Baca Karya FiksiCerpen

Cerpen – Hadiah dari Tuhan – Delvin Emilio

Hadiah dari Tuhan
karya Delvin Emilio

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Pagi ini mungkin pagi kesekian bagiku untuk berangkat ke sekolah dengan rasa terpaksa. Saat sampai di sekolah dan meninggalkan angkutan kota berasap tebal yang mengantarku, kini aku berada di sebuah lingkungan asing dan menyeramkan. Banyak orang bilang masa-masa sekolah adalah masa-masa yang indah dan patut dinikmati. Tetapi kalau kalian menjadi diriku, kalian pasti akan menyesal–atau bahkan kalian malah sama seperti mereka yang menyiksaku.

“Awas, awas kena!” ujar seorang anak laki-laki yang kebetulan sedang mengobrol dengan gerombolannya di sisi lorong kelas. Ia begitu jijik denganku, aku rasa begitu. “Hiiih,” ujar yang lainnya. Aku memasuki kelas dan berusaha untuk membiarkannya. Sudah biasa, tetapi tetap menyakitkan.

Aku duduk di barisan paling depan, karena semua orang memaksaku untuk duduk di kursi itu karena berhadapan langsung dengan guru dan aku yang akan menjadi tumbal untuk mereka. Setiap kesalahan seseorang di kelasku, aku yang harus menanggungnya. Setiap pekerjaan rumah yang tidak mereka buat, aku yang harus membuatnya dan membaginya untuk mereka. Sudah biasa, dan lagi-lagi masih tetap menyakitkan.

Biasanya, semua orang sibuk dengan kelompok mereka masing-masing. Ada yang sedang asyik mengobrol tentang video gim yang baru keluar di internet, ada sekelompok anak perempuan yang sibuk membicarakan idola mereka, dan ada yang sibuk berkutat dengan telepon genggam mereka. Aku, ya, seperti biasa, duduk diam dan mencorat-coret buku tulis kosongku.

Setiap hari, setiap waktu, setiap kekosongan menghampiri, aku selalu melakukan hal yang sama. Namun kadang, aku harus menghadapi mereka yang berusaha mengusik ketenanganku, ya seperti misalnya, “Anak miskin, ada yang suka sama lo nih! Si Rika suka sama lo!” aku tidak menanggapinya.

“Najis, najis banget,” ujar anak perempuan yang menjadi korban perjodohan anak nakal tadi. “Nanti gue mau makan apa.” Mendidih rasanya. Air mataku hendak keluar, namun sudah tidak bisa lagi. Sudah terlalu banyak yang aku keluarkan selama ini.

Selain hinaan secara verbal, kadang aku harus mendapatkan sebuah siksaan fisik. Kadang, sebuah bola sepak sengaja ditendangkan ke arahku dan kadang pula bola basket. Diriku seperti alat peraga untuk mencoba ketahanan bola-bola mereka. Mereka hanya berkata, “Maaf, enggak sengaja.” Dan guru olahgaraku pun menjawab. “Lain kali hati-hati.” sampai telingaku tuli mendengar kata-kata rutinnya itu.

Separah itukah hidupku? Sehancur itukah hidupku? Orang yang tidak mengenalku pasti merasa aku hanyalah bahan ejekan, pelampiasan kesenangan, pelampiasan kebosanan, uji ketangguhan bola, dan lain sebagainya.

Aku sempat berpikir untuk meninggalkan dunia ini. Namun tidak, tidak akan pernah aku lakukan. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tetap bertahan dan maju perlahan-lahan. Semua semangat itu berasal dari keluargaku.

Ialah ibuku, seorang wanita renta yang telah mendidik dan membesarkanku. Ayahku meninggal karena sakit kanker, kakak perempuanku menikahi juragan batu bara lalu meninggalkan keluarga tanpa pernah kembali, dan kakak laki-lakiku sedang bekerja di luar negeri untuk membiayai keluarga kami. Ibuku, dia hanyalah seorang tukang cuci di rumah pengusaha Tionghoa kaya raya yang kebetulan pernah dibantu oleh ibuku. Kisahnya panjang, sampai akhirnya ibuku diminta untuk bekerja di rumahnya.

Ketika aku pulang, rasa sesak di dalam dadaku seketika lenyap. Itu semua karena ibuku sedang duduk di meja makan dan menyambutku dengan senyuman sayu di wajah keriputnya. “Akhirnya kamu pulang, Nak. Ayo duduk, ibu sudah buatkan sop ayam kesukaanmu.”

Makanan itu menghangatkan jiwa, bukan saja sebagai pelepas lapar. Ia selalu mengusap air mataku yang jatuh setiap kali aku duduk untuk makan siang. “Hari ini kamu diapain lagi sama teman kamu?” tanyanya dengan lembut. Aku pun menceritakannya. Dan setiap ibuku mendengar, ia hanya menjawab. “Enggak apa-apa. Itu tandanya masa depan kamu sangat-sangat cerah! Ayahmu selalu mengingatkan ibu untuk menjagamu, mendidikmu, dan membesarkanmu agar menjadi anak yang berguna. Waktu itu ibu lagi hamil 8 bulan dan ayahmu sedang terbaring di kasur. Satu hal yang ia titipkan, ia mau anak laki-lakinya diberi nama Nathaniel, yang artinya ‘hadiah dari Tuhan, anugerah yang diberikan Tuhan’. Dan setiap pemberian Tuhan tidaklah sia-sia.”

Seminggu setelahnya ibuku divonis terkena penyakit tumor otak dan ia mendadak lupa dengan segalanya. Hingga tepat, dua minggu dari ucapan terakhirnya itu, ia meninggal dengan tenang di rumahku. Tertidur pulas di atas kursi depan rumahku dan terbangun di alam keabadian.

Aku harus hidup sendirian tanpa ayah dan ibuku. Kakak laki-lakiku kembali untuk menjenguk dan memberi bantuan kecil, kakak perempuanku sudah bukan lagi menjadi bagian dari keluarga ini karena ia tidak hadir dalam acara pemakaman, dan Tuan ibuku datang untuk menyampaikan sebuah hal. “Ibumu telah berjasa bagi keluarga kami. Ia yang telah menolong kami waktu kota sedang kacau. Kalau kamu mau, kamu boleh tinggal di rumah kami dan menjadi anak kami. Kebetulan, kami berdua telah divonis tidak akan mempunyai keturunan untuk selama-lamanya. Dan kamu mungkin bisa menjadi hadiah itu dari Tuhan.”

Semenjak itu, aku berubah, memang seharusnya tidak perlu menunggu ibuku mati untuk bisa berubah. Aku datang dengan kebahagiaan di wajahku. Tidak akan pernah aku menatap lantai dan sepatuku lagi sepanjang jalan. Aku kuat!

“Ibunya baru meninggal,” ujar salah satu anak laki-laki. Ia mendekatiku yang sedang berpura-pura tidak mendengar. “Kami turut bersedih, Niel.”

Aku membalasnya, “Terima kasih,” dengan senyuman. Mereka terlihat begitu berbeda hari ini. Mereka masih berdiri di sampingku. Kemudian ia bertanya tentang apa yang sedang aku lakukan. Aku rasa, mereka ingin berdamai denganku. Tentu aku menyambut mereka dengan sepenuh hati.

Dan sejak saat itu, mereka mulai menjadi temanku. Aku mulai berani untuk menyapa mereka dan semua ini mempengaruhi jalan hidupku ke depan. Prestasiku tetap aku pertahankan dan bahkan aku tingkatkan. Setiap lomba aku ikuti. Dan ingat, aku sudah tidak sendiri lagi, kata “teman” dan “sahabat” sudah terdaftar dalam pikiranku, dan kata “asing” dan “menyeramkan” sudah lenyap.

Dan bagi kalian yang dahulu tertawa di atasku, aku tidak akan mengutuk kalian. Kalian adalah bagian dari kehidupanku, kalianlah yang memotivasiku, dan kalianlah yang mendidikku untuk percaya diri, kuat dan tangguh, serta sabar. Aku akan mengingat kalian sebagai pahlawan di hidupku.

Aku lulus dengan nilai terbaik dan keluarga baruku memberiku sebuah hadiah kecil, yaitu aku akan melanjutkan studiku di negeri kanguru. Tentunya aku sangat senang. Impianku telah tercapai.

Masa muda tidak selalu harus kalian gunakan untuk tertawa saja, tetapi menangis adalah bagian yang lebih penting dari sekadar tertawa. Kalau kalian merasakan hal yang sama, jangan pernah putus asa. Kalian memiliki keluarga yang selalu mendukung dan yang paling pasti kalian adalah ‘hadiah dari Tuhan’ yang tidak pernah sia-sia.

Ibu, aku sudah berada di Australia, negeri yang pernah aku katakan padamu. Benar ibu, hidupku akan sukses. Terima kasih ayah dan ibu, terima kasih Tuhan.

Biodata Penulis
Delvin Emilio
, lahir di Bandung, 17 Oktober 2000. Saat ini berstatus sebagai mahasiswa.

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *