Baca Karya FiksiCerpen

Cerpen – Analogi Persahabatan – Hilda Nurdamayanti

Analogi Persahabatan
karya Hilda Nurdamayanti

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

“Araaa!” suara memekik Alya dari ujung pintu luar kelas membuat Anggy terkejut dengan kehadirannya. Dengan tubuh tinggi, ramping, serta dandanan yang stylish sempat membuat Anggy terperangah melihatnya. Ini adalah hari pertama kuliah, menginjakkan kaki di luar kota sebagai mahasiswa rantau sempat membuat Anggy sedikit ragu dengan beberapa pertanyaan seperti, “Apakah ia akan mendapatkan teman?” Mengingat tampilannya yang sangat-sangat sederhana bila dibandingkan dengan teman-temannya dan kota asalnya yang mungkin jarang didengar oleh orang lain yang kemungkinan menambah spekulasi teman-temannya bahwa Anggy adalah orang udik. Melihat Alya yang menghampiri Ara˗˗perempuan yang bahkan memiliki dandanan lebih stylish dan jangan lupakan kunci mobil yang tergantung di saku celananya. Untuk sejenak Anggy sempat mendengarkan perbincangan mereka, mengingat jarak antara mereka yang tidak terlalu jauh.

“Huh! Sulit sekali mencari celah untuk parkir di sini. Bahkan tempat parkirnya tidak lebih luas dari tempat parkir SMA-ku,” keluh Alya terhadap Ara dan membuatnya mengangguk setuju.

“Benar banget! Tadi sempat kepikiran buat parkir di gedung sebelah,” sahut Ara membalas protes Alya.
Tak lama kemudian muncul perempuan cantik˗˗ralat, sangat cantik. Perempuan dengan tubuh sintal, kulit mulus dan bersinar, disertai dengan dandanannya yang berkelas sambil menjinjing tas tangan di tangan kirinya. Astaga, bahkan lalat akan meleset bila sempat hinggap di wajahnya, wajahnya terlihat mulus dan licin, batin Anggy. Di tengah lamunannya sambil mengamati sekitar, terdengar suara dari samping kirinya.

“Hai! Aku Mitchel, asal Bogor, siapa namamu?” sapa Mitchel yang membuat Anggy menoleh ke sumber suara riang di sampingnya.

“Ah! Halo Mitchel! Aku Anggy, dari Cepu,” sahut Anggy dengan nada riang tapi tidak bisa menyembunyikan raut terkejutnya.

“Panggil saja Mici, dan kamu asal mana tadi? Ceu?” jawab Mitchel dengan nada bingung.

“Oh, aku dari Cepu, itu adalah nama kota kecil di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, namun Cepu masih masuk kawasan Jawa Tengah, anehnya di Facebook Cepu masuk di kawasan Jawa Timur, ahaha aneh bukan?” jawab Anggy panjang lebar diiringi ketawa sumbangnya untuk menutupi kecanggungan.

Anggy sudah biasa menjelaskan panjang lebar mengenai daerah asalnya, mengingat jarang yang pernah mendengar atau mengunjungi daerah asalnya tersebut.

“Oh begitu rupanya,” sahut Mitchel dengan mengangguk mengerti.

Seketika hening dan tidak ada pembicaraan lebih lanjut lagi antara mereka. Lantas Anggy kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas dan berhenti pada satu gerombolan perempuan˗˗Ah itu gerombolan Ara dan Alya rupanya. Perempuan yang sempat ia lihat tadi ketika memasuki kelas sebelum Mici memanggilnya terlihat sedang menyemprotkan parfum yang ia ambil dari dalam tas sembari berbincang dengan kawanannya. Tanpa Anggy sadari rupanya ia ikut terlarut dalam perbincangan mereka.

“Eh kantung mataku kelihatan banget enggak, sih? Tadi enggak sempat pake concealer,” ucap perempuan yang Anggy batin tadi.

“Ya ampun, kalau kamu bawa ya pakai saja sekarang kan˗˗Ah dosennya sudah datang,” tukas Alya yang terpotong oleh kehadiran dosen.

Ah, ternyata namanya Laras.

“Ck! Terserahlah,” dengan tak acuh Laras memakaikan concealer pada bagian kantung matanya.

Anggy hanya terperangah sembari mengamati bagaimana tak acuhnya Laras yang memakai concealer padahal dosen sudah berada tepat di bangku kelas.

Setelah sekitar dua jam lebih jam mata kuliah pertama akhirnya usai. Anggy lalu bergegas kembali ke kos. Anggy tidak membawa kendaraan untuk kuliah, ia pernah kecelakaan yang membuat kakinya cedera dan ia juga trauma mengendarai motor. Sialnya, jarak antara kos dengan gedung tempatnya kuliah yang tergolong dekat bila menaiki kendaraan, masih terasa sangat jauh bila jalan kaki, ditambah dengan cuaca panas di kota metropolitan ini.

Hari demi hari Anggy lewati dengan baik, dan lelah juga tentunya. Ia juga sudah kenal dengan teman-teman seangkatannya. Ia berusaha mengikuti kuliah dengan baik dan belajar dengan sungguh-sungguh. Hanya satu yang dipikirkannya ketika belajar, jangan sampai diremehkan orang lain. Anggy bukan dari kalangan orang super kaya, ia masih tergolong dari keluarga yang berada. Namun, semuanya berubah ketika ayahnya meninggal beberapa bulan sebelum Anggy lulus SMA. Kondisi tersebut membuat Anggy berubah menjadi pelajar yang sangat ambisius. Anggy merasa ia tidak memiliki apa pun yang dapat dijadikan sebagai jaminan di hidupnya. Anggy adalah gadis sederhana dengan segala impiannya, ia bukan berasal dari kalangan keluarga kaya raya, ia juga tidak terlalu cantik, lantas kalau Anggy bodoh, bagaimana bisa ia mendapatkan teman?

Anggy hanya ingin dianggap keberadaannya, itu saja.

Kala itu Anggy sedang mengerjakan tugasnya di laptop sembari duduk santai di bagian depan gedung yang biasa digunakan mahasiswa untuk mengerjakan tugas atau sekedar mengobrol. Bukannya ruang perpustakaannya tidak nyaman, namun tempatnya yang berimpitan dengan kantin membuat tempat yang sudah dilengkapi dengan meja dan kursi panjang ini menjadi pilihan efektif mahasiswa yang ingin mengerjakan tugas sembari mengemil˗˗Ya, itulah yang sedang dilakukan Anggy saat ini. Sayup-sayup ia mendengar suara Mici dan Clarissa, sejauh ini mereka berdualah yang berperan sebagai teman terdekatnya, tapi nyatanya mereka tidak sendirian,

“Lagi ngapain, Nggy? Ngerjain tugas yang mana?” ucap Clarissa sembari ikut mendudukkan dirinya bersama kedua teman lainnya.

“Ngerjain Power Point buat presentasi Material Teknik, kelompok aku beban semua. Di chat saja enggak dibaca, rese,” keluh Anggy yang ditanggapi teman-temannya dengan tawa.

“Coret saja sih nama anggota yang beban. Dosen enggak bakalan peduli juga kan, Nggy,” sergah Mici yang lantas ditanggapi Anggy dengan ekspresi kagetnya.

“Maaf nih, belum kenalan kan kita? Gua Antonina,” ucap teman dari Clarissa dan Mici yang ikut menghampirinya sembari mengulurkan tangan kanannya.

“Halo Antonina, aku Anggy,” balas Anggy dengan menyambut uluran tangan Antonina dengan ramah.

“Panggil saja Nina, enggak usa˗˗”

“Gaya lu Nina! Biasa juga dipanggil Anton!” sergah Mici cepat dengan diiringi senyum jenaka.

“Apaan sih lu dasar emping gosong! Enggak usah dengarin Nggy. Kalau ikutan panggil Anton gua begal lu,” balas Nina tak kalah ketus namun masih dihiasi oleh raut jenaka.

“Mana ada tukang begal bilang kalau dia mau begal. Bego lu!”, balas Mici yang ditanggapi canda tawa oleh Anggy dan Clarissa.

“Berisik banget kalian! Enggak ngerti kalau ganggu Anggy yang mau ngerjain tugas apa gimana sih?” tukas Clarissa sembari merangkul bahu Anggy.

“Eh enggak kok. Malahan dari tadi memang sebenarnya sudah jenuh. Sama saja aku ngerjain tugas orang lain sendirian,” sergah Anggy cepat sembari menggelengkan kepalanya.

“Tuh dengar! Enggak usah sok tahu!” balas Mici sembari menaikkan dagunya ke arah Clarissa.

“Dasar tengil!” balas Clarissa yang dibalas tawa oleh Anggy.

“Kalian pada mau makan siang enggak? Ayo ke kantin sekarang, keburu ramai entar susah bayarnya,” ucap Nina sembari berdiri.

“Oh jadi kemarin lu ngutang gara-gara itu?” balas Mici dengan senyum mengejek.

“Enak saja! Enggak pernah ngutang ya gua!” jawab Nina.

Mereka bertiga pun menunggu Anggy membereskan barang-barangnya dan segera menuju ke kantin yang tidak jauh dari sana. Selama berjalan hingga makan siang usai mereka berempat tidak henti-hentinya bercanda. Apalagi Mici dan Nina yang seringkali bertengkar, tentu saja mereka bertengkar sebatas candaan belaka. Hal yang selama ini dikhawatirkan oleh Anggy pun terbukti salah. Bahwa nyatanya masih ada yang berkenan berteman dengannya. Bahkan mereka bertiga˗˗Nina, Mici, dan Clarissa adalah kalangan orang yang berasal dari kota metropolis. Seringkali hal tersebut membuatnya minder bila berada di tengah-tengah teman-temannya tersebut.

PEACOCK COFFEE. Senin, 15 Agustus. 02.00 PM

Di siang yang terik dan di tengah-tengah hiruk pikuk dunia perkuliahan, terdapat satu gerombolan mahasiswi, atau mungkin bisa disebut dengan gap yang tengah berbincang di suatu kafe sembari mengerjakan tugas kuliah mereka.

“Eh kalian tahu Anggy enggak sih? Dia sekarang masuk gapnya si Mici kan ya? Songong banget tahu dia tuh,” ucap Sita sembari menuliskan jawabannya di selembar kertas yang ia salin dari jawaban temannya˗˗Ya begitulah, bukankah menyontek merupakan hal yang lumrah?

“Tahu, dia si anak desa itu kan? Gua saja lupa tuh dia dari mana. Antah berantah banget dah pokoknya,” sahut Bita yang sedang memainkan ponselnya. Mungkin bisa ditebak, dia pasti sedang stalking di Instagram.

“Anak desa sih. Tapi baik kok. Tuh buktinya, kalian nyontek jawaban siapa?” sahut Alya yang membuat suasana seketika hening.

Mengetahui suasana yang hening dan tidak ada yang menyahut tanggapan Alya, Sita pun berdehem dan menjawab, “Ah, tapi ini bukan jawaban si Anggy doang kok Al, ini masih di-mix sama jawaban si Ara. Ya nggak Ra?” jawab Sita dengan percaya diri.

“Terserah kalian deh. Aku sih enggak gimana-gimana sama dia. Yang penting enggak benalu saja.”

Di tengah perbincangan tersebut ada Ara, Alya, Sita, Bita, Nia, Hana, dan Salsa. Di mana Ara dan Alya adalah yang paling waras di antara mereka semua. Ara yang sering memberi donasi jawaban kepada mereka semua. Sedangkan seperti biasa, Hana dan Salsa hanya akan menanggapi sesekali sembari mengisap rokok dengan nikmat.

Namun yang terpikirkan oleh orang lain adalah gaya persahabatan mereka. Mereka hanya akan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengobrol, merokok, minum kopi, sembari menunggu jawaban dari teman˗˗dari Ara tentu saja. Namun, satu hal yang sangat disayangkan dibalik otak encer Ara adalah mudahnya dirinya terpengaruh oleh orang lain. Seperti, ketika teman-temannya membenci Anggy maka Ara akan ikut membencinya karena pengaruh teman-temannya. Walaupun, ia sendiri tidak menemukan titik kesalahan pada Anggy.

JENDELA CAFE. Senin, 15 Agustus. 03.00 PM

TING!

“Nggy, boleh lihat catatan kalkulus enggak?” tanya Ardhi.

Anggy mendesah panjang sembari menatap pesan yang masuk. Bahkan Ardhi tidak pernah menyapanya sekalipun. Tempo hari, Anggy pernah memberikan catatan Material Teknik kepada Ardhi. Namun, ketika bertemu di kelas, Ardhi bahkan tidak menyapa Anggy, bahkan menoleh pun tidak. Seperti pura-pura tidak kenal.

“Muka ditekuk mulu Nggy. Ada apa?” ucap Mici memecahkan lamunan Anggy.

“Ini, ada yang minta foto catatan. Kasih enggak ya,” balas Anggy dengan raut tak terbaca.

“Jangan tanya gua. Gua jelas skip. Enggak ada ampun pokoknya,” sahut Mici ketus.

Ya. Selama ini teman-teman takut meminta sontekan atau bahkan catatan kepada Mici. Mici memiliki karakter yang keras dan bila dilihat dari raut wajahnya˗˗sangat terlihat bila ia buka tipe orang yang mudah membuka diri kepada orang lain. Namun, nyatanya Anggy cukup beruntung dapat berteman dengannya. Begitu pula dengan kedua teman dekatnya yang lain.

“Siapa?” tanya Clarissa sebelum menyeruput coffee latte yang ia pesan.

“Ardhi,” jawab Anggy singkat.

“Sini biar gua saja yang balas. Biar enggak ganggu lu lagi,” sahut Nina sembari mengulurkan tangannya.

“Eh apaan. Enggak usah. Aku bilang kalau enggak lengkap saja catatannya biar dia mau cari yang lain,” jawab

Anggy menolak uluran tangan Nina.

“Begini lagi. Lu bilang kalau catatan lu enggak lengkap pasti dia bilang kalau catatan lu masih lebih lengkap ketimbang punya dia. Pasti dia tetap maksa. Lagian lu bilang dulu almarhum bokap enggak suka kan kalau lu dijadiin kalah-kalahan?! Makanya mulai sekarang jangan jadi orang yang terlalu gampang bantu. Baik sama bego kadang beda tipis,” jelas Nina panjang lebar yang di respons anggukan kepala oleh kedua temannya yang lain.

“Ya sudah. Aku read saja,” jawab Anggy.

“Mending, sih. Kalau memang belum tega banget kayak gua,” jawab Mici dengan mengacungkan jempol tangan kanannya.

“Jangan takut dimusuhin, Nggy. Biar orang lebih segan sama kamu,” jawab Clarissa sembari mengutak-atik soal kalkulus.

Benar. Ia harus lebih keras. Lebih tegas. Lebih percaya diri. Anggy pintar, sekarang ia punya teman yang baik dan mendukungnya. Lantas, apakah masih kurang?

GEDUNG TEKNIK INDUSTRI. Rabu, 19 September. 11.00 AM

“Dan. Mau ikut main enggak?” ajak Nanda sembari menghampiri Dana di teras gedung.

Dana tersenyum kecut.

“Enggak dulu, Nan,” jawab Dana.

“Tumben. Ngapain memang?”

“Aku sekelompok sama Anggy. Dia ancam kalau enggak ikut ngerjain nanti namaku dicoret dari laporan. Takut pak aku. Pengen mati rasane,” jawab Dana menggebu hingga Nanda tertawa.

“Ya sudah. Selamat bucin sama tugas ya. Semoga kamu bisa mulai ambisius kalau sekelompok sama dia,” sindir Nanda sembari berlenggang meninggalkan Dana.

“Kurang ajar,” gumam Dana dengan melambaikan tangannya pada Nanda.

Seiring dengan berjalannya waktu, Anggy telah berubah menjadi orang yang selama ini diimpikannya. Bahkan teman-temannya menjadi sedikit lebih segan kepadanya. Ia selalu mengatakan, “Kalau enggak bantu, nama kalian dicoret dari hasil kerja kelompok,” atau “Ngapain aku kasih catatan ke orang yang bahkan kalau ketemu aku saja kayak orang enggak kenal”. Itulah kata-kata yang sering dilontarkan olehnya. Dan seiring dengan berjalannya waktu pula ia semakin menyadari kalau gap Sita membencinya. Entah apa pun itu alasannya. Ia tidak peduli. Toh dibenci atau tidak dibenci olehnya, tidak akan memberi dampak apa pun padanya, benar?

Ia juga menyadari kalau banyak yang mendekatinya hanya untuk memanfaatkan sifat rajinnya saja. Tapi, ia sangat bisa membedakan niatan mereka yang tulus berteman dengannya atau yang hanya sekedar ingin memanfaatkannya. Ia tahu betul. Ia sangat paham. Ketika di kelas, ia juga sering merasa kalau gap Sita seperti Ara misalnya, memandangnya dengan sinis dan raut wajah yang˗˗˗merendahkan?
Tentu saja itu bukan penghalang baginya. Buat apa peduli? Bukankah ia sudah memiliki sahabatnya sendiri?

Ia juga tidak membutuhkan keberadaan mereka. Benci saja. Benci saja terus sampai lelah. Toh Anggy tidak pernah memikirkannya. Ia juga tidak pernah menyalahkan mereka yang mungkin membencinya. Buat apa menyalahkan ketika ia sendiri bahkan tak menghiraukan.

Matahari sudah beranjak ke ufuk barat. Hari sudah mulai gelap. Anggy baru saja selesai mandi dan baru akan menggarap tugas Fisika setelah magrib nanti.

TING!

“Nggy, maaf ganggu. Kamu sudah ketemu jawaban tugas Fisika nomor 5, 7, 8?” tanya Ara.

“Lah dia kan enggak suka aku. Ujung-ujungnya nyontek juga. Dasar,” umpat Anggy sembari membaca pesan dari Ara.

“8 belum Ra, kenapa?”

“Kamu kurang nomor berapa saja? Boleh lihat yang nomor 5 sama 7 enggak?”

“6 sama 8. Nomor 5 sama 7 masih di coret-coretan. Nanti ya.”

“Enggak maksa kok, Nggy. Kalau enggak mau enggak apa-apa. Mau aku fotoin jawabanku yang nomer 6 enggak?”

“Kenapa jadi baik deh?” gumam Anggy terheran-heran dengan pesan Ara.

“Enggak apa-apa. Tapi nanti dulu habis magrib ya. Enggak usah difotoin Ra, nanti kalau memang sudah mentok banget aku baru tanya kamu, makasih.”

“Enggak apa-apa kok beneran. Makasih juga ya, Nggy.”

Picture sent!

“Lah dikirim beneran foto jawabannya,” gumam Anggy lagi.

“Waduh. Makasih ya Ra, nanti aku fotoin jawaban aku. Aku masih istirahat dulu bentar.”

“Siap. Santai saja, Nggy.”

Anggy masih terpaku membaca ulang pesan dari Ara. Bukankah gadis ini membencinya?
Apa pun itu, masih untung Ara tidak mengganggunya. Bahkan terkesan seperti simbiosis mutualisme.

GEDUNG TEKNIK INDUSTRI. Jum’at, 21 September. 10.00 AM

Drrt.

Drrt.

Jose is calling.

“Halo Nggy, lagi di mana?” sahut orang di seberang telepon. Anggy mengernyit bingung. Bukan, ini bukan suara Jose.

“Di TI. Ini siapa?”

“Aku Ara. HP aku mati, Nggy. Mau makan bareng enggak? Aku jemput ya di TI.”

“Oh. Boleh deh, Ra.”

Masih termenung. Ia heran dengan sikap Ara yang berubah drastis terhadapnya akhir-akhir ini. Seakan-akan sikapnya selama ini dapat dilupakan begitu saja. Ya˗˗Anggy masih belum bisa mempercayai sikap baik Ara. Apakah ada motif di baliknya atau tidak. Ia masih tidak dapat melupakan bagaimana sinisnya sikap Ara selama satu semester ini. Anggy selalu mencoba ramah terhadap teman-temannya˗˗tanpa terkecuali, termasuk Ara tentu saja. Namun, entah pengaruh apa yang sudah ditanamkan pada Ara hingga ia tidak pernah sekali pun membalas sapaan Anggy.

Lalu tiba-tiba ia mengirim pesan menanyakan tugas. Hingga menawarkan jawabannya sendiri kepada Anggy.

Konyol bukan?

Anggy mendengus dan tersenyum masam bila teringat sikapnya yang selalu menganggapnya tidak ada. Lalu, tiba-tiba ia berubah menjadi sangat ramah, seakan baru mendapat hidayah. Sungguh tak terbaca memang, entah apa yang diniatkan Ara saat ini. Anggy lagi-lagi tidak perlu peduli bukan?

Di tengah lamunannya, berhenti mobil Xpander merah yang diturunkan kacanya di sisi penumpang, yang membuyarkan lamunannya.

“Anggy, ayo naik.”

Ah. Ara ternyata.

Anggy pun menyusul Ara dan memasuki bangku penumpang. Ara hanya tersenyum ramah sebelum menanyakan,

“Sudah tunggu lama?”

“Eh, enggak kok, lagian tadi barusan selesai asistensi.”

“Oh begitu. Makan nasi padang mau enggak, Nggy?”

“Mau, aku bebas apa saja, Ra.”

“Oke.”

Hening. Itulah suasananya di dalam mobil sepanjang perjalanan menuju jalan Tunjungsari selatan.

“Nah, sudah sampai. Sebenarnya enggak nasi padang sih, Nggy, tapi aku lupa namanya apa pokoknya aku ingat tempatnya, makanannya enak.”

NASI KAPAU

Itulah yang tertulis di bagian depan tempat makan tersebut.

“Oh nasi kapau ya, ya sudah ayo masuk.”

Suasana tempat makannya memang sedang ramai, mengingat ini memang sudah menunjukkan jam makan siang. Setelah memesan makanan dan duduk di tempat, sesekali Anggy melirik tampilan Ara yang begitu modis. Ia hanya membayangkan bagaimana ia bisa membeli barang-barang tersebut. Jika dan hanya jika, ayahnya masih ada, mungkin ayahnya akan dengan senang hati memanjakannya. Tentu perasaan tersebut membuatnya seketika mencelos. Sungguh, ia merindukan masa-masa kebahagiaannya dulu.

Bukan berarti sekarang ia tidak bahagia. Ia masih sangat berkecukupan. Hanya saja kurang dimanjakan seperti dahulu kala, sebelum ayahnya tiada. Bukan sedih karena tanggung jawabnya semakin besar pula. Pun bila tanggung jawabnya membesar, bukankah itu hal yang wajar? Lagi pula ia bukan bocah yang selalu manja.

“Capek ya Nggy kuliah, pengin balik kayak SMA dulu, ya enggak?” ucap Ara memecah keheningan.

Anggy hanya menunduk dan tersenyum dan berkata, “Banyak yang bilang begitu. Tapi kalau ditanya, aku selalu bilang enggak mau balik ke masa yang sudah lewat,” jawab Anggy dengan mantap.

“Kenapa?” tanya Ara dengan raut penasaran.

“Karena aku enggak mau ngalamin masa ayahku meninggal untuk kedua kalinya,” jawab Anggy setengah menggumam lalu tersenyum teduh.

Memang itu kenyataannya. Ia tidak akan pernah mau kembali ke masa-masa yang sudah terlewati. Bukankah dapat mengingat dan memangnya sudah cukup? Terlebih bila itu kenangan bahagia atau konyol. Bukankah mengingatnya saja sudah cukup membuatmu tersenyum dan tersipu saat malam hari menjelang tidur? Apa pun itu jawaban orang lain, setidaknya itulah yang dirasakan Anggy.

Anggy tidak mau mengalami masa-masa prihatin saat ayahnya meninggal dunia untuk yang kedua kalinya. Bukankah bila memutar waktu ke masa-masa membahagiakan akan tetap mempertemukannya pada masa kematian ayahnya satu tahun yang lalu? Bukankah itu percuma? Mungkin bila waktu berputar kembali ia akan bisa memanfaatkan masa-masa terakhir ayahnya menjadi lebih berarti. Namun, bukankah itu sia-sia bila semuanya bisa saja terhempas begitu saja?

Sungguh, kepergian ayahnya telah menggoreskan luka yang amat dalam. Ia menjadi gadis yang amat pendiam dan˗˗ambisius?

Ia merasa ia tidak memiliki pusat buminya lagi. Tentu, ia masih memiliki ibu yang amat ia sayangi. Tapi bahkan ibunya pun terpuruk. Bukankah wajar bila Anggy merasa segala hal di sekitarnya seketika berubah menjadi beban? Ia selalu mengusahakan untuk tidak pernah menangis di hadapan ibunya. Konyol sekali, bahkan ketika Anggy menatap sepatu kerja ayahnya ketika ia tidak sengaja melewatinya saja ia sudah menangis tersedu-sedu. Bukankah semuanya terlihat kejam seketika waktu?
Ara hanya bisa menatap Anggy sendu. Ia baru mengetahui kalau ternyata Anggy anak yatim.

“Maaf, Nggy, aku enggak tahu,” ucap Ara memecahkan hening.

“Enggak apa-apa, ngapain minta maaf Ra?” balas Anggy sembari tersenyum hangat.

Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Mereka hanya menyantap makanan mereka dalam hening dalam beberapa saat.

“Enak nih. Lumayan kapan-kapan go-food deh,” ucap Anggy memecah hening.

“Kapan-kapan aku ajak hunting makanan deh, Nggy,” ucap Ara sembari tersenyum hangat.

“Kapan-kapan ya Ra,” balas Anggy dengan senyumnya.

Makan siang mereka pun selesai. Ara bersikeras mengantarkan Anggy pulang ke kos. Ara mengantarkan Anggy hanya sampai di depan lorong karena memang sulit untuk keluar bila memasuki lorong.

“Makasih ya, Ra,” ucap Anggy sebelum turun dari mobil Ara.

“Makasih juga sudah temani makan ya, Nggy, kapan-kapan lagi ya.”

“Oke. Hati-hati ya.”

“Daaah,” ucap Ara sembari melambaikan tangan kepada Anggy.

Hari demi hari dirasakan oleh Anggy kalau Ara semakin mendekati dirinya. Tidak hanya dirinya, bahkan Clarissa, Mici, dan Nina juga merasa hal yang sama˗˗Ara mulai mendekati Anggy secara perlahan. Entah apa pun itu niatnya yang berubah berbanding terbalik dari sikapnya beberapa waktu yang lalu, bukankah pilihan terbaiknya adalah untuk tetap menjaga sikap dan bersikap positif saja?

Hari demi hari pula rasa iri timbul begitu saja pada diri Anggy. Ia iri terhadap segala kemewahan yang Ara dapatkan. Perlahan namun pasti ia mulai mengikuti gaya hidup hingga gaya berpakaian˗˗Tanpa kebiasaan merokok seperti Ara tentu saja. Setidaknya hal tersebut sangat dipikirkan oleh Anggy. Jangan heran bila mendapati gaya berpakaian Anggy yang kian modis dibandingkan dengan semester lalu.

Sudah menginjak semester kedua. Ini merupakan hari pertama kuliahnya di semester baru. Anggy sudah benar-benar mengubah gaya pakaiannya menjadi sedikit lebih modis. Tentu saja itu memakan biaya. Namun, bukankah wajar bila mengubah penampilan sedikit agar merasa lebih percaya diri bila berjalan berdampingan dengan Ara.

“Wuidih makin modis nih. Keren dah,” puji Nina sembari tersenyum.

“Semester baru suasana baru mah wajar, ya enggak, Nggy?”, balas Mici sembari mengedipkan sebelah matanya.

“Berubah banget ya? Kemarin pas liburan lihat-lihat di Pinterest, begitu terus nyoba-nyoba saja,” balas Anggy dengan senyum canggung.

“Bagus kok,” balas Clarissa singkat yang sedari tadi diam mengamati.

Benar. Semester baru, lembaran baru. Perlahan teman-teman seangkatannya mulai segan. Tidak seenaknya meminta sontekan atau pinjaman catatan. Tidak berani membantah bila diberi bagian tugas kelompok˗˗kecuali benar-benar tidak masalah bila nama mereka dicoret dari daftar anggota kelompok oleh Anggy. Beberapa laki-laki pun mulai mendekatinya. Hal tersebut menambah rasa percaya diri Anggy.

“Gimana sama Rama? Lancar?” ucap Mici menggodai Anggy.

Akhir-akhir ini Rama, teman seangkatan mereka mendekati Anggy. Anggy tentu saja menyadari gelagatnya. Namun, ia tidak menggubrisnya sama sekali.

“Lu temanan dekat kan sama si Dani? Dani kan satu gap tuh sama si Rama. Tanya-tanya saja sana sama si Dani, gimana baiknya, gimana sifat si Rama. Biar enggak asal nebak,” saran Nina.
Anggy hanya terkekeh geli dengan candaan temannya itu.

“Lah bukannya si Dani juga suka sama kamu, Nggy? Terus apa kabar si Axel? Dia juga dekatin kan?” Clarissa ikut menimpali pembicaraan mereka sembari menyeruput es kopinya.

“Hah?! Serius? Axel juga dekatin? Gila mujur banget semester baru ini lu,” canda Nina menambah pertanyaan yang sudah menumpuk di benak Anggy untuk dijawab satu-persatu.

“Begini, kalau si Dani tuh memang dekat dari semester satu dulu, gara-gara sempat diajakin nonton sama si Ara. Ara waktu itu tiba-tiba ngajakin aku nonton karena dia cewek sendirian, sama Hakim, ada Dani juga. Kalau di Rama dekatin awalnya gara-gara praktikum, eh kebablasan chat enggak ngerti juga niatnya apa tapi makin ke sini makin nge-chat. Kalau sama Axel, dari awal chat juga sudah enggak aku balasin. Orang aku saja enggak suka sama circle dia,” jelas Anggy panjang lebar yang disimak baik-baik oleh ketiga temannya yang duduk manis di ujung ruangan kafe.

“Ganteng Rama, pintaran Dani, kalau Axel gua setuju ditolak dari awal. Emang enggak benar tuh orang”, cercah Nina member tanggapan.

“Tergantung mau yang pintar apa ganteng nih, Nggy,” kali ini Mici yang menanggapi.

No comment, aku enggak interest beginian, kalian tahu sendiri. Tapi saran nih, mending yang pintar lah ya,” balas Clarissa.

“Aku mikirnya juga begitu. Tapi enggak enak kalau sama sahabat sendiri. Jadi ya sudah enggak mikirin semuanya saja,” jawab Anggy santai.

“Pusing juga banyak yang deketin. Btw, Rama kan anak Direktur Utama perusahaan BUMN kan? Terus kalau enggak salah semester satu juga dia antarjemput supir,” ucap Mici.

“Iya benar, papanya Dirut, tapi sekarang dia sudah nyetir sendiri,” Clarissa menanggapi.

“Gimana nih, Nggy? Anak Dirut loh”, goda Nina.

Anggy hanya tersenyum kikuk.

“Enggak penting. Dia juga pernah bilang dia enggak nyetir sendiri waktu semester satu karena enggak dibolehin papanya. Dia kuliah di sini juga langsung dibeliin rumah sama papanya di kompleks elite, sekarang jadi basecamp gapnya dia kan,” jelas Anggy.

“Enggak penting tapi cari tahu juga tuh,” ucap Nina sembari mengedipkan sebelah matanya. Entah, ia hanya tidak sengaja mendengar semuanya˗˗Tanpa pernah bertanya.

Seiring dengan berjalannya waktu, makin banyak orang yang menyadari gaya berpakaian Anggy. Banyak yang memujinya. Tapi, salah satu sahabatnya menyadari ada yang janggal.

“Nggy, enggak makan?” ucap Clarissa membuyarkan lamunan Anggy.

“Eh˗˗Iya nanti saja Clar di warung seberang kos,” jawab Anggy.

“Makin kurus. Ada apa sih? Ada masalah? Kalau ada apa-apa cerita saja.”

“Enggak kok,” jawab Anggy singkat.

“Nggy, kalau boleh kasih saran nih˗˗Tapi jangan tersinggung ya.”

Anggy hanya mengangguk sembari menunggu apa yang akan dikatakan sahabatnya terebut. Siang ini mendung, di meja hanya ada Anggy dan Clarissa.

“Jangan terlalu ngikutin gaya hidup orang. Aku tahu kamu yang semester satu enggak kayak begini. Bukan aku enggak setuju sama perubahan sikap kamu. Itu bagus. Orang jadi enggak asal ngeremehin kamu. Tapi, kamu mungkin juga ngerasa kalau kamu usaha banget buat ubah penampilan. Ini cuma asumsi, dan aku enggak mau kamu memaksakan. Kamu ngelakuin itu buat bisa dipandang sejajar sama Ara kan?” cercah Clarissa lembut namun dengan tatapan menyelidik, seakan berusaha menemukan kebohongan di mata Anggy.

“”Hah? Aku˗˗cuma pengin ubah penampilan saja kok, Clar.”

“Benar? Tanpa memaksakan keadaan?” Clarissa berusaha menemukan kebohongan di tatapan mata sahabatnya itu.

“Memang kenapa kalau aku berusaha imbangi dia? Aku cuma pengin orang enggak anggap aku sekadar bayangannya dia. Salah?” ucapnya setengah membentak.

“Terserah kamu, Nggy. Kamu tahu aku enggak gampang peduli urusan orang lain. Tapi ini nyangkut masa depan kamu. Kamu yang sekarang jauh beda dari yang dulu, aku pergi dulu. Hati-hati, ini mau hujan,” dan Clarissa pun pergi begitu saja setelah pamit.

Sesampainya di kos, Anggy segera mandi dan mengerjakan tugas-tugas. Benar, selama ia pintar dan dapat mempertahankan penampilannya yang layak, ia tidak akan dianggap sebagai bayangan. Tunggu˗˗Bukankah dulu ia beranggapan bahwa pintar saja sudah bisa membuatnya dianggap oleh teman-temannya, bukanya ia hanya ingin dianggap keberadaannya?
Namun, mengapa sekarang ia seakan meminta lebih?

Tugas-tugas sudah ia selesaikan dengan berbagai pikiran yang berkecamuk. Benaknya seakan dipenuhi oleh pertanyaan Clarissa.

Benar? Tanpa memaksakan keadaan?

Tepat sasaran.

Ia memang memaksakan keadaan. Seakan lupa daratan ia selalu tak acuh dengan apa yang akan ia makan sehari-hari asalkan ia bisa memenuhi kebutuhan penampilannya. Ia selalu membeli pakaian baru˗˗untuk menyeimbangkan penampilannya dengan teman-temannya. Sungguh, ia anak yang tidak tahu diri. Uang yang ia pakai bahkan uang peninggalan ayahnya. Bahkan ibunya masih membutuhkan biaya pengobatan. Mengapa harus sejauh ini?

Tanpa ia sadari ia menitikkan air mata sembari menatap langit-langit. Mungkin ini pengaruh semilir angin yang menembus melalui jendelanya, atau memang dia sudah tidak sanggup menanggungnya. Ia menyesal. Sungguh menyesal. Pertanyaan Clarissa seakan menampar keras hingga pertahanannya hancur begitu saja. Ia memang memaksakan keadaan. Memaksakan keadaan demi kelayakan semu.
Bukankah selama ini ia sudah mendapatkan kelayakan? Teman-teman yang mencintainya setulus hati. Bahkan jauh sebelum dirinya mengejar penampilan yang layak baginya. Semalaman ia hanya merenungi apa yang sebenarnya ia kejar, bukanlah sesuatu yang layak dikejar. Ia hanya ingin dipandang˗˗bukankah ia sudah mendapatkannya? Mengapa ia selalu meminta lebih?

Lalu gelap˗˗Ia terlelap setelah menangis.

Keesokan harinya, seakan mendapatkan keberanian dalam sekejap, seakan menyadari kesalahan dalam waktu yang singkat. Ia mendatangi Clarissa.

“Clar? Mau ngomong bentar, boleh?” tanya Anggy sembari menatap Clarissa usai jam kuliah selesai. Teman-temannya telah pulang.

“Boleh, ada apa?”

“Maaf, maaf kemarin aku kasar. Maaf aku kemarin kebawa emosi.”

“Enggak apa-apa. Maaf juga aku kemarin kesannya maksa kamu buat ngaku,” Clarissa tersenyum hangat.

“Jadi, gimana? Pasti semalam mikir kan, Nggy?”

Kini mereka telah duduk di tangga pelataran gedung sembari berbincang. Mengenai hal itu tentu saja.

“Aku salah. Aku memang memaksakan keadaan. Aku harusnya bisa membedakan mana prioritasku, aku harusnya˗˗”

“Itu wajar, Nggy, asal kamu sekarang sudah tahu apa yang jadi prioritasmu. Kamu tahu aku selalu pakai baju kotak-kotak. Aku punya baju kotak-kotak dengan pola dan model yang sama sebanyak lima biji. Namun, apa aku malu bersanding dengan kalian yang lebih modis? Tentu tidak. Aku hanya berusaha menahan diri. Aku tidak mau memaksakan keadaanku,” sergah Clarissa cepat. Clarissa hanya terkekeh geli sembari menceritakan tentang baju kotak-kotaknya.

Benar. Bukankah aku selalu mengatakan aku tidak peduli? Namun kenyataannya justru kebalikannya. Perbincangan mereka diakhiri dengan sangat baik. Anggy menyadarinya, sekeras apapun ia mencoba untuk memuaskan hasratnya, tidak akan pernah ada ujungnya. Justru semuanya akan berakhir menyiksa.

Keadaan sekarang terasa begitu cukup baginya. Ia mempunyai sahabat yang menyayanginya setulus hati tanpa mempedulikan penampilannya. Ia juga bisa mengejar nilai dengan baik dan memperoleh predikat memuaskan. Ia juga disayangi keluarganya. Bukankah itu semua cukup?

Benar, semua sudah terasa cukup sekarang. Ia tahu, tidak segala hal bisa ia paksakan. Bila ia sudah berhasil dengan cita-citanya, tentu ia baru bisa memperbaiki penampilan sedikit demi sedikit. Sekarang, ia hanya fokus memperoleh beasiswa. Setidaknya, itulah yang bisa ia lakukan untuk menembus kesalahannya kepada ibunya˗˗peninggalan ayahnya, karena telah menguras uang demi sisi tamak yang dimiliki Anggy.

Setidaknya sekarang ia tahu bagaimana ia harus memperbaikinya.

Lalu, bagaimana dengan nasib Axel, Rama, dan Dani?

Ah˗˗ini hanya menceritakan keluh kisah Anggy untuk menemukan persahabatan sejati, dan jati dirinya yang sempat ia buang jauh-jauh. Bukan cerita roman kehidupan percintaannya. Setidaknya, ia cukup mengetahui kalau masih ada yang memandangnya menarik, dengan segala kekurangannya.
Benar, semua sudah terasa cukup. Ia hanya perlu memperbaikinya.

Biodata Penulis
Hilda Nurdamayanti, lahir di Blora, 2 Agustus 2000. Mahasiswa Teknik Industri Universitas Diponegoro.

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *