Baca Karya FiksiCerpen

Cerpen – Gadis yang Mengecup Matahari – Josepha Riella

Gadis yang Mengecup Matahari
karya Josepha Riella

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Di tanah ini, matahari adalah sesuatu yang langka. Meskipun ada tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun, tidak banyak penduduknya yang sering menjumpai matahari. Paling-paling hanya dua atau tiga hari saja dalam sebulan. Sisanya tertutupi oleh kegelapan yang membekukan.

Banyak cerita yang beredar mengenai asal-muasal matahari seakan enggan bersinar di sini. Padahal kalau melihat lokasi kami di peta, kami justru tidak seharusnya memiliki kebekuan ini. Ada yang bilang tanah ini dikutuk karena manusia-manusianya adalah pendosa berat. Mungkin para pendosa itu adalah nenek moyang kami, di tempat-tempat lain di tanah ini. Sebab, warga di kota kecil ini semuanya penuh belas kasih. Tak terbayangkan Dosa tinggal di antara mereka. Ada juga yang bilang musim memang sudah menjadi gila sekarang. Di mana seharusnya ada matahari, justru es yang muncul. Dan di mana seharusnya ada es, padang rumput hijau yang makmur bertebaran.

Dari semua teori, pendapat, hingga cerita rakyat mengenai matahari kami, ada satu yang bisa kupastikan kebenarannya.

Pasien pertamaku di sini, seorang laki-laki tua, suka bercerita tentang seorang gadis yang dicintai matahari. Katanya, matahari yang tiap harinya menyinari bumi beserta seluruh isinya termasuk manusia, jatuh cinta pada seorang gadis. Gadis itu sangat cantik, dengan rambut, mata, dan kulit sehitam malam; seanggun warna senja; sewangi sedap malam; sehangat pelukan ibu; selembut semilir angin; dan seindah langit cerah penuh bintang. Sayangnya, gadis itu tidak sering menampakkan diri di siang sari saat matahari berada di puncak kekuasaannya. Gadis itu lebih sering muncul saat matahari hampir terbenam, ketika lembayung di kaki langit perlahan membiru.

Sekian lama matahari harus cukup puas dengan hanya sekejap memandang si gadis. Namun cinta yang lama dipendam itu telah tumbuh terlalu besar, menyesakkan hingga mengimpit cahaya matahari. Tak tahan karena tak mampu memandang pujaannya lebih lama, matahari mencari cara agar gadisnya itu bisa lebih sering menampakkan diri.

“Dan itulah mengapa kita jarang melihat matahari,” kata Pak Tua. “Karena dia mengorbankan sinarnya agar pujaan hatinya itu bisa muncul lebih lama.”

Aku menarik termometer dari lipatan ketiaknya, memeriksa angkanya, lalu mengangguk tenang. “Sudah tidak demam. Semua obatnya sudah diminum, kan? Tiga kali sehari—”

“—sesudah makan,” Pak Tua menyelesaikan kalimatku. “Saya ingat, Dokter. Saya belum pikun.” Dia tertawa lebar sehabis mengatakan itu, menunjukkan gusi merah jambu dengan sisa-sisa gigi di sana-sini.

Aku tersenyum sopan, selalu tidak tahu reaksi seperti apa yang pantas kuberikan dalam situasi seperti itu.

Pak Tua sambil mengancingkan kemeja lusuhnya memperhatikan aku memasukkan peralatanku ke dalam tas. “Dokter ini orang baik,” celetuknya, membuatku mengangkat kepala dengan heran. Aku tidak menduga akan mendengarnya mengatakan itu padaku. “Sudah berapa lama Dokter bertugas di sini? Hampir setahun? Dokter-dokter lain selalu pergi setelah satu bulan. Tidak ada yang mau bertahan di sini sampai selama Dokter.”

“Ah, iya,” gumamku gugup. Entah kenapa kata-katanya yang bernada polos itu menusuk nuraniku.

“Tapi saya senang Dokter ada di sini,” katanya lagi, nyengir ompong. “Tempat ini membutuhkan dokter sebaik Dokter.”

Aku pergi meninggalkan rumah Pak Tua dengan hati tak tenang. Apakah seperti itu juga warga lain menilaiku? Seorang dokter berhati baik, datang jauh-jauh dari ibukota, bergelar panjang-panjang dari negeri seberang, untuk bertahan di tempat ini selama berbulan-bulan. Apakah benar orang-orang penuh welas asih di sini senaif itu? Apakah mereka benar-benar menganggapku sesuci itu?

Aku tiba di klinik kecil di tengah kota. Sudah ada beberapa pasien yang mengantre di ruang tunggu. Aku mempersilakan yang pertama masuk, istri wali kota yang sudah setengah tua dan kelebihan berat badan. Dia masuk sambil membawa wangi tajam parfum yang membuat otot wajahku berkedut mencium baunya.

“Dokter dari mana saja?” tanyanya manja, memanis-maniskan suaranya yang sumbang di telinga.

“Sudah satu jam saya menunggu.”

Aku membuka buku jurnal yang berisi catatan kesehatannya. “Maaf, saya tadi mengunjungi pasien. Apa keluhannya, Bu?”

“Hmm,” Nyonya Gembrot mengangguk-angguk tanpa menjawab pertanyaanku. Diam sebentar, kemudian dia bertanya lagi dengan raut bersemangat. “Siapa pasiennya, Dok? Kenapa saya tidak pernah dikunjungi di rumah?”

Aku menghela napas. “Ibu, apa keluhannya?” ulangku.

Wanita itu cemberut lalu melipat kedua tangannya. “Apa Dokter baru saja dari rumah orang tua itu? Apa dia menceritakan dongengnya yang membosankan itu lagi? Keterlaluan.”

Aku mengangkat muka. Dia juga tahu?

“Oh, tentu saya tahu. Itu legenda setempat,” kata Nyonya Gembrot, seakan mampu membaca isi kepalaku, sambil mengibaskan tangan. “Semua tahu ceritanya, tapi hanya orang tua sinting itu yang selalu menceritakannya pada siapa pun yang mau mendengarkan.”

“Begitu?” aku menggumam tanpa sadar.

“Dia juga bercerita tentang pertemuannya dengan gadis itu, bukan?”

Jantungku berdegup dua kali lebih kencang mendengar itu. “Apa?” suaraku keluar dalam bisikan tertahan.

Mata Nyonya Gembrot melebar melihat reaksiku. Duduknya langsung gelisah. “Ah, laki-laki pikun itu. Lupakan saja, lupakan saja,” katanya tertawa resah.

Kutarik tangan gemuknya yang berada di atas meja ke dalam tangkupan kedua tanganku. Itu berhasil membuat cuping hidungnya kembang kempis kesenangan. Bergantian dia memandang tangannya dan mataku.

“Saya akan senang sekali jika Anda bisa menceritakan lebih banyak tentang hal itu,” rayuku lembut.
Si Nyonya masih kelihatan tak yakin, namun wajahnya memerah hampir seketika saat ibu jariku membentuk lingkaran-lingkaran kecil di punggung tangannya, dan pertahanan kecilnya jatuh berhamburan:

“Di dalam hutan,” bisik Nyonya Gembrot perlahan. “Di samping danau saat matahari terbenam.”

Aku menutup klinik lima belas menit lebih cepat dari biasanya lalu menuju ke hutan. Bukannya aku percaya apa yang dikatakan Pak Tua dan Nyonya Gembrot itu begitu saja. Hanya saja aku memang kebetulan tahu ada sebuah danau kecil di dalam hutan. Letaknya agak susah ditemukan untuk orang yang belum pernah memasuki area itu, tapi tidak bagiku yang selalu menjelajah tiap kali aku punya waktu luang. Menyusuri hutan, mencari-cari tanaman obat sebagai alternatif obat yang terlalu mahal, atau sekadar merendam kaki yang penat di danau berair sejuk.

Tapi aku belum pernah memasuki hutan di malam hari. Matahari sudah terbenam berjam-jam yang lalu, dan senter kecil yang kubawa dari klinik hanya memberikan pendar oranye samar. Akibatnya, seperti yang kutakutkan, aku tersesat. Suara binatang malam yang biasanya mengantarku tidur sekali itu membuatku ketakutan setengah mati.

Angin berembus sedikit terlalu kencang. Membuatku terperanjat hampir tiap dua menit sekali. Setelah satu jam yang melelahkan, aku memutuskan untuk kembali. Konyol sekali malam-malam berkeliaran sendirian ke hutan tanpa memberi tahu siapa pun. Saat aku menyusuri kembali jalan yang sudah kutempuh, bunyi gemeresik semak-semak yang diusik membuatku menoleh secepat kilat. Namun, ternyata aku tidak cukup cepat untuk menghindar dari suatu makhluk besar berbulu yang membantingku ke tanah. Rasa sakit yang hebat menusuk kepalaku, dan suara teriakanku adalah hal terakhir yang kudengar sebelum kegelapan sangat pekat menarikku ke dalamnya.

Saat aku membuka mata—entah berapa lama aku tak sadarkan diri, telingaku menangkap bunyi gemercik air yang tak asing. Sesaat pandanganku masih kabur dan pelipis kananku berdenyut. Sambil mengerang pelan aku memaksa tubuhku bergerak sampai aku cukup dapat dibilang duduk. Dan persis di samping danau, berdirilah sosok paling indah yang pernah kulihat.

Gadis itu jauh lebih cantik dari yang diceritakan Pak Tua padaku. Gadis itu jauh lebih memesona dari kecantikan itu sendiri. Kulit hitamnya memantulkan cahaya bulan, tampak lembut bersinar seperti cahaya kunang-kunang. Rambutnya yang hitam panjang lembut bergerak ditiup angin sepoi. Saat dia menoleh, matanya … dua kristal hitam mengilat yang penuh dengan kehidupan, membiusku sedemikian rupa sampai aku tak ingat bagaimana cara bernapas.

Udara di sekitarku seperti meneriakkan kepadaku agar jangan membuat suatu gerakan tiba-tiba yang kiranya menakuti gadis itu. Layaknya seorang pendaki yang bertemu dengan rusa paling indah yang pernah dilihatnya di dalam hutan, tidak sepantasnya dia mengagetkan binatang itu agar si rusa tidak lari. Ada suara dalam kepalaku yang memperingatkanku bahwa gadis di hadapanku itu … bukan manusia.

Aku mengerjap mengusir pikiran itu. Tapi kecantikannya yang unik dan memikat memang akan terlihat salah tempat jika bukan pada dirinya. Gadis itu menatap lurus-lurus ke arahku, mengundangku masuk ke dalam pesonanya yang tak tertandingi, membuatku berdiri pada kedua kakiku lalu perlahan mendekatinya. Senyumnya mengembang tanpa henti, terus begitu sampai ketika aku berada cukup dekat untuk menghirup wangi sedap malam dari tubuhnya.

“Bagaimana kepalamu?” tanyanya, dan sekujur tubuhku seperti dialiri aliran listrik kecil yang menyenangkan. Suaranya lembut, dalam, dan basah. Jaket tebal yang kukenakan tidak membantu tubuhku yang mendadak menggigil tanpa sebab.

“Sudah tidak apa-apa,” jawabku kaku. Aku membersihkan tenggorokan, “Apa … apa yang menyerangku tadi?”

“Sesuatu yang tidak seharusnya menyerangmu,” katanya muram.

“Oh,” gumamku lirih, tiba-tiba merasa asing dengan hutan yang biasa kujelajahi.

Kami berdiri diam memandangi air danau untuk beberapa waktu. Keheningan itu mendamaikan, membuat kepalaku terasa sangat jernih, seakan aku sudah menemukan jalan keluar dari semua masalahku. Gadis itu terus saja tersenyum ke arah air, dan aku terlalu takut untuk meliriknya terlalu lama.

“Ah, lihat itu,” katanya memecah keheningan. Aku buru-buru menoleh, melihat tangannya yang menunjuk semburat jingga di ufuk timur di atas pucuk pepohonan, tanda matahari telah terbit. “Indah, bukan?”

Aku menelan ludah. Matahari ketiga dan terakhir di bulan ini. Belum pernah aku melihat matahari terbit seindah itu. Membuatku mengkaji ulang ingatan pemandangan matahari terbit dari puncak-puncak gunung yang dulu biasa kulihat. Tidak ada yang bisa mengalahkan keindahan seperti yang kulihat di samping danau itu.

“Kemarilah,” panggilnya, menyuruhku mendekat. “Di sini lebih hangat.”

Aku menurutinya, dan benar saja. Berada persis di samping gadis itu, kehangatan menjalari seluruh tubuhku yang dingin. Kami berdiri diam sambil memperhatikan matahari yang makin lama makin naik; memperhatikan larik-larik cahayanya yang perlahan mendekati kaki kami. Segaris cahaya keemasan kemudian jatuh menyentuh kulit lengan si gadis yang telanjang. Dia tersenyum lebar, dan meskipun sepertinya mustahil, dia mengulurkan satu tangannya untuk membelai matahari. Menggunakan punggung tangannya, dia mengelus permukaan matahari yang malu-malu muncul dari balik rimbun pepohonan.

“Selamat pagi,” bisiknya penuh cinta pada sang surya. Tanpa sadar aku mundur, merasa lancang telah mengganggu ritual pagi mereka, seperti mendapati kedua orang tuamu tengah berciuman. Lalu seperti mendengar isi hatiku, gadis itu mendekatkan bibirnya ke matahari dan mengecupnya lembut. Aku terpana melihat itu.

“Jadi benar kau … kau …” aku tak mampu menyelesaikan kalimatku.

“Kau sudah mendengar tentangku, rupanya,” katanya tenang, tersenyum.

Aku mengangguk-angguk seperti anak kecil. Gadis itu tampak senang melihat itu, kemudian kembali memandang matahari.

“Apakah kau menyukai tanah ini?” tanyanya tanpa memandangku.

“Suka.”

“Kau yakin?”

Aku memandang profil samping wajahnya. Apa dia tahu?

“Cinta itu sesuatu yang agung, tapi aku kadang tak habis pikir mengapa tanah ini tak bisa mendapat lebih banyak sinar matahari,” katanya, wajahnya kembali muram. “Engkau pun,” dia memutar kepalanya ke arahku, “juga tak seharusnya mengorbankan cintamu secepat itu.”

Aku tertegun.

“Kembalilah,” katanya lembut, tersenyum sedih. “Jangan melarikan diri lagi.”

*

“Dan itulah mengapa kita jarang melihat matahari,” kata Pak Tua. “Karena dia mengorbankan sinarnya agar pujaan hatinya itu bisa muncul lebih lama.”

Aku tersenyum sopan sembari mengangguk-angguk. Pak Tua sepertinya lupa dia sudah menceritakannya padaku untuk yang kesekian puluh kalinya. Hanya saja, kali ini aku mendengarkannya dengan lebih serius, tidak sekedar menganggapnya sebagai ocehan orang pikun. Bidan yang sekaligus merangkap sebagai perawat masuk. “Jemputannya sudah siap, Dokter,” katanya.

Aku mengangguk kepadanya lalu bangkit sambil merapikan meja. Pak Tua memandangku dengan mulut terbuka. “Mau ke mana, Dok? Masih sore sudah tutup klinik?”

Ditanya begitu, aku menghentikan kegiatanku lalu memandang wajah tua di hadapanku. Ada suatu perasaan baru yang membasuh dadaku sebelum aku menjawab, membuatku bisa tersenyum kecil. “Saya harus kembali ke kota saya. Ada orang yang harus saya temui.”

Mobil tua yang membawaku ke stasiun di kota sebelah berguncang-guncang ketika melindas kerikil di jalan yang tak rata. Sopirnya, seorang anak muda yang juga merupakan pasienku, merokok sambil diam. Perjalanan yang cukup lama itu memberiku cukup waktu untuk berbincang dengan diriku sendiri. Apakah aku ingin kembali? Masih ada waktu untuk membatalkan ini semua. Apakah aku ingin bertemu dengannya lagi? Masih ada kesempatan untuk putar balik dan melupakan semua ini.

“Mataharinya terbenam, Dok,” kata sopirku, membuyarkan lamunanku. Aku memandang keluar jendela, melihat deretan pepohonan di ujung hutan yang menyembunyikan matahari. Langit yang semula berwarna jingga kemerahan memudar menjadi ungu kebiruan.

Aku tertawa kecil melihat itu. Aku bisa merasakan tatapan dua kristal hitam dari balik dedaunan. “Iya,” kataku, menghela napas, teringat apa yang dikatakan gadis itu saat matahari terbit, teringat apa yang kutinggalkan di tempat kelahiranku. “Indah, bukan?”

Anak muda itu tidak menjawab, mungkin tidak pernah berpikir bahwa kehilangan cahaya matahari merupakan hal yang indah. Tapi, bukan dia yang baru saja melihat sang surya bercumbu dengan dewi malam.

Kami berhenti di stasiun, dia membawakan tasku turun, dan setelah kuberi selembar puluhan ribu, dia mengangguk lalu menghilang. Dengan hati serta langkah yang berat, aku mendekati peron, tepat ketika kereta yang akan membawaku pulang tiba. Ratusan wajah turun menembus kepulan asap dan kebisingan langkah kaki. Aku sudah bersiap naik ketika tahu-tahu saja mataku menangkap kelebat sosok yang sangat kukenal, berjalan tertatih-tatih sembari menyeret sebuah koper besar bersamanya. Dapat kurasakan mataku membelalak, dan pada akhirnya dia mendongak, memandangku dengan dua bola gelap yang tak mungkin kulupakan. Ekspresi kaget memenuhi wajahnya, mulutnya menggantung terbuka, lantas seperti di film-film, air mata merebak di sudut-sudut matanya.

Termangu aku menatapnya. Angin berembus lembut, membawakan wangi sedap malam yang serasa seperti berasal dari mimpi.

Aku telah kembali, dan kali ini, aku tidak akan lari lagi.

Biodata Penulis
Josepha Riella lahir dan besar di Surabaya. Berkelana di negeri seberang selama hampir lima tahun tidak membuatnya melupakan tanah air, bahkan pada waktu itu dia berkeinginan untuk menulis cerita-cerita menginspirasi yang mampu meningkatkan daya baca masyarakat. Menyukai tulisan dengan tema yang lebih “kelam”, seluruh hasil karyanya biasanya berhubungan dengan dunia fantasi atau kegalauan. Sekarang bekerja sebagai agen pendidikan. Josepha Riella berharap tulisan-tulisannya bisa menghibur dan meninggalkan kesan yang cukup mendalam.

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *