Baca Karya FiksiCerpen

Cerpen – Kereta Kematian – Nur Khafidhin

Kereta Kematian
karya Nur Khafidhin
Juara I Lomba Menulis Cerpen ke-8 Tulis.me

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

/1/ Menjelang Pesta Reka Wulan Tana Ekan1

Lonceng kematian telah menggema, memberikan makna sasmita yang mengerikan, di mana kereta kematian telah meluncur. Tanda untuk membangunkan arwah etnik Lewolema untuk segera hengkang. Satu demi satu arwah dari nuwa muri koo fai2 segera masuk ke gerbong pertama. Lantas, diikuti dengan arwah dari ata mbupu3 masuk ke gerbong kedua. Namun, para arwah dari ata polo4 tak ingin masuk di gerbong yang ketiga. Mereka lebih memilih untuk bergelantungan di atas kereta kematian. Beberapa saat kemudian, deru jeritan kesakitan terdengar sangat nyaring. Tanda kereta kematian akan segera pergi ke singgasana. Seiring dengan perginya kereta kematian yang penuh arwah, langit etnik Lewolema mulai berubah warna. Asal mulanya langit yang berwarna hitam gelap tanpa cahaya bintang telah berubah menjadi warna merah, lantas beberapa saat kembali lagi menjadi seperti semula, diiringi dengan bau kematian.

Yohanes Wato yang sebagai ama naran5 mulai khawatir, berpikir bahwa akan ada tanda yang buruk, apalagi saat itu ia berada di luar rumah dan melihat kejadian itu. Namun, tak bisa menerka apa yang akan terjadi karena seumur hidupnya langit etnik Lewolema tak pernah berubah warna seperti itu. Selama hampir seharian penuh, merenung dengan sekali-kali mulutnya komat-kamit untuk melafalkan mantra dan syair-syair kepada reka wulan tana ekan.

Keesokan harinya, Yohanes Wato mengelilingi etnik Lewolema untuk memanjatkan mantra dan syair untuk keselamatan penduduknya. Berjalan secara perlahan, dari satu rumah ke rumah lainnya dan ia beranjak untuk pulang saat semburat cahaya matahari beranjak untuk pamit. Di rumahnya banyak orang yang berkumpul. Ia mulai menerobos masuk dan melihat istrinya yang sudah melahirkan. Di pelukannya ada bayi yang bermata delapan.

“Bayi siapa ini?”

“Ini bayi kita,” ujar istrinya yang sedang memeluk bayinya.

“Tak mungkin, aku tak mungkin punya bayi seperti itu. Pasti itu bukan bayiku apalagi aku seorang ama naran.”

“Itu memang bayi kamu. Aku yang telah menemani istrimu melahirkan.”

“Tidak! Aku tak mungkin mempunyai bayi seperti itu. Aku tak mungkin mempunyai bayi yang terkutuk!”

“Ini bayi kita! Kalau kau tidak mau mengakuinya sebagai bayi kamu, biarlah aku yang akan merawatnya,” hardik istrinya dengan penuh isakan air mata.

Yohanes Wato merebut bayinya dari pelukan istrinya, membawanya ke pantai untuk melarungnya tetapi saat sampainya di sana, ia penasaran dengan mata yang berada di telapak tangan kiri bayinya, berusaha untuk membuka mata itu. Sekali percobaan tetapi gagal, akhirnya ia menaruh bayinya di pasir pantai. Tangan kirinya memegang tangan kiri bayinya dan tangan kanannya berusaha membuka mata itu. Namun, tak sekalipun usaha yang dilakukan berhasil. Yohanes Wato mengambil belati yang berada di balik punggungnya, berusaha untuk mencongkel mata yang ada di tangan kiri bayinya tetapi semakin ia berusaha untuk mencongkel mata itu, komodo-komodo liar berusaha untuk mendekat. Lidah mereka menjulur untuk memangsa, mata mereka merah membara, giginya siap mencabik-cabik dengan liar. Yohanes Wato yang melihat keadaan itu langsung panik, melemparkan bayinya ke arah komodo dan seketika komodo-komodo itu berkelahi untuk merebutkan bayinya. Ia merasa puas, beranggapan bahwa kutukan yang telah menimpa keluarganya, melalui bayinya telah berakhir. Ia bergegas pulang dengan suasana hati yang bahagia. Namun, alangkah terkejutnya saat melihat bayinya, ternyata ada di pelukan istrinya, dan ia berteriak, “Dasar anak litung6.”

***

Aku terlahir beriringan dengan pesta para arwah. Maka, aku memiliki kelebihan yaitu mataku berjumlah sembilan, dua mataku terletak seperti manusia biasa, empat mataku berada di bawah mataku, satu mataku berada di lidahku, sisanya mataku berada di telapak tangan kiri dan telapak tangan kananku. Memang agak menjijikkan wajahku yang penuh dengan mata. Namun, itu sungguh reinkarnasi yang paling sempurna untuk melihat takdir orang di sekelilingku meskipun ini bukan perkara yang mudah. Aku harus selalu berada dalam tempat pengasingan karena wajahku penuh dengan mata. Alhasil, hal itu membuat reka wulan tana ekan murka. Ia melalui bola mataku melihat siapa saja yang berusaha menyembunyikan rasa jijiknya melihat mata di tubuhku. Keesokan harinya, pasti siapa pun yang mencaci maki diriku akan dipastikan akan mati, kecuali orang tuaku.

Aku baru menyadari kekuatan mataku saat pertama kali aku lahir. Beberapa orang datang ke rumah, menatapku dengan tatapan jijik, tak jarang ada juga yang mencaci makiku walaupun ada sedikit orang yang merasa iba kepadaku. Alhasil, semua yang menatapku dengan pikiran menjijikkan dipastikan akan meninggal. Semua warga desa semakin mengambinghitamkan diriku dan itu menjadi awal permulaan cerita tentang kehidupanku yang selalu diasingkan.

Selama 12 tahun, aku selalu berada di tempat pengasingan, tak pernah dilangsungkan upacara lodong ana7 untukku, apalagi melihat secara langsung tarian hode ana8. Aku pun tak tahu bagaimana meriahnya tarian hode ana’ yang penuh dengan entakan kaki, tongkat kayu, kerincing yang diikatkan pada pinggang, serta menikmati aroma sesaji yang sakral itu. Namun, saat ada upacara lodong ana’ mata di tubuhku semuanya terbuka. Hal itu, membuatku tahu semua hal yang ada di sekelilingku.

 

/2/ Genangan Darah pada Ritual Lodong Ana

Semua etnik Lewolema menyambut gembira ritual lodong ana’. Semua orang sudah berpakaian rapi dengan kain berwarna putih, merah, dan hitam khas etnik Lewolema. Kerincing sudah diikatkan pada pinggang. Beberapa orang sudah melakukan tarian hode ana’, bergerak melingkar, bergandengan tangan, mengentakkan kaki, dan sekali-kali melakukan gerakan melambai. Namun, saat Yohanes Wato yang sebagai ama naran menyuruh anak yang akan dilakukan lodong ana’ untuk membawanya keluar, tetapi orang tuanya tak mau mengikuti. Ia beranggapan bahwa jika ritual lodong ana’ untuk anaknya dilakukan olehnya. Maka, anaknya akan bernasib sial dan terkena kutukan.

“Tak sudi aku mengikuti perintahmu!”

“Mengapa kau tak mau mengikuti perintahku, Yosep Tuan Dollo? Aku sebagai ama naran yang akan jadi pemimpin ritual lodong ana’ untuk anakmu.”

“Tutup mulutmu. Kau tak layak jadi pemimpin ritual lodong ana’ untuk anakku. Kau sudah tak lagi suci, buktinya anak kamu penuh dengan mata yang menjijikkan!”

Yohanes Wato hanya bisa merenung, ia tak mungkin menyangkal ucapan itu. Ucapan itu memang benar, sesuai fakta, dan sama sekali tidak melenceng dari kehidupannya. Lantas, ia teringat dengan anaknya dan bergegas untuk pulang. Di depan ruang pengasingan, ia semakin murka, mengambil kayu, dan menyeret anaknya untuk keluar. Memukul dengan beringas, semua pukulan selalu mendarat di tubuh mungil anaknya, tak butuh waktu lama semua tubuhnya penuh dengan darah, sampai salah satu bola matanya keluar. Alhasil, akhirnya anaknya seakan telah berubah menjadi seseorang yang berbeda. Tatapan yang tajam, dari mulutnya keluar syair-syair yang merdu, serta beberapa kalimat kutukan. Lantas, ia berlari ke tempat ritual lodong ana’ dan di sana ia menari dengan gerakan yang lebih lemah gemulai. Bahkan, ia tahu betul gerakan tari namang9 yang dijadikan dasar gerakan tari hode ana’ yaitu gerakan entakan kaki dan sekali-kali tangan dilambaikan ke atas dan ke bawah. Namun, semua berusaha menangkapnya, tak berselang lama ia dapat ditangkap. Ia diikat di tiang pancang. Semua warga etnik Lewolema merasakan kebencian yang begitu dalam, berusaha untuk menghabisinya tetapi entah dari mana komodo-komodo liar berdatangan. Satu, dua, tiga, sampai tak terhitung lagi jumlahnya. Komodo-komodo itu berusaha untuk melindungi dan beberapa saat mereka akhirnya membawa Opu pergi entah ke mana. Tak ada yang tahu, tak ada pula yang dapat menerka, mereka hanya bisa menatap dengan tatapan yang ganjil.

***

Kutukan dari para arwah telah bersemayam dalam etnik Lewolema. Seharusnya jika Opu diperlakukan dengan baik, keadaannya akan sebaliknya. Tak akan kelaparan, tak ada kematian, tak ada kegelisahan yang menyelimuti etnik Lewolema. Namun, para arwah telah muak dan murka. Secara perlahan melancarkan kutukan ke etnik Lewolema, secara acak kutukan itu memilih tumbal untuk dirinya. Menyelinap ke tempat tidur dengan wujud komodo, bergerak perlahan, dan giginya siap merobek daging. Ia bergerak cepat lantas masuk ke dalam mulut orang yang diincarnya. Pelan-pelan tubuhnya berusaha untuk masuk ke mulut, pertama kepalanya, disusul dengan kaki depannya dan seluruh tubuhnya beranjak untuk masuk. Seketika saat komodo itu telah benar-benar masuk ke dalam tubuh, tiba-tiba ada mata yang muncul. Mata yang menjijikkan, penuh dengan lendir, bola mata yang merah, serta nanah yang busuk.

Keesokan harinya, etnik Lewolema menjadi kacau. Kesedihan, amarah, kebingungan, dendam, kebencian telah tertanam di hati mereka. Berbondong-bondong berkumpul di rumah adat untuk menceritakan apa yang terjadi. Namun, bagi mereka yang tak terkena kutukan berusaha menghindar, menatap dengan tatapan yang jijik, mengambil jarak agar tidak tertular kutukan tersebut.

“Aku tak mau hidup dengan mata-mata litung di tubuhku!” ujar pemuda yang mulai bingung.

“Ini pasti kutukan!” Yoseo Tua Dollo mulai menghardik Yohanes Wato sebagai penyebar kutukan tersebut.

“Kalau ini kutukan. Siapa yang berani memberikan kutukan ini?”

“Ini pasti ulah dari Yohanes Wato, tentu karena anaknya pertama kali yang mempunyai tanda kutukan mata ini!” ujar Yosep Tua Dollo.

Yosep Tua Dollo yang merasa murka langsung menunjuk Yohanes Wato sebagai penyebab kutukan itu. “Ini pasti gara-gara Yohanes Wato si terkutuk itu!” ujarnya dengan semangat.

Mereka berbondong-bondong menuju ke rumah Yohanes Wato, bergerak dengan langkah yang penuh emosi, kemarahan, dan kebencian. Tak butuh waktu lama mereka sampai di sana. Teriakan caci maki, kemarahan, dan ujaran kebencian ditunjukkan ke Yohanes Wato. Seketika ia yang mendengarnya langsung bergegas keluar dengan kondisi yang tak bersemangat hidup.

“Kau penyebab kutukan biadab ini!” teriak Yosep Tua Dollo dengan murka.

“Kita bunuh saja dia!” ujar yang lain.

“Segera! Aku sangat setuju.” ditimpali semua orang yang terkena kutukan.

Yosep Tua Dollo langsung menarik tubuh Yohanes Wato tetapi ia sama sekali tak memberontak. Ia begitu pasrah dengan takdirnya, entah dibunuh, entah apa pun yang terjadi kepada dirinya, sama sekali tak peduli. Yosep Tua Dollo berteriak, “Kau yang melakukan perbuatan keji ini! Cepat katakanlah, jika kau pelakunya, sebelum kami membunuhmu!”

“Aku sama sekali tak tahu apa yang kamu maksud.”

“Sialan! Jangan pura-pura bodoh. Lihat mata yang menjijikkan ini, mata yang terkutuk!” Yosep Tua Dollo membuka bajunya. Di punggungnya ada dua mata yang menjijikkan, bola mata berwarna merah, berlendir, dan penuh nanah.

“Aku juga mempunyai tanda itu. Tak mungkin pula orang yang melakukan perbuatan itu, mempunyai tanda itu pula!” Yohanes Wato membuka bajunya, terpampang jelas ada lima mata, satu mata berada di lehernya, dua di lengan kanan, dan sisanya di punggungnya.

Semua hanya bisa menatap dengan tatapan kosong, tak ada yang bersuara, sama-sama melamunkan nasibnya masing-masing. Mereka bingung siapa pelakunya. Tak pula tahu apa yang akan dilakukan, hanya kebuntuan tanpa ada sedikit alasan untuk menyelesaikan kutukan tersebut. Yohanes Wato mulai membuka mulut dan menceritakan apa yang terjadi, “Ini mungkin karena anakku, ia sangat ingin dilakukan ritual lodong ana untuk dia. Aku juga mempunyai firasat, bahwa ia titisan dari reka wulan tana ekan, penjaga etnik Lewolema karena aku melihat betul bagaimana cara menari hode ana’ dengan sempurna.”

“Jika seperti itu mari kita lakukan ritual lodong ana’ untuk anakmu. Namun, ingat, jika kutukan ini tak hilang, nyawamu yang akan menjadi taruhannya! Ingat itu!” ucap Yosep Tua Dollo dengan nada mengancam.

“Aku siap dengan taruhan itu.”

***

Semua warga etnik Lewolema melakukan ritual lodong ana’ untuk menangkal bencana, sesaji sudah dipersiapkan mulai dari kaki babi hutan, kaki rusa, sirih ping, ubi-ubian, kelapa, labu, padi, dan jagung. Lantas, semua warga berputar untuk melakukan tarian. Yohanes Wato pun sebagai ama naran telah berdiri di tengah-tengah penari hode ana’, semua mulai mengentakkan kaki, bambu-bambu dibunyikan mengikuti ritme entakan kaki, dan sekali-kali suara giring bergerak mengikuti gerakan tubuh. Tarian hode ana’ berjalan dengan suasana yang sendu. Mereka mulai menyesal karena sudah mengusir Opu. Atas penyesalan itu, mereka akhirnya melakukan ritual lodong ana’ untuknya.

Yohanes Wato terus melafalkan syair untuk pemujaan terhadap leluhur etnik Lewolema: Ama lera wulan, ina nini tana ekan, tobo moen teti kowa kelen tukan, pae moen lali tana nimun wato baya, moe yadi telu ratung, tao ile pulo getang, dewa woka lema gait, telung pesa lega ratung, yadi ihiken atadiken, gewak woraken belaon10. Seiring dengan lantunan syair, langit pun berubah warna menjadi merah, angin mulai berembus kencang. Semua heran dengan apa yang terjadi, panik, resah, dan risau. Namun, masing-masing tetap melakukan ritual lodong ana’. Tarian hode ana’ pun tetap berlangsung dengan suasana yang mencekam.

Di langit etnik Lewolema ada mata yang besar, bola mata yang berwarna merah. Semua penari yang terkena kutukan merasakan panas di sekujur tubuhnya, menggaruk mata itu, berguling-guling, melakukan apa saja untuk menghilangkan rasa panasnya. Yohanes Wato yang masih melafalkan syair-syair berusaha meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Mereka harus tetap fokus dengan ritual. Namun, satu demi satu perlahan jatuh, menggeliat di tanah, merasa tersiksa, dan ada komodo yang keluar dari mulut mereka. Perlahan, dengan keluarnya komodo-komodo itu, mata-mata yang ada di tubuh mereka mulai mengering dan akhirnya hilang.

Ruang Sang Hyang Yamadipati, 17 November 2019.

 

Catatan :

  1. Reka wulan tana ekan adalah penguasa langit dan bumi.
  2. Nuwa muri koo fai adalah tempat berkumpul arwah pemuda pemudi.
  3. Ata mbupu adalah tempat berkumpul arwah orang tua.
  4. Ata polo adalah tempat berkumpul arwah orang jahat.
  5. Ama naran adalah nama pemantra dalam bahasa Lewolema.
  6. Litung adalah hantu.
  7. Lodong ana’ adalah memberi anak.
  8. Hode ana’ adalah nama tarian yang terdapat dalam ritual lodong ana’ dan juga mempunyai makna mengambil anak.
  9. Tari namang adalah tarian dasar yang dijadikan dasar dalam tarian hode ana’.
  10. Ama lera wulan, ina nini tana ekan, tobo moen teti kowa kelen tukan, pae moen lali tana nimun wato baya, moe yadi telu ratung, tao ile pulo getang, dewa woka lema gait, telung pesa lega ratung, yadi ihiken atadiken, gewak woraken belaon artinya adalah bapak matahari dan bulan, ibu ratu bumi, bertakhta di tengah awan, berpijak di dasar bumi, engkau menyebarkan telur mengandung bibit, engkau meletakkannya di gunung-gunung, engkau menyebarkan di bukit-bukit, telur menetas membela bibit, menjadi tubuh manusia, menyebar jiwa emas.

 

Biodata Penulis
Nur Khafidhin, tinggal di Demak, penikmat prosa klasik. Telah menerbitkan buku kumpulan cerpen Laboratorium Neraka.

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *