Baca Karya FiksiPuisi

Puisi – Kepada Tubuh yang Fana dan Terluka – Giovanni Aditya Lewa Arum

Kepada Tubuh yang Fana dan Terluka
karya Giovanni Aditya Lewa Arum
Juara 1 Kategori Umum Lomba Menulis Puisi Tulis.me Periode 1 2019

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

: perempuan-perempuan NTT

Kepada tubuhmu yang fana dan terluka
Engkau ingin mengucapkan selamat tinggal.
Di sekujur tubuhmu melintang jahitan tak teratur
Jejak khianat yang merampas organ dan cintamu
Meremukkan rusuk dan ketegaran hatimu.

Tak pernah kau sesali darah yang mengucur dari kedalamanmu
Sebab tanah telah mengkhianati jagung dan umbi
Dan hujan telah melupakan doa-doamu. Di kedalaman hatimu
Engkau setia menjadi sirih yang remuk terkulai
Merelakan kurus layu tubuhmu dikunyah geligi penguasa
Dan debur kapur pengkhianatan yang pedih perih.

Kepada tubuhmu yang fana dan terluka
Engkau ingin merapalkan doa.
Dulu sekali, engkau belajar dari tetua di kampungmu
Bahwa semuanya akan binasa.
Tanah akan memanggil tubuhmu
Kain tenun akan menghangatkan jiwamu.

Maka, engkau masih tekun merapalkan doa.
Ada gereja kecil yang menetap di sudut hati kecilmu.
Di sana, masih tergantung Penyair dengan luka
di sekujur Tubuh-Nya yang mulia.
Dari sanalah, kau kirimkan doa-doamu dengan perih dan gigih.

Kini, tubuhmu yang fana dan terluka
telah menjelma biji jagung yang mati
Dan jatuh dalam keheningan tanah.
Dengan nyala iman yang memendar
Dari pelita di jiwamu yang murni,
Engkau teguh percaya:
Tabah benih yang dibuang
Oleh tangan-tangan celaka
kelak menumbuhkan bulir-bulir cinta
Bagi tangis kehilangan anak-anakmu.

Penfui, 2019

Biodata Penulis
Giovanni Aditya Lewa Arum adalah seorang rohaniwan Katolik yang lahir di SoE-NTT, 30 September 1992. Tertarik menulis karya sastra berupa puisi, cerpen, esai, resensi, dan naskah drama. Beberapa puisi dan cerpennya tersiar di beberapa Harian Umum seperti: Koran Tempo, Bali Post, Pos Kupang, Victory News, Timex, dan di beberapa jurnal atau buletin sastra seperti: Santarang, Filokalia, Karmelo, dan Loti Basastra. Beberapa puisinya tergabung dalam antologi Senja di Kota Kupang (2013), Ratapan Laut Sawu (2013), Nyanyian Sasando (2015), Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata (2017) yang diselenggarakan oleh Festival Puisi Bangkalan 2, dan Epitaf Kota Hujan (2018) yang diselenggarakan oleh Festival Sastra Asia Tenggara. Pernah diundang dalam Temu Sastrawan NTT I (2013), Temu Sastrawan NTT II (2015), Festival Sastra Santarang I (2015), dan Festival Sastra Asia Tenggara (2018) di Padang Panjang, Sumatra Barat. Beberapa cerpennya juga tergabung dalam antologi cerpen sastrawan NTT; Cerita dari Selat Gonsalu (2015). Kini bergiat dalam Komunitas Sastra Filokalia Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui, Kupang dan Komunitas Sastra Dusun Flobamora.

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *