Baca Karya FiksiCerpen

Cerpen – Tsunagari – Nara Zihana

Tsunagari
karya Nara Zihana

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Musim semi akan segera berakhir beberapa hari lagi. Gadis yang kini duduk di tepian danau itu tak ingin mengakhiri musim semi ini dengan sia-sia. Rambut pirang Hana berkilau sebab komorebi, sinar mentari yang masuk melalui celah-celah pepohonan. Tanpa Hana sadari, Kaze menatapnya dengan segaris senyuman tipis.

“Maafkan aku, tapi aku harus segera pergi ke Tokyo. Ayahku sedang sakit parah di sana.” Dapat dilihat dari iris mata Kaze bahwa mata indah Hana berkaca-kaca.

Hana tersenyum palsu saat mendengar Kaze mengatakan ia akan kembali saat musim panas berakhir. Sebenarnya ia tak mau ditinggalkan Kaze, tapi Hana juga tak dapat mencegahnya. Akhirnya, Hana mengiyakan apa yang dikatakan lelaki itu.

“Tapi ada syaratnya.”  Hana mengerutkan keningnya bingung tak mengerti apa yang dimaksud dengan ‘syarat’ itu.

“Kau harus memotong rambutmu hingga pendek.”

Apa yang dikatakan Kaze membuat Hana tertegun. Gadis itu belum sepenuhnya mencerna setiap kata yang diucapkan Kaze.

Tebesit sebuah rasa dari lubuk hati paling dalam Kaze ingin memiliki Hana. “Selama aku pergi, jauhi lelaki lain selain aku.”

***

Musim panas mungkin akan menjadi waktu penantian yang lama bagi Hana. Kaze telah berangkat menuju Tokyo sejak beberapa minggu lalu. Menunggu hingga musim panas berakhir bukanlah waktu yang sebentar bagi Hana.

Hana berjalan melewati seluruh penjuru koridor sekolah. Hampir semua siswa-siswi menatapnya dengan tatapan aneh. Hal ini yang membuat hati Hana gemetar dan gelisah tak keruan. Ia tak suka ketika seseorang menatapnya seperti tatapan melihat orang yang aneh. Rasa takutnya hilang saat Sora memanggilnya di ambang pintu kelas. Hana membalas senyuman Sora dari kejauhan yang mungkin Sora tak bisa melihat senyuman itu.

Sora adalah teman laki-laki Hana sejak kecil. Jarak rumah mereka hanya dibatasi pagar yang tinggi. Mereka selalu bersama sejak kecil, bahkan selalu satu sekolah yang sama dengan Hana, sampai mereka duduk di bangku menengah atas seperti sekarang ini.

“Seminggu sebelum musim panas berakhir ada festival akhir musim panas, kau mau ikut denganku?” tanya Sora saat Hana sudah berdiri di hadapannya. Sora tak buta, ia dapat melihat sesuatu yang berbeda dari Hana.

Hana tampak berpikir. Ia mencari tahu apakah ada kesibukan di akhir musim panas ini. Ia ingat bahwa Hana harus menemui seseorang. “Maaf aku tak bisa. Aku harus pergi untuk menemui Kaze yang baru datang dari Tokyo dan mungkin aku akan pergi dengannya,” ucap Hana lalu ia berjalan meninggalkan Sora.

“Kau mengapa betah sih berteman dengan Hana? Dia kan sudah gila,” bisik salah satu teman sekelas Sora.

Sora tak habis pikir hampir seluruh teman kelasnya mengatakan bahwa Hana gila. Bukan sekali dua kali saja, sejak dulu sudah banyak rumor yang menyatakan bahwa ia berteman dengan orang gila. Padahal Sora pikir tak ada yang aneh dari Hana. Sora tahu karena ia sudah berteman sejak lama.

“Tidak, itu tidak benar! Kau tahu apa tentang Hana?”  ucap Sora tidak terima.

Saat Hana hendak duduk di bangkunya, salah satu teman sekelasnya menghampirinya. Atsui namanya, gadis itu sering merundung Hana. Pasalnya, ia tak terima jika Hana dan Sora begitu dekat. Atsui mengatakan pada Hana bahwa penampilannya sungguh aneh. Saat Hana berjalan di koridor, Atsui menatap Hana dari atas hingga bawah. Atsui bergidik aneh ketika melihat model rambut Hana yang ditutupi topi. Atsui membuka dengan paksa topi Hana, dan tampaklah sebuah model potongan rambut seperti laki-laki, tapi sedikit tidak rapi.

“Hei lihat gaya rambut Hana. Bukankah ini memalukan?” Seisi kelas ricuh menertawakan Hana, kecuali Sora dan Hana sendiri tentunya. Tubuh Hana gemetar dan secara refleks ia berjalan mundur. Namun naas, tubuhnya tertubruk meja yang membuat ia tak bisa mundur apalagi maju. Atsui mendorong tubuh Hana hingga terhuyung ke belakang. Tubuh Hana melemas, ia benci jika ia diperlakukan seperti ini, selalu saja Hana tak sanggup melawan.

Bukan kesal lagi. Sungguh jika Atsui bukan seorang perempuan, Sora akan menghajarnya habis-habisan. Atsui adalah perempuan, tapi dirinya sendiri tak bisa menghargai perempuan lain. Atsui selalu menganggap Hana salah. Limit kesabaran yang sudah menipis, membuat Sora segera menarik Atsui menuju tempat sepi ketika bel pulang berbunyi.

“Kau tak punya hati? Apa kau tak berpikir bahwa apa yang selama ini kau lakukan itu salah?! Begini caramu menghargai orang lain?”

“Kau membela orang gila!”

“Kau sebenarnya yang sudah gila!” Sora hendak berbalik, tapi tangannya dicekal.

“Kau terlalu membelanya, Sora. Kau buta! Hana itu sudah gila, orang gila tak pantas berada di sini. Kalau kau melihatnya dari sudut pandang berbeda, aku yakin kau akan meninggalkannya.” Atsui menghempaskan cekalan tangan Sora lalu berjalan meninggalkannya.

Sora menghampiri Hana yang sedang duduk di taman belakang rumahnya, melamun dengan beribu pikiran di kepalanya. Hana tampak termenung dapat dilihat saat Sora memanggilnya dan Hana refleks terkejut.

“Kutebak, kau melamun memikirkan Kaze?” tanya Sora yang membuat Hana mengangguk. “Sedekat apa kau dengannya? Aku bahkan tak tahu hubunganmu dengannya. Kau sahabatku, harusnya kau lebih terbuka denganku.”

“Sedekat ini.” Hana menunjukkan jarak antara ibu jari dan jari telunjuknya kepada Sora.

“Ceritakan padaku seperti apa dia? Sehingga membuatmu begitu memprioritaskannya.”
Hana melirik ke arah Sora yang duduk tepat di sebelahnya sambil bersila. “Dia orang yang baik. Selalu melindungiku.”

“Apakah ada hubungannya dengan rambutmu seperti ini?”

“Memangnya tak boleh membuat senang Kaze yang notabene sahabatku?”

“Berarti aku bukan sahabatmu lagi?”

“Kau tetap sahabatku.” Hana mengernyitkan alisnya.

Sora tersenyum getir. Munafik memang jika mengatakan bahwa Sora menganggap hubungannya dengan Hana hanya sebatas sahabat saja. Entah sejak kapan perasaan aneh ini muncul, sesuatu yang membuat jantungnya seakan berdetak tiga kali lebih cepat saat berada di dekat Hana. Namun, akhir-akhir ini ada sesuatu yang mengganggu. Ada sebuah perasaan tak rela jika Hana menceritakan kedekatannya dengan Kaze. Entah apa, yang pasti ini adalah sebuah gejolak yang memberontak, tapi dengan segala usaha Sora menahannya.

***

Musim panas berlangsung seiring hari hari berganti. Sinar matahari yang menyengat, seakan ikut menyengat pikiran Sora. Selama musim panas ini, Sora dibuat pusing tujuh keliling setelah perkataan yang dilontarkan Atsui. Seharusnya ia tak memikirkan perkataan orang seperti Atsui yang tak tahu bagaimana cara menghargai orang lain. Namun, entah mengapa hati kecilnya menyerap beberapa hal yang dianggap benar.

Tapi bukan perkataan Atsui-lah yang menjadi topik pemikirannya. Hana tak pernah terbuka padanya, jarang memiliki quality time dengan Sora. Entah hanya perasaannya saja atau bukan, Sora merasa bahwa Hana sering menghabiskan waktunya dengan lelaki yang sering Hana sebut Kaze.

Mungkin inilah rasanya menjadi seorang sahabat, selalu berusaha untuk melindungi sahabatnya. Sora memutuskan mulai hari ini untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Hana. Sora mencoba untuk menjauh dari Hana, mencoba melihat dengan sudut pandang bukan sebagai sahabat.

Di sisi lain, Hana berbeda seperti biasanya. Ia menjadi sosok yang diam, dan selalu mengurung dirinya di kamar. Merasa tak berguna lagi dalam hidupnya. Semua orang menjauhinya. Ia tak suka jika semua orang menganggap Hana sebagai orang gila yang sudah tak memiliki akal sehat lagi. Pikirannya kacau, semua emosinya tercampur aduk tanpa kecuali.

“Semua orang meninggalkanmu. Lihat, bahkan mamamu saja pergi meninggalkanmu ke Kyoto. Ia tak mau lagi mengurusmu. Kau bunuh diri saja, dan semuanya berakhir.”

“Kau yakin? Bagaimana jika ada lelaki yang menyukaimu? Kau akan membuatnya terluka jika kau bunuh diri.”

“Tapi itu semua adalah keputusanmu.”

“Tidak! Masih ada Kaze yang selalu melindungiku!”

“Hahaha. Kaze? Dia saja pergi ke Tokyo. Sudah. Kau gantung diri sana, dan semuanya akan mendadak menyayangimu dan menyesali kepergianmu.”

“Atau kalau tak mau gantung diri, kau bisa gunakan pisau dapurmu, Hana.”

“Tidak akan! Aku masih mempunyai Sora yang masih menyayangiku sebagai sahabat.”

“Kau buta? Dia meninggalkanmu mendadak tanpa sebab! Apakah itu seorang sahabat? Sudahlah, semuanya menganggapmu gila!”

“Sora, Sora, Sora. Kau hanya bisa bergantung padanya! Kasihan dia, mempunyai sahabat tak waras sepertimu!”

“Dasar gila. Orang tak waras sepertimu seharusnya dimusnahkan!”

Baka, baka! Kono baka! Hahahaha.”

“Tidak!!!”

Prang!

Gelas menjadi pelampiasannya. Suara-suara aneh itu kembali muncul. Entah dari mana asalnya, tapi suara itu seakan tak hilang, bahkan saat Hana menutup kedua telinganya. Selalu diikuti ke mana, kapan, dan di mana pun.

Risih, suara ini selalu mengganggunya. Hingga pernah suatu malam ia kesulitan tidur disebabkan memikirkan banyak hal. Pikirannya semakin menggila tak keruan. Hana memukul kepalanya dengan sebuah buku tebal di kamarnya berulang kali, tapi usahanya sia-sia.

Sisa musim panas Hana dihabiskan hanya dengan berdiam diri di kamar. Seolah dunia dan isinya tak memihaknya lagi. Sampai ia lupa bahwa musim panas ini akan berakhir dalam hitungan minggu. Harusnya Hana senang jika musim panas ini akan berakhir. Namun, ia lupa jika Kaze akan kembali dalam waktu dekat.

Hana sudah lelah dengan semua ini. Dengan tekad yang kuat, Hana mengambil sebuah tali yang mungkin memiliki panjang kurang dari dua meter. Kemudian keluar menuju danau dan mengikatkan tali yang dipegang Hana, lalu dilemparkan sisi tali di pohon. Dia mencoba gantung diri.

Saat Hana menaiki tangga, entah mengapa tiba-tiba saja tangganya bergoyang. Tubuh Hana tak seimbang dan akhirnya terjatuh. Namun, ia merasakan ada seseorang yang menangkapnya. Hana mencari tahu siapa dia, dan mendapati seseorang yang selama ini ia tunggu-tunggu. Yang selama musim panas ini selalu membuat Hana uring-uringan. Ya, siapa lagi kalau bukan Kaze. Hana segera menghamburkan pelukan dengan erat. Sangat erat, seakan tak ingin kehilangan lelaki itu lagi. Kaze melihat semuanya dari awal, sejak Hana datang dan mengikatkan tali. Kaze tak bodoh, ia tahu Hana bermaksud mengakhiri hidupnya.

“Jangan pernah kau ulangi lagi, Hana! Aku tak ingin kehilanganmu. Dan terima kasih telah menepati janjimu.” Hana menangis sesenggukan.

Tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap mereka dari balik pohon dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun, tatapannya menjadi sendu saat melihat tubuh Hana yang penuh dengan memar dan luka lecet.

***

Musim panas telah usai, berganti dengan musim gugur. Hana sepertinya mendapatkan kembali semangatnya sejak kembalinya Kaze. Tak ada lagi bisikan, uring-uringan, bahkan niat untuk mengakhiri hidup. Berbeda dengan Sora, selama akhir musim lalu, beribu pertanyaan atas kejadian tak masuk akal selalu menghantuinya. Tak memiliki nyali yang banyak untuk menanyakan hal ini.

Minggu pertengahan musim gugur ini Sora bermaksud untuk mengunjungi Hana di rumahnya, tapi sayangnya Hana sedang tak berada di rumah. Menurut mamanya, Hana pergi untuk menemui temannya dan akan kembali beberapa menit lagi. Akhirnya, daripada ia harus kembali lagi, Sora memutuskan untuk menunggu Hana di rumahnya.

“Tante, Sora mau tanya.” Sora membuka pembicaraan saat Mama Mizu duduk di hadapannya.
Mama Mizu mengangkat sebelah alisnya. “Apa yang ingin kau tanyakan?”

Sora menarik napasnya. Sudah lama ia ingin menanyakan hal ini. “Begini, Tante. Sebelumnya saya mengatakan hal ini bukan bermaksud buruk. Sejak beberapa tahun silam, hampir seluruh teman Hana satu per satu menjauh dan mengatakan bahwa Hana telah gila. Hal itu terjadi sampai saat ini. Perasaan saya, tak ada yang salah pada Hana. Hana selalu menceritakan seorang anak bernama Kaze kepada saya, tapi Hana tak pernah memperkenalkannya secara langsung kepada saya.”

Sora lalu menceritakan secara perlahan kronologi tentang kecurigaannya kepada Hana. Mulai dari mendengar Hana berteriak dan meracau tak jelas di kamarnya, tapi seiring waktu Sora selalu mendengar itu kapan dan di mana pun. Hana lebih sering terlihat marah-marah, sampai akhirnya Hana nekat untuk mencoba mengakhiri hidupnya di hutan.

Suasana menjadi lebih tegang. Hanya terdengar suara kendaraan yang berlalu-lalang. Beribu pertanyaan berada di benak Mama Mizu. Mata Mama Mizu membelalak tak percaya. Tak mungkin putri kecilnya senekat itu.

“Saya ingin mencegah Hana, tapi keburu Hana berteriak ‘Kaze’. Saya tolah-toleh dan tak ada siapa pun di sana, dan Hana berlagak berpelukan tapi tak ada siapa pun yang ia peluk. Ah, kemudian ia berkata kepada saya bahwa ia akan pergi ke festival akhir musim panas bersama Kaze. Saya kembali membuntutinya. Namun, yang saya lihat sepanjang festival sampai selesai, Hana hanya sendirian. Saya bertanya kembali dengan siapa ia pergi, lagi-lagi Hana menjawab, Kaze. Ah ya, di awal musim panas Hana menggundul rambutnya meski tak habis. Katanya, Kaze-lah yang menyuruhnya.”

Sora juga tertegun saat melihat luka lecet dan memar di tubuh Hana. Sudah cukup bagi Sora. Ia tak ingin Hana terus menyakiti dirinya sendiri seperti ini. Dapat Sora lihat bahwa Mama Mizu tak percaya. Tapi bagaimana pun juga sesungguhnya Sora sendiri tak percaya. Ia tak tahu hal ini jikalau Sora tak merasa ia telah diduakan dengan Kaze.

***

Apa yang dikatakan oleh Sora membuat Mama Mizu uring-uringan sejak seminggu terakhir. Ia bertanya pada wali kelas Hana, dan jawabannya adalah Hana selalu dikucilkan oleh teman sekelasnya, dan tak ada murid bernama Kaze di sekolahnya. Bingung apa yang terjadi pada putrinya. Sudah berbagai macam situs dibukanya di internet. Satu yang membuatnya selalu memikirkan hal ini adalah ia takut jika putrinya benar-benar menunjukkan gejala gangguan psikologis.

”Hana, besok ayo ikut mama untuk bertemu teman lama mama,” ucap Mama Mizu.

“Oke, ma. Sepertinya akan jadi pertemuan yang lama.”

***

“Selamat siang,” sapa Yuki saat mereka telah sampai di tempat yang mama inginkan.

Yuki adalah seorang psikiater. Mama Mizu telah menceritakan apa yang terjadi pada putrinya, menurut penuturan Sora. Setelah Yuki menerima informasi tersebut, Yuki segera memeriksa Hana untuk mengetahui apa yang terjadi padanya.

Selanjutnya, Yuki dan Mama Mizu berbincang-bincang layaknya seorang teman padahal mereka tak pernah bertemu sebelumnya. Namun, inilah sebuah trik psikiater untuk membuat pasiennya tak menyangka bahwa semua ini menakutkan.

“Oh Hana, bagaimana sekolahmu?” Hana  yang semula celingukan mendadak menoleh ke arah suara.

“Baik-baik saja.”

“Begitukah? Rumahmu di mana?”

“Di Hotaru City.”

Setelah berbagai pertanyaan lumrah ditanyakan Yuki, Hana diminta berbaring dan rileks untuk dihipnoterapi, tanpa sepengetahuan Hana tentunya. Semakin nyaman dengan kondisi, dan tanpa sadar matanya memejam dan mulai mengantuk.

“Kau punya teman baik? Namanya siapa?”

“Aku punya teman bernama Sora dan Kaze,” ucap Hana tanpa sadar.

“Ceritakan sedikit saja tentang Kaze.”

“Dia orang yang laki-laki yang baik. Aku bertemu dengannya enam tahun silam. Namun, aku berani menceritakan tentang Kaze pada Sora tiga tahun lalu. Sepertinya aku mulai menaruh rasa suka padanya. Tapi dia sangat sering sekali pergi ke Tokyo, karena ia berasal dari sana. Namun, saat ia akan pergi selalu saja ia menyuruhku melakukan suatu syarat dengan alasan agar tak ada yang menyukaiku selain dirinya. Misalnya menggunting rambut, membotak alis, atau bahkan menggores kening dengan silet.”

“Begitukah? Apa yang paling kamu takuti?”

“Pertanyaan dan sebuah tatapan, apalagi jika ada yang menuduhku. Aku benci itu.”

“Buat dirimu terbuka, banyak yang menyayangimu. Seperti mama dan Sora.”

“Selalu ada yang mengatakan bahwa tak ada yang menyayangiku. Mereka menyuruhku bunuh diri agar semua menyayangiku lagi.”

“Siapa yang mengatakan itu?”

“Aku tak tahu, hanya sebuah suara.”

Setelah hipnoterapi selesai dan Hana telah mendapatkan kembali kesadarannya, dokter melakukan beberapa tes laboratorium kepada Hana apakah masalahnya ini ada kaitannya dengan kerusakan fisik atau efek dari pemakaian obat. Hampir satu jam menunggu hasil, akhirnya selesai juga. Serta telah diketahui momok dari masalah ini.

“Dari hasilnya, sepertinya penyakit ini bertahan selama bertahun-tahun. Awalnya mengidap Post Traumatic Stress Disorder yang membuat Hana menjauh dari lingkungan sosial, hingga akhirnya membuat dunia sendiri dan Hana tumbuh dengan mengidap Undifferentiated Schizophrenia seperti sekarang ini. Gejalanya bermacam, yang pasti Hana tak bisa membedakan antara kenyataan dan halusinasi. Jika ini dibiarkan terus berlanjut, kemungkinan akan menyebabkan munculnya alter ego. Teman-temannya mengatakan Hana gila mungkin saat skizofrenia Hana kambuh di sekolah.

“Sebelumnya apakah ada faktor tertentu sehingga Hana mengidap PTSD di usianya yang masih muda?”
Mama Mizu memutar kembali ingatannya. Sepertinya ia tak asing dengan kata ‘PTSD’. Sekuat tenaga mengingat sesuatu itu. Akhirnya pikirannya tertuju pada kejadian tiga belas tahun lalu.

Hana kali itu berumur empat tahun. Mama Mizu bukanlah mama kandung Hana. Mama kandung Hana dirawat di rumah sakit jiwa hingga saat ini. Mama kandung Hana mengidap gangguan mental, dan Hana-lah yang menjadi pelampiasannya. Sejak kecil Hana selalu menjadi pelampiasan masalah yang terjadi pada keluarganya oleh mama kandungnya. Hingga akhirnya Hana menjadi trauma atas sebuah pertanyaan, tuduhan dan tatapan, meskipun itu tak bermaksud menuduh atau sejenisnya. Menurut Yuki gejala PTSD kambuh karena pengaruh tersebut.

Hana lebih sering mengurung dirinya di kamar, menghindari kontak sosial. Semua berakhir sejak ia bertemu dengan Kaze. Awalnya ia tak bercerita kepada siapa pun. Setelah ia berteman tiga tahun lamanya, barulah ia bercerita kepada Sora sampai tiga tahun berikutnya. Mungkin Hana sudah mengenal Kaze sejak enam tahun silam.

Menurut Yuki, sekarang Hana mengidap skizofrenia. Dapat diketahui saat Hana mengatakan bahwa ia mendengar suara aneh tanpa wujud. Bukan hanya itu, Kaze adalah bentuk halusinasi Hana. Terbukti saat ia bertemu Kaze di danau dekat rumahnya. Setelah ditelusuri, tak ada danau atau semacamnya di dekat sana. Ternyata selama ini yang tertanam di benak Hana bukanlah danau, melainkan sebuah hutan di dekat perumahan Hana.

Sebenarnya pasien pengidap skizofrenia mendengarkan sebuah suara dalam bentuk apa pun, bukan berasal melalui telinganya, melainkan dari otaknya. Yang artinya, Kaze bisa berbicara hanyalah imajinasi Hana. Lusi mengusulkan agar segera diterapi dan diberi obat agar keadaannya tak semakin memburuk.

Dua hari kemudian, Hana mulai diterapi pikiran alam bawah sadarnya. Menyadarkan dirinya bahwa Kaze tidaklah nyata. Tak ada yang namanya Kaze, yang selalu melindunginya. Hana tak terima dan memberontak. Kaze adalah teman terbaiknya, saat Hana mencurahkan isi hatinya, Kaze tak pernah memihak siapa pun. Namun, saat ini Hana mulai sedikit menyadari dan menerima kenyataan bahwa Kaze tak nyata.

Hari ini setelah ia selesai dengan terapinya, Hana bermaksud menemui Kaze di tempat biasanya. Tapi sepertinya hari ini adalah hari terakhirnya bertatap muka dengan Kaze. Lelaki itu sempat mengucapkan selamat tinggal. Sebuah rasa sesak di dadanya muncul, dan perlahan air matanya terjun bebas tanpa persetujuan dari sang empu.

***

Pertemuannya dengan Kaze sungguh mengukir banyak kenangan. Ratusan kali ia bertanya apakah ia bisa bertemu dengan Kaze yang berwujud nyata seperti halnya lelaki saat ini. Andai saja benar-benar ada sumur permohonan seperti di film, mungkin ini adalah permohonan terkuatnya.

Musim dingin Hana lalui hanya dengan menenangkan dirinya. Takdir berkata bahwa ia harus mengidap penyakit ini, dan meminum obat entah sampai kapan. Selama musim dingin ia benar-benar menjadi seorang yang pendiam. Berbicara seperlunya, dan mungkin hanya sepatah-dua patah kata. Ia menjadi sering mengantuk dan selalu melantur jika diajak berbicara.

Musim semi di awal tahun. Setahun yang lalu ia masih bersama melakukan Hanami bersama Kaze. Namun kini, itu semua hanyalah sebuah kenangan, meski ada beberapa hal yang mungkin Hana lupakan. Hana kembali mengukir senyuman di wajah manisnya. Walau tak sepenuhnya sembuh, dan harus selalu bergantung dengan obat. Setidaknya gadis itu masih bisa tersenyum, dan menikmati indahnya dunia luar.

Kini Sora dan Hana duduk di Taman Tsunagari, dekat rumah mereka. Di sinilah mereka pertama kali bertemu dan saling kenal. Seperti namanya Tsunagari, sejak mereka dipertemukan belasan tahun silam, mereka merasa ada sebuah ikatan batin meski selalu saja ada lika-liku di antara persahabatan mereka.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Sora yang kini duduk bersama Hana menikmati indahnya musim semi. Tentu saja Sora menanyakan hal itu karena sejak awal musim gugur tahun lalu ia tak sempat bertemu dengan Hana. “Aku turut senang saat kau mulai ceria.”

“Maafkan aku.”

Sora mengernyit bingung.

“Mungkin selama ini aku tak sengaja menyakitimu.” Air matanya mengalir deras membasahi pipi. Hana menganggap dirinya benar-benar bodoh. Karena ia tak menyadari bahwa selama ini Sora selalu ada untuknya.

“Sudah, jangan menangis. Aku baik-baik saja.” Sora menghapus air mata yang turun dari manik mata Hana. “Kau tahu? Jika kita tersenyum, sebenarnya kita tak bernapas.”

“Benarkah?” Perkataan Sora membuat Hana penasaran. Tanpa Hana sadari ia tersugesti untuk tersenyum.

“Hahaha Kena kau! Itu semua bohong. Aku hanya ingin melihatmu terus tersenyum. Jangan menangis seperti ini, Hana.” Sora mencubit gemas pipi Hana. Sora berhasil menjebaknya.

Pipi Hana memanas, ia merasakan suatu gejolak aneh dalam hatinya. Jantungnya seakan ingin melompat. Sebelumnya perasaan ini muncul saat ia bersama dengan Kaze. Namun, ini berbeda dan terasa lebih nyata. Mungkin ia telah beralih kepada Sora yang selalu berbuat baik pada Hana.

“Kau tahu? Jika kau menangis terus seperti itu, mukamu akan menjadi jelek! Hahahaha. Atau perlu aku bawakan kaca?” Sora tertawa terbahak-bahak, tapi Hana hanya mengerutkan bibirnya sebal.

Hana mendongakkan kepalanya, menatap birunya langit. “Aku merindukannya,” ucap Hana tanpa melepaskan pandangannya.

“Siapa?”

“Kaze.”

“Kau menatap sora (langit) saat kau berkata ‘rindu’. Berarti kau merindukanku.”

Hana sebal dengan Sora yang sedari tadi menjebaknya. “Itu hanya akal-akalanmu.”

“Sudah, akui saja jika kau memang merindukanku.” Sora menaik-turunkan alisnya. Hal ini membuat Hana semakin sebal kepada Sora.

Sora membawa Hana ke dalam pelukannya. Ini sudah menjadi tugasnya sebagai sahabat untuk selalu melindungi Hana. Meski tak harus selalu Hana ketahui bentuk pertolongannya. Ia berusaha menahan mati-matian perasaan aneh yang sudah sejak lama tumbuh, dan gejolak cemburu atas kedekatan Hana dengan Kaze. Bagaimana pun, Hana tetaplah sahabatnya. Tapi untuk kali ini tugas Sora berbeda. Ia harus menghibur Hana agar kondisinya tak semakin memburuk.

Aishiteru, Hana.”

Biodata Penulis
Nara Zihana
(Ghizea Zihana), siswi SMAN 1 Rogojampi kelahiran 30 September 2004 ini memulai menulis di pertengahan tahun 2019. Ia memulai menulisnya di salah satu aplikasi novel yaitu Wattpad dengan karyanya “FREEZE? UNFREEZE!” yang masih dalam proses kelanjutan dalam penulisan. Baginya, menulis adalah jalan untuk mengaplikasikan sebuah imajinasi yang nantinya membuat orang lain ikut menikmatinya.

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *