Baca Karya NonfiksiEsai

Esai – Sastra yang Mana – Sabrina Rizki Yasmine

Sastra yang Mana
karya Sabrina Rizki Yasmine
Juara 3 Lomba Menulis Esai Tulis.me

Baca tips belajar menulis dari penulis lain di menu Tips Belajar Menulis.

Baca esai tentang sastra dari penulis lain di menu Esai.

Kata sastra kini menjadi kata yang memberatkan untuk sekedar dijadikan identitas serta minat diri. Sastra hanya dimiliki kaum elit dan kalangan terbatas sebagai penikmatnya. Dikatakan seperti itu karena sastra seakan hanya dimiliki oleh sastrawan dan penikmat bacaan klasik. Karya dengan uraian kata puitis adalah sastra, sedangkan karya dengan Bahasa sederhana bisa jadi tidak dianggap sebagai sastra.

Lantas apa sastra sebenarnya? Menurut Teeuw, sastra merupakan kata yang berasal dari kata gabungan antara su dan sastra. Sastra sendiri diambil dari Bahasa sanskerta, yaitu “Sas” yang berarti menurunkan, mengajarkan, memberi petunjuk atau instruksi, sedangkan akhiran “Ta” menunjukkan “alat dan sarana”.

Beberapa ahli turut mengemukakan pendapatnya mengenai definisi sastra. Mursal Esten mengemukakan bahwa “Sastra atau Kesusastraan adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia (masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan)”. Selain itu, Panuti Sudjiman menyatakan bahwa, “Sastra sebagai karya lisan dan tulisan yang memiliki keunggulan seperti keorisinalan, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya.”

Melalui pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa sastra adalah karya tulis yang didominasi oleh isi dari karya itu sendiri. Sastra juga memiliki beberapa ciri utama, yaitu isinya dapat menggambarkan akan manusia dengan berbagai bentuk permasalahannya, terdapat tatanan bahasa yang baik dan indah dan cara penyajiannya dapat memberi kesan yang menarik bagi pembaca.

Apabila ditelaah, ciri serta pengertian dari sastra masih kurang tajam untuk dapat menggambarkan sastra. Keindahan dari suatu bahasa serta kesan menarik bagi pembaca bukanlah sesuatu yang akan diterima sama baik oleh masing-masing pembacanya. Suatu karya akan sesuai di hati peminatnya, baik dengan kerumitannya maupun dengan kesederhanaannya. Maka dari itu, bisa jadi sastra untuk seseorang tidak dianggap sastra bagi orang lainnya, begitu pula sebaliknya.

Sastra kemudian menjadi istimewa dan status apakah sebuah karya adalah sastra menjadi bias. Beberapa orang melakukan standarisasi, bahwa sastra adalah karya dengan gaya bahasa yang puitis, indah dan berseni. Hal ini mungkin dikarenakan perbedaan gaya bahasa antara sastra lama dan sastra modern. Sastra secara alami berkembang mengikuti zaman dan pembacanya. Sastra lama cenderung memiliki gaya bahasa yang lebih tersirat, percakapan yang puitis dan banyak diselipkan perumpamaan. Sastra modern yang saat ini banyak beredar justru lebih terus terang. Tidak terdapat banyak perbedaan antara percakapan yang berada di buku dengan yang biasa dilakukan di kehidupan.

Keistimewaan status “karya” menjadi “karya sastra” ini bahkan membuat seorang Andrea Hirata berkata “persoalan apakah laskar pelangi ini sastra atau tidak, bukan tugas saya menjawabnya. Itu tugas kritikus”. Tidak hanya Andrea Hirata, Iman Budhi Santosa juga menuturkan peliknya masalah status “sastra atau bukan” ini. Dalam salah satu wawancaranya, ia menyebutkan bahwa tak jarang ia bertemu seseorang yang bertanya “Apa itu sastra? Apa bedanya sastra dan bukan sastra?” Ia juga mengatakan bahwa pertanyaan mengenai hal tersebut melelahkan  hingga ia hanya menjawab “Di dunia ini hanya ada dua jenis karya. Satu, karya yang saya sukai; dua, karya yang tidak saya sukai.”

Apakah kemewahan “sastra” tersebut juga mempengaruhi pembacanya? Bagi saya, jawabannya adalah ya. Hal ini bahkan terjadi pada diri saya sendiri. Semasa remaja, ada kalanya saya menyukai novel teenlit yang mungkin terkesan picisan. Kesukaan saya pada genre tersebut tidak saya tunjukkan ke orang lain, karena pernah satu kali saya menemui cuitan di twitter yang bagi saya saat itu lumayan mengintimidasi. Cuitan tersebut kurang lebih berbunyi: “ngakunya pencinta sastra, bacanya teenlit (ia kemudian menyebutkan nama salah satu penerbit yang memang banyak menerbitkan buku bergenre teenlit)”.

Masyarakat cenderung menilai pembaca berdasarkan buku yang ia baca. Buku-buku dengan kosa kata sederhana tidak menjadi bacaan yang mumpuni untuk disebut sebagai sebuah sastra. Lantas apa anak muda harus membaca sastra yang mereka anggap “sastra sebenarnya” agar diterima? Karya yang berisi tulisan yang puitis serta tersirat? Ternyata bukan itu jawabannya, karena saat hal tersebut terjadi mereka tetap sinis.

Pada saat film “Ada Apa Dengan Cinta” tayang di bioskop, buku “Aku” karya Sjuman Djaya turut laku keras di pasaran. Banyak anak muda yang merupakan pasar terbesar dari film tersebut berlomba-lomba untuk menelaah isi dari buku tersebut. Saya sendiri menganggap hal tersebut merupakan momentum besar, agar remaja Indonesia memulai untuk membaca, tapi tidak dengan sebagian orang. Beberapa “penggemar sastra” yang mengekslusifkan diri mencibir dan menganggap mereka “penggemar musiman”. Beberapa lainnya, orang tidak tertarik untuk membaca berkata “sok nyastra lo.”

Kritik akan bacaan seseorang dapat menurunkan bahkan menghilangkan keinginan orang tersebut untuk terus membaca. Seharusnya, minat awal seseorang untuk membaca didukung penuh oleh lingkungan sekitar tidak peduli genre serta jenis apa buku yang sedang ia baca. Dalam hal ini saya menyetujui pendapat Iman Budhi Santosa, bahwa karya adalah karya, tidak peduli orang menyukainya atau tidak.

Karya merupakan sesuatu yang tidak dapat dibanding-bandingkan dan merupakan buah pikiran yang  tidak dapat dihitung secara matematis. Karya memiliki ruang di hati masing-masing pembacanya. Tidak sesuai dengan suatu karya bukan berarti karya tersebut buruk. Jangan taruh kata-kata mu di mulut orang lain. Jangan paksakan kemauanmu menjadi kehendak orang lain.

Bagi saya kontradiktif apabila menganjurkan remaja untuk mulai membaca sambil mengkritisi “karya non sastra”.  Tidak ada yang salah dari menikmati sastra yang didengung-dengungkan “tidak berkualitas”, karena menghentikan dan merendahkan sastra kepada pembacanya justru menghentikan mereka untuk sampai ke tahap sastra yang dianggap orang-orang ini “sastra sebenarnya”. Sastra adalah candu yang harus dimulai dari dosis rendah. Untuk dapat membaca karya dari Marga T, saya membaca teenlit remaja. Untuk dapat membaca Pride and Prejudice milik Jane Austen, saya membaca Lima Sekawan milik Enid Blyton. Untuk mengagumi isi puisi, Saya terlebih dahulu menjadi salah satu penggemar musiman dari “Aku” milik Sjuman Djaya, yang dipopulerkan oleh demam film “Ada Apa Dengan Cinta”.

Keistimewaan kata “sastra” sebaiknya perlahan dihilangkan. Sastra semestinya terbuka untuk khalayak luas, bukan justru diberikan batas untuk menjadi bagiannya. Tidak ada yang salah bagi suatu karya untuk menjadi sastra. Tidak seharusnya sastra menjadi sesuatu yang tabu hanya untuk karya yang telah dibuat lama. Sastra itu sendiri selalu berkembang, mengikuti zaman dan juga pembacanya. Kesinisan dan sentimen para “sastrawan” akan pembaca buku sederhana juga tidak baik untuk dibiarkan. Hal itu dapat mengikis semangat dari para pembaca muda untuk mulai membaca, karena untuk memulai apapun, seseorang akan memulai dari yang paling sederhana.

Biodata Penulis
Sabrina Rizki Yasmine lahir di Jakarta pada tanggal 18 November 1997. Saat ini, Sabrina tengah menyelesaikan program perkuliahan di Universitas Indonesia, tepatnya di Program Vokasi jurusan Manajemen Rumah Sakit. Saat ini Sabrina sedang sibuk menyelesaikan kegiatan magang di Rumah Sakit Hermina Depok serta mempersiapkan sidang kelulusan. Memiliki akun Instagram @sabrinarzky.

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya dan tips menulis, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca tips belajar menulis dari penulis lain di menu Tips Belajar Menulis.

Baca esai tentang sastra dari penulis lain di menu Esai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *