Baca Karya FiksiCerpen

Cerpen – Anjing Kesekian – Derry Saba

Anjing Kesekian
karya Derry Saba
Juara II Lomba Menulis Cerpen ke-8 Tulis.me

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

“Siapa lagi kalau bukan si Botak, Pius,” kata Bocah serius sambil menghibur Hale, sahabatnya sedari masa kecil.

Anjing kesayangan Hale meninggal dunia. Tidak mau dia sebut mati. Terlalu kasar untuk anjing semanis itu, katanya. Lagi pula, menurutnya, bahkan anak kuliahan zaman sekarang tidak lebih beretika dari Malete[1], anjing kesayangannya itu. Anjing itu buang air di kloset. Cara makannya pun tidak berantakan. Dan yang paling disukainya dari anjing ini adalah kebiasaan memberi salam–harta yang telah berangsur hilang dari manusia–setiap bertemu siapa pun, manusia maupun sesama hewan, dengan cara menggonggong hanya sekali. Karena suaranya yang kecil–entah mengapa–setiap kali menggonggong-satu-kali itu, ia terdengar seperti bayi sedang kentut.

Pagi itu, Hale berteriak dan meraung-raung seperti anjing mendengar suara lonceng. Malete ditemukannya sudah tidak bernyawa lagi di belakang kamar mandi kos yang berbatasan langsung dengan rumah seorang dosen sekaligus duda botak. Ya, Pius namanya. Dulunya, Pius itu seorang Frater[2] yang kemudian dikeluarkan karena kedapatan menonton film biru di ruang komputer biara.

“Dia mengoleksi film biru yang buruk. Melky, tetangga kosmu, pernah memberitahuku–jaga rahasia ini ya–bahwa dia pernah memergoki si Botak itu menonton film perempuan Jepang main dengan anjing. Maka tidak salah lagi. Malete mati kena sodomi olehnya. Percayalah!” kata Bocah begitu yakin, seyakin anak kos yang percaya bahwa kondom saja sudah cukup untuk mencegah kehamilan.

Memang sejak ditinggal istrinya, si Botak Pius kerap kali menggunakan kata ‘pantat’ untuk memaki apa pun dan siapa pun yang membuatnya kesal. Misalnya kepada nyamuk yang mengganggunya ketika sedang membaca buku, ia akan mengatakan: Dasar nyamuk bangsat! Tunggu saja, akan kucungkil lubang pantatmu. Atau kepada telur dadar yang hangus akan ia katakan: Sialan kau telur dadar pantat busuk.

“Apa yang dikatakan adalah apa yang dipikirkan. Dan tindakan, tidak lain, kata yang bergerak. Maka jika yang di pikirannya hanyalah lubang pantat, tahulah kau kata dan tindakannya seperti apa,” kata Bocah lagi. Demi meyakinkan Hale, ia mengutip teori entah siapa. Dan itu terdengar menjijikkan.

Meski tampak terpengaruh ucapan Bocah, Hale memilih tidak bicara. Dia dikuasai kesedihan dan tidak ada yang lebih mungkin untuk dilakukannya selain menangis. Malete adalah anjing piaraannya yang kesekian, yang berhasil mati. Sebelum Malete, dia pernah memiliki Met’ana, anjing berbulu hitam yang dipungutnya di pinggir jalan, di dekat tempat pembuangan sampah. Anjing itu kurus dan siap untuk mati ketika pertama kali ditemukannya. Tergerak oleh belas kasihan, ia menggendong anjing itu dan membawanya pulang ke kamar kosnya. Dirawatnya anjing itu sesuai petunjuk-perawatan-anjing-sekarat yang ditemukannya di internet. Seminggu pertama, Met’ana tampak membaik. Cara jalannya sudah tidak terpincang-pincang lagi namun belum bisa berlari. Memasuki minggu ketiga, terlihat perubahan yang signifikan pada tubuh anjing itu. Makin gemuk ia dan bulu-bulunya tumbuh subur.

“Kau telah kehilangan segalanya demi anjing-hitam-bangsat itu,” kata Bocah ketika mendapati dompet sahabatnya itu kosong melompong. Demi perawatan Met’ana, Hale memang menghabiskan banyak uang. Bahkan pernah ia membohongi orang tuanya soal uang registrasi kuliah hanya untuk menambahkan biaya perawatan anjing tersebut.

“Kita hanya punya dua tangan untuk memegang dua benda. Dan jika benda itu amat berharga, kau bahkan menggenggamnya dengan semua tanganmu. Dan itu berarti, yang lainnya harus direlakan,” jawab Hale sebelum akhirnya memohon Bocah untuk meminjamkannya sedikit uang. Bocah meminjamkannya tentu saja, namun setelah memakinya habis-habisan.

Pada minggu keempat, anjing itu sungguh-sungguh tampak sebagai anjing. Badannya gemuk, matanya terlihat jernih, cara larinya cepat, lincah, dan menggemaskan. Dan tentu yang dibanggakan Hale, anjing itu tahu sopan santun. Tahu kencing di kloset dan memberi salam dengan menggonggong-satu-kali setiap kali menjumpai siapapun, di mana pun.

Tetapi sialnya, pada minggu keempat perawatan itulah, Met’ana mati. Dengan busa keluar dari mulutnya, anjing itu terbaring kaku di depan pintu kosnya. Bocah adalah orang pertama yang menemukannya. Setelah diberitahukannya kepada Hale, temannya itu pingsan beberapa menit sebelum akhirnya memutuskan untuk puasa seminggu penuh demi tanda berbelasungkawa – hal yang membuat Bocah selalu ingin menendang bokong sahabatnya sendiri.

“Kalau bukan Malaria Tropika, kau sungguh telah gila, kawan,” demikian kata Bocah ketika puasa sahabatnya memasuki hari kelima dan ia tampak seperti bunga gala-gala layu. Tetapi syukurlah, ia bertahan hingga hari terakhir juga.

Di hari ulang tahunnya yang ke-22, Hale dihadiahi seekor anjing Dalmatian yang lucu oleh Moy, kekasih barunya yang berdarah campuran Tionghoa-Jawa. Kulitnya yang hitam-putih menggambarkan aku yang berdarah campuran ini, demikian kata Moy dengan manis. Sayangi dia seperti kau menyayangiku, sambung perempuan itu.

Hale bahagia. Disayanginya anjing itu dengan sepenuh hati dan segenap jiwa-raganya, melebihi cintanya kepada Moy–hal yang kemudian menjadi penyebab hubungan mereka berakhir. Perempuan cantik seperti Moy–bahkan ada yang lebih manis darinya–‘terbuang-buang’[3] di tanah kelahirannya, Asu Eman. Perempuan-perempuan berdarah Bunaq[4] di tanah kelahirannya itu memang memiliki paras yang cantik. Rupa mereka mirip perempuan-perempuan India. Hidung mancung, rambut lurus, kulit cokelat. (Beberapa memiliki bokong yang besar.)

“Kau sungguh sudah gila dan aku tidak ingin sepertimu,” kata Bocah kesal pada hari Hale dan Moy putus. Hale menangis. Bukan karena Moy, tetapi karena pada hari yang sama, anjing Dalmatian yang belum sempat diberinya nama itu, mati. Anjing itu mati dengan damai. Bukan seperti Met’ana–dan kemudian seperti Malete–anjing tanpa nama itu tidak ada tanda-tanda dibunuh dengan cara apa pun. Dia mati di atas ranjang, tepat di sebelah kanannya dan di sebelah kiri Bocah. Malam itu mereka mabuk–cara kebanyakan anak kos merayakan keberhasilan. Bocah selesai ujian skripsi dan mereka memutuskan untuk mabuk. Ketika pagi tiba dan mereka bangun, Hale mendapati anjing tanpa nama itu sudah mati tak bergerak.

“Kau membunuhnya!” teriak Hale. Dia menuduh Bocah-lah yang membunuh anjing itu. Tentu Bocah balik memarahinya dan mengatakan bagaimana mungkin dia membunuh anjing itu di depan tuannya. Hale tetap tidak mau terima dan menuduh Bocah telah menindih anjing itu ketika tidur sehingga mati kehabisan napas. Mereka bertengkar dan tidak bicara untuk beberapa waktu lamanya. Baru setelah kematian Malete pagi ini, mereka bicara lagi.

“Aku minta maaf telah menuduhmu waktu itu. Kemarilah ke sini dan hibur lagi aku, sahabatmu ini,” kata Hale melalui saluran telepon ketika didapatinya Malete mati. Hal inilah yang membuat Bocah datang ke kosnya hari ini dan bicara serampangan tentang si Botak Pius.

Ketika Bocah tiba tadi, Hale langsung memeluk sobatnya itu dan menangis. Sekali lagi dia menyesal telah menuduh sahabatnya itu tempo hari. Hale menceritakan bahwa sebelum menelepon sahabatnya itu, dia terlebih dahulu telah menelepon ayahnya di kampung, di Asu Eman. Dia menceritakan tentang anjingnya yang kesekian, yang berhasil mati lagi. Ayahnya marah dan memaki dirinya.

“I por zab[5],” kata ayahnya di telepon sebelum akhirnya menjelaskan panjang-lebar tentang kepercayaan leluhur mereka. Ayahnya menjelaskan bahwa mereka adalah keturunan anjing. Asu Eman, kampung mereka itu, berarti Manusia Anjing[6]. Dalam legenda orang-orang Bunaq, ada sekelompok kesatria yang melindungi kerajaan. Mereka itulah Asu Eman, Manusia Anjing yang berperang di gerbang kerajaan. Dan orang-orang di Asu Eman–termasuk Hale dan kedua orang tuanya–diyakini merupakan keturunan Manusia Anjing itu, raja dari segala anjing. Anjing-anjing takut kepada mereka. Hale ingat, waktu kecil dulu, ayahnya pernah mematikan seekor anjing hanya dengan membentaknya. Itu masih mending, menurut cerita mamanya, ayahnya bahkan dapat mematikan anjing-anjing hanya dengan menatap mata mereka lebih dari empat detik. Seorang hamba tidak mungkin bertahan di hadapan rajanya, kata ibunya waktu itu.

Kemudian seperti Bocah yang menggunakan teori, ayahnya juga menjelaskan menggunakan teori Fisika dengan mengatakan bahwa bukankah kutub sejenis hukumnya tolak menolak. Hale tahu, itu adalah cara seorang guru Fisika–ayahnya–menyindir dirinya, mahasiswa jurusan Fisika yang sebentar lagi akan menyelesaikan skripsinya.

Sesudah mendengar penjelasan Hale inilah, Bocah lalu menyemburkan tuduhan-tuduhannya kepada si Botak Pius dengan berbagai analisisnya itu. Kemudian dengan penuh rasa simpati dan empati yang besar, ia membujuk Hale dan meminta sahabatnya itu merelakan kepergian Malete. Dengan sikap sahabat-paling-baik-dan-pengertian, Bocah mengangkat jasad Malete dan menguburkannya di depan kos, dekat sebatang pohon mawar. Lalu dengan penuh kasih-sayang ia merangkul Hale dan mengantarkannya ke dalam kamar kos. Dibaringkannya sahabat sedari kecilnya itu di atas ranjang, dipeluknya dengan hangat, dan dikecupnya di kening, kemudian ke bibir dan lehernya. Hale yang energinya habis disedot kesedihan dan rasa bersalah itu, memasrahkan diri begitu saja. Ia diam saja bahkan ketika pakaiannya dilepas satu per satu dan ia merasakan sesuatu menembus lubang pantatnya.

Sebelum menyelesaikan pekerjaan-melalui-pintu-belakang-sahabatnya, Bocah mengingat-ingat kembali semua pekerjaan sebelumnya yang telah sukses. Pekerjaan pertama, terjadi pada suatu malam. Ia datang ke kos Hale. Didorong oleh kecemburuan yang besar, ia membeli sepotong sosis dan melumurinya dengan racun tikus, kemudian dilemparkannya ke arah Met’ana yang tengah tidur-tiduran di depan pintu kos. Lahap sekali anjing itu mengunyah sosis beracun itu dan mati dalam beberapa menit saja setelahnya. Keesokan harinya, ia hanya perlu menjadi sahabat paling baik, yang datang mengunjungi sahabatnya dan pura-pura kaget melihat anjing sahabatnya mati.

Pekerjaan kedua, jauh lebih mudah. Benar kata Hale waktu itu, dialah yang membunuh anjing Dalmatian itu. Ia cemburu sebab Hale lebih menyayangi anjing itu ketimbang dirinya, lelaki yang telah mencintainya sejak lama dan tersiksa oleh rasa itu. Dan malam itu, setelah membuat Hale mabuk, ia berharap dirinya akan lebih mudah memeluk Hale yang sedang tidur nyenyak. Tetapi anjing itu menjadi penghalang. Maka ditindihnya anjing itu dengan kemaluannya hingga sesak napas dan mati.

Sementara itu, pekerjaannya yang terakhir agaknya sedikit lucu jika disebut sebagai pekerjaan. Semalam, ia datang ke kos Hale, berniat meminta maaf dan mengakui perbuatannya. Namun pada saat tiba di depan kamar kos, melalui jendela yang lupa ditutup gordennya, ia melihat tubuh telanjang Hale sehabis mandi dan ingin berganti pakaian. Didorong oleh berahi yang tidak normal dalam tubuhnya, ia memeluk anjing sahabatnya itu, membawanya ke belakang kos, lalu menusukkan kemaluannya yang menegang ke dubur binatang malang itu. Bahkan sebelum sampai pada klimaks, anjing itu sudah mati lemas. Kemudian ia melemparkan jasad anjing itu di situ saja lalu pergi. Selanjutnya, terjadilah semuanya seperti yang telah terjadi pagi ini.

Seperti telah diatur dengan baik, tepat ketika memikirkan semuanya itu, ia pun sampai pada klimaks pekerjaan-melalui-pintu-belakang-sahabatnya itu. Tubuhnya lemas. Demikian pun Hale, sahabatnya. Sebelum akhirnya terlelap, sempat terlintas di benaknya, dari mana sebenarnya muncul karangan bebasnya tentang si Botak Pius yang suka menonton film perempuan Jepang main dengan anjing. Ada-ada saja aku ini, pikirnya. Dia tersenyum. Lalu tidur dengan damai.

[1] Nama Malete itu diberikan oleh salah satu teman kuliahnya yang berdarah Dawan. Mau tahu apa itu ‘Malete’? Tanyakan saja pada temanmu atau kenalanmu atau tetanggamu yang orang Dawan. Dia akan tersenyum sebelum menjelaskannya padamu. (Jangan lupa tanyakan juga tentang Met’ana.)

[2] Calon Imam Katolik

[3] Banyak perempuan Bunaq belum menikah, bahkan ada yang perawan hingga usia tuanya, dikarenakan belis (mahar) yang terlampau mahal. Itulah yang dimaksudkan dengan ‘terbuang-buang’. (Maaf jika tidak sopan.)

[4] Salah satu suku terbesar di kabupaten Belu. Menurut penuturan kebanyakan peneliti sejarah, orang-orang suku Bunaq merupakan keturunan orang India yang pernah datang ke Indonesia. Jika didengar sepintas, bahasa Bunaq terdengar seperti bahasa India.

[5] “Kita pamali anjing.” (bahasa Bunaq)

[6] Asu: Anjing, dan Ema: manusia, orang (bahasa Tetun).

Biodata Penulis
Derry Saba
adalah seorang pastor. Sedang berada di sebuah kampung kecil bernama Manufui (tunggu cerita selanjutnya tentang Manufui ini). Bergiat bersama komunitas Leko Kupang dan Dusun Flobamora. Belajar menulis dan terus membaca setiap kali tidak bisa tidur. Dan kini sedang belajar tidur dengan damai. FB: Derry Saba

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *