Baca Karya NonfiksiTips Belajar Menulis

Tips Belajar Menulis – Di Balik Kota Kata-Kata – Elva Mustika

Di Balik Kota Kata-Kata
karya Elva Mustika
Juara 4 Lomba Menulis Proses Kreatif Tulis.me

Baca tips belajar menulis dari penulis lain di menu Tips Belajar Menulis.

Baca esai tentang sastra dari penulis lain di menu Esai.

Pengalaman

Sampai kini, sejak yang bisa saya ingat, saya menghimpun sejumlah tulisan berdasarkan pengalaman-pengalaman. Metode ini saya latih sejak memutuskan untuk berkuliah di Program Studi Jurnalistik. Namun jauh sebelum itu, alam bawah sadar saya seperti sudah memberi rambu-rambu bahwa cara ini lah yang terbaik untuk saya lakukan. Ketika saya meneropong perjalanan kepenulisan (yang sebenarnya tidak seberapa banyak), dengan mudah saya mengenali jalan setapak yang pernah saya injak di masa lampau.

Untuk menulis cerita berdasarkan pengalaman, tentu saja membutuhkan ingatan yang bagus. Padahal seorang bijak pernah berkata, bahwa tinta paling tipis sekalipun masih lebih kuat ketimbang ingatan. Karena itu, saya membiasakan diri untuk menulis buku harian dan membukanya ketika sedang dibutuhkan. Penelusuran ingatan semacam ini lah yang kelak menjadi proses kreatif dan paling besar ambil bagian dalam perjalanan kepenulisan saya.

Meski sebagian besar pengalaman itu saya panggil secara paksa dari lembar-lembar buku harian, tetapi, detail-detail yang luput dari catatan itu lebih sering datang sekelebat sebagai makhluk halus. Ingatan tipe kedua ini jauh lebih sensitif, emosional, dan kelak menjadi percakapan-percakapan kecil atau latar cerita yang tak terlupakan. Sementara, pengalaman yang saya tulis di buku harian lebih sering menjadi sketsa kasar keseluruhan cerita yang sedang saya rancang.

Lantas, bagaimana cara menangkap ingatan yang lebih halus?

Sebagai mahasiswi Jurnalistik, saya melatih diri untuk peka terhadap lingkungan. Bisa jadi, yang “bernilai berita” bukan saat narasumber menjawab pertanyaan saya secara tegas, melainkan saat dia merespon pertanyaan tersebut dengan berdeham lalu memalingkan pandangan ke arah lain. Belakangan saya sadari, tidak perlu menjadi mahasiswi Jurnalistik untuk peka terhadap sekitar. Cukup menjadi manusia yang kemanusiaan, sehingga tidak bebal menangkap “sinyal” dari alam dan seisinya. Teori ini saya rumuskan menjadi: makrokosmos (alam semesta) mengirimkan sinyal (melalui hujan, badai, longsor, tatapan mata yang tidak asing, dsb) yang kemudian memancing mikrokosmos (ingatan manusia) yang sifatnya sangat halus dan tipis, namun mahal sekali harganya.

Maka tidak heran, bila sewaktu-waktu saya ingat percakapan yang telah lama berlalu seperti, “Kemarin Ibu lihat sedap malam yang dijual di Pasar Jangkrik. Semuanya layu.” Sungguh dialog yang sederhana namun indah terdengar di telinga, membangkitkan kenangan akan suasana malam takbiran dengan kembang-kembang sedap malam dan harumnya yang menguar ke penjuru ruangan. Ingatan tipis ini membuat saya tersentak dan sadar bahwa, “Ini harus jadi cerita!”

Kemungkinan-Kemungkinan

Sherlock Holmes dalam cerita karangan Sir Arthur Conan Doyle sering memposisikan dirinya sebagai pelaku kejahatan, kendati dia adalah detektif yang berperan sebaliknya. Sama seperti yang dilakukan Miss Jane Marple dalam kasus-kasus ciptaan Agatha Christie. Pengandaian ini sebenarnya bertujuan untuk memudahkan Holmes dan Marple dalam membuat pertanyaan: jika saya adalah pembunuh itu, apa yang akan saya lakukan kemudian?

Kemudian, pertanyaan tersebut membuahkan beberapa opsi dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa ditelusuri. Jika mayat itu disembunyikan dalam peti di gudang, apakah baunya akan tercium? Bila mayat itu ditenggelamkan ke dalam laut, apakah tulangnya akan terdampar di daratan? Mungkin iya, tapi memakan waktu lama.

Pengandaian tersebut juga yang saya gunakan dalam proses kreatif menulis cerita. Setelah mengingat sebuah pengalaman, saya lantas bermain-main dengan kemungkinan. Misalnya: Jika waktu itu saya mengambil Program Studi Akuntansi, orang yang saya sukai pasti berambut rapi, memakai kemeja, wangi, dan tertata rapi seperti pegawai negeri. Bukan serampangan dan jarang mandi. Tetapi, apakah saya akan bahagia bersama dengannya?

Itu hanya contoh kecil saja. Pada praktiknya, pengandaian menyuguhkan lebih banyak pintu yang bisa saya buka. Lebih banyak pintu berarti lebih banyak pilihan dan lebih banyak kemungkinan. Dalam ruang berpikir saya, saya bebas membuka semua pintu itu untuk mengetahui semua kemungkinannya. Sekarang, semua pilihan telah berada di tangan saya. Mau saya “pelintir” seperti apa pengalaman tersebut? Bisa jadi saya memilih mati saat itu, bisa jadi saya memilih pilihan yang tak sempat saya pilih dan membuat semuanya jauh lebih baik.

Sumur Ilham

“Fakta itu suci, pikiranmu yang mengotorinya….”

Sebagai remaja dengan latar belakang pendidikan Jurnalistik, kaki saya mengakar di tanah kepastian. Nyaris saya berpikir bahwa para jurnalis tidak bisa menulis cerita fiktif, hingga saya mengenal jurnalis-jurnalis yang giat terlibat dalam panggung sastra seperti Pak Arief Joko Wicaksono, Nestor R. Tambunan (Nestor Katanya), dan Leila S. Chudori. Dari mereka, saya belajar membangun jembatan antara yang fakta dan yang fiktif. Jika harus berperan sebagai jurnalis, saya berjalan ke sisi kepastian. Jika harus menulis cerita, saya berpindah ke sisi imajinatif, atau berdiri di antara keduanya.

Cerpen pertama saya, “Greatinture” (Horison, 2012) merpakan penggabungan kedua elemen itu. Berdasarkan pengalaman, saya membuat si tokoh utama menjadi serupa teman saya di kelas: cantik, pintar,  nyaris sempurna tapi suka mengutil. Berdasarkan kemungkinan-kemungkinan, saya coba menakar: apa yang membuat dia suka mencuri? Bagaimana jika suatu hari seisi sekolah tahu, bahwa dia suka mencuri? Bagaimana jika, kebiasaan ini mempengaruhi masa depannya dan ia begitu menyesal?

Kemudian, otak kanan saya bekerja menciptakan portal yang menghubungkan si tokoh utama ke masa lalu dan masa depan. Portal itu, tentu saja, tidak akan ada jika saya tidak berpendulum di antara yang nyata dan yang imajinatif. Tetapi, apakah tidak apa-apa menulis sesuatu yang berada jauh di luar logika? Well, berkat “Greatinture”, saya bisa menginap gratis di hotel tiga hari, bertemu penyair-penyair seperti Taufiq Ismail, Agus R. Sarjono, dan mendapat uang yang lama habisnya.

Pertanyaan berikutnya, apakah saya selalu bermain di tengah-tengah? Tidak juga. Saat saya selesai membaca novel-novel Leila S. Chudori, kaki saya cenderung berat ke kiri. Saya mulai membaca buku-buku sejarah untuk melakukan riset latar, konflik, dan fakta sejarah lainnya; mewawancarai narasumber yang pernah terlibat, misalnya soal kerusuhan di tahun 1998; kemudian mengolah pengalaman orang-orang tersebut dengan kemungkinan-kemungkinan yang saya andaikan. Sementara jika kaki saya sedang berat ke kanan, yang tercipta ialah realisme magis atau tulisan-tulisan absurdis seperti ciptaan Franz Kafka, Murakami, atau Reza Nufa.

Bagi saya, menulis adalah melakukan pelayaran di lautan luas sastra (dengan berbagai genre, gaya, dsb) bersama nakhoda penulis kesukaan saya yang tulisannya mampu menggerakkan kapal sehingga saya mau terus menulis, menulis, dan menulis…sampai semakin hari, saya merasa semakin dekat dengan mereka.

Zona Nyaman

Untuk menulis, saya tidak perlu mengasingkan diri ke pantai atau gunung. Cukup menempatkan laptop di meja yang menghadap jendela, dengan buku-buku dibariskan di sudutnya. Karena saya cukup obsesif dengan kerapian meja kerja, saya akan melakukan ritual bersih-bersih seperti mengelapi buku; menjajarkan pulpen, pensil, dan alat tulis lainnya seperti barisan tentara; serta membakar wewangian yang dapat menenangkan otot-otot saya.

Namun kadang, ada-ada saja sesuatu yang membuat pikiran saya buntu. Kalau sudah begitu, saya akan sibuk menghubungi satu-dua teman untuk ngobrol di luar rumah. Tidak perlu jauh-jauh, apalagi ke tempat romantis seperti melihat senja di bibir pantai. Cukup keliling di Jalan Sabang, menciumi aroma sate kambing atau dengan tabah mendengar klakson kendaraan bersahutan. Berputar-putar di TIM untuk nonton bioskop, serta ke Galeri Nasional dan mengambil beberapa foto.

Untuk menutup hari, saya biasa mampir ke Tegalan di seberang Gramedia Matraman, lalu melakukan percakapan ringan dengan kawan-kawan di bawah tenda nasi goreng atau kebab Madina. Dari sanalah pikiran saya melakukan reparasi diri dan mulai menetaskan ide-ide—mulai dari yang jelas bentuknya sampai yang prematur. Misalnya, saat kami sedang ngopi saset habis makan mi ayam bakso, tiba-tiba saya kepikiran seorang teman yang sangat menjaga gengsinya dalam hal makanan. Padahal, “Bakso pinggir jalan dan pizza Italia akan berakhir dalam bentuk yang sama di toilet. Iya, kan?” tanya saya pada teman bicara.

Ide prematur ini biasanya akan meluncur begitu saja di tengah obrolan yang cepat menguap, sebelum pada akhirnya berkembang menjadi sebuah tulisan di blog, di draf, di UAS Jurnalisme Sastrawi, atau berceceran di tempat-tempat lain.

Tips Menulis

  1. Pikirkan, apa yang ingin kamu sampaikan?

Soal bagaimana menyampaikannya, terserah saja. Mau dilapisi dengan berbagai majas, atau ditumpahkan di depan mata, suka-suka saja. Yang penting, kamu harus tahu apa yang ingin kamu sampaikan. Jangan sampai, tulisan itu jadi kosong makna.

  1. Baca banyak buku

Untuk bisa menulis dengan baik, kamu harus menjadi pembaca yang baik. Bacalah banyak buku, temukan gairah menulis yang tertanam di dalamnya. Belajarlah untuk membaca nilai yang tidak tercetak di sana. Kemampuan membacamu berbanding lurus dengan kemampuan menulismu.

  1. Mulai dari ide yang kukuh

Rajinlah membuat coret-coretan, merancang mind map, membuat bullet points, atau paling tidak, menghimpun buku harian dengan benih-benih ide seperti yang saya lakukan.

  1. Ciptakan zona nyaman

Saya lebih suka menggunakan kata “ciptakan” daripada “cari” karena, serius, zona nyaman bisa diciptakan. Kenakan baju favoritmu, makan makanan kesukaanmu, putar lagu yang paling bagus di telingamu, pindahkan laptop ke sudut lain di rumah. Lapangkan hatimu dan kumpulkan niatmu. Sambut apa saja yang hinggap dan siramilah benih tersebut dengan kreativitas.

  1. Mulai menulis

Meski secara formal saya memasukkan lima tips, sebenarnya, jika ditanya “Bagaimana cara menulis/menjadi penulis?” saya hanya akan menjawab, “Rajin baca, mulai, dan terus menulis.” Sebab, setiap penulis adalah pemimpi yang hebat. Tidak peduli jika saya atau Anda hanya penulis amatir, yang jelas, serangkaian proses kreatif kepenulisan harus dilewati dan mimpi-mimpi harus dituliskan. Itulah yang membuat kita merasa hidup sebagai seorang penulis, sama dengan mereka yang telah mendirikan jutaan kota kata-kata lebih dulu.

Biodata Penulis
Elva Mustika Rini lahir di Jakarta, 3 Maret 1998 dan menempuh pendidikan di Program Studi Penerbitan (Jurnalistik), Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta. Cerpen pertamanya, “Greatinture” terbit di majalah sastra Horison pada 2012. Sampai tahun 2017, Elva telah menerbitkan beberapa cerpen dan puisi dalam buku antologi bersama, yakni ­Kejutan Sebelum Ramadan #10 (Nulisbuku, 2013); Aku Baik-Baik Saja (deTeens, 2014); I’m Proud to be Me (deTeens, 2015); Kado Terindah Untukmu (Jejak Publisher, 2017); dan Tergenang Kenang (Mandala Penerbit, 2017). Tulisan lain dihimpun di dalam blog monologmegabintang.wordpress.com, sebagian dibiarkan berceceran di Instagram @elvocado.

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya dan tips menulis, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca tips belajar menulis dari penulis lain di menu Tips Belajar Menulis.

Baca esai tentang sastra dari penulis lain di menu Esai.

One thought on “Tips Belajar Menulis – Di Balik Kota Kata-Kata – Elva Mustika

  1. Terima kasih atas penjelasan nya tentang menulis. Semoga saya bisa seperti mbak(maaf sebelum nya,menurut saya panggilan itu lebih sopan), bisa membuat karya tulis saya sendiri. Saya benar benar terinspirasi dari ulasan itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *