Baca Karya NonfiksiEsai

Esai – Rekonstruksi Standar Kecantikan Melalui Sastra – Resty Assalmiah Lasri

Rekonstruksi Standar Kecantikan Melalui Sastra
karya Resty Assalmiah Lasri
Juara 4 Lomba Menulis Esai Tulis.me

Baca tips belajar menulis dari penulis lain di menu Tips Belajar Menulis.

Baca esai tentang sastra dari penulis lain di menu Esai.

Karya sastra dapat dikatakan sebagai suatu refleksi dari realitas. Hal ini karena karya sastra merupakan imajinasi penulis yang dipengaruhi oleh lingungan sekitarnya.[1] Namun, sebaliknya, karya sastra dengan pengaruh kuat juga dapat merekontruksi pemandangan individu maupun masyarakat tentang suatu hal.  Selain memberikan hiburan dan pendidikan, karya sastra juga dapat mempengaruhi pembaca lewat isi dan maknanya. Karya sastra menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu memberi pengaruh sosial terhadap masyarakat.2 Hal ini didukung dengan minat masyarakat, termasuk remaja terhadap karya sastra cukup tinggi.

Minat remaja terhadap karya satra menimbulkan genre sendiri dalam dunia sastra yang sering disebut teenlit atau chicklit. Karya sastra tentu memiliki tempat tersendiri di hati dan pikiran pembaca remaja. Dengan demikian, maka hal yang coba disampaikan oleh penulis dalam karya sastra dapat mempengaruhi pemikiran para pembaca. Hal ini terutama sangat mungkin bagi remaja yang masih dipenuhi tanda tanya tentang identitas dan posisinya dalam masyarakat. Oleh karena itu, karya sastra dapat menjadi alat rekonstruksi mengenai berbagai hal yang perlu untuk ditata ulang, misalnya konsep “cantik.”

Untuk memulai hal ini, tentu harus diawali dengan argumen tentang mengapa pemikiran tentang standar kecantikan perlu direkonstruksi. Terkait hal ini, sangat penting untuk membahas dampak buruk standar kecantikan bagi masyarakat, khususnya bagi perempuan, apalagi remaja perempuan. Pertama, standar kecantikan membuat perempuan harus menggunakan waktu berharga untuk mempermak dan menutupi menutupi bagian diri yang dianggap kurang sempurna. Hal ini menjadi penting sebab waktu tersebut dapat digunakan untuk melakukan berbagai hal termasuk bekerja atau beristirahat. Laki-laki yang pada umumnya lebih sederhana dalam berpenampilan memiliki waktu lebih efisien sehingga berpengaruh pula pada manajemen waktunya. Pada akhirnya, jika standar kecantikan umum tidak ada, maka hal yang dikhawatirkan perempuan menjadi berkurang.

Bagi remaja, standar kecantikan menjadi salah satu pemicu bully. Konkritnya, jika ada remaja yang memiliki kulit gelap, tubuh tidak langsing, dan lain sebagainya, maka teman-temannya yang sudah direcoki konstruksi sosial tentang kecantikan akan mengejek. Remaja yang diejek tersebut menjadi tidak percaya diri dengan tubuhnya sendiri. Pada skenario terburuk, remaja tersebut akan mengisolasi diri dari kehidupan sosial. Ada pula beberapa kejadian dimana mereka berambisi mengubah seluruh bagian tubuhnya melalui operasi plastik.

Kecantikan seharusnya dilekatkan pada kebebasan. Cantik merupakan kebebasan untuk mendefinisikan “cantik” bagi diri sendiri lalu hidup nyaman dengan kekebasan itu. Kebebasan adalah ketika perempuan tidak harus lagi dipusingkan dengan pendapat orang lain dan masyarakat tentang penampilannya. Kebebasan juga dapat dilihat ketika perempuan tidak lagi harus mengikuti tren kecantikan yang sebenarnya membuat tidak nyaman dan bahkan memiliki resiko pada kesehatan. Maka pada akhirnya, perempuan yang cantik adalah perempuan yang memiliki definisi kecantikannya sendiri tanpa harus terbebani dengan standar kecantikan dalam masyarakat.

Mari memikirkan sekenario konkrit. Ketika perempuan berkulit gelap merasa percaya diri dengan warna kulitnya, lalu memakai pakaian yang ia sukai, berdandan dengan gaya yang membuatnya merasa nyaman. Hal yang terjadi dalam kasus ini adalah perempuan tersebut sedang mendefinisikan kecantikannya sendiri. Karena, pada akhirnya, orang tersebutlah yang mendandani dirinya sendiri lalu merasa puas dengan dirinya sendiri. Dengan demikian, maka kecantikan adalah milik setiap orang dengan gaya masing-masing.

Sastra sebagai refleksi realita yang dapat mempengaruhi pemikiran pembacanya dapat dijadikan sarana untuk membangun kembali pemikiran tentang standar kecantikan. Misalnya dengan membuat pemeran utama tidak selalu perempuan yang memiliki tubuh langsing, tinggi, kulit putih, dan standar “cantik” lainnya. Intinya adalah para pengarang dapat membuat suatu refleksi alternatif bahwa setiap orang memiliki kecantikannya masing-masing, sesuai dengan yang telah dijelaskan di atas.

Salah satu karya sastra yang membahas masalah kecantikan yaitu novel berjudul “Cantik” karya Vanny. Novel ini memuat aspek psikologis yang menceritakan tentang pandangan cantik menurut tokoh utama dan orang-orang di sekitar tokoh utama. Tokoh utama perempuan yang masih remaja dan berada di masa transisi dari sekolah menengah menuju bangku kuliah kurang beradaptasi dengan baik. Perempuan yang menjadi tertekan bahkan terganggu secara psikologis yang diawali dari pandangan orang-orang di sekitarnya terhadap tubuh kurus dan penampilannya. Novel ini memotret konflik yang ada dalam kehidupan bermasyarakat akibat adanya standar kecantikan. Tokoh utama yang dianggap memiliki permasalahan dengan kondisi fisik akhirnya sulit untuk bergaul karena teman-teman dan orang-orang di lingkungannya selalu meremehkannya.

Cantik merupakan hal yang sangat relatif. Bagi masyarakat Korea Selatan, standar kecantikan cukup detail seperti putih, langsing, bibir tipis, mata bulat, memiliki lipatan kelopak mata (double eye-lid), wajah kecil berbentuk V. Oleh karena itu, operasi kecantikan pun berkisar pada ciri-ciri di atas. Di Amerika Serikat dan Barat pada umumnya, standar kecantikan cukup kontras dengan Korsel, yaitu memiliki badan berbentuk (curve), pinggang kecil namun bokong yang besar serta bibir yang tebal. Hal ini pula yang menyebabkan banyak yang melakukan suntik bokong dan bibir.

Jika dibahas lebih detail lagi tentang perbedaan standar kecantikaan di setiap negara ataupun budaya, maka akan semakin jelas bahwa kecantikan merupakan hal yang sangat relatif, sangat tergantung pada waktu dan tempat. Namun satu hal yang pasti adalah bahwa standar tersebut selalu merupakan hasil konstruksi sosial. Pada masa kini misalnya, kecantikan dapat dikatakan sebagai akumulasi antara pendapat masyarakat secara umum ditambah dengan gencarnya inovasi dan promosi produk kecantikan dari waktu ke waktu.

Relativitas ini saja sudah cukup untuk menjadi alasan agar individu dan masyarakat secara umum berhenti untuk membebankan standar kecantikan tertentu kepada diri sendiri dan orang lain. Sastra sebagai produk yang sering dijadikan landasan bagi karya seni lainnya seharusnya berada di garis terdepan untuk menanamkan hal ini dalam pemikiran para pembaca, khususnya bagi remaja. Dengan demikian pula, sastra akan menjadi sesuatu yang memiliki kekuatan sosial. Para penulis karya fiksi bukan lagi hanya sekedar penghibur namun juga sebagai roda penggerak perubahan sosial.

Skenario terbaiknya, para remaja yang mungkin hanya menyukai fiksi bisa menjadi bagian dari perubahan tersebut. Sebab fiksi yang mereka baca bukan lagi sekedar mimpi di siang hari seperti seorang putri yang akan menemukan pangerannya. Lebih dari itu, fiksi yang mereka baca akan mengajarkan mereka untuk menghargai diri sendiri lalu turut berjuang untuk apa yang mereka hargai.

[1] Endraswara. 2011. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta. CAPS 2 Atar Semi. 1989. Kritik Sastra. Bandung. Angkasa.

Biodata Penulis
Resty lahir pada 30 September 1997 di Anggeraja, Enrekang, Sulawesi Selatan. Penulis menempuh pendidikan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di kampong halamannya, lalu merantau ke Makassar pada saat memasuki bangku Sekolah Menengah Atas. Saat ini, penulis sedang menempuh pendidikan SI di Universitas Hasanuddin, Jurusan Ilmu Hubungan Internasional.
Resty telah memiliki ketertarikan pada dunia menulis sejak SMP. Resty sering menuliskan beberapa pengalamannya ke dalam bentuk cerita pendek lalu memperlihatkannya kepada teman-teman sekelasnya. Namun, saat memasuki SMA, Resty mulai lebih tertarik pada tulisan ilmiah. Kendati demikian, Resty tetap menulis beberapa fanfiction dengan nama pena Naomi Rane. Saat memasuki bangku kuliah, Resty lebih sering menulis esai dan karya tulis ilmiah lainnya.

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya dan tips menulis, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca tips belajar menulis dari penulis lain di menu Tips Belajar Menulis.

Baca esai tentang sastra dari penulis lain di menu Esai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *