejadian ini begitu nyata dari hati anda. Mungkin hanya perasaan saya. Tapi saya menyukai penggambaran anda tentang pahitnya merasa sendiri🙏 jika ada lanjutannya bolehkah saya membaca nya juga. Saya begitu tertarik dengan kisah sang anak ke-2 ini.

  2. Saya tertegun membaca cerpen ini. Seperti merasakan juga karna pernah melalui hal yg agak mirip. Tetapi saya selalu coba untuk berfikir lurus dan mencari solusi terbaik (bukan bunuh diri/melakukan pembunuhan). Coba dekatkan diri kepada Tuhan, mohon perlindungan dan diberi kemudahan. InsyaAllah semua akan berakhir baik dan dipertemukan dengan orang yg benar benar mengerti dan menyayangi diri kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *