Baca Karya FiksiCerpen

Cerpen – Patah Hati Terhebat dari Putih Abu – Ridho Ramidianto

Patah Hati Terhebat dari Putih Abu
karya Ridho Ramidianto

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

 

Aku adalah Ridho, mahasiswa teknik semester 6 yang lagi pusing-pusingnya, aku awali kisah ini dari mana ya? Sebaiknya aku awali dari sebab akibat dulu, aku rangkum saja cerita ini, karena terlalu banyak yang terjadi dan aku alami.

Aku waktu itu adalah anak SMA kelas 2 semester akhir, masalah cinta adalah masalah yang paling krusial menurutku ketika SMA. Sudah terlalu banyak patah hati yang kualami ketika itu, sampai aku menghirup napas dalam-dalam dan berfikir “Baiklah, biarin ngalir aja deh, jodoh mah udah ada yang ngatur”, sambil menjalani hidup anak SMA pada umumnya. Hari itu adalah hari biasa dengan cuaca yang biasa, dengan suasana yang biasa juga, dan aku baru dapat kabar, temanku Bagus mengingatkan agar aku datang ke rapat OSIS sepulang sekolah.

Niatku saat itu, aku tidak ingin datang, karena ngapain juga, aku hampir mengacuhkan semua undangan rapat OSIS walaupun aku juga merupakan salah satu anggota OSIS kala itu. Tapi karena Bagus melihatku sedang mencoba pulang, dia mendapatiku, dan langsung membawaku ke rapat itu. Rapat yang diadakan oleh pembina OSIS itu berlangsung menarik, karena untuk memilih panitia pada acara OSIS tahunan dilakukan dengan metode “Kamu kan belum pernah”. Aku yang sedang asyik menertawakan orang lain karena ditunjuk, tiba-tiba dipanggil. Pembina OSIS berkata sembari menunjukku “Ridho, kamu kan belum pernah jadi PJ, untuk MUBES (Musyawarah Besar) kali ini, kamu jadi penanggung jawabnya ya?”. Aku terkejut dan memasang muka ragu-ragu bego, dan Bagus yang duduk di sebelahku tidak membantu sama sekali, sebelum dia berbicara, aku sudah bisa tebak apa yang dia katakan, dan benar saja, dia berkata “Ya, saya rekomendasikan Ridho, buk” dengan muka begonya. Setelah pembina OSIS menunjukku untuk menjadi PJ, aku memperhatikan dengan sAksama siapa saja yang akan menjadi panitia pada acara tersebut, setelah selesai aku langsung pulang.

Keesokan harinya aku bertemu temanku, Faisal. Faisal bertugas memberi pengarahan pada anggota-anggota OSIS baru yang belum punya pengalaman, sembari Faisal berjalan dengan sok sibuk, aku melihat perempuan yang sepertinya adik kelas, karena jarang kulihat, mengikutinya bak seorang asisten artis. Dia mengenakan baju pramuka, berjilbab hitam, dan menggunakan sejenis penutup hitam di tangannya, seperti kaos kaki, cuma aku lupa namanya apa.

Aku ikuti Faisal dari kelas ke lobi depan sekolah dengan seorang temanku, aku yang penasaran akhirnya berani bertanya, itupun karena adik kelas yang tadi sedang tidak di dekat Faisal.

“Faisal, siapa tuh?” Aku bertanya.

“Ohh, itu Aulia, dia kan sekretaris kau di mubes OSIS, bodoh” jawab Faisal dengan sedikit gemulai.

“Nanti aku minta nomer hpnya ya?” Jawabku lagi. Namun, Faisal mengamati dan memanfaatkan situasi dengan baik, dengan wajah terlihat licik dia berkata “Boleh, tapi bagi aku 1000 ya, lapar aku, belum makan.”

Apa yang bisa kukatakan, akhirnya terjadi situasi aneh di lobi di mana aku memberikan uang 1000 ke Faisal. Setelah itu aku berkata “Tapi jangan lupa ya nomernya,” sambil melangkah keluar dan kembali ke kelas. Aku yang saat itu dengan polosnya tidak tahu apa-apa, mengenai patah hati yang paling hebat kualami, yang kutahu hanya kalau aku pacaran, aku maunya lancar-lancar saja, aku pasti bisa, kalau aku nya bersifat baik pasti dia juga, pikirku sebagai anak SMA yang masih labil dan tidak tau apa-apa.

Besoknya lagi berjalan seperti biasa, “Faisal kampret,” gumamku dalam hati ketika berada di kelas karena tak kunjung diberinya nomer hp adik kelas kemarin. Bel istirahat berbunyi, ingin kudapati Faisal, walaupun aku harus mencari ke setiap sudut sekolah. Namun langkahku terhenti ketika kulihat di luar jendela, adik kelas yang kemarin lewat di depan kelasku lagi, orang-orang mungkin berfikir dia biasa-biasa saja, namun seperti orang-orang yang mengagumkan sebelum jatuh cinta aku berfikir, dia lucu aja, manis sih orangnya, imut lagi, dan jalannya agak menunduk, karena dia pemalu dan penyegan, terlihat semua dari raut wajahnya yang menatap sesekali.

Kuajak temanku yang kemarin menemaniku bertemu Faisal keluar kelas, dan aku bertanya “Siapa tu? Kau tahu dari kelas berapa?”

“Kayaknya sekelas lah sama adik aku do” katanya dengan agak ragu. Dan mulai bermunculan pertanyaan-pertanyaan di otakku.

“Kelas mana ya?”, “Udah punya pacar atau belum”, “Gimana ya supaya deket”, dan tiba-tiba muncul dalam otakku sebuah ide. Aku pergi menjumpai Faisal, dan aku bilang aku minta ditemani saat itu untuk bertemu adik kelas yang kemarin, tapi Faisal sibuk, yang kulihat dia hanya berjalan-jalan sesekali, kemudian berhenti sebentar untuk ngerumpi bersama teman-temannya, ya apa boleh buat.

Hari-hari berjalan seperti biasa, rasa penasaran semakin membayangiku, hatiku seolah menekanku untuk bertindak lebih, hari itu hari kamis kalau tidak salah, persiapan untuk mubes OSIS semakin dekat. Aku sebagai PJ pun ditegur oleh pembina untuk mengarahkan panitia-panitia yang lain. Dan, disinilah kesempatanku, aku memberanikan diri untuk menghampiri adik kelas yang kemarin. Aku mendapat info kalau adik kelas yang kulihat kemarin berada di kelas X.5, kelasnya tepat berada di belakang kelasku, kalau dari jendela samping kelasku, aku bisa melihat dengan jelas kelasnya, namanya Aulia, yang kutahu hanya Aulia, aku tidak tau nama lengkapnya.

Setelah aku berada di depan kelasnya aku bertanya kepada temannya, “Aulia ada? Aulia yang OSIS itu?” tanyaku dengan wibawa seorang senior saat itu.

Salah satu dari mereka menjawab “Enggak ada kak, kalau enggak salah ke lobi dia”.

Aku pun mulai bingung, dan berjalan pelan sampai ke kelasku, mungkin dia lagi rapat pikirku, aku masuk ke kelas sebentar. Tiba-tiba temanku memanggilku, dan mengatakan kalau dia melihat adik kelas yang kemarin, aku pun buru-buru keluar, aku lihat dia di depan tangga disamping kelasku, yang kebetulan juga di dekat kantin.

“Aulia ya? Bisa minta nama-nama panitia mubes enggak?” tanyaku dengan sok keren.

“Ada kak, cuma di buku nama-namanya” jawabnya dengan pelan.

“Ya udah bisa di tulis enggak, soalnya ibu minta list-nya?” jawabku, sebenarnya aku enggak terlalu perlu list nama itu, hanya saja aku sedikit grogi. Akhirnya dia meminjamkan buku yang sedang dipegangnya saat itu, kemudian kuambil sembari berkata “Oh iya, bisa minta nomer hpnya enggak? Mana tahu ada apa-apa, soalnya yang lain juga diminta”. Aku yang buru-buru saat itu lupa kalau aku enggak bawa pena, akhirnya dia yang nulis nomor hpnya di belakang buku yang tadi kupinjam.

Senang perasaanku kala itu, kuucapkan terima kasih dan aku mulai berjalan ke kelas sembari melihat ke belakang untuk melihatnya. Kunantikan waktu yang tepat untuk SMSan, dan setelah di rumah aku pikir ini waktu yang tepat untuk mengirimnya pesan. Aku masih ingat pesan pertama kala itu,

“Assalamualaikum Aulia, ini kak Ridho yang di sekolah tadi.” Yang saat itu kupikirkan adalah aku harus bisa sesopan mungkin, tidak sulit menurutku, karena aku juga orangnya pendiam dan agak kaku.

Pada H-1 sebelum acara, rapat kembali diadakan, dan alasanku menghadiri rapat itu cuma mau lihat dia, ya siapa lagi. Aku ingat momen-momen berbicara dengannya, di lobi, dekat tangga, di samping ruang BP, yang kukatakan tak banyak ketika itu, hanya obrolan sederhana yang kubuat untuk mengatakan bahwa aku hadir di hidupnya setiap hari. Ketika rapat selesai kami pulang, aku sempat berbicara sebentar dengan aulia di depan sekolah, sembari nunggu orang tuanya jemput. Setelah ayahnya datang menjemput, aku ajak Faisal untuk mengikuti Aulia, itupun dengan motor Faisal. Aku bergegas ke motor dan begitu juga Faisal, Faisal terlihat antusias dengan orang yang lagi jatuh cinta, aku tak tahu kenapa. Aku bawa motor Faisal sembari dia ngoceh di belakangku, akhirnya kami mengikuti Aulia, saat itu dia belum sadar kami ikuti. Terlihat ayahnya mulai berjalan pelan di sebuah rumah, akhirnya Aulia menoleh ke belakang sambil bingung dan senyum seolah berkata “Mau ngapain ke sini?” Ekspresi lucunya itu membuatnya seperti anak kecil. Setelah motor ayahnya masuk ke pekarangan sebuah rumah, aku yakin, dia pasti tinggal di situ.

Hari di mana acara mubes diadakan akhirnya datang juga, aku sudah di-briefing oleh pembina untuk memberi kata sambutan. Tapi tak acara itu yang kupikir, aku cuma mau lihat Aulia saja kala itu, hanya saja aku sedikit cemburu di mana laki-laki lain membuatnya tertawa ketika itu, lucunya PDKT ya itu, cemburu mendesak kita untuk selalu ingin dekat dengan orang yang kita suka dan berteriak agar cepat-cepat menyatakan perasaan.

Aku masih ingat Aulia selalu berada di luar ruangan mubes, tak lain untuk mencatat nama-nama orang masuk ke ruang mubes, walaupun bukan itu tugasnya, sesekali ada yang menggantinya. Kalau ada kesempatan aku pun menyempatkan untuk duduk di sebelahnya, dan ia bercerita tentang gambar, hobi, dan pengalamnya sedikit, rasaku ingin di sini saja, di waktu itu, di suasana itu, di kebetulan yang tak sengaja saat itu. Mubes berlangsung 3 hari, namun hari ke-3 aku hanya datang saat penutupan saja. Perasaanku sedih kala itu, yang pasti bukan karena mubes telah berakhir, tapi karena alasanku untuk mendekati dia sudah berakhir dan memaksaku untuk mencari alasan-alasan yang lain.

Hari berlangsung sangat indah ketika itu, aku sudah tahu banyak tentangnya, tentang masa lalunya, tentang niatnya yang tak ingin pacaran, dia pernah pacaran ketika SMP tapi ya pacaran sebatas nyatain perasaan dan hanya segitu aja, namanya juga SMP. Hari itu adalah hari sabtu tanggal 20 september 2014, pukul 8 lewatlah, aku bercerita banyak tentangnya, dan saat itu Aulia bilang “Kakak yang duluan” aku tak tahu apa yang duluan, yang pasti bukan menyuruhku untuk nyatain perasaan duluan. Dengan berani dan pasti aku ketikkan sebuah pesan, pesan yang mengungkapkan apa yang kurasakan saat itu, dan aku kirim ke dia setelah membaca ulang pesan itu lebih dari 10 kali, akhirnya pesan itu terkirim, dan tinggal menunggu jawaban dari Aulia. Setelah berdoa singkat, masuklah pesan yang menandakan, bahwa aku telah resmi berpacaran dengannya, hariku pun indah, tak pernah kurasakan seindah hari-hari berpacaran dengannya, aku kegirangan, kurasa hanya aku dan Tuhan yang tahu bagaimana senangnya aku waktu itu. Aku memang tidak gentle, beraninya dari HP untuk menyatakan perasaan, tapi aku bilang nanti aku akan berbicara langsung kepadanya. untuk menyatakan perasaanku, ada-ada saja.

Hari demi hari kami lalui sebagai sesorang yang jatuh cinta, aku tak pernah merasa pengalaman jatuh cinta seperti itu dulu, ketika dengan orang lain. Yang kutahu ya aku hanya membahagiakan dia, menjadi bagian sedikit dari motivasinya. Aulia adalah anggota organisasi Rohis di sekolahku, yang di mana bagiku wanita itu indah jika memeluk agamanya, dari situ aku pun ikut-ikutan masuk rohis, awalnya karena Aulia, tapi setelah kelas 3, aku baru sadar, bahwa ada alasan selain Aulia di Rohis. Aku masih ingat, betapa lucunya orang-orang di sekolah melihatku meminta sumbangan tiap hari jumat, biasanya yang datang hanya orang-orang yang sudah lama di Rohis saja, hanya saja aku baru masuk Rohis ketika itu, teman-temanku tertawa terbahak-bahak.

Hari-hari begitu indah kala itu, aku masih ingat, hadiah ulang tahun pertama dari nya, yaitu selembar surat dan jam tangan yang dia pasang di tanganku. Setelah itu aku langsung berlari kegirangan ke masjid untuk salat. Aku juga ingat dulu aku pernah membeli kue ulang tahun untuknya, dan kue itu kusembunyikan di lemari rohis di dalam musola sekolah, tapi Aulia buru-buru dijemput pulang sekolah kala itu, akhirnya aku mengajaknya pergi ke sekolah, untuk melihat apakah kuenya masih ada di sana, dan syukurlah ternyata masih ada walaupun pintu belakang musholla sekolah dulu sangat mudah dibuka. Kami pun menyantap kue itu di halaman musola. Aku juga memberinya boneka Padddington yang kudapatkan dari medan, dengan uang tabungan dan voucher diskon belanja. Begitu indah kala itu. Yang namanya pacaran anak SMA, tidak terlepas dari orang-orang yang ada-ada saja, aku baru tahu saat itu ternyata ada juga adik kelas yang suka dengan Aulia, yang kebetulan satu bidang osis dengan ku. Tapi walaupun begitu aku hanya bisa meyakinkan Aulia, dan gangguan itu berhenti begitu saja.

Setelah lulus SMA, aku memutuskan untuk kuliah di Pekanbaru, tepatnya di UIN dengan jurusan Teknik Informatika. Saat itu Aulia masih kelas 2 SMA, bisa di bilang kami LDR, aku hanya bisa memberi kabar lewat telepon dan SMS, karena dulu orang-orang belum semuanya punya smartphone. Yang bisa kulakukan hanya meneleponnya ketika malam, dan mengucapkan selamat malam ketika tidur, kebiasaan yang sangat sederhana. Aku baru pulang ketika menjelang lebaran, dan baru bisa jalan-jalan dengannya, saat itu kami sudah berpacaran lebih dari 2 tahun. Setiap lebaran pun aku selalu menyempatkan ke rumahnya, ibunya sangat ramah denganku, aku masih ingat bagaimana ibunya bertanya tentang kampus mana yang akan di pilih Aulia, yang tak bisa kulupakan adalah ketika Aulia hendak kuliah, ibunya berkata kepadaku agar menjaga Aulia, janji itu yang tak bisa aku penuhi sekarang, karena keputusan itu bukan hanya ada padaku, tapi juga ada pada Aulia.

Mendekati 2,5 tahun pacaran akhirnya Aulia kuliah, dia memilih kampus yang sama denganku, walaupun prodi yang diinginkannya tidak tersedia, aku tahu ketika itu betapa sungguh-sungguhnya dia, sebenarnya dari dulu, dia sudah pun ya rencana untuk meneruskan kuliah di Medan dan tinggal dengan saudaranya, hanya saja dia memilih pekanbaru agar tidak jauh dari orang tuanya, dan aku.

Aulia tinggal di kos yang tidak jauh dari kampus, dan berjalan kaki dari kos nya ke kampus setiap hari. Disini lah ke-egoisanku, aku terlalu sibuk dengan kuliah, dan jarang memperhatikannya, mengantar ke kampusnya saja aku jarang. Aku sadar dengan kesalahanku ketika itu, dan hubungan kami mulai merenggang. Nilai-nilai mata kuliahku pun anjlok, pada semester 5, aku merasa tertekan saat itu, dan orang tuaku mengaitkan anjloknya nilaiku dengan pacaran, padahal enggak benar. Aku juga merasa bersalah dengan Aulia, aku hanya mengikuti ego.

Akhirnya aku dan Aulia putus, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-18 tahun, aku merasa jatuh, aku tak tahu lagi harus bagaimana, yang aku tahu hanya Aulia mungkin bisa mendapatkan yang lebih baik dariku, aku tak pantas untuk dia, aku tahu berat, aku tak bisa membayangkan raut wajahnya ketika itu, aku tertekan, dan sesudah kami putus, aku mulai menjelaskan ke orang tuaku, bahwa permasalah nilai bukan karena pacaran, dan orang tuaku bisa menerimanya.

Setelah putus, tidak ada hari tanpa aku memikirkan dia, aku cuma tak bisa berfikir yang lain, sebelumnya kami sudah pernah putus dan nyambung lagi setelah itu. Tapi setelah putus kali ini, aku mencoba menyibukan diri ku dengan kuliah. Jujur aku menahan diri untuk tidak menyapanya, padahal sebenarnya aku ingin sekali menanyakan kabarnya, hanya saja aku terlalu gengsi dan egois. Aulia mencoba untuk menanyakan kabarku, tapi hanya acuh jawabku ketika itu, jujur aku sedih ketika itu, yang aku pikirkan hanya bagaimana aku memulainya lagi, aku tak pernah mengerti dengan diriku sendiri, aku cuma berputar-putar dan akhirnya berhenti untuk menyesal.

Aku tidak tahu lagi bagaimana mendekati wanita lain, aku sudah lupa caranya, bagiku saat itu hanya dia, tapi bodohnya aku sampai tak mampu berkata-kata. Aku sadar aku telah buta ketika itu, hanya tertekan dengan urusanku dan mengabaikan dia, tanpa aku tau, dia adalah hal terindah yang kumiliki selain keluargaku, namun semua sudah terjadi. Aku pikir hanya sesederhana “Orang yang saling sayang itu, pasti kembali bagaimana pun lamanya atau alasannya mereka berpisah” tapi ternyata tidak, masih ada banyak alasan dari itu. Aku hanya bisa bermimpi agar sebuah keajaiban terjadi, karena sudah tak mungkin lagi mengulang waktu ketika hari itu, aku tak bisa pergi jauh dari bayangannya, karena baru aku rasa ketika sudah tidak lagi bersama, yang ada hanya lebih buruk bagiku.

 

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca karya fiksi lain di menu Baca Karya Fiksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *