Baca Karya NonfiksiTips Belajar Menulis

Tips Belajar Menulis – Garis Sejajar Itu Bernama Memasak dan Menulis – Dinda Ayu Taufani Mahardika

Garis Sejajar Itu Bernama Memasak dan Menulis
karya Dinda Ayu Taufani Mahardika
Juara 5 Lomba Menulis Proses Kreatif Tulis.me

Baca tips belajar menulis dari penulis lain di menu Tips Belajar Menulis.

Baca esai tentang sastra dari penulis lain di menu Esai.

Setiap hal memiliki awal, proses, dan hasil. Dari karya-karya yang sudah saya tulis, saya dapat menarik sebuah simpulan. Menulis mirip dengan memasak. Seperti judul esai ini, saya mengasosiasikan menulis dengan memasak. Saat kita benar-benar memulai menulis dari nol, anggap saja kita berada di dapur dengan peralatan seadanya dan kulkas kosong tanpa bahan makanan. Kita harus tahu apa yang akan kita masak. Oleh karena itu, kita perlu mendapatkan ide.

Mendapatkan Ide

Ide adalah sesuatu yang hobi menyebalkan. Ia datang secepat hilang. Saat dibutuhkan, kadang ia enggan menampakkan diri. Sebenarnya ide dapat datang dari mana saja, kita harus cukup peka untuk menyadarinya.

Ide dapat digali melalui perenungan, percakapan, dan perjalanan. Siapkan catatan kecil. Tidak harus berwujud kertas. Ponsel juga bisa menjadi sarana penampungan ide sementara. Saya memasang aplikasi catatan virtual di ponsel. Menurut saya, aplikasi ini lebih efektif daripada membawa buku ke mana-mana. Setiap ada yang menarik perhatian kita, catat! Jika tidak lekas dicatat, khawatirnya akan lupa.

Dari semua ide-ide random, pilih mana yang paling tepat. Lalu tentukan jenis dan fokus tulisannya. Ide yang tidak kamu gunakan dapat kamu olah untuk tulisanmu yang lain di kesempatan yang lain. Saya menyebutnya bank ide. Tidak ada ide yang jelek, yang ada hanya ide yang belum sesuai dengan kebutuhan kita. Apabila tema sudah ditentukan, misalnya lomba, penggalian serupa tetap dapat dilakukan, tetapi langsung untuk mendapatkan fokus.

Kita sudah tahu apa yang akan kita masak, jadi kita harus tahu bagaimana cara kita memasaknya. Apa kita harus memanaskan adonan dulu atau langsung mencampurkannya? Apa kita harus lebih banyak menambahkan lada hitam atau bubuk cabai? Dengan kata lain, kita harus memiliki panduan/arahan/gambaran pengerjaan.

Menyusun Kerangka Tulisan

Saya hampir selalu membuat kerangka untuk tulisan, baik non-fiksi maupun fiksi. Kerangka ini bertujuan untuk menuntun dalam menulis sekaligus memagari agar tidak keluar jalur karena terkadang kita mudah terbawa suasana saat menulis. Sebagai informasi saja, dalam menulis sastra yang memainkan banyak tokoh ada baiknya kita membuat tabel karakter lengkap dengan perannya dalam karya tersebut.

Saya pernah sengaja tidak membuat kerangka saat menulis opini tentang terorisme. Awalnya lancar-lancar saja, kemudian seorang teman memanggil saya. Begitu saya selesai menjawab panggilannya, saya sudah lupa apa yang akan saya tulis. Selama beberapa jam, saya bingung sendiri. Lalu saya diamkan dulu tulisan tersebut, dan saat saya melanjutkannya opini tersebut tidak benar-benar sama dengan rencana saya. Namun, saya juga bingung jika ditanya apa yang janggal.

Tujuan dan panduan sudah ada. Sekarang, saatnya berbelanja. Dalam berbelanja, kita berpatokan pada panduan yang sudah ada. Dari sana, sekiranya kita tahu apa saja yang kita butuhkan.

Menyiapkan Data Penunjang

Sebelum memasak, kita perlu berbelanja bahan dan mungkin alat yang kita butuhkan. Kumpulkan bahan-bahan yang kamu perlukan. Misalkan kita hendak menulis tentang agraria, kita harus mengumpulkan mulai dari undang-undang sampai kasus. Misalkan kita hendak menulis peristiwa dari perspektif agama, kita harus memahami ayat atau hadist yang menjadi rujukan kita, bukan cuma asal comot. Bila perlu adakan wawancara dengan pihak terkait. Pemahaman akan apa yang kita tulis membuat tulisan menjadi lebih hidup dan mudah dipahami pembaca. Jangan menelan informasi dari satu sumber saja. Pilih sumber informasi yang kredibel.

Untuk berjaga-jaga, tidak apa-apa belanja berlebih asal tidak melenceng, barangkali perlu. Namun saya sarankan jangan jika belum terlalu yakin. Fokus kita dapat berubah haluan. Risikonya, jika konten tidak berubah dari rencana, maka tulisan akan seperti masakan yang rasanya aneh karena terlalu banyak bumbu/bahan secara tidak proporsional. Oleh karena itu, setelah kerangka dibuat, usahakan kerangka benar-benar menjadi pedoman.

Tahap penyusunan kerangka dan belanja bahan bisa dibalik atau berjalan bersamaan. Tergantung situasi, gaya bekerja yang sesuai dengan kita, dan apa yang akan kita tulis. Setelah semua ‘mentahan’ terkumpul, saatnya masuk ke babak utama yaitu menulis.

Mengeksekusi

Ciptakan suasana nyaman untuk menulis. Setiap orang memiliki standar nyaman sendiri. Memang terkesan pilih-pilih, tapi suasana nyaman akan membuat kita lebih relaks dan bekerja optimal. Lagipula tidak semua orang bisa menulis di semua kondisi.

Saya paling suka menulis di kasur, dengan bantal dan permen loli. Permen loli (menurut saya) ideal untuk menulis dibanding camilan lain karena tidak menyibukkan tangan sehingga tangan tetap menulis dan masih bisa untuk bicara (atau untuk menyanyi tidak jelas). Permen loli juga lebih tahan lama di mulut.

Data-data yang sudah dikumpulkan perlu diolah menjadi karya yang utuh. Meski memiliki ‘pedoman’, tapi kita harus mengikuti kata hati. Mungkin kalimat ini terdengar agak kontradiktif, tapi jika diibaratkan ‘pedoman’ seperti batas petak lahan atau buku resep diy (do it yourself) dan hati kita yang menentukan bagaimana cara kita berekspresi dengan batasan yang ada. Pokoknya tulis saja! Jangan banyak cemas saat menulis, apalagi sambil mengedit. Nanti tulisanmu tidak selesai-selesai atau malah buyar.

Setiap orang memiliki ciri khas dalam menulis. Entah dari pemilihan kata atau sudut pandang yang diambil. Hal ini kadang tidak kita sadari, tapi cepat atau lambat harus kita eksplorasi. Apa yang membuat tulisanmu berbeda dapat menjadi nilai lebih.

Masakan perlu dicicipi sebelum disajikan di meja makan, tulisan juga.

Mencicipi Tulisan

Jika sekiranya semua sudah diungkapkan saatnya membaca ulang lalu mengedit. Jangan hanya mengedit sekali. Saya biasanya mengedit tiga-empat kali. Pengeditan pertama secara redaksional, pengeditan kedua (dan ketiga jika perlu) secara substansial, dan pengeditan terakhir secara keseluruhan.

Bila perlu, setelah pengeditan terakhir minta tanggapan orang lain membaca tulisanmu sebelum diunggah/dikirim atau bisa disebut beta reader. Apa tulisanmu dapat dipahami, apa maksudmu tersampaikan, dan lain-lain. Hal ini sangat saya sarankan jika tulisanmu mengarah pada sebuah bidang profesional. Untuk meminimalkan kekurangpahaman pembaca, gunakan pilihan kata yang umum, atau siapkan penjelas.

Menyajikan Secara Tepat

Tahap ini dibutuhkan oleh orang yang mengirimkan tulisan, bukan mengunggahnya sendiri. Cari wadah yang sesuai dengan tulisanmu! Setiap media memiliki karakter sendiri. Kita harus jeli memilih. Namun, jangan pernah takut tulisanmu tidak terbaca. Setiap tulisan pasti menemukan para pembacanya.

Pada akhirnya, teori sebanyak apa pun tidak akan bermanfaat jika tidak diterapkan. Ayo bergerak, ambil penamu! Selamat menulis!

Biodata Penulis
Halo, nama ringkas saya Diatama, panjangnya Dinda Ayu Taufani Mahardika. Ruang menulis saya berawal dari mengekspresikan emosi dan menjabarkan fantasi, yang kemudian berkembang semenjak bergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa. Saya setuju dengan pernyataan bahwa menulis adalah melawan, setidaknya melawan ketidaksadaran.
Teman-teman bisa menghubungi saya di akun facebook sesuai nama lengkap saya, instagram @diata_ma, dan diatamahardika.blogspot.com

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya dan tips menulis, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca tips belajar menulis dari penulis lain di menu Tips Belajar Menulis.

Baca esai tentang sastra dari penulis lain di menu Esai.

One thought on “Tips Belajar Menulis – Garis Sejajar Itu Bernama Memasak dan Menulis – Dinda Ayu Taufani Mahardika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *