Baca Karya FiksiCerpen

Cerpen – Fear In The Dark – Pasya Komala Hizriastuti

Fear In The Dark
karya Pasya Komala Hizriastuti

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

“Apa kamu enggak pernah sedikit pun mikirin aku, Aldo, bahkan Kania, mas? Kamu bahkan lupa bahwa kita juga di sini masih butuh kehadiran kamu!”

“Aku hanya butuh waktu untuk sedikit bersenang-senang. Berlina sudah memberikan kebahagiaan yang enggak pernah aku dapatkan dari kamu!” Lantang terdengar suara ayah. Emosinya meluap.

Badai di luar sangat riuh terdengar. Tapi mereka belum jua menyudahi pertengkaran yang ada. Gelap.

“Kebahagiaan seperti apa? Dia hanya selingkuhanmu mas! Wanita murahan! Apa yang bisa kamu banggakan dari wanita penggoda seperti dia hah?” ucap ibuku. Lebam di tubuhnya sudah sangat jelas terlihat menyakitkan.

Plakkk.

Suara tamparan itu semakin membuatku ngilu mendengarnya. Tangisan bunda makin menjadi ditambah raungan tangisanku yang hanya bisa tersudut di pojok kamar.

“Ayah cukup! Jangan sakiti bunda! Pergi dan enyahlah dari sini!” tegas Aldo dengan berani. Aku lihat tangan Aldo sudah mengepal.

“Diam kamu! Dasar anak durhaka! Jangan ikut campur!” Ayah mendorong Aldo hingga kepalanya terbentur sudut meja ruang utama. Saat itu aku melihat darah segar mengalir dari pelipisnya. Aldo mengaduh, tapi dia tidak boleh lemah.

Kini ayah menghampiriku. Aku takut bukan main. Tubuhku kembali bergetar. Aku tidak bisa apa-apa. Hingga akhirnya ayah menyeretku turun dari ranjang. Menarikku dengan paksa hingga membuatku kesakitan.

Kepala Aldo memang berdarah hebat, tapi dia masih mampu menghentikan perlakuan ayah terhadapku. Aldo melepaskan cekalan tangan ayah di tanganku, membuat aku terpental satu meter dan tersungkur tepat di pangkuan bunda.

“Kalau mau pergi ya pergi! Tidak usah membawa Kania!” teriak Aldo membuat ayah kembali murka.

Bunda tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk aku atau pun Aldo. Hanya tangis pilu yang menguasai rumah ini. Ayah memecahkan satu vas bunga yang ada di ruangan ini, hingga akhirnya dia benar-benar enyah dari pandangan kami.

***

Aku mengenyahkan pikiran itu, mencoba terfokus pada situasi kali ini. Tiba-tiba lampu mati dan beriringan dengan itu, semua ingatan tentang buruknya hari itu terulang lagi. Aku mengamuk, membantingkan segala hal yang ada di depanku. Emosiku tak terkendali lagi.

Namaku Kania Athalia. Gadis yang didiagnosis mempunyai fobia kegelapan atau sering disebut Achluophobia. Semua ini berawal dari kisah masa laluku hingga membuatku harus berhubungan dengan psikiater.

Aku benci gelap. Gelap hanya akan mengingatkanku pada kejadian itu. Di mana ayah meninggalkan aku, bang Aldo dan bunda di tengah riuhnya badai.

“Bunda, Kania takut,” lirihku dengan tangisan yang kian mulai menjadi dan emosi yang semakin tidak stabil. Seperti kejadian tiga tahun yang lalu, aku hanya bisa memeluk tubuhku erat-erat di sudut kamar.

Berharap bunda hadir di sini, tapi itu tidak mungkin. “Bang Aldo cepat pulang, Kania takut,” lirihku dan kali ini aku hanya bisa berharap Aldo—kakak lelakiku—datang setidaknya dan menyalakan sebuah lilin atau menenangkanku.

Hopeless. Lagi-lagi aku meraung ketakutan. Tidak ada siapa pun yang bisa menolongku. Kencangnya angin di luar sana membuatku semakin takut. Bahkan dengan hadirnya kilatan yang hanya menghadirkan cahaya sesaat diiringi dentuman keras dari arah langit membuat aku teriak ketakutan.

“Bang Aldo … Bunda….”

Hanya beberapa menit berselang, suara pintu terbuka membuatku terlonjak dari kediamanku.

“Kania, Kania di mana kamu?” Aku tersenyum mendengar suara khas bang Aldo yang terdengar sangat cemas.

Dengan bibir yang gemetar, aku berusaha menjawab pertanyaan bang Aldo. “Ka … Kania di ka … kamar.”

Siluet tubuh tegap, dengan jaket yang masih terpakai terlihat jelas dengan cahaya temaram dari lilin yang ia bawa. Aldo datang, menaruh lilin di atas meja rias kamarku. Memeluk tubuhku yang gemetar ketakutan.

You will be fine, Kania. I am here for you right now,” ucap Aldo menenangkan. Peluknya terasa hangat untuk diriku yang terlalu dingin. “Kamu tidak usah mengingat hal itu lagi ya? Ingat kata dokter Mona, kamu harus bisa mengenyahkan pikiran buruk itu. Yang sudah berlalu biarkan berlalu. Ayah sudah tidak ada di sini kan? Jadi kamu enggak usah takut. Ayah tidak akan bisa menyakiti kita lagi.”

Aku hanya bisa mengangguk lemah. Menenggelamkan diriku di dalam pelukan Aldo. “Obat.” Dalam kondisi seperti ini aku hanya bisa bergantung pada obat pemberian dokter Mona. Untuk sekadar menghilangkan rasa cemasku yang berlebihan.

Aldo mengulur pelukannya, membuka laci meja riasku untuk mencari obat yang dimaksud. “Sebentar, abang ke dapur dulu mau ambil minum.”

“Jangan lama-lama, Kania takut.” Aldo tersenyum, mengusap rambutku dengan lembut dan berkata tidak akan lama hanya memakan waktu satu menit saja tidak.

Aku menunggu bang Aldo kembali. Menelusuri setiap sudut kamar yang hanya bermodalkan cahaya lilin dan kilatan petir di luar. Suara teriakan ayah dulu, seakan memenuhi indra pendengaranku. Jeritan bunda, dan rasa sakit yang aku terima saat ayah dengan kalapnya membantingku hingga tersungkur meski mendarat di pangkuan bunda.

Ingatan itu lagi-lagi terulang, seperti kaset yang tengah diputar berulang-ulang kali. Aku meringis, mencoba menutup telingaku dan mengenyahkan semua hal buruk itu.

“Kania,” ucap Aldo membuatku menoleh ke arahnya. “Besok kita konsultasi ke dokter Mona.”

“Apa aku akan sembuh?” lirihku dengan tatapan sendu. Manik mata Aldo terlihat begitu tenang tapi terasa menyakitkan. Bagaimana pun mata Aldo itu seperti mata ayah. Bedanya ayah tak pernah seteduh itu.

“Makanya besok kita ke dokter Mona ya?” Aldo tersenyum. Senyuman yang selalu membuat bibirku ikut tersenyum.

Keesokan harinya seperti biasa, Kania didampingi Aldo konsultasi ke klinik dokter Mona. Kebetulan, ada jadwal terapi hari ini.

“Halo Kania, apa kabar?” sapa wanita berparas cantik dengan kedua sudut bibir yang terangkat.

I am not fine,” ucapku jujur.

“Hmm, semalam mati lampu, apakah itu penyebabnya?” Aku hanya bisa mengangguk menjawabnya. Kepalaku tiba-tiba saja pusing. Mungkin karena semalaman aku tidak bisa tidur sampai listrik benar-benar menyala. “Apakah kejadian lalu menghantuimu lagi?”

“Ya, itu sangat menakutkan dokter. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa mengenyahkan kejadian itu.”

“Baiklah Kania, saya pikir kita mulai terapinya sekarang. Banyak arahan yang mesti saya sampaikan kepadamu.”

Aku mengangguk, menghampiri bangkar di sudut ruangan. Membaringkan diri di atasnya. Seperti biasa, setiap kali aku harus menjalani terapi perilaku kognitif, atau Cognitive Behavior Therapy (CBT).

Di samping mengonsumsi obat penenang, aku juga harus menjalani terapi ini. Untuk sekadar mengurangi ketergantunganku terhadap obat itu.

“Dengan bersikap tenang Kania. Mencoba tenang dan alihkan pikiranmu. Gelap tidak selamanya buruk. Kau tahu sekarang ayahmu sudah tidak bisa lagi menyakitimu, Aldo, bahkan bunda ….”

Dokter Mona memulai kembali terapinya. Ia selalu memiliki cara agar aku bisa tenang. Didampingi Aldo tentu saja. Yang bisa aku ingat dari setiap perkataan dokter Mona adalah, jadikan semua itu tenang. Tidak perlu ada yang dicemaskan lagi.

Berbulan-bulan berlalu sampai akhirnya setengah pemulihan. Aku sudah biasa dengan kegelapan sekarang. Walau sedikit cemas, tapi syukurlah aku sudah tidak lagi bergantung pada obat apa pun itu.

Aldo benar, jika kita punya niat dan tekad untuk sembuh pasti bisa. Bagaimana pun, sekarang kehidupanku bersama bunda dan Aldo sudah jauh lebih dari kata baik dan cukup. Aku sudah mencoba berdamai dengan ingatanku. Tentang ayah, sekejam apa pun dirinya, dia tetaplah ayah yang dulu pernah menyayangiku walau sesaat.

Biodata Penulis
Pasya Komala Hizriastuti perempuan kelahiran kota Kuningan, Jawa Barat, pada 11 November 2002. Terinspirasi mencintai sastra saat mengenal dunia Wattpad, dunia fantasi. Siswa SMAN 1 Luragung. Mendalami sastra hingga terlibat dalam penerbitan buku yang berjudul The Story Of Life. Menulis sebuah kisah di Wattpad @Pkhchaaa1102 dan Instagram @hizri.astt

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *