Baca Karya FiksiCerpen

Cerpen – Ada Cinta di Balik Indahnya Misool – Robinson Doloksaribu

Ada Cinta di Balik Indahnya Misool
karya Robinson Doloksaribu

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Malam itu, Kamis, 11 Juli 2019, dengan penerangan lampu jalan yang tidak seperti biasanya, kulangkahkan kakiku seraya menyusuri gang rumahku menuju persimpangan jalan. Dengan satu koper di tangan kiriku dan tas ransel di pundakku, aku yakin semua perlengkapanku untuk menikmati liburan ke Misool, Raja Ampat, kali ini sudahlah lengkap. Malam itu terasa sunyi sekali, tak tampak orang berlalu lalang di sepanjang gang itu, tapi hal itu tidak mengurangi semangatku untuk menyambut liburan kali ini. Sesampainya di ujung gang, kuambil telepon genggamku untuk memesan transportasi online yang tak seberapa lama segera datang menghampiriku.

“Dengan Pak Robin tujuan terminal 2F bandara ya, Pak?” tanya pengemudi online itu.

“Iya, Pak,” sahutku.

Pengemudi itu pun segera turun dari mobilnya dan menghampiriku, lalu dia memasukkan koperku ke bagasi belakang dan mempersilakanku naik.

Mobil pun melaju kencang menuju bandara Soekarno Hatta sambil diiringi alunan musik yang setia menemani perjalanan kami. Sesekali ada obrolan ringan di antara kami yang membuat perjalanan kami tidaklah membosankan.

“Tinggal di mana, Pak?” tanyaku.

“Di Cipayung, Pak,” sahut pengemudi itu.

“Bagaimana hari ini, Pak, ramai orderan kah, Pak?” tanyaku lagi.

“Alhamdulillah, Pak, lumayan, sudah 18 orderan sejak jam 9 pagi tadi. Mudah-mudahan bisa dapat 2 orderan lagi agar dapat bonus karena bisa mencapai target 20 order dalam sehari,” jawab pengemudi itu.

“Mudah-mudahan bisa ya, Pak,” timpalku lagi menanggapi keinginan pengemudi itu.

Sang pengemudi pun terus mengemudikan kendaraannya. Perjalanan tidak terlalu macet malam ini, hingga tak terasa, akhirnya sampai juga di bandara. Setelah membayar biaya perjalanan kepada pengemudi itu, aku pun bergegas turun sambil membawa koper dan tas ranselku menuju loket check-in pesawat.

Setelah tiket ada di genggaman dan koper sudah masuk conveyor menuju bagasi pesawat, aku bergegas mengikuti petunjuk arah menuju gate 27 sesuai arahan dari petugas maskapai pesawat. Seluruh keinginanku untuk menikmati liburan kali ini tercurah pada langkah kakiku yang begitu bersemangat melewati gate demi gate sampai pada akhirnya tibalah aku di gate 27. Kucari tempat duduk yang nyaman sambil menunggu panggilan untuk memasuki pesawat. Tak lama berselang, panggilan itu pun terdengar, segeralah aku menuju antrean untuk masuk ke dalam pesawat. Tak sabar rasanya ingin segera menikmati liburan kali ini.

Sesampainya di pintu pesawat, kalimat lembut dari seorang pramugari menyapaku “Selamat malam, Pak. Selamat menikmati penerbangan ke Sorong bersama kami.” Teduh sekali rasanya menerima sapaan pramugari yang ramah seperti itu, spontan aku menjawabnya “Selamat malam, Bu. Terima kasih ya,” dan aku pun menyusuri jalan masuk sambil melihat ke kanan dan ke kiri untuk mencari tempat dudukku.

Setelah kutemukan tempat dudukku, segeralah kumasukkan tas ranselku ke bagasi kabin di atas tempat dudukku. Kemudian aku duduk dan kuikuti seluruh petunjuk keselamatan dari pramugari, lalu kupasang musik pengantar tidur dari monitor yang ada di depanku dan kusambungkan ke headset yang kupasang di kepalaku hingga aku tertidur. Sesekali aku terbangun karena adanya goncangan kecil yang disebabkan karena adanya gumpalan awan yang coba dilalui oleh pesawat kami. Kulihat sekelilingku, mayoritas penumpang menikmati perjalanan di tengah malam ini dengan beristirahat, aku pun mencoba melihat ke arah jendela, namun hanya gelap gulita yang kujumpai dan aku pun berusaha untuk melanjutkan tidurku lagi.

Dari balik jendela, sorot sinar sang Surya seperti ingin membangunkanku. Kulihat jam di tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 06.10. Tak seberapa lama, kudengarlah pemberitahuan bahwa pesawat akan segera mendarat di bandar udara Domine Eduard Osok, Sorong, Papua yang biasa disebut bandara Deo, Sorong. Betapa senangnya hatiku menyambut pendaratanku ini. Kutegakkan sandaran kursiku dan kurapikan headset yang kupakai selama penerbangan, lalu kusimpan di laci kursi di depanku. Seperti biasa, doa kupanjatkan menjelang pendaratan karena percaya segala sesuatu bisa terjadi atas kehendak dan restu Tuhan Yang Maha Kuasa.

Akhirnya pendaratan pun berjalan dengan baik dan kami semua selamat sampai di bandara Deo, Sorong sesuai dengan jadwal tiba yaitu di hari Jumat, 12 Juli 2019, pukul 06.30. Sambil menunggu antrean turun dari pesawat, aku mengambil tas ransel dari atas kabin dan dengan penuh syukur akhirnya aku turun dari pesawat. Aku merasakan betapa Tuhan menyertai perjalanan panjangku, semua karena cinta-Nya kepadaku.

Setelah mengambil bagasi koper, aku mencoba menghubungi tour guide lokal yang sudah kuhubungi sebelumnya hingga akhirnya aku bisa bertemu dengannya dan teman-teman lain dalam rombongan trip Misool ini. Beberapa teman sudah ada di Sorong sejak kemarin, namun ada juga yang masih ditunggu hingga Sabtu pagi karena informasi terbaru yang kami terima, tidak ada kapal penyeberangan dari pelabuhan rakyat Sorong ke Misool yang berangkat di hari Jumat. Hanya ada di hari Selasa, Kamis, dan Sabtu pukul 12.00 waktu Papua. Akhirnya kami sepakati untuk berangkat di Sabtu siang dan kami yang sudah tiba di Sorong sejak hari Jumat, mencoba untuk mengeksplorasi tempat wisata di Sorong.

Tujuan yang kami pilih adalah Pantai Tanjung Kasuari, Sorong. Lokasi pantai ini kira-kira sejauh 10 km dari kota Sorong. Dengan menyewa angkutan kota (angkot) Sorong, kami pun berangkat menuju pantai tanjung Kasuari. Sekitar 30 menit perjalanan yang kami tempuh dan akhirnya kami pun sampai di pantai tersebut.

Pemandangan yang ditawarkan sangatlah indah, pasirnya putih, air yang jernih, ombaknya yang tenang dan cuacanya pun tidak terlalu terik karena beberapa menit sebelumnya gerimis menyirami daerah di sepanjang pantai. Beberapa pohon besar nan rindang pun rapi berbaris seakan memagari pesisir pantai tersebut.

Belum juga menikmati Misool sebagai tujuan utama liburan kami kali ini, namun alam Papua seakan sudah memanjakan kami dengan panoramanya yang indah dan menakjubkan. Luar biasa karya buatan tangan-Mu Tuhan, semakin sadar aku bahwa semua ini Engkau ciptakan karena cinta-Mu kepada kami umat kepunyaan-Mu. Kami pun jatuh cinta pada pesona cantik alam Papua ini.

Tak terasa, mentari sudah hampir tenggelam, setelah beberapa kali mengambil foto di sekitar pantai, akhirnya kami bergegas pulang dan menyempatkan diri untuk makan seafood di tembok Berlin Sorong sebagai salah satu tempat kuliner terkenal di kota Sorong. Malam itu, kami sungguh disuguhi makanan seafood khas Sorong yang nikmat sekali sehingga tak sedikitpun sajian makan malam kami yang tersisa. Sangat mengesankan pengalaman malam pertama kami di kota Sorong. Setelah selesai semuanya, akhirnya kami pun pulang ke tempat penginapan kami dan akan bertemu kembali di pelabuhan rakyat Sorong esok, Sabtu pagi pukul 10.00.

Keesokan harinya kami semua berkumpul di pelabuhan rakyat Sorong dan kami pun bersiap untuk menyeberang ke Misool. Tepat di pukul 12.00, KM Marina Express yang kami gunakan, berangkat dari pelabuhan rakyat Sorong menuju ke Misool.

Aku mencoba mengitari tempat duduk di dalam kapal tersebut, namun banyak sekali tempat duduk yang kosong dan tidak terisi oleh penumpang. Ternyata memang banyak sekali yang sudah mengetahui bahwa perjalanan menuju Misool di bulan Juli sangatlah tidak direkomendasikan karena ombak yang sangat tinggi, namun hal ini tidak mengurungkan niat kami untuk terus melanjutkan perjalanan kami menggali indahnya tempat wisata di Misool.

Perjalanan ditempuh selama 4,5 jam karena saat di laut lepas, ombak memang terasa tinggi sekali dan cukup mengganggu laju kapal yang kami tumpangi. Kapal terus melaju memecah ombak sehingga sering kami merasakan deburan ombak menghempas jendela di sisi kiri dan kanan kapal ini. Awak kapal yang berulang kali memeriksa para penumpangnya, terlihat sangat tenang menghadapi hal ini dan saat aku menanyakan akan kondisi ombak yang tinggi ini apakah membahayakan atau tidak, dengan santainya beliau menanggapi “Oooh, ini biasa, Pak, memang di bulan Juni sampai November ombak sangat tinggi, Pak, tapi kami terbiasa mengarungi medan seperti ini” sahut awak kapal itu.

Cukup tenang rasanya aku mendengarkan keyakinan awak kapal tersebut, namun saat ombak tinggi menghempas jendela kapal kami ini lagi, rasa khawatirku pun timbul lagi. Akhirnya kutundukkan kepala dan kupanjatkan doa pada sang Ilahi agar Yang Maha Kuasa menyertai perjalanan kami ini. Ketenangan pun semakin kurasakan setelah memohon perlindungan-Nya, hingga tak terasa pada pukul 16.45 kami sampai juga di pelabuhan Yellu dengan selamat. Terima kasih Tuhan, penyertaan-Mu menyelamatkan kami, aku yakin semua ini juga karena cinta-Mu atas kami.

Dari pelabuhan Yellu kami menuju ke penginapan dengan menggunakan kapal nelayan yang menggunakan motor sebagai penggeraknya, sementara kapal nelayan lainnya juga kami sewa untuk membawa semua tas dan perlengkapan lainnya. Tidak butuh waktu lama untuk tiba di dermaga tempat kami menginap karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dan kami pun sampai pukul 17.20 di penginapan kami.

Dengan cuaca yang masih terang, kami pun bermain ke tanah lapang di dekat dermaga setelah kami masukkan semua barang-barang kami ke penginapan. Tak lupa kami membawa buku-buku bacaan yang sengaja kami bawa untuk kami berikan kepada anak-anak yang kami jumpai di Misool dan mereka pun antusias menerimanya dengan penuh tawa seperti yang tampak pada foto-foto di bawah ini. Senang rasanya bisa berbagi buku bacaan kepada mereka dan aku pun merasakan betapa senangnya mereka menerima buku bacaan tersebut dan menyambut keberadaan kami di kampung mereka. Hatiku seperti berucap “Kami mencintai kalian adik-adik” sambil bercanda gurau bersama dan sesekali berfoto dengan gaya alami mereka. Saat azan magrib berkumandang, kami semua bergegas kembali ke penginapan dan anak-anak pun kembali ke rumah mereka masing-masing.

Minggu pagi, 14 Juli 2019, petualangan menggali keindahan Misool kami mulai. Bermula dari perjalanan laut menuju Gua Keramat yang menurut sejarah tempat ini adalah pintu masuk penyebaran agama Islam di Misool. Pemandangan yang ditawarkan begitu eksotis. Ada danau kecil di dalam Gua yang kami nikmati untuk melepas kerinduan akan birunya laut Misool. Airnya begitu dingin dan menyegarkan. Tampak juga beberapa stalaktit yang menempel indah di langit-langit gua. Kami pun tak lupa untuk mengabadikannya, lalu melanjutkan perjalanan ke dinding bukit Telapak Tangan di mana terdapat beberapa gambar telapak tangan masa lampau di sekitar bukit tersebut.

Menjelang siang, perjalanan kami lanjutkan lagi menuju Puncak Harfat di daerah Geosite Dafalen. Saat kapal kami bersandar di dermaga Geosite Dafalen, kami pun segera turun dari kapal dan berjalan menaiki puncak Harfat dengan medan yang cukup menantang karena akses jalannya belum rapi dan mendaki. Lelah rasanya, namun semuanya terobati saat kami menapakkan kaki di puncak Harfat. Indahnya gugusan pulau-pulau yang menjadi penghias tempat wisata Misool. Tak salah jika banyak orang yang menyebut Misool sebagai surga yang tersembunyi di tanah Papua karena hal itu juga yang kami rasakan dari atas puncak Harfat. Cukup lama kami menghabiskan waktu di puncak Harfat karena pesona keindahan yang ditawarkan sungguh menakjubkan. Tak terasa matahari sudah tepat di atas kepala, akhirnya kami memutuskan untuk turun dan bersantap siang terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke destinasi kami berikutnya.

Selepas makan siang, kami pun bergegas menuju puncak Love kecil yang tidak seberapa jauh lokasinya dari puncak Harfat. Sesampainya di puncak Love kecil kami pun disuguhkan dengan pemandangan yang tak kalah indahnya. Dari atas kami bisa berfoto ke arah bawah di mana tampak seperti ada kolam air yang menyerupai bentuk “Love”, yang biasa disebut sebagai teluk cinta. Indah nian karya ciptaan-Mu ya, Tuhan. Tak berhenti sampai di situ, kami pun penasaran untuk menikmati pemandangan di puncak Love Besar. Namun karena alasan keselamatan, kami mengurungkan niat kami ke sana karena di samping jarak yang sangat jauh, ombak yang akan kami lalui pun sangatlah tinggi. Semoga lain waktu bisa berkunjung dan menikmati keindahannya.

Akhirnya kami memutuskan untuk menuju Yapap yang menawarkan banyaknya bebatuan karst yang sangat unik karena bentuknya yang cantik dan menjulang tinggi. Tempat ini pun menjadi spot tervaforit untuk kami berfoto ria. Waktu seperti terlalu cepat berlalu karena tak terasa matahari pun seperti akan kembali ke ufuk barat. Kami pun memutuskan untuk kembali ke penginapan dan melanjutkan kembali liburan kami ini di esok hari dengan destinasi yang berganti.

Pantai Gamfi pun menjadi destinasi kami di Senin pagi. Di sini kami bisa leluasa bermain air dan berenang ditemani deburan ombak dan lembutnya pasir putih. Lalu kami melanjutkan wisata kami ke Namlol dan dengan air yang sejuk kami pun kembali berenang dan berfoto bersama di tempat ini. Hari kedua ini seperti kami lewati tiada henti dengan bermain pada beningnya air dan kilauan pasir putih karena pantulan sinar mentari di Misool, sungguh mengagumkan karya sang Pencipta. Lalu kami melanjutkan perjalanan kami ke danau ubur-ubur yang tak beracun dan mengakhiri senja di batu susun. Semuanya indah dan semuanya sangat mengesankan yang juga menggambarkan cinta sang Pencipta bagi umat-Nya. Jatuh hati rasanya aku dengan pemandangan indah di Misool ini. Terima kasih ya Tuhan, kukagumi keindahan karya ciptaan-Mu di tanah Papua ini. Selamat tinggal adik-adik kami, selamat tinggal Misoolku. Kelak, aku akan kembali untuk membuka cerita baru tentang surga ini. Terima kasih atas cinta-Mu ya, Tuhan.

Biodata Penulis
Robinson Doloksaribu
, pria Batak yang lahir di Jakarta tanggal 2 Februari 1978 ini suka sekali menikmati keindahan alam Indonesia yang terbentang luas dari Sabang sampai Merauke. Di usia 41 tahun ini, belum banyak wisata-wisata Indonesia yang sudah kukunjungi, namun pastinya aku tetap bersyukur untuk destinasi yang telah kukunjungi dan masih banyak asa untuk merealisasikan impianku untuk mengunjungi tempat wisata lainnya di Indonesia ataupun di mancanegara. Pendidikan terakhirku adalah S-1 Teknik Mesin Universitas Indonesia dan saat ini sedang menjalani program Master di salah satu Universitas Swasta di Jakarta. Aku berdomisili di Kelurahan Cengkareng Timur, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. Aku gemar sekali berolahraga. Hampir semua olahraga bisa kulakukan, namun futsal, sepakbola, bola basket, bola voli, tenis dan bulu tangkis adalah olahraga yang paling kusukai, karena menurutku dengan berolahraga kita bisa terus menjaga kebugaran tubuh kita meski harus juga diimbangi dengan pola hidup dan makan yang sehat juga. Aku juga suka berorganisasi, sejak SD aku sudah memulai belajar berorganisasi dengan menjadi bagian dari Pramuka, lalu berlanjut di SMP dan SMA dengan terlibat di seksi olah raga OSIS. Terlibat sebagai relawan kantor untuk terjun langsung ke korban-korban bencana seperti saat banjir Jakarta, bencana di Palu dan banjir di Anyer. Semua itu sangatlah menyenangkan karena bisa membantu sesame, terlebih lagi aku dapat mengenal beberapa karakter orang yang berbeda-beda dan harus bisa menyesuaikan diri dengan karakter yang berbeda tersebut. Sampai dengan perjalananku hingga saat ini, belum ada orisinal karya sendiri yang telah kuhasilkan, namun beberapa prestasi di bidang olahraga di kantor sering kuraih di tiap tahunnya termasuk tahun ini, di antaranya juara 1 bola basket 3 on 3, juara 1 voli putra, dan juara 2 tenis lapangan pada pertandingan dalam rangka ulang tahun kantor tahun 2019.

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *