Baca Karya NonfiksiTips Belajar Menulis

Tips Belajar Menulis – “Agama” Saya adalah Menulis – Mochamad Gigih Pebrianto

“Agama” Saya adalah Menulis
karya Mochamad Gigih Pebrianto
Juara 2 Lomba Menulis Proses Kreatif Tulis.me

Writer’s block, stuck, ide buntu, dan segala istilah yang mencerminkan bahwa menulis itu sulit. Benarkah? Di sisi lain, ada penulis produktif. Sehari menulis satu cerpen. Sehari menulis sepuluh puisi. Ibaratnya, bagi mereka, menulis seperti membuat kue. Cetak. Cetak. Cetak. Bahkan ada seorang penulis yang mengaku dapat menulis satu novel satu bulan. Fantastis! Sekarang, kembali ke pertanyaan: benarkah menulis itu sulit?

Menulis pada dasarnya hanyalah aktivitas memindahkan data dari otak manusia ke lembar kertas. Itu saja. Tidak kurang. Tak lebih. Menulis dalam hal ini bisa disandingkan dengan keterampilan berbicara, yaitu aktivitas mengubah data dari otak menjadi ujaran.

Perbedaan mendasar keduanya terletak pada sifat aktivitas itu. Berbicara bersifat spontanitas, sehingga bagi orang yang tidak terampil akan sering mengalami kesalahan ujaran, kalimat yang berbelit, banyak kata ehm, umm, dll. Menulis lebih diuntungkan karena seorang penulis punya waktu untuk mengedit naskah sebelum tulisannya dilepaskan ke pembaca. Beruntunglah kalian para penulis!

Sayangnya, aktivitas menulis memiliki tantangan tersendiri. Sebuah tulisan harus mampu menyampaikan apa yang dipikirkan oleh si penulis kepada si pembaca. Sebuah tulisan harus lugas, efektif, sekaligus menarik.

Namun, jangankan semua itu terwujud. Bahkan saat kali pertama melihat kertas kosong saja, seorang penulis sudah seperti berhadapan dengan polisi. Kaku, tak berdaya. Jangankan menulis yang efektif, menulis satu paragraf saja (atau jangan-jangan satu kalimat saja), tak mampu!

Oleh karena itu, penting bagi seorang penulis untuk mempelajari tips bagaimana menulis. Pembahasan ini berfokus pada tema bagaimana cara menulis fiksi. Semua itu terhimpun dalam suatu rangkaian proses bernama proses kreatif—atau proses kerja, istilah menurut Afrizal Malna.

Proses kreatif menulis pada dasarnya terbagi menjadi tiga bagian yang sangat umum: sebelum menulis, menulis, dan setelah menulis. Berikut ini merupakan tiga tahapan yang sudah sangat umum di dunia kepenulisan (saya tekankan sangat umum, karena bagian “yang khusus”—artinya tips khusus dari saya sendiri—berada di akhir tulisan ini).

Tahap pertama: riset. Tak ada sesuatu yang lahir dari ketiadaan. Mungkin itu istilah saya. Intinya, tidak ada seorang penulis yang bisa menulis tanpa riset terlebih dahulu. Kalaupun ada, sesungguhnya tahap riset itu telah dilaluinya secara “tanpa sadar”.

Sebagai contoh, Andrea Hirata mampu menulis Laskar Pelangi hanya dalam waktu tiga mingguan, karena dia menulis pengalamannya sendiri. Hal itu berbeda jika Andrea Hirata menulis tentang, misalnya budaya Toraja, yang saya yakin beliau mampu menuliskannya dengan indah tapi pasti membutuhkan riset yang lama—karena Andrea Hirata bukan orang Toraja.

Riset itu penting, sangat penting, dan tiada lagi yang lebih penting. Bahkan Faisal Oddang pernah mengatakan bahwa sesungguhnya yang penting dalam proses menulis adalah mengumpulkan data. Ketika data sudah terkumpul, maka lancarlah kita! Tidak ada lagi istilah writer’s block beserta kawan-kawannya itu.

Menulis didahului dengan riset menjadi lancar, seperti halnya kita menulis otobiografi diri kita sendiri. Penulis Arafat Nur pernah mengatakan bahwa seseorang tidak boleh menulis dalam keadaan “kosong”. Artinya, menulislah ketika kamu cukup data, sehingga saat berhadapan dengan lembar putih Ms. Word yang mengerikan itu, kita mampu menulis dengan cepat seperti sedang curhat sama komputer.

Tahap kedua: Menulis! menulis! menulis! Tiada lagi aktivitas yang dilakukan selanjutnya selain menulis! menulis! dan menulis! (lihatlah, saya sampai mengulangi ketiga kata itu).

Salah satu kendala seseorang mengalami writer’s block atau kebuntuan ide dalam menulis, yaitu ia menulis sambil mengedit. Menurut saya, menulis sambil mengedit sama saja dengan membunuh ide. Sebelum ide di dalam kepala kita tertulis semuanya, kita keburu fokus pada kalimat efektif beserta tetek-bengek-nya. Dengan kata lain, hanya satu tugas yang dilakukan penulis pada tahap ini: menulis! Itu saja.

Menulis! menulis! menulis! Menulislah hingga tanganmu berdarah-darah! Menulislah hingga papan ketikmu rusak! Menulislah hingga ceritamu tuntas! Tuntas, dan menulis lagi dengan ide baru. Menulislah hingga kamu tak punya ide! Nah, itu saran saya ketika kamu memasuki tahap kedua ini. Menulis! menulis! menulis!

Tahap ketiga: Mengedit! mengedit! mengedit! Tiada lagi aktivitas yang dilakukan selanjutnya selain mengedit.

Inilah tahap seorang penulis dapat melampiaskan nafsunya untuk mengedit. Setelah berpuasa, menahan diri untuk tidak mengedit tulisan selama proses menulis, pada tahap inilah kerahkan seluruh pengetahuan tentang teknik kepenulisan.

Teknik kepenulisan itu, untuk beberapa di antaranya: (1) membuat hubungan antarkalimat nyambung, (2) membuat hubungan antarparagraf padu, (3) membuat judul yang mencerminkan isi tapi tidak membocorkan ending, (4) membuat paragraf pertama menghentak dengan cara menulis kalimat ironis atau kontroversial di awal alinea, (5) membuat paragraf terakhir yang tak terduga tapi memuaskan pembaca, (6) menciptakan tokoh-tokoh yang unik, (7) membuang adegan yang tidak perlu, (8) membuang tokoh-tokoh yang tidak perlu, (9) membuang  latar tempat-waktu-sosial yang tidak dibutuhkan, (10) membuat tulisan yang padat dan tidak bertele-tele, (11) menulis kalimat pendek-pendek agar mudah dipahami pembaca, (10) membuat paragraf pendek-pendek agar tak membuat pembaca bingung mencari ide pokok, dan masih banyak lagi!

Baiklah, setelah melalui ketiga tahap tersebut, seorang penulis boleh melakukan dua hal untuk tulisannya. Pertama, langsung mengirim tulisan itu ke pembaca. Kedua, mengendapkannya.

Pilihan kedua dapat diambil jika merasa tulisan tersebut akan jauh lebih baik setelah diendapkan. Konon, penyair Chairil Anwar menulis sajak “Aku” selama bertahun-tahun. Beberapa penulis besar lainnya juga mengendapkan naskah mereka berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, sebelum diedit kembali dan diserahkan kepada pembaca.

Sesuai pernyataan saya di muka bahwa ketiga tahap tersebut sesungguhnya masih umum. Artinya, hampir selalu didengung-dengungkan pada saat workshop atau seminar kepenulisan.

Kendati demikian, sesungguhnya ada rahasia yang ingin saya paparkan perihal soal kepenulisan. Rahasia itu adalah “setiap penulis pada dasarnya memiliki cara tersendiri dalam menghasilkan tulisannya”.

Kita ambil saja penyair Afrizal Malna, yang pernah mengaku menulis puisi sambil dalam keadaan—mohon maaf—telanjang. Adapun beberapa penulis lebih suka menulis di alam terbuka seperti Ayu Utami—mungkin karena itu, rumahnya didesain mirip hutan. Sementara penulis lain, seperti Faisal Oddang suka menulis ketika berada di warung kopi. Tempat dan aktivitas tersebut pada dasarnya “milik mereka pribadi”. Setiap penulis memiliki “kondisi”nya masing-masing dalam menemukan ide dan menuliskannya pada lembar-lembar kertas.

Saya sendiri—jika boleh dikatakan—memiliki tips tersendiri dalam menjalankan ritual menulis. Tips tersebut datang seiring waktu karena kendala menulis yang saya alami. Berikut merupakan tips-tips dari saya pribadi.

Kendala pertama: jika mengalami kebuntuan ide, apa yang saya lakukan? Saya akan mencomot nama teman terdekat saya. Teman yang paling unik karena tingkahnya. Entah itu paling bandel, paling alim, intinya yang “paling”.

Langkah selanjutnya, menulis pengalaman “paling berkesan” selama berkenalan dengannya. Entah itu pengalaman buruk seperti mencuri buah di kebun lalu disengat tawon, memencet bel rumah seseorang lalu kabur ketika seseorang itu keluar rumah, dan lainnya. Atau mungkin, kita bisa menulis pengalaman “yang baik-baik” saja, seperti pergi ke wisata bersejarah, naik gunung, dan pelesir ke pantai.

Setelah menulis pengalaman antara saya dengan teman tersebut, langkah berikutnya adalah editing. Agar terlihat “fiksi” maka saya mengubah nama teman saya yang semula bernama Agung menjadi Brahmono, Irawan menjadi Catur, dan lainnya. Saran saya, buatlah nama tokoh yang unik. Kalau bisa nama yang tidak pernah ada di dunia ini!

Kendala kedua: jika mengalami kebuntuan ide lagi, apa yang harus saya lakukan? Baiklah. Bagaimana jika saya sudah mencomot nama teman, lalu menuliskan pengalaman unik dengannya, tapi ternyata ide saya hanya sampai di situ-situ saja? Saya akan mendengar musik, menonton film, atau melihat foto.

Bagi saya, ketiga hal itu dapat memantik ingatan kita pada suatu momen tertentu. Sebuah lagu, misalnya berjudul “Raihlah Kemenangan” bisa mengingatkan kita pada suasana Idul Fitri, seperti rombongan warga kampung takbir keliling bersama sambil membawa obor saat malam hari. Atau lagu “Darah Juang” dapat mengingatkan kita pada masa-masa menjadi mahasiswa, atau saat kali pertama menjadi mahasiswa baru dan mengalami berbagai momen berkesan: dibentak senior, cinta lokasi, kenal teman-teman dari berbagai daerah.

Seseorang pernah berkata, foto menceritakan banyak hal. Karena itu, kita juga bisa melihat foto, misalnya, tentang masa kecil kita bersama orang tua pada suatu tempat tertentu penuh kenangan.

Kita juga bisa menonton film. Bagi saya, film bisa menjadi inspirasi dalam menulis cerita. Apalagi jika filmnya bagus, maka akan timbul motivasi dalam diri suatu hari akan menulis cerita indah seperti dalam film tersebut.

Setelah mendengar musik, melihat foto, dan menonton film, langkah selanjutnya adalah menulis pengalaman-pengalaman yang kita ingat pada saat itu juga. Tulislah apa adanya. Entah itu menjadi cerita atau akan berakhir seperti catatan harian. Tulis saja hingga ide kita “habis”. Setelah itu—saran saya—endapkan. Suatu hari, baca lagi, edit lagi, hingga tulisan itu memiliki “nilai lebih”.

Kendala ketiga: jika mengalami kebuntuan ide lagi-lagi-dan-lagi, apa yang harus-dan-harus saya lakukan? Saya akan membaca buku sebanyak-banyaknya. Apapun bukunya itu. Fiksi maupun nonfiksi. Apapun temanya. Nasionalisme, agama, sosial, atau budaya. Intinya, jangan membatasi bacaan! Biarkan bacaan yang mengarahkan dirimu untuk menjadi penulis “seperti apa” dan mampu menulis “yang bagaimana”.

Saya sendiri suka menulis cerpen, tapi dalam proses kepenulisan itu, saya membaca buku-buku puisi (untuk menambah khasanah kosakata dan daya puitis dalam bernarasi), membaca novel (untuk menambah wawasan bagaimana seorang penulis “menulis”), membaca hasil penelitian tentang sastra (untuk memahami lebih mendalam keunikan karya sastra seorang pengarang), dan membaca buku-buku sejarah/kebudayaan/nonfiksi lainnya (untuk menambah wawasan agar yang dibahas tidak hanya itu-itu saja).

Kendala keempat: bagaimana jika saya mengalami kebuntuan ide lagi-lagi-lagi-dan lagi, lalu apa yang harus-harus-dan-harus saya lakukan? Baiklah, ini tips terakhir dari saya. Jika seorang penulis ingin mendisiplinkan diri untuk menulis tapi tetap saja tidak menemukan ide, dapat menggunakan tips ini.

Satu tips menulis itu adalah menggabungkan antarunsur fiksi dalam cerita yang akan kita buat. Misalnya, saya mengagumi tulisan cerpen berjudul Matinya Seorang Demonstran karya Agus Noor. Saya bingung ingin menulis apa. Yang saya lakukan selanjutnya, yaitu mencomot satu tokoh dari cerpen itu. Sebagai contoh tokoh yang bernama Eka. Saya pun menulis menggunakan tokoh bernama Eka, yang saya kolaborasikan dengan tokoh ciptaan saya sendiri. Jadilah cerita!

Perlu diketahui, tips terakhir ini bisa diterapkan dengan syarat kita tidak berniat melakukan plagiarisme. Upayakan tulisan yang dibuat jauh dari sumber rujukan. Pemungutan nama “tokoh” di sini hanya sebagai pemantik ide. Sisanya, bergantung pada kreativitas seorang penulis. Di sinilah martabat seorang penulis dipertaruhkan!

Dengan demikian, penjelasan ini berakhir, dan berujung pada suatu kesimpulan, bahwa dari segala bahasan dalam proses kreatif menulis sesungguhnya terdapat dua hal yang harus kita ketahui, yaitu masalah teknis dan nonteknis. Kedua hal itu diungkapkan oleh Andrea Hirata dalam salah satu video di Youtube (bisa Anda lihat).

Masalah teknis, seperti teknik menciptakan tokoh unik, teknik menulis paragraf pertama, teknik membuat ending tidak tertebak, teknik agar judul memikat, dan lain-lain, sebetulnya mudah dipelajari. Kita bisa belajar dari buku Creative Writing karya AS. Laksana. Kita bisa membaca buku 101 Dosa Penulis Pemula karya Isa Alamsyah (sangat saya rekomendasikan). Dan masih banyak sekali buku bagus yang tersedia. Itu masalah teknis.

Masalah nonteknisnya? Adalah kekonsistenan kita dalam menulis. Seorang pengarang Seno Gumira Ajidarma dalam pengantar bukunya yang berjudul Senja dan Cinta yang Berdarah berkata, “Boleh bisa apa saja, termasuk menulis. Boleh tidak bisa apa saja, kecuali menulis.” Dengan pendapat tersebut, kita bisa ambil kesimpulan bahwa menulis bukan hanya butuh teknis seperti kaidah-ejaan dan lain-lain, melainkan juga sikap untuk konsisten bahwa menulis harus terus-menerus dilakukan “tanpa jeda”.

Menulis membutuhkan konsistensi karena sekali saja kita malas menulis, seribu alasan akan datang saat kita mencoba menulis kembali. Maka dari itu, menulislah secara terus-menerus! Menulislah seperti tidak ada kesempatan lagi untuk menulis! Menulislah, seperti menulis adalah “agama”, dan kita tidak bisa hidup tanpanya!

Biodata Penulis
Mochamad Gigih Pebrianto. Saat ini berstatus sebagai mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura. Telah memenangkan beberapa perlombaan menulis, di antaranya Juara 1 lomba menulis cerita pendek bulan bahasa dan sastra PBSI Universitas Trunojoyo Madura (2016), Juara 1 lomba menulis cerita pendek tingkat Madura oleh LPM Spirit Mahasiswa (2017), dan Juara 1 lomba menulis cerita pendek tingkat Jawa Timur oleh STKIP PGRI Jombang (2017). Dapat dihubungi melalui pos-el gigihfebri280@gmail.com. Media sosial Instagram “Gigih Pebri” dan Facebook “Gigih Pebri”.

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya dan tips menulis, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca tips belajar menulis dari penulis lain di menu Tips Belajar Menulis.

Baca esai tentang sastra dari penulis lain di menu Esai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *