Baca Karya NonfiksiTips Belajar Menulis

Tips Belajar Menulis – Menulis: Tuntaskan Saja – Muhammad Syafiq Addarisy

Menulis: Tuntaskan Saja
karya Muhammad Syafiq Addarisy
Juara 1 Lomba Menulis Proses Kreatif Tulis.me

Baca tips belajar menulis dari penulis lain di menu Tips Belajar Menulis.

Baca esai tentang sastra dari penulis lain di menu Esai.

I

Menulis tidak sekedar tentang menuangkan gagasan ke dalam tulisan. Lebih dari itu, menulis membutuhkan kesabaran, keuletan, kecermatan, teknik, dan pembiasaan. Banyak penulis yang ketika menulis bahkan menghabiskan waktu lama sekali dan proses yang mencengangkan. Korrie Layun Rampan, misalnya, pernah menulis satu cerpen tentang penyu yang hampir punah dalam waktu empat tahun. Dalam rentang waktu itu, Korrie melakukan riset untuk memperkuat cerpen yang ditulisnya itu. Demikian halna dengan Pramoedya yang melakukan riset tentang R.M. Tirto Adi Suryo sejak tahun ’50-an sebelum menuliskan empat seri Tetralogi Buru yang dahsyat itu.

Meski begitu, ada beberapa penulis yang cenderung melakukan  “tembakan” ketika menulis. Ia menuliskan apa yang terlintas dalam pikirannya secara spontan. Hal itu tampak, misalkan, ketika Sitor Situmorang menuliskan salah satu sajak fenomenalnya, “Bulan di Atas Kuburan”. Waktu itu, seperti tertulis dalam Proses Kreatif, Sitor menulis puisi tersebut benar-benar karena ia melihat bulan yang ada di atas kuburan sekembalinya dari rumah Pramoedya yang saat itu tidak ada di rumahnya—satu hal yang mustahil ditemui mengingat perputaran bulan saat bulan syawal!

II

Saya akan bercerita mengenai proses kreatif saya ketika menuliskan esai saya yang tayang di Basabasi.co pada 8 Maret 2018 kemarin. Esai tersebut, sesuai judulnya, “Jurusan Sastra Indonesia”, membahas mengenai program studi yang saya ambil di Universitas Negeri Yogyakarta. Dalam esai tersebut saya menyampaikan bahwa fungsi mendasar Jurusan Sastra Indonesia bukanlah agar alumnusnya menjadi kritikus, ahli bahasa, apalagi penulis. Tidak. Saya justru berpendapat bahwa Jurusan Sastra Indonesia hendaknya membentuk pribadi yang peduli terhadap bahasa Indonesia—meski tidak menjadi ahli bahasa.

Ide esai tersebut tercetus ketika saya dan teman saya menonton film The Passanger. Kawan saya itu lantas menyeletuk, “Ah, besok saya pindah jadi mahasiswa FT (Fakultas Teknik) sajalah. Sastra nggak berguna!”. Celetuk sambil lalu kawan saya itu tapi ternyata menggoncangkan saya. Terlebih ketika ingat pertanyaan sederhana yang disampaikan Romo Mangun dalam Temu Sastra di Jakarta pada 1982: Lantas sastra dapat apa? Hal itu kemudian berubah menjadi ganjalan yang kian menjadi-jadi dan membuat saya mempertanyakan program studi yang saya ambil; membanding-bandingkannya dengan program studi lain; merenungkannya.

Darinya, saya mendapatkan satu kegelisahan yang harus saya tuliskan: akan jadi apa alumnus jurusan sastra nantinya? Beberapa pilihan saya anulir. Mulai dari kritikus sampai menjadi penulis itu sendiri! Bagi saya hal itu terlalu dipaksakan. Penganuliran-penganuliran tersebut saya lakukan setelah mencari data-data yang mendukung. Misalkan, ketika saya menganulir bahwasanya mahasiswa sastra Indonesia haruslah menjadi kritikus.

Pada titik itu saya mencoba mencari tahu apa fungsi kritikus. Mulai ketika seorang kritikus memiliki otoritas penuh atas penafsiran dan penilaian karya hingga Roland Barthes memroklamirkan kematian pengarang. Pemikiran Barthes tersebut nantinya membawa pergeseran mendasar dalam dunia kritik, yakni kelahiran pembaca. Bahwasanya pembaca bebas menginterpretasikan suatu karya—tak lagi bergantung pada sabda kritikus. Pergeseran ini selanjutnya membawa pergeseran mendasar lain lagi. Ialah Ronan McDonald yang melantangkan kematian kritikus, bahwa kritikus telah mati seiring kelahiran pembaca.

Hal senada juga saya lakukan ketika berpendapat bahwa alumnus sastra Indonesia bukanlah untuk menjadi seorang penulis. Itu saya kemukakan setelah mengamati bahwa banyak penulis sastra Indonesia yang tidak berlatar pendidikan sastra—Puthut EA dan Eka Kurniawan misalnya. Saya makin yakin lagi ketika membaca apa yang Putu Wijaya sampaikan dalam tulisannya di Media Indonesia tahun 1995, bahwasanya memang harus diakui bahwa penulis dan tulisannya tidak mesti satu suara.

III

Proses penulisan esai saya tersebut memang tidak sepanjang yang dilakukan Korie Layun Rampan. Juga tidak semenegangkan proses penulisan Pramoedya. Sekitar enam bulan saja. Pada awalnya, saya tidak mengira jika saya akan menuliskan esai sepanjang itu. Mulanya saya hanya merasa bahwa saya harus menuliskan kegelisahan saya terkait jurusan di mana saya belajar, tanpa tahu persis apa yang harus saya tuliskan. Saya belum mengerti gambaran-gambaran pastinya.

Sempat saya berpikir bahwa esai tersebut tidak akan terselesaikan. Bahwa ternyata menulis esai tidaklah mudah. Banyak data yang sangat diperlukan dan sulit sekali mencari dan menemukannya—apalagi memasukkannya ke dalam esai sebagai dasar argumen. Saya menjadi semakin merasa kecil ketika membaca kiat-kiat menulis Eko Triono.

Eko menyebutkan bahwa ketika menulis cerpen, seseorang harus menuliskan apa saja yang akan dituliskan dalam bentuk poin-poin untuk melakukan pemetaan secara lebih sistematis. Tentu, tips menulis dari Eko Triono ini menambah rasa inferior saya mengingat saya bahkan belum tahu apa yang harus saya tuliskan dalam esai saya tersebut.

Meski begitu, perasaan harus menuliskan kegelisahan saya tersebut tidak surut. Entah kenapa, tanpa menuliskannya saya merasa ada yang kurang. Begitulah, saya sempat berhenti menulis, yang tak berhenti adalah keinginan untuk menuliskannya. Memang betul apa yang dikatakan Toety Herati dalam Proses Kreatif, “Yang paling mendorong manusia beserta watak-wataknya yang mendasar justru hal-hal irasional”.

IV

Pramoedya tinggal kelas di kelas tiga sebanyak tiga kali, padahal bapaknya adalah kepala sekolahnya—Boedi Oetomo. Tentu hal tersebut menyulut amarah sang bapak. Jadilah Pramoedya sempat dididik keras sekali supaya menjadi lebih “pintar”. Pramoedya menurut. Tapi suatu hari, salah satu gurunya bertanya padanya, “Loh, kamu kelas tiga lagi, to?”. Pertanyaan singkat itu cukup mengiris. Akhirnya Pram lari keluar kelas. Lari, terus lari, sampai kelelahan dan berhenti di bawah pohon kamboja di dekat kuburan. Di sana, Pram menulis!

Pengalamannya itu ia ceritakan dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Sebuah ironi yang betul nyata dari seorang penulis Indonesia, yang dapat dikatakan, paling masyhur di kancah kesusastraan dunia. Di akhir ceritanya itu, Pramoedya mengatakan, “Tulis saja semuanya. Jangan takut tidak dibaca orang. Jangan takut ditolak penerbit. Tulis saja! Tulis! Tulis! Suatu saat pasti berguna.”

Nasihat dari Pramoedya itulah yang tanpa saya sadari sebelumnya tetap mendorong saya terus memelihara semangat saya meneruskan esai saya yang sebetulnya masih entah bagaimana kelanjutannya. Saya membaca dan membaca. Melanjutkan menulis esai tersebut meski ujung-ujungnya hanya menambah satu paragraf—dan akhirnya saya hapus lagi ketika proses kurasi. Apa yang ada dalam kepala saya, saya tuliskan, saya baca lagi, saya hapus, saya ganti, saya tulis ulang. Begitu seterusnya. Hingga akhirnya selesailah esai seperti yang dapat dibaca di kolom esai Basabasi.co.

V

Sesungguhnya, seperti yang dikatakan Hasta Indriyana dalam Seni Menulis Puisi, tidak ada tips yang baku lagi universal dalam menulis. Hal tersebut dikarenakan manusia memiliki keunikan masing-masing, sehingga cara masing-masing dalam melakukkan sesuatu adalah berbeda. Pun, agaknya tidak perlu dicari-cari persamaannya antara satu dengan yang lainnya dan biarkan saja tiap individu tetap dengan caranya sendiri-sendiri.

Meski begitu, selalu ada keserupaan-keserupaan bahkan pada hal-hal yang nampaknya berbeda. Begitu pula dalam cara menulis seseorang. Korrie dengan caranya sediri. Pramoedya dengan caranya yang lain lagi. Tentu, saya sendiri memiliki cara tersendiri dalam menulis meski mungkin cara yang saya lakukan sudah dilakukan oleh orang lain atau bahkan merupakan cara yang amat sangat lazim dilakukan oleh para penulis.

Tak apa, satu hal yang bagi saya sangat penting untuk dilakukan ketika memutuskan untuk menulis—apa pun itu—ialah terus menulis sampai selasai. Tak perlu menunggu tahu apa yang harus ditulis secara terukur dan terstruktur. Apa yang paling penting adalah terus menjaga semangat menulis, terus dan terus. Seperti kata Pramoedya, “Tulis! Tulis! Tulis!”.

Begitu terus sampai betul-betul tidak tahu apa lagi yang harus ditulis. Pada saat itulah saya, dan semua orang yang menulis, harus mencari apa yang akan dituliskan. Bisa dengan membaca, mendengarkan musik, melihat lukisan, atau bahkan bengong sendirian. Pada prinsipnya adalah mencari apa pun yang mungkin bisa ditulis.

Di titik ini, seseorang sangat memerlukan keberanian. Ya, keberanian. Keberanian untuk terus menulis. Agaknya, justu hal inilah, setidaknya bagi saya sendiri, yang paling penting dan menentukan dalam proses kepenulisan. Tentu, tanpa hal ini, seseorag akan menyerah di tengah jalan dan membiarkan diri tidak menyelesaikan apa yang awalnya ingin ia tuliskan.

Hal tersebut tidak mudah karena memerlukan kemampuan membebaskan diri dan pikiran dari belenggu bacaan dan, apalagi, teori-teori sehingga berani untuk tidak takut salah. Begitulah saran dan pengalaman yang disampaikan oleh Muhamad Qadhafi, penulis Kasta Gila dan Melipat Agustus  terkait proses kepenulisan.

Pada akhirnya, menulis adalah kesunyian masing-masing. Dan, seperti yang telah dikatakan T.S. Eliot dalam “Tradisi dan Individu”, kesulitan paling berat ditudukkan tiap penulis adalah menaklukkan kesunyian itu, memenangkan kemalasan, menundukkan dirinya sendiri.

Muhammad Syafiq Addarisiy, Tinggal di PP. Assalafiyyah dan belajar di Jurusan Sastra Indonesia UNY. Bergiat di Komunitas Susastra. Dapat dihubungi melalui surel: addarisiy13@gmail.com. Memiliki akun Instagram @syafiqaddarisiy.

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya dan tips menulis, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca tips belajar menulis dari penulis lain di menu Tips Belajar Menulis.

Baca esai tentang sastra dari penulis lain di menu Esai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *