Baca Karya NonfiksiTips Belajar Menulis

Tips Belajar Menulis – Membuahi dengan Kreatif – Joanna Dian Oktavianie

Membuahi dengan Kreatif
karya Joanna Dian Oktavianie
Juara 3 Lomba Menulis Proses Kreatif Tulis.me

Baca tips belajar menulis dari penulis lain di menu Tips Belajar Menulis.

Baca esai tentang sastra dari penulis lain di menu Esai.

Penautolis jajaba!

Tidak terjadi apapun. Aneh sekali. Mengapa ya? Bagi yang belum tahu, barusan saya mengucapkan sebuah mantra. Jika ditanya untuk apa, untuk menghasilkan karya tulis jawabannya. Tapi, mantra itu tidak berhasil. Saya jadi mengerti, semesta tidak mengizinkan saya jadi makhluk yang instan. Saya harus berproses secara kreatif dalam berkarya. Jika kau ingin tahu bagaimana ceritanya, marilah! Angkat cangkir kopimu dan bawa ke ruang tengah. Secangkir untukmu saja, saya tidak bisa minum kopi.

Benar. Kau tidak salah baca. Saya memang tidak bisa minum kopi. Jadi, salah satu yang menjadi teman saya ketika berproses kreatif adalah air mineral. Saya yakin, dirimu pasti orang cerdas yang rajin membaca apa saja manfaat minum air mineral. Entah itu sugesti atau tidak – tapi saya selalu percaya bahwa sugesti positif akan berdampak positif pula pada tubuh kita, setiap kali saya banyak minum air mineral ketika menulis, pikiran saya disegarkan kembali. Menurut berbagai sumber, minum air mineral memang dapat meningkatkan produktivitas dan meningkatkan fungsi otak. Maka dari itu, saya semakin yakin untuk memilih air mineral sebagai kawan menulis saya. Tapi, tentu saja saya enggan untuk membahas manfaat air mineral ini lebih lanjut karena memang bukan itu tujuannya. Hehehe…

Sebelum lebih jauh, barangkali kau agak penasaran, tulisan macam apa yang biasanya saya lahirkan. Saya tertarik dengan gangguan kejiwaan, agama dan kemanusiaan, juga kisah kasih remaja yang ringan. Tentu tulisan saya tidak akan jauh dari hal-hal tersebut. Entah dengan gaya bercerita yang menyenangkan atau menghampakan. Tujuan menyampaikan minat saya ini, sederhananya untuk memberikan gambaran tentang alasan saya mengambil cara-cara (yang akan saya sampaikan selanjutnya) dalam berproses kreatif tersebut.

Jujur saja, saya bukan orang yang benar-benar teratur. Apalagi kalau hal itu berhubungan dengan proses berpikir kreatif, yang akan lebih sering saya sebut sebagai proses pembuahan. Kalau dirimu ada waktu, kapan-kapan bolehlah mampir ke Kamarku; sebuah ruang pusat imajinasi dan pembuahan saya. Ruang itu nampak berantakan, namun mengandung keteraturannya tersendiri. Dalam berproses kreatif pun, saya demikian. Tahapannya acak, tidak akan pernah persis sama. Namun, ada yang rutin saya lakukan akhir-akhir ini. Ide-ide yang berlompatan secara acak itu saya tulis tangan, kemudian pengembangannya baru saya lakukan di komputer.

Dalam tahap penulisan ide tersebut, saya menambah pengetahuan dengan berselancar di internet, rajin mengobrol dengan orang lain, membaca buku, menajamkan indera, atau yang paling efektif; mengalaminya sendiri. Bukan hal yang aneh jika dalam berproses kreatif, kita akan berselancar di internet, mengobrol dengan orang pilihan, ataupun membaca buku. Bagi saya, itu wajib karena menulis tidaklah semudah memasukkan jari ke lubang hidung saat kau sedang sendirian di kamar mandi!

Perihal menajamkan indera, dahulu kala saya telah setengah sadar bahwa itu adalah hal yang penting. Hingga suatu ketika, dalam salah satu kelas menulis yang saya ikuti, Sang Guru seolah membunyikan gong di kepala saya. Dia jelas-jelas menunjukkan bahwa itu memang hal yang sangat membantu dalam proses pembuahan. Kau tahu, ketika akhirnya saya berhasil menyadari keberadaan plakat-plakat yang berjejer di sebuah meja di kantor saya, tiba-tiba saja saya terpikirkan cerita pembunuhan di mana pelakunya membunuh menggunakan plakat-plakat itu! Padahal begitu sering saya melewati barisan plakat tersebut, tapi saya hampir tidak menyadari keberadaan mereka. Maka benarlah Sang Guru, melatih indera-indera kita supaya lebih tajam, sangatlah membantu. Saya pun yakin, jika sudah begitu, kita tidak akan pernah kehabisan ide. Karena dengan menajamkan indera, ide-ide tersebut justru akan datang sendiri pada kita.

Ada kalanya, saya masih juga kurang puas meskipun sudah mencari informasi melalui internet, berbincang, membaca buku, atau pun mengamati sekitar. Maka saya nekat mengambil langkah untuk terjun langsung ke sana, ke sebuah tempat yang akan memperkaya sel-sel pembuahan saya. Saya menyebutnya sebagai eksperimen. Hidup saya pun sudah menjadi bagian dari eskperimen saya, baik secara fisik maupun psikologis. Ini tidak melulu bersifat negatif, banyak pula eksperimen positif yang saya lakukan.

Contoh eksperimen negatif yang pernah saya lakukan adalah merokok. Sebagaimana banyak dikatakan orang – bahkan iklan rokok itu sendiri mengatakan bahwa rokok membunuhmu, maka bisa dibilang merokok termasuk eksperimen yang sifatnya cenderung negatif. Saya begitu ingin dapat mendeskripsikan apa yang dirasakan oleh seorang perokok. Bagaimana caranya membakar rokoknya tanpa korek, bagaimana asapnya bermanuver di dalam saluran pernapasan Si Perokok tersebut, dan lain sebagainya.

Masuk ke dalam suatu komunitas keagamaan, juga merupakan suatu eksperimen bagi saya. Begitupun ketika pergi ke sebuah pameran atau mengikuti suatu lokakarya. Tepat, inilah eksperimen positif yang saya maksud. Kemudian, saya sering menggabungkan cara ini dengan menajamkan indera tadi. Hasilnya sungguh berkali-kali lipat. Sebisa mungkin saya pun selalu ramah pada ide – saya tak boleh sombong untuk tidak mencatat, supaya mereka mau selalu mampir dengan sopan dan mengajak sanak-saudaranya untuk berkunjung ke Kamarku. Saya jadi senang, karena di antara kacaunya Kamarku, banyak terselip ide di sana.

Kemudian ketika ide nampaknya sudah cukup – meskipun saya tak pernah merasa cukup, saya mulai membuahinya dengan kata-kata. Lalu datanglah kendala lain; membuat awal dan akhir dari rangkaian tulisan saya. Serius, itu tugas berat bagi saya! Mungkin juga kau begitu. Lagi-lagi saya ingat pesan seorang guru. Kita perlu membuat awal dan akhir semenarik mungkin. Saya setuju karena menurut saya, itulah jiwa dari sebuah tulisan, selain hal-hal lainnya yang juga tidak kalah penting.

Si Awal, kita butuhkan untuk menarik minat pembaca, dan Si Akhir untuk memberikan bekas pada benak pembaca. Mereka seperti anak kembar yang saling terhubung dan perlu perhatian khusus. Ketika membuahi sel telur mereka, saya lebih suka untuk mengembangkan sisi psikologis mereka. Si Awal, saya arahkan supaya dia pandai merayu dengan kata-kata yang singkat namun mampu membawa pembaca pada suasana cerita. Kepada Si Akhir, saya ingatkan supaya dia selalu membebaskan pembaca terutama dalam karya fiksi saya. Maksudnya, saya lebih suka memancing rasa penasaran pembaca tentang apa yang kemudian terjadi pada tokoh dalam cerita, namun tidak menunjukkan kesimpulannya. Saya senang membiarkan akhir cerita itu jadi bercabang kemudian terbawa dalam mimpi pembaca.

Tak jarang di satu titik, tiba-tiba saya menemui jalan buntu. Padahal semua ide itu sudah tercatat namun susunannya acak. Kalaupun sudah runtut, tetap saja saya sedang merasa bosan. Maka saya tidak akan ragu untuk meninggalkan mereka. Sejenak saja. Saya pergi berjalan-jalan dan mendapati mayat tikus bergelimpangan di sepanjang jalan. Bau pasar. Juga suara bisingnya pemuda yang mengganggu pemudi yang lewat. Saya diam tak memikirkan apapun lalu emosi-emosi lain mulai berlompatan. Ketika saya kembali ke Kamarku, ide itu kembali berceceran. Rasa bosan sudah lari tunggang langgang. Jangan lupa catat dahulu para ide yang mampir. Apalagi saya pelupa. Bahaya kalau tak ingat. Bisa kacau dunia pembuahan!

Tapi tetap, kembali pada ciri khas masing-masing bagaimana kita melewati masa krisis dalam proses kreatif tersebut. Ini saya, seseorang yang lebih memilih air mineral ketimbang secangkir kopi. Misalnya saja tulisan ini. Jika jiwanya tidak menyentuh dirimu, maka saya gagal. Kalau begitu, barangkali saya harus pergi ke gunung untuk bertemu dengan orang pintar lalu belajar sihir. Saya perlu mantra baru untuk menghasilkan suatu karya yang penuh kekuatan magis. Penautolis jajaba!

Bandung, 23 Juni 2018

Biodata Penulis
Joanna Dian Oktavianie, perempuan yang senang menceritakan tentang kematian dan gangguan kejiwaan, juga kisah kasih remaja yang sangat kontras satu sama lain. Beberapa karya hasil pembuahannya berceloteh di blog pribadinya ruangdianasta.wordpress.com. Joanna juga senang berinteraksi melalui media sosialnya @joanoktavianie (Instagram dan Twitter), @jodianok (Line), dan surat elektronik joanoktavianie@gmail.com.

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya dan tips menulis, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca tips belajar menulis dari penulis lain di menu Tips Belajar Menulis.

Baca esai tentang sastra dari penulis lain di menu Esai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *