Baca Karya FiksiCerpen

Cerpen – WC Umum – Huriyah Kunol

WC Umum
karya Huriyah Kunol

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Pak Bento sakit. Begitulah kabar yang kudengar. Penyakitnya apa dan bagaimana dia sakit, aku tidak tahu. Sampai aku menjenguk di rumahnya, barulah aku tahu penyakit apa yang dideritanya. Tidak bisa buang air besar.

Nama Bento sebenarnya bukan nama sebenarnya. Aku heran Pak Bento sebenarnya mempunyai nama yang bagus, tapi mengapa ia dipanggil Bento? Namun, kelihatannya Pak Bento lebih suka dengan nama panggilan tersebut dan melupakan nama pemberian orang tua. Bahkan bangga. Maka terkenallah ia dengan nama Bento.

Sudah banyak upaya dilakukan keluarganya. Dokter umum sampai spesialis penyakit dalam sudah didatangkan untuk mengobati penyakit yang dirasakan. Namun semua dokter itu angkat tangan menghadapi penyakit tersebut. Barangkali dukun saja yang belum didatangkan.

Pak Bento orangnya sangat rasionalis. Segala sesuatu yang tidak masuk akal tidak akan diterimanya. Dokter saja tidak begitu saja dipercayainya. Jadi, tak mungkin Pak Bento mendatangi dukun, wong kiai di sebuah pesantren tradisional saja pernah dibantahnya ketika memberi wejangan yang tak bisa diterima akalnya.

“Skeptis,” begitulah istilah yang sering dikatakannya. “Di zaman seperti sekarang ini, kita harus bersikap skeptis. Hal-hal yang tidak masuk akal tak usah dipedulikan. Hanya buang-buang tenaga dan pikiran saja. Jangan percaya siapapun sebelum membuktikan, Dik !” katanya menjelaskan sikapnya selama ini. Jadi … jangan harap ia mendatangi dukun untuk berobat. Bukan karena akidahnya kuat, melainkan sekedar sikap ultra skeptis belaka.

Seminggu yang lalu aku masih melihat Pak Bento tampak dalam kondisi sehat. Waktu itu aku sedang bekerja di rumahnya merehab dapur rumah sekaligus disuruhnya aku memasang atap multiroof sebagai ganti genting yang selama ini nangkring di atap rumahnya tersebut.

“Genting rumah Bapak masih bagus dan kuat, mengapa harus diganti dengan atap multirrof?” tanyaku waktu itu.

”Ya … daerah kita ini kan termasuk wilayah rawan gempa. Daripada kepala kejatuhan genting kalau gempa, lebih baik kalau diganti sekalian dengan atap yang lebih ringan. Sedia payung sebelum hujan. Benar kan, Dik?” jawabnya.

Untuk memperbaiki dapurnya aku bisa lakukan sendirian. Namun, untuk mengganti atap genting dengan atap multiroof terpaksa kulakukan dengan dibantu tiga rekan. Apalagi aku ditarget harus selesai paling tidak dalam waktu dua hari sebelum datang bulan puasa tahun ini. Dan memang kuselesaikan pekerjaan itu dalam waktu dua hari dengan lembur. Rumah Pak Bento sangat besar, sehingga mengganti atapnya perlu waktu dan harus hati-hati.

Selama aku bekerja di rumahnya, tidak terlihat olehku Pak Bento. Namun, aku yakin kalau kondisinya sehat tak kurang suatu apapun. “Sedang dinas,” begitu jawab istrinya sewaktu kutanya keberadaan Pak Bento.

Yah … aku maklum kalau orang macam Pak Bento itu sibuk. Bukankah ia anggota DPR? Tentu saja ia sibuk. Sibuk mewakili rakyat. Sibuk membahas rancangan undang-undang. Sampai larut malam. Kadangkala ia kembali ke rumah dinas atau pulang ke rumah yang aku disuruh mengganti atapnya itu. Namun, lebih sering tidak pulang melainkan menginap di hotel bersama rekan separtainya. Bukankah setiap ada rapat masing-masing anggota DPR mendapat fasilitas, termasuk penginapan?

Meskipun Pak Bento sibuk, bahkan super sibuk, ia tetap tampil segar. Sehat. Bugar. Tak pernah kulihat dia loyo, meskipun habis rapat di gedung DPR sampai larut malam. Yang membuat aku heran adalah semakin bertambah umurnya tampak semakin muda dan semakin bersemangat bekerja.

“Dia sih pakai susuk, mas!” kata Parto, satpam rumah Pak Bento, sewaktu giliran ronda di pos jaga perumahan mewah itu. Aku tidak percaya. Apalagi sewaktu kutanyakan pada Pak Bento, ia menjawab sambil tertawa, “Dik Mul ini kok ketinggalan zaman! Yang begitu itu banyak bohongnya!”

Ada kebiasaan aneh yang ia kerjakan bila menghadapi persoalan serius yang harus segera diselesaikan. Pulang kampung. Buang air besar di WC umum kampung kami. Padahal WC pribadi di rumahnya sangat bagus. Mewah. Bahkan ruang tamu rumahku pun kalah mewah dibanding WC nya. Namun, Pak Bento jarang buang air besar di rumahnya sendiri.

Namanya juga WC umum, tentu keadaannya tidak seperti WC pribadi. Bermacam-macam orang dari berbagai lapisan masyarakat dengan berbagai latar belakang jenis makanan yang masuk ke perut mereka, menjadi langganan jongkok di dalamnya. Menciptakan bau khas WC umum. Meskipun ada penjaganya yang rajin membersihkan, tapi bau khas WC umum tadi tidak pernah hilang.

Aku termasuk salah satu pengguna WC umum kampung kami, meskipun itu kulakukan karena WC di rumah belum jadi. Belum ada biaya. Kalau perut memerintahku mengeluarkan isinya, maka aku terpaksa ke sana. Terpaksa! Padahal dalam keadaan normal lewat di jalan samping WC umum tersebut sudah membuat perutku mual, mau muntah. Biasanya aku pilih melintasi jalan lain yang ada di kampungku, jika ada perlu harus ke luar kampung.

Paling lama dua atau tiga menit aku menjadi penghuni WC kami tersebut. Sudah itu cepat-cepat segera keluar. Bagiku dua atau tiga menit di dalam WC kami tadi serasa seminggu. Lama benar rasanya. Namun bagi Pak Bento, sanggup ia berada di dalamnya bermenit-menit. Bahkan berjam-jam. Terutama bila sedang menghadapi masalah-masalah berat.

Banyak orang yang simpati dengan Pak Bento. “Merakyat!” begitulah kata mereka yang simpati. Namun, tak sedikit pula yang menggerutu dan mencaci maki. Terutama ketika ia sedang buang air besar. Pak Bento sanggup jongkok di atas kloset berjam-jam, sedangkan mereka sedang kebelet menunggu Pak Bento keluar WC.

“Orang gila!”

“Tamak!”

“Perlu diperiksakan ke psikolog!”

“Bukan …! Itu ‘laku’-nya agar kekayaan dan kemuliaannya tidak pergi!”

“Yaaah … maklumi sajalah! Barangkali ia sedang sakit perut?!”

“Kalau sakit … ya ke dokter! Lagi pula WC di rumahnya apa tidak cukup?” kata seseorang dengan mata melotot. Marah. Jika sudah demikian biasanya aku terdiam membiarkan suasana mengalir sekehendaknya. Bukan masa bodoh, tetapi mengelus dada dalam hati.

Begitulah komentar-komentar mereka yang kebelet antre menunggu Pak Bento selesai buang hajat. Yah … pokoknya bermacam-macamlah suara yang kudengar. Meskipun begitu, Pak Bento tak bergeming sedikitpun.

Awalnya aku tak peduli dengan urusan Pak Bento tersebut. Mau buang air besar di mana saja ia aku tak banyak memperhatikan. Bagiku yang penting Pak Bento memberiku pekerjaan, dan aku bisa makan ditambah sedikit rokok gratis, cukuplah.

Dan memang Pak Bento sering memberiku pekerjaan. Apa saja. Mulai dari memotong rumput di halaman rumahnya yang sangat besar itu, sampai menyuruhku membelikan bakso dan makanan ringan untuk teman-teman yang sedang tugas ronda di pos ronda kampung kami.

Namun, kebiasaan Pak Bento buang air besar di WC umum tersebut lama-lama mengganggu pikiran. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh Pak Bento? Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Sakitkah Pak Bento? Dan banyak lagi pertanyaan yang tak terjawab (karena memang tak pernah terucap!).

Pernah sekali waktu aku punya kesempatan bertanya pada Pak Bento. Dan ia menjawab. Menurutku jawaban dia itu jujur. “Ada dua alasan, Dik. Pertama menjaga kesan!” jawabnya waktu itu. Ya … kesan merakyat sudah terlanjur melekat. Dia satu-satunya dan hanya satu-satunya anggota DPR yang bersedia buang hajat di tengah masyarakat. Dan sebagian besar masyarakat bahagia dengan perilaku anehnya tersebut.

“Kedua … menjaga kesegaran serta kejernihan berfikir, yaaa … semacam kontemplasilah,” lanjut Pak Bento menjelaskan.

Semakin heran, tepatnya bingung ketika aku mencoba memahami jawaban Pak Bento yang kedua ini. Seorang tokoh segala tokoh dan orang paling terhormat di tengah masyarakat. Anggota DPR. Berkontemplasi di tempat yang kotor. Bahkan paling kotor. WC umum.

Rupanya begitulah. Pak Bento, anggota DPR kita, melahirkan gagasan-gagasan dan ide cemerlang sebagai solusi permasalahan negara dari WC umum. Tepatnya ketika “ngeden” mengeluarkan tahi dari anusnya. Bukan di hotel berbintang. Gagasan dan ide-ide tersebut keluar dari otaknya bersama-sama tahi dan kepulan asap rokok yang menyatu dengan gas amonia yang menciptakan aroma WC umum yang khas.

Setiap tahi keluar dari anus dan jatuh ke lubang WC, setiap itu pula lahir ide dan gagasan dari kepala Pak Bento. Setiap kepulan asap yang bercampur aroma WC yang diiisap dan memenuhi rongga paru-parunya mampu mencungkil angan-angan dari tempat tersembunyi dalam benaknya. Kemudian disuarakannya ke seluruh pelosok negeri. Didebatkannya bersama anggota-anggota DPR yang lain sampai menang.

Meskipun ide dan angan-angan Pak Bento selalu menimbulkan perdebatan sengit dan serius, tapi pada akhirnya Pak Bentolah pemenangnya. Seluruh idenya menjadi undang-undang. Setiap angannya menjadi peraturan. Tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikannya.

Win-win solution!” katanya.

Dan semua pihak yang bermasalah itu pun puas dengan solusinya tersebut.

Curah pikiran bagi kebanyakan orang membuat pusing kepala. Bagi Pak Bento, curah pikiran bagaikan kegiatan buang air besar. Perdebatan yang sengit dalam gedung DPR baginya hanya kentut yang biasa mendahului tahi keluar dari perut.

Aku menjadi maklum melihat Pak Bento berlama-lama di WC umum kampung kami. Suatu kegiatan yang kebanyakan orang tidak suka melakukannya. Apalagi orang itu sedang kebelet menunggu giliran. Atau sedang terserang diare.

Adalah Pak Walikota kami menjadi orang yang paling tanggap dan merespons perilaku Pak Bento. Melihat kebiasaan salah seorang anggota DPR yang paling berpengaruh itu, maka segera dibuatnya rancangan peraturan daerah kota bersih dan langsung disetujui oleh seluruh anggota DPRD kota kami. Meskipun anggaran untuk itu sangat besar. Miliaran rupiah. Tak satupun yang oposisi menentang program unggulan Pak Walikota.

Maka dimulailah pembangunan WC umum yang luks, mewah, dan selalu bersih. Semua WC umum yang lama dihancurkan dan diganti dengan WC umum yang benar-benar mewah dan selalu bersih. Tak ada bau sedikitpun, karena setiap lubang WC yang baru habis dipakai selalu disemprot dengan ultra cleaner impor yang mahal.

Dulu hanya ada satu penjaga di tiap WC umum. Kini, dengan dukungan dana APBD yang besar sebanyak sepuluh orang dipekerjakan di tiap WC umum yang baru dibangun. Program dibuat sekaligus menanggulangi pengangguran. Semua orang mendukung. Semua orang berkomentar. Hanya satu yang tidak memberi komentar. Dan itu adalah Pak Bento.

WC-WC umum di kota kami selesai diperbarui. Tibalah saat peresmian penggunaan WC-WC baru tersebut. Dibuatlah acara peresmian yang mewah, mengimbangi mewahnya WC-WC baru, menggantikan yang lama.

Pak Bento pun hadir sebagai undangan VVIP. Banyak orang diundang, terutama tokoh-tokoh yang berpengaruh. Tujuannya jelas, memperkukuh program yang telah dibuat dan dilaksanakan dengan sukses itu.

Seperti acara seremonial yang lain, pada acara peresmian penggunaan WC umum yang mewah itu pun banyak yang didaulat untuk memberi sambutan-sambutan. Pak Bento pun demikian.

Tidak seperti biasanya yang dalam setiap acara sambutan Pak Bento selalu bersemangat dan berapi-api, kali ini ia kelihatan loyo, pucat, kurang semangat. Sambutannya pendek dan dangkal. Tampak betul ia terburu-buru. Lalu, begitu turun dari podium napasnya memburu, dan … kemudian pingsan.
Seluruh panitia dan undangan geger. Pak Walikota kebingungan. Dengan sigap panitia penyelenggara acara peresmian tersebut membawa Pak Bento ke rumah sakit umum.

Di rumah sakit, Pak Bento segera mendapat perawatan. Ia ditempatkan di bangsal untuk orang penting. Tubuhnya diperiksa dengan teliti. Seluruh bagian tubuh mendapat pemeriksaan para dokter. Dan itulah … semua dokter tersebut tidak menemukan gejala penyakit yang jelas. Semua remang-remang sehingga para dokter menyimpulkan bahwa Pak Bento tidaklah sakit. Hanya capai perlu istirahat.

Dan itulah yang diketahui oleh orang banyak. Padahal peristiwa pingsannya Pak Bento setelah memberi sambutan merupakan puncak penderitaan Pak Bento selama sebulan terakhir ini. Tak ada yang mengetahui hal ini, kecuali aku sebagai penulis cerita ini tentunya. Keluarganya pun tidak tahu.
Seperti biasanya bila masa reses sedang berlangsung, Pak Bento mengunjungi kota kami. Sebulan yang lalu sewaktu mengunjungi kota kami, ia mencari WC untuk buang hajat. Mula-mula dikunjunginya WC umum di kampung kami, kampung yang juga menjadi tempat tinggal Pak Bento.

Alangkah kaget Pak Bento melihat WC umum kampung kami telah berubah. Bangunannya mewah dengan lantai keramik dua puluh ruang. Padahal dulu hanya lima ruang. Dengan penjaga sepuluh orang serta dibekali peralatan modern dan canggih bertugas membersihkan WC umum kami. Tak ketinggalan para penjaga tersebut disuplai dengan bahan-bahan pembersih yang super canggih. Jadilah WC umum kami bebas bau busuk. Hasil karya Pak Walikota yang ambisius.

Dalam pikiran Pak Walikota, WC umum yang sering dikunjungi oleh anggota DPR merupakan aset politik yang mempunyai pengaruh besar. Harapannya tentu, selain adipura juga gelontoran dana dari pemerintah pusat yang bisa mendukung rencana-rencana program daerah. Apalagi masa reformasi adalah masa otonomi daerah. Kepala-kepala daerahlah yang menjadi raja-raja kecil. Meskipun ketika sudah selesai masa jabatan banyak yang masuk penjara. Korupsi, katanya. Dan itu dilakukan beramai-ramai. Di negeri ini tidak saja salat, melainkan korupsi pun berjamaah. Hanya bedanya tak ada yang berani mengakui sebagai imam.

Karena tak mendapat tempat dan suasana yang kondusif, maka Pak Bento segera berpindah ke WC umum tetangga kampung kami. Ternyata di sana pun WC umum sudah berubah. Tak dijumpainya bau khas dan suasana lama pada WC yang baru. Lalu mulailah pengembaraan Pak Bento dari WC yang satu ke WC yang lain di kota kami. Dan tak lagi ditemui WC lama. Semua baru, mewah, tak berbau. Keberhasilan Pak Walikota yang seorang magister manajemen dengan berjuta trik sulap kapitalistik.

Pak Walikota bangga hasil karyanya dikunjungi Pak Bento, anggota DPR yang merakyat dan paling berpengaruh. Ia menyangka Pak Bento sedang melakukan inspeksi untuk membuktikan program Pak Walikota berjalan dengan baik. Dalam benaknya ia sangat yakin kalau nanti adipura akan diraihnya secara mudah. Tidak perlu lagi menyuap tim penilai atau asesor yang datang. Cukup dengan pengaruh Pak Bento. Maka disuruhnya kabag humas kota untuk menguntit ke WC mana saja Pak Bento kunjungi dan mengambil gambar dan video sebagai bukti fisik keberhasilan program kota bersih.

Banyak anggota DPRD dari kabupaten dan kota lain di negeri ini yang berkunjung ke kota kami. Studi banding katanya. Pulang dari studi banding mereka membuat program meniru program Pak Walikota kami. Maka jadilah seluruh kabupaten dan kota di negeri ini dibangun WC-WC umum yang mewah, bersih dengan penjaga kebersihannya yang dibekali peralatan kebersihan yang canggih serta digaji dari dana APBD kabupaten dan kota-kota tersebut.

Sementara derita dan masalah semakin banyak dialami Pak Bento. Semakin hari perutnya bertambah buncit dan besar. Seiring dengan itu tak lagi keluar ide dan gagasan cemerlang dari otaknya. Semua tersumbat akibat tak ada lagi tempat kondusif untuk berkontemplasi.

Teman dan relasi menyarankan agar Pak Bento berobat ke luar negeri dengan biaya negara. Ia tidak mau. Selain rasa nasionalisme sebagai alasan, ia juga tidak merasa sakit. Kecuali satu … tidak bisa beol. Tinja dalam ususnya tidak mau keluar. Tidak perlu berobat. Nanti sembuh sendiri, begitu pikirnya optimis.

Pak Bento bingung. Keluarga Pak Bento bingung. Dokter-dokter pribadi dan spesialis bingung. Pak Walikota kota kami bingung. Teman dan relasi bingung. Semuanya pada kebingungan. Aku yang tak tahu apa-apa pun menjadi bingung. Kok bisa ya ….

Setelah beberapa waktu sekarang kita lihat Pak Bento sekarat. Bukan oleh penyakit ganas, melainkan karena seluruh ide dan gagasan dalam otaknya mampet. Tak bisa keluar. Sebagaimana mampetnya tahi dalam perut Pak Bento. Semua jenis obat pencahar telah dilolohkan ke mulut Pak Bento, tapi tahi di perutnya tak juga mau keluar.

Seluruh lapisan masyarakat berkabung. Pak Walikota kami bersedih. Lebih sedih dibanding dengan keluarga Pak Bento. Tak lagi didapatnya ide dan gagasan cemerlang sebagai solusi masalah-masalah di tengah masyarakat. Dan akhirnya banyak masalah tak terselesaikan. Berkas-berkasnya bertumpuk di gudang kejaksaan menunggu P21. Sakitnya Pak Bento ternyata berbuntut panjang pada stabilitas pembangunan kampung, kota kami, bahkan belakangan juga merambah ke seluruh pelosok negeri ini. Orang-orang yang selama ini mencari keuntungan melalui proyek-proyek gagasan Pak Bento ketar-ketir menunggu giliran disidik dan dijadikan tersangka korupsi. Apalagi para mantan pejabat yang sudah tidak menjabat lagi .

“Aduh … bagaimana ini?!” keluh Pak Walikota bingung. Pak Menteri Dalam Negeri telah meneleponnya berulang-ulang memerintahkannya untuk menyelesaikan semua proyek-proyek yang bermasalah. Kini semua bawahan Pak Walikota dan rekanan proyek-proyeknya tak ada yang mendekat, semua menjauh mencari keselamatan diri masing-masing. Sangat jauh berbeda ketika Pak Bento masih sehat. Hampir semua pegawai dan rekanan berusaha mencari muka, mendekat-dekat dengan Pak Walikota agar diperciki proyek gagasan Pak Bento. Biasa, di negeri ini banyak benalu atau tikus yang hidupnya tidak hanya menumpang tapi juga menggerogoti .

Pada akhirnya sebagai manusia biasa, Pak Bento pun meninggal juga. Membawa rahasia yang disimpannya sampai mati. Tak seorangpun tahu. Tak juga keluarganya. Anda pun tak perlu tahu. Selain Tuhan yang Maha Tahu, tentu saja aku sebagai penulis cerita ini dan para pembaca cerita ini yang tahu.

Bumi Mekar Jaya, 26 Juli 2016

Biodata Penulis
Huriyah Kunol
, lahir 26 oktober 2001 di Penarik, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu. Hobi menulis sejak SMP. Pernah menjadi juara harapan pada lomba menulis cerpen lingkungan hidup Nasional Green Pen Award dan juara 3 lomba menulis esai seni rupa yang diselenggarakan Kemdikbud.

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *