Baca Karya FiksiCerpen

Cerpen – Surat dalam Diam – Ridho Ramidianto

Surat dalam Diam
karya Ridho Ramidianto

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Hai Asri,
Jikalau telah kau temukan catatan ini, itu berarti aku tak dapat membendung lagi, atau mungkin kau telah dinikahi.

Aku hanya ingin kau tahu yang sebenarnya. Sebenarnya jauh sebelum Aulia datang, aku sudah memutuskan untuk mencintaimu dalam diam, walau sebenarnya hanya sebelah pihak. Ingat pertemuan pertama kita di kelas 10, percakapan lucu untuk tangan-tangan yang baru memulai untuk saling menggenggam.

Kata-katamu yang hingga sekarang tak pernah kulupakan “jarang orang yang punya senyum manis gitu” haha, di saat kau bilang begitu, seketika goresan senyum tergambar dengan lugas di wajahmu, dan seketika itu pula aku sadar, kau adalah orang yang pertama aku sukai, bahkan sebelum bunga datang.

Aku tak pernah lupa setiap momen pertemuan denganmu, ya walaupun pernah terasa ketika kau menjauhiku. Ingat saat kau dan aku berbincang lewat Line? saat itu aku pernah bertanya padamu “Kalau aku dulu nembak kau, kau bakalan terima enggak? tapi dulu ya, sekarang aku sudah biasa saja,” dan kata-katamu saat itu “Aku terima, Dho, karena saat itu menurutku, aku suka cowok berkacamata.”

Asal kau tahu, di saat itu sungguh momen bersejarah buatku. Tak hanya itu, aku pernah mendekati Sri hanya untuk menanyakan tentangmu, sering bagiku, tapi tak pernah kuceritakan denganmu. Sampai saat Sri menanyakan keseriusan komitmenku untukmu, di saat itu aku yakin dan mengatakan bahwa aku, sangat memegang kata-kataku. Aku heran mengapa terjadi, maksudku ayolah, setelah setidaknya tujuh tahun berlalu sejak kutulis kata-kata ini, tepatnya semester 9, apakah rasa itu bisa hilang? aku bertanya dalam diri.

Tidak, rasa itu tidak pernah hilang. Ketika Ayu dan Melisa datang ke pekan, kau ingat? sejak awal aku tak pernah berniat mendekati Melisa, chat dia saja sesekali kalau perlu, apalagi untuk mendekatinya. Kau mungkin berpikiran bahwa aku sedang mendekati Melisa, jawabannya mudah saja, “Tidak”.

Semua yang kulakukan saat itu hanya untukmu, percaya atau tidak, alasan-alasan yang kulalui dengan jarak sejauh itu, ya buat apalagi, selain untuk melihat senyum manismu. Mungkin kau pikir ini hanya gombalan, tapi kurasa tidak. Pernah sih, aku berusaha mengajakmu nonton, tapi saat itu kau tak bisa, kau inilah, itulah. Ya sudah, semenjak dari situ aku tahu, bahwa kau tidak ingin kalau berdua saja. Dan salah satu momen yang kucuri adalah ketika di SKA, di saat kita baru memulai kuliah, di RPM, di Warung Steak, di Marpoyan, ramai sih, dan aku sendiri laki-laki, tapi tidak apa, asal melihat senyummu saja, sudah senang yang kurasa. Kalau kau pikir itu hanya untuk reunian kelas, kau salah, yang kuharap saat itu hanya reunian denganmu.

Ketika mampir ke kosmu, mata ini tak pernah berhenti mencoba untuk mencuri keadaan, keadaan dan waktu yang tepat untuk melihat senyum manismu, aku heran mengapa dalam waktu 7 tahun ini, aku tak bosan-bosannya melihat dirimu. Kenapa sih Ridho, aku akui, setelah momen aku putus dengan Aulia, banyak yang sudah mencoba mengisi hati ini, namun iming-iming perasaan, yang ada hanyalah penasaran. Dan baru kusadari, bahwa untukmu, hati ini tak pernah coba-coba untuk penasaran, namun selalu berusaha untuk membuat perasaan, yang tentunya semua itu untukmu.

Ah tahi, aku sama sekali enggak mengerti, aku rasa kau sebenarnya paham, ingat di saat Irha datang kerumah Ayu dan kau bersembunyi, saat itu juga aku berusaha sembunyi, dan sesekali melihat senyummu saat melakukan tingkah konyolmu. Ingat saat sudah di tempat makan Jalan Bintang, saat aku hendak memesan minuman, aku berusaha untuk memesan minum yang sama, sebelum-sebelum itu kalau kau sadar, aku juga mencoba mendekatkan, namun dengan cara menyamakan. Norak sih, tapi ya, logika anak Teknik Informatika yang tajam bakalan kalah dengan urusan yang seperti ini. Dan di saat kau bilang ingin aku untuk mengantarmu pulang, sebenarnya saat itu perasaan ini menggebu-gebu, tapi kau memutuskan untuk pergi dengan Irha.

Di saat aku bilang ingin mencari jodoh yang lebih muda dariku, kau tahu sorot mataku ke mana, yang pasti tak berani kulihat wajahmu ketika itu. Aku sekarang mengerti, mengapa aku juga tak menemukan, wanita yang bisa mengisi hariku, ya mungkin tak pernah kutemukan, karena wanita itu sebenarnya sangat dekat, di depanku ketika bangku SMA, di dekatku ketika perpisahan SMA, di dekatku ketika pertemuan di awal kuliah. Ia tak hanya dekat, tapi ia tersembunyi di sampingku, sehingga ketika aku melangkah maju, dan berpikiran kedepan, aku lupa untuk menoleh, aku lupa untuk memperhatikan.

Selama ini kau ada, untuk berbagi cerita, untuk menuliskan cerita di tinta, untuk memperindah setiap rencanaku, untuk membuatku berpikir “Iya, dia adalah temanku, teman yang ku kenal sedari SMA, teman yang bilang senyumku indah, teman yang kadang kritis dalam persoalan, teman yang kadang rumit dalam hubungan, teman yang suara lembutnya selalu dengan peka ingin kudengarkan, itu kau.”

Aku tak pernah berharap jadi teman untukmu, aku tak pernah juga berharap jadi sahabat dengan mu, karena teman dan sahabat tak juga selalu ada di sampingmu, selain itu juga ada hidup yang mencoba menghilangkan jati diri, beda cerita kalau kau adalah teman hidupku, untuk itu, kulakukan apa pun, namun tidak sebanyak hal yang kulakukan untuk ibuku, tapi cukuplah, untuk membuatmu jadi wanita terbahagia. Yang akan senyum di hari-hari tua, dan melihatmu menua bersama.”

Asri Agustin, kau tak harus menjawab ini, kau juga tak harus merasa berat. Aku hanya ingin kau tahu. Di belahan dunia ini, di pulau Sumatera ini, di provinsi dan kota kecil ini, ada orang yang selalu mendoakanmu di hari-hari, ada orang yang tak bosan-bosannya merenungimu, membuatkan sajak dan barisan kata untukmu, kalau kau berpikiran aku adalah pengecut, mungkin kau benar, mungkin kau juga salah, karena pengecut itu takkan berani mencintaimu sejauh ini, selama ini, sehebat ini, seberat ini, dan mungkin setelah ini.

Aku hanya bisa berharap akan ada hari di mana, kau dan aku bisa bercanda setiap hari, mendampingimu untuk menghampiri undang pernikahan, yang di mana ketika itu kau suka mengenakan baju yang sama dari pesta pernikahan orang lain. Dan merawat kucing, yang namanya kau beri dengan singkatan yang lucu, aku masih ingat Musoim, setidaknya ketika bercerita tentang itu, aku takkan pernah lupa, bahkan untuk seumur hidupku.

Harusnya dari dulu, tidak, aku tak punya kendali apa pun untuk hati ini, aku tak punya kendali apa pun untuk raga ini, namun andaikan kau tahu, bahwa namamu akan selalu terhela di dalam doaku.

Aku akan menunggu saat itu, saat Allah sudah memutuskan di mana hati ini berlabuh, aku tak berharap, aku juga tak memaksa, tapi kalau itu dirimu, tak ada lagi alasanku untukku tak mensyukuri hidup. Terima kasih, untuk ini, terima kasih untuk senyum yang kau lukiskan di pikiran, pada hari ini aku turut mengucap syukur, untuk perasaan yang telah di berikan, setidaknya aku pernah mencinta dengan sangat dalam, namun aku tak tenggelam. Aku akan mengikuti setiap desit arus yang akan membawaku ke dekatmu, terucap, dari temanmu yang pendiam ini, dari dia yang mencoba mendekatkan, dari dia yang mencoba menyamakan.

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *