Baca Karya FiksiCerpen

Cerpen – Pertemuan Singkat – Sri Nuraini

Pertemuan Singkat
karya Sri Nuraini

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

“Masya Allah, sungguh sempurna Tuhan menciptakan dia, tampan rupawan dan senyum yang indah serta sorot matanya memancarkan tatapan penuh makna. Tuhan, izinkan aku bersamanya….”

“Astagfirullahaladzim…” mimpi itu segera membuatku terjaga, saat itu jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari, waktu yang baik untuk meminta petunjuk dan ampunan-Nya. Di atas sajadah ini kutuangkan semua, semuanya … kelah kesahku termasuk mimpi itu, seorang laki-laki asing. Awalnya aku hanya beranggapan tidak lebih hanya sekadar bunga tidur saja, tetapi wajarkah seseorang yang sama beberapa kali hadir di mimpi kita? Apa maksud semua ini Tuhan? Aku tidak mengerti. Sajadah ini menjadi saksi bisu kisahku dengannya, dan hari ini adalah awal dari kisahku bertemu dengan orang asing ini, pemilik tatapan indah itu.

Pagi begitu cerah. Tidak terlalu panas, juga tak ada tanda-tanda akan turun hujan. Sepertinya alam juga mendukung niat baik mama hari ini. Yah … seperti perkiraanku, mama memintaku untuk menemaninya ke Pesantren Al-Ikhlas, katanya akan ada acara buka puasa bersama dengan anak-anak pesantren dan anak-anak yatim. Bulan Ramadhan memang bulan terbaik untuk melakukan amalan, bulan di mana segala amal baik dilipat gandakan. Untuk itu, mama cukup andil dalam kegiatan buka puasa kali ini. Aku yang bisa dibilang anak rumahan banget yang jarang keluar rumah, mau tidak mau aku juga luluh kalau menyangkut hal seperti ini, walaupun yah … aku tahu, aku masih jauh dari kata salihah, pakai jilbab saja kalau ke sekolah itu pun karena sekarang sudah diharuskan pakai jilbab di sekolahku, selain itu ya … paling kalau aku dipaksa mama ke pengajian, masalah salat 5 waktu juga mama kadang-kadang harus turun tangan untuk mengingatkanku. Makin hari mama takut aku semakin jauh dari agama dan terjerumus ke hal-hal negatif. Maka dari itu, selain karena ingin bersilaturahmi di pesantren ini, diam-diam mama juga ingin agar aku bersekolah di pesantren Al-Ikhlas, walaupun dari jauh hari aku sudah menolak mentah-mentah tapi tekad mama tidak pernah surut, mama ingin melihatku menjadi wanita yang lebih baik.

Setelah beberapa menit mengendarai mobil akhirnya kita sampai di Pesantren Al-Ikhlas. Aku turun dari mobil dengan penampilan yang berbeda dari biasanya. Aku mengenakan gamis berwarna pink muda dengan sedikit bagian bawah gamis berwarna abu-abu, senada dengan jilbab yang kukenakan berwarna abu-abu juga. Jilbab yang kukenakan juga panjangnya sampai siku, ini pertama kalinya aku mengenakan jilbab sepanjang itu. Mama yang memintaku berpenampilan seperti itu, lebih sopan katanya.

Kami disambut dengan suka cita oleh pemilik pesantren dan beberapa orang santri yang kuperhatikan cengengesan tidak jelas sedari tadi, “kayak baru lihat orang cantik saja,” batinku. Karena disuruh mama untuk bersikap ramah, jadinya aku hanya tersenyum kecut. Kami diantar menuju tempat buka puasa sekalian melihat-lihat suasana pesantren. Terlihat para santriwati sedang mempersiapkan makanan untuk buka puasa nanti, ada juga yang sibuk mengatur meja dan kursi, mama juga mulai ikut membantu. Berbeda denganku, aku hanya sibuk dengan gawaiku. Mama yang melihatku lantas menyuruhku mengambil es buah di dapur pesantren. Awalnya aku menolak, tapi kalau mama sudah ngotot aku cuma bisa pasrah, lagi pula dapurnya tidak terlalu jauh, jadi aku tidak perlu khawatir untuk tersesat.

Di dapur, aku melihat nampan yang berisi beberapa gelas es buah kemudian aku membawa nampan tersebut dengan hati-hati. Aku berjalan dengan pelan-pelan karena gamis yang kukenakan agak kepanjangan. Hal yang kutakutkan pun terjadi, tanpa sadar kakiku menginjak gamis yang kukenakan dan bushhhh… aku jatuh dan es buahnya tumpah ke mana-mana. Para santri dan santriwati yang melihatku tidak dapat menahan tawanya, mungkin karena posisi jatuhku yang aneh, entahlah … tapi saat itu aku sangat malu, untung gelas es buahnya gelas plastik, jadi aku langsung memungutnya. Saat aku sibuk memungut gelas-gelas tersebut, kulihat sosok tangan membantuku, jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat. Saat dia berdiri dan meletakkan gelas-gelas tersebut di nampan, aku menggunakan kesempatan tersebut untuk melihatnya dan saat itu dia juga melihatku. Pandangan kami bertemu, aku bak disambar petir, aku merasa pernah bertemu dengannya, aku mengenal baik tatapan dan senyuman itu, apakah dia orangnya? Tuhan, bisakah waktu berhenti beberapa menit saja, aku ingin mengenalnya lebih jauh, untuk memastikan bahwa dialah yang selama ini menjadi tanda tanya besar dalam hidupku. Melihatku menatapnya lama sekali, lelaki tersebut mengalihkan pandangannya. Aku yang menyadarinya langsung tertunduk, “lain kali hati-hati,” katanya, kemudian berlalu meninggalkanku yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Setelah kejadian tersebut, mama menyuruhku membantu mengatur kursi sedangkan tugas mengambil es buah diberikan kepada santriwati lain. Azan magrib berkumandang, kami membaca doa buka puasa bersama-sama, kemudian menikmati hidangan yang ada, sedari tadi bibirku tidak berhenti tersenyum mengingat-ingat kejadian tadi, mama hanya menatapku heran. Aku dan mama akhirnya memutuskan untuk salat tarawih di pesantren ini sebelum pulang, tak disangka laki-laki pemilik tatapan indah itu menjadi imam salat tarawih. Masya Allah, bacaannya indah seindah senyumannya, tartil dan tajwid yang sempurna ditambah suara merdunya bukan main, membuat setiap orang ingin terus mendengarnya.

“Pasti banyak sekali yang mengidolakannya. Ya Allah, jantungku…” batinku.

Setelah salat tarawih, aku dan mama pamit. Mama mengucapkan banyak terima kasih kepada pemilik pesantren atas jamuannya. Pemilik pesantren tersebut mengusulkan agar aku bersekolah di pesantren ini, mama terlihat ragu, mengingat aku selalu menolak dari jauh-jauh hari. Aku memotong ucapan mama yang ingin menolak tawaran tersebut dan mengatakan kalau aku ingin bersekolah di Pesantren Al-Ikhlas. Aku berbisik kepada mama kalau aku ingin berubah, berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Benarkah niatku ingin menjadi lebih baik, atau cuma karena laki-laki dengan tatapan indah itu?

Masih ada seminggu sebelum aku masuk pesantren, baru libur kali ini aku merasa ingin cepat masuk sekolah lagi. Libur semester kali ini lebih banyak kuluangkan untuk mempersiapkan keperluanku saat di pesantren nanti. Mama terlihat senang melihat perubahanku. Hari yang dinanti itu pun tiba, hari ini hari pertamaku menyandang status sebagai santriwati di Pesantren Al-Ikhlas. Mama mengantarku dan membawakan koperku, kulihat raut muka sedih bercampur senang di wajah teduh mamaku. Yah.. inilah kehidupan baruku.

Aku mulai mencari sosok yang selama ini hadir di mimpiku tapi tak kunjung aku bertemu dengannya. “Tenang saja, ini baru hari pertama, mana mungkin aku bisa bertemu dengannya secepat itu,” pikirku.

Hingga hari-hari berikutnya aku tak kunjung melihatnya, saat waktu salat tiba pun tidak terdengar suaranya azan maupun menjadi imam salat, aku mengenal betul suaranya. Akhirnya aku memberanikan diri bertanya kepada kakak kelasku waktu itu, dan jawabannya adalah dia tidak bersekolah lagi di pesantren ini, karena laki-laki dengan tatapan indah itu mendapat beasiswa di Arab Saudi. Yah … jawaban itu cukup membuatku kecewa, tapi tidak, aku tidak akan meninggalkan pesantren ini. Mungkin inilah takdir Allah yang telah ditetapkan-Nya untukku. Terima kasih banyak ya Allah, telah memilihku dari ribuan manusia yang ada  untuk mendapatkan jalan hijrah. “Fabiayyi alaa i robbi kumaa tukadzzi baan”. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Inilah pertemuan singkatku dengan orang asing ini, pemilik tatapan indah itu, yang telah membuatku jatuh hati padanya, bukan cuma karena ketampanannya tetapi juga karena kesalehannya. Jika tuhan memberiku kesempatan, aku ingin bertemu dengannya lagi dan kuharap itu bukan pertemuan singkat lagi. Entahlah … aku merasa berbeda ketika di dekatnya.

Soppeng, 17 Agustus 2019

Biodata Penulis
Sri Nuraini
, siswi SMA Islam Athirah Bone.

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *