Baca Karya NonfiksiEsai

Esai – Optimalisasi Peran Puisi bagi Pelajar sebagai Upaya dalam Peningkatan Literasi dan Mengurangi Angka Tawuran Antarpelajar di Indonesia – Zahid Zufar At Thaariq

Optimalisasi Peran Puisi bagi Pelajar sebagai Upaya dalam Peningkatan Literasi dan Mengurangi Angka Tawuran Antarpelajar di Indonesia
Esai karya Zahid Zufar At Thaariq
Juara 1 Lomba Menulis Esai Tulis.me

Baca tips belajar menulis dari penulis lain di menu Tips Belajar Menulis.

Baca esai tentang sastra dari penulis lain di menu Esai.

Tulisan ini adalah hasil analisis penulis tentang masalah literasi rendah dari pelajar dan masalah tawuran antar pelajar yang terjadi saat ini. Secara psikologis, pelajar yang sudah berusia 12-14 tahun cenderung ingin dianggap sudah dewasa namun belum bisa meninggalkan pola kekanak-kanakannya. Hal ini menjadi salah satu yang mengakibatkan terjadinya tawuran antar pelajar. Selain itu rendahnya tingkat literasi yang dimiliki oleh pelajar, menjadi masalah yang perlu untuk diantisipasi. Dibandingkan dengan negara lain, tingkat literasi yang dimiliki oleh pelajar Indonesia masih tertinggal jauh. Hal ini menjadi salah satu masalah yang mengakibatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi rendah. Dalam tulisan ini akan sedikit menjelaskan peran puisi yang mampu meningkatkan literasi dan manfaatnya dalam mengurangi angka tawuran antar pelajar di Indonesia.

Tujuan pendidikan secara tradisional adalah transmisi pengetahuan atau proses membangun manusia menjadi berpendidikan (Danim, 2013). Selain itu, tujuan pendidikan menurut UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah menjadikan manusia yang berakhlak mulia dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berilmu. Pelajar adalah salah satu bagian dari pendidikan. Pelajar adalah objek yang menjadi tujuan dari pendidikan. Maka dari itu, diharapkan pelajar mampu menjadi manusia yang berpendidikan setelah menyelesaikan jenjang studi secara keseluruhan.

Pada dasarnya pendidikan diadakan untuk membangun manusia (pelajar) yang berkarakter. Namun, tak sedikit dari pelajar yang mengalami degradasi karakter. Berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), antara tahun 2015 hingga 2017, tercatat 256 pelaku dari aksi tawuran berasal dari kalangan pelajar. Hal ini dapat terjadi disebabkan adanya pandangan-pandangan dogmatis dari pelajar yang keliru, seperti “kalau enggak tawuran enggak jantan, enggak keren atau enggak cool, enggak mengikuti perkembangan zaman”, sehingga dengan pandangan seperti itu menunjukkan adanya krisis karakter yang dialami oleh pelajar.

Tawuran antar pelajar merupakan kejahatan kekerasan terhadap orang lain (Anjari, 2012). Tawuran antar pelajar masuk dalam salah satu bagian dari kejahatan kekerasan kolektif. Kejahatan kekerasan kolektif adalah kekerasan yang dilakukan secara bersama-sama dalam suatu kelompok.

Dalam mengurangi angka tawuran antar pelajar, upaya peningkatan literasi perlu untuk dilakukan agar pelajar dapat diarahkan untuk melakukan hal-hal yang positif seperti membaca maupun menulis. Istilah “literasi” memiliki makna meluas dari waktu ke waktu (Musfiroh dan Listyorini, 2016). Literasi sekarang tidak hanya diartikan sebagai kemampuan menulis dan membaca tetapi “…has instead come to be considered synonymous with it’s hoped for consequences” (Aronoff, 1994). Jadi, makna literasi terdapat pada kemampuan membaca dan menulis serta kemampuan dalam pemerolehan dan manipulasi pengetahuan melalui teks tertulis, dari analisis metalinguistik unit gramatikal ke struktur teks lisan dan tertulis (Olson, 1991; Ong, 1992).

Peningkatan literasi perlu dilakukan karena dengan literasi yang baik, maka akan menentukan kualitas sumber daya manusia yang baik juga. Namun, permasalahan pada pelajar juga terletak pada rendahnya literasi yang dimilikinya. Kajian dari permasalahan literasi ini berfokus pada permasalahan minat membaca. Berdasarkan data dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO), menunjukkan indeks tingkat membaca orang Indonesia hanya 0,001 persen atau dari 1000 orang, hanya 1 orang yang mau membaca dengan serius. Akibatnya, berdasarkan studi dari Most Littered Nation In the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat 60 dari 61 negara soal minat membaca  Maka dari itu, di samping permasalahan tawuran, permasalahan membaca juga perlu untuk diantisipasi agar dapat meningkatkan kualitas SDM di Indonesia.

Terdapat hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya tawuran antar pelajar. Dapat berupa lingkungan, keluarga, teman dan sebagainya. Namun pada dasarnya, pelajar melakukan tawuran karena adanya rasa marah. Marah merupakan bentuk ekspresi emosi yang dipengaruhi lingkungan sekitar manusia. Biasanya orang akan menjadi marah disebabkan mendapat rangsanganrangsangan yang mengancam dan mengusik ketenangan dan kenyamanan seseorang, misalnya orang akan marah jika dicaci, dihina, bahkan dilecehkan oleh orang lain (Susanti, Husni dan Fitriyani, 2014). Blackburn dan Davidson (1994), menyatakan bahwa emosi marah sebagai suatu emosi yang memiliki ciri-ciri aktivitas sistem syaraf simpatik yang tinggi dan adanya perasaan tidak suka yang kuat yang disebabkan adanya kesalahan, yang mungkin nyata salah atau mungkin pula tidak. Dari perasaan marah inilah akhirnya menimbulkan adanya kejadian tawuran dari pelajar. Salah satu hal yang dapat meredam amarah adalah melakukan aktivitas yang positif seperti membaca dan menulis karya sastra.

Karya sastra pada dasarnya adalah hasil karya manusia dengan mendayungkan imajinasi yang terdapat dalam diri pengarangnya (Yanti, 2015). Keberadaan karya sastra dapat mengisi kekosongan jiwa, karena membaca karya sastra bukan sekedar hiburan, namun juga sebagai pencerahan jiwa. Dengan membaca karya sastra, sejenak dapat menghilangkan amarah, duka dan mengikuti jalan cerita dari pengarang serta nilai-nilai tertentu akan meresap secara tidak langsung dibalik alur atau jalinan cerita yang secara bagus ditampilkan (Yanti, 2015). Manfaat karya sastra diperoleh melalui nilai-nilai terrsirat, dibalik jalinan cerita yang disampaikan oleh pengarang.

Karya sastra terbagi atas tiga jenis, yaitu puisi, prosa, dan drama. Singkatnya, puisi disebut sebagai karangan terikat, prosa disebut karangan bebas, dan drama disebut sebagai karangan yang dipentaskan (Kurniati, 2015). Karya sastra yang paling digemari oleh kalangan pelajar adalah puisi, dikarenakan puisi sangat efektif dan lebih menarik dalam menyampaikan pesan dan kesan serta memiliki nilai estetika dan seni. Puisi merupakan jenis karya sastra yang memahaminya dapat dengan diparafrasekan. Jenis sastra tersebut adalah karya sastra yang ditulis penyair dengan bahasa yang padat dalam bentuk bait (Kurniati, 2015). Dalam setiap bait puisi, dibaca  dengan intonasi atau nada yang tepat. Hal tersebut biasa disebut lirik. Dalam KBBI (2008) disebutkan bahwa lirik adalah sajak pendek dalam bentuk nyanyian yang isinya melukiskan perasaan.

Di samping itu, dalam upaya meningkatkan minat baca dari pelajar, maka dibutuhkan bahan bacaan yang dapat menarik minat baca. Minat baca biasanya dipengaruhi oleh faktor penentu dalam proses membaca. Burn (1977) mengemukakan 7 faktor penentu dalam proses membaca, diantaranya (1) sensori (pencitraan), (2) persepsi, (3) tata urutan, (4) latar pengalaman, (5) belajar, (6) asosiasi dan (7) sikap. Puisi adalah salah satu bacaan yang dapat menarik minat baca di kalangan pelajar, karena dalam puisi dapat mempengaruhi faktor-faktor tersebut. Dalam kaitan sensori, setiap baris atau bait puisi seolah-olah mengandung gema suara (sensor auditif), benda yang nampak (sensor visual) atau sesuatu yang bisa dirasakan (sensor taktil). Dalam kaitan persepsi, puisi dapat memberikan proses perlakuan individu dalam memberikan pendapat, arti dan gambaran dalam puisi tersebut. Seseorang dapat membentuk persepsinya dengan melalui beberapa tahap yaitu, (1) melalui stimulus atau rangsangan yang hadir dari lingkungannya. (2) melalui regestrasi, dalam proses ini seseorang dapat mendengarkan atau melihat informasi yang dikirim kepadannya dan (3) melalui interpretasi, merupakan suatu aspek kognitif dari persepsi yang sangat penting yaitu proses memberikan arti kepada stimulus yang diterimanya (Larasati, 2016). Dalam kaitan tata urutan atau susunan, puisi disusun berdasarkan makna (sense), rasa (feeling), nada (tone) dan amanat/tujuan/maksud (intention), sehingga ada variasi apabila sedang membaca atau mendengarkan puisi. Dalam kaitan latar pengalaman, pada dasarnya puisi ditulis atas pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain. Contohnya seperti puisi berjudul “Prajurit Jaga Malam” dan “Diponegoro” karya Chairil Anwar yang dibuat karena untuk membangkitkan semangat pemuda dalam memperoleh kemerdekaan. Puisi juga bisa digunakan sebagai proses belajar. Sardjono (dalam Shandi, 2012) menyatakan pemahaman pada puisi bukanlah kemampuan alamiah (biologis) melainkan hasil proses belajar. Dalam kaitan asosiasi, hubungan antara asosiasi dan puisi terdapat pada penggunaan gaya bahasa pembanding pada puisi. Contohnya adalah ibarat, bak, bagai, dan sebagainya. Yang terakhir, puisi dapat mempengaruhi sikap baca seseorang, karena ciri puisi yang paling menonjol ialah menampilkan tipografik, seketika pembaca melihat sebuah teks yang larik-lariknya tidak terus sampai ke tepi halaman, pembaca mengandaikan bahwa teks-teks itu berupa puisi. Pengandaian itu dapat mempengaruhi sikap baca (Shandi, 2012).

Dalam upaya mengurangi angka tawuran antar pelajar, puisi dapat digunakan sebagai terapi. Terapi puisi merupakan bentuk terbaru dari intervensi kreatif pada terapi seni dan terapi ekspresif (Malchiodi, 2005). Terapi puisi menggunakan puisi dan media sejenis untuk memfasilitasi diskusi mengenai isuisu personal, biasanya dalam bentuk kelompok (Karyanta, 2012). Terapi puisi ini perlu diupayakan, karena mengingat permasalahan utama terjadinya tawuran adalah rendahnya harga diri yang dimiliki oleh pelajar. Pelajar dengan harga diri yang rendah akan tampil sebagai siswa yang bermasalah di sekolah dan di lingkungannya, salah satunya terlibat tawuran. Maka dari itu, terapi puisi ini sangat efektif apabila diterapkan untuk meningkatkan harga diri pelajar.

Berdasarkan penelitian dari Kemala, Dimyati dan Hidayat (2015), terdapat peningkatan harga diri pada pelajar setelah diberikan terapi puisi. Penelitiannya menyebutkan terjadi peningkatan harga diri pada pelajar sebanyak 12,73 persen. Hal ini menunjukkan bahwa terapi puisi sangat efektif apabila digunakan pada pelajar yang memiliki harga diri yang rendah.

Bolton dan Latham (2004) mengungkapkan beberapa tahap dalam terapi puisi. Pertama adalah tahap menulis puisi. Tahap ini sering disebut sebagai asosiasi bebas, yang memerlukan kemauan dan keberanian untuk melakukan eksplorasi, membiarkan ide datang begitu saja. Kedua adalah tahap pertengahan. Pada tahap ini penulis membaca ulang puisi yang dibuatnya dan menanyakan dalam dirinya “apakah aku benar-benar merasakan/memikirkan hal ini?”. Beberapa pertanyaan dasar yang dapat digunakan untuk memeriksa kebenaran makna dari puisi adalah siapa, apa, kapan, mengapa, bagaimana, seberapa besar/banyak, dan karena apa. Ketiga adalah tahap terakhir, yaitu penulisan ulang naskah atau proses re-drafting. Tahap ini lebih bersifat kognitif, dimana penulis memberikan makna ulang atas apa yang telah dituliskan pada tahap menulis.

Berdasarkan penjabaran tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat permasalahan yang terjadi di Indonesia, salah satunya adalah permasalahan tingkat literasi yang rendah, khususnya membaca dan banyaknya kasus tawuran antar pelajar di Indonesia. Penyebab dari tingkat literasi yang rendah di Indonesia adalah kurangnya minat baca pada diri pelajar. Selain itu, adanya tawuran antar pelajar di Indonesia disebabkan oleh rasa marah sebagai akibat dari rendahnya harga diri yang dialami oleh pelajar. Sehingga optimalisasi peran puisi sangat penting dalam meningkatkan literasi dan mengurangi angka dari tawuran antar pelajar di Indonesia.

Dalam upaya optimalisasi peran puisi pada pelajar, peran aktif pemerintah, guru, keluarga dan masyarakat sangat diperlukan. Berdasarkan hasil dari penjabaran di atas, optimalisasi peran puisi dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu (1) perlu diadakan lomba cipta puisi bagi pelajar (bisa tingkat sekolah, tingkat kota hingga nasional), (2) perlu diadakan pementasan puisi sebagai bentuk apresiasi puisi (pementasan bisa berupa pameran karya puisi maupun pertunjukan pembacaan puisi di atas panggung) (3) menjadikan terapi menulis puisi sebagai alternatif bagi guru BK dalam menangani pelajar yang bermasalah (khusus guru BK, perlu diberikan pelatihan khusus mengenai penerapan konseling kelompok dengan menggunakan teknik terapi menulis puisi) (4) peningkatan pembelajaran puisi di dalam kelas secara interaktif (dapat berupa optimalisasi media dalam membelajarkan materi puisi, baik audio, visual, maupun audiovisual) dan (5) penerapan penggunaan aplikasi HaikuJam, Mirakee, dan sebagainya dalam smartphone (dapat diterapkan kepada anak-anak maupun guru). Manfaat dari penerapan ini adalah (1) pelajar relatif akan berlomba-lomba dalam berkarya sastra puisi (2) pementasan puisi diperlukan agar pelajar yang sudah berkarya melalui puisinya bisa dihargai (3) terapi menulis puisi dapat berguna untuk meningkatkan harga diri dari pelajar (4) dengan penggunaan media pembelajaran puisi, maka dapat meningkatkan pemahaman dan kompetensi pelajar terhadap puisi dan (5) dengan penggunaan aplikasi HaikuJam, Mirakee, dan sebagainya dalam smartphone, maka dengan sendirinya pelajar dapat terpacu untuk meningkatkan kognitifnya dalam menyusun tiap bait puisi.

Puisi adalah salah satu bagian dari karya sastra. Belajar sastra bagi pelajar yang sudah menginjak pada masa remaja sangatlah penting, karena dengan belajar sastra diibaratkan seperti menanamkan keberanian, kelembutan, keindahan dan kepedulian pada diri pelajar. Hal ini sangat sesuai di saat Indonesia sedang terjadi krisis moralitas. Tidak heran apabila negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, Jerman dan negara-negara maju lainnya menjadikan sastra sebagai kekuatan untuk menata moralitas anak-anak muda. Maka dari itu, pembelajaran sastra pada anak muda perlu diwujudkan agar dapat menstabilkan moralitas dari anak muda serta mampu meningkatkan literasi dan mengurangi angka tawuran di Indonesia.

Daftar Pustaka

  • Anjari, Warih. 2012. ‘Tawuran Pelajar dalam Perspektif Kriminologis, Hukum
    Pidana, dan Pendidikan’.
    Majalah Ilmiah Widya Tahun 29 No. 324
  • Aronof, M. 1994. Spelling and culture. dalam W.C. Watt (Ed). Writing system
    and cognition
    . Dordrecht: Kluwer
  • Baskoro, Dino. 2017. Minat Baca Masih Rendah, Indonesia Peringkat ke-60 dari
    61 Negara yang Disurvei Central Connecticut State University!. (online)
    (https://lifestyle.okezone.com/read/2017/10/05/196/1789397/minat-bacamasih-rendah-indonesia-peringkat-ke-60-dari-61-negara-yang-disurveicentral-connecticut-state-university) diakses pada 3 Juni 2018
  • Basri, A. Said Hasan. 2017. ‘Fenomena Tawuran Antar Pelajar Dan
    Intervensinya’.
    Hisbah Vol. 12, No. 1
  • Blackburn, I.M dan Davidson, K. 1994. Terapi Kognitif untuk Depresi dan
    Kecemasan: Suatu Petunjuk bagi Praktisi
    . Alih Bahasa : Mulyarto. Semarang:
    IKIP Semarang Press
  • Bolton, G. et. al. 2004. Writing Cures, Introductory Handbook of Writing in
    Counseling and Psychotherapy
    . New York: Bruner-Routledge
  • Burn, Paul C. dan Betty. 1977. Teaching Children to Read. New York: The
    Ronald Press Company
  • Danim, Sudarwin. 2013. Pengantar Kependidikan: Landasan Teori dan 234
    Metafora Pendidikan
    . Bandung: Alfabeta
  • HM, Rahmat. 2011. Peran Sastra dalam Kancah Pendidikan Bangsa. (online)
    (https://www.kompasiana.com/rahmathm/peran-sastra-dalam-kancah
    pendidikan-bangsa_5508f322a3331126452e3a15) diakses pada 3 Juni 2018
    Kartono, Kartini. 1995.
    Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan). Bandung:
    Mandar Maju
  • Karyanta, Nugraha Arif. 2012. ‘Terapi Puisi: Dasar-Dasar Penggunaan Puisi
    sebagai Modalitas dalam Psikoterapi’.
    Wacana Vol. 4, No. 7
    Kemala, Intan Nurul, Dimyati, Moch dan Hidayat, Dede Rahmat. 2015. ‘Pengaruh
    Terapi Menulis Puisi terhadap Harga Diri Siswa (Studi Kuasi Eksperimen

    terhadap Siswa dengan Harga Diri Rendah di SMK Farmasi Mandala Tiara
    Bangsa)’.
    Insight Jurnal Vol. 4, No. 2
  • Krismiasih. 2017. Mendorong Budaya Membaca. (online) (http://www.koranjakarta.com/mendorong-budaya-membaca/) diakses pada 5 Juni 2018
    Kurniati, Lisdwiana. 2015. ‘Mengapresiasi Sastra Genre Puisi melalui Kegiatan
    Parafrase pada Lirik Lagu “Sakitnya Tuh Disini”’.
    Jurnal Pesona Vol. 1 No. 2
    Larasati, Gilang. 2016. Pengaruh Persepsi tentang Pembelajaran Sastra terhadap
    Kemampuan Apresiasi Sastra Siswa Kelas XI SMK Negeri se-Kabupaten
    Kebumen. Skripsi. Fakultas Bahasa dan Seni UNY
  • Malchiodi, CA. 2005. Expressive Therapies. New York: The Guilford Press.
    Musfiroh, Tadkiroatun dan Listyorini, Beniati. 2016. ‘Konstruk Kompetensi
    Literasi untuk Siswa Sekolah Dasar’.
    Litera Vol. 15, No. 1
  • Olson, D.R. 1991. Literacy and objectivity: the rise of modern science. dalam
    D.R. Olson dan N. Torrance (Eds
    ). Literacy and Orality. Cambridge: CUP.
  • Ong, W.J. 1992. Writing is a technology that restructures thought. dalam
    P.Downing, S.D. Lima dan M. Noonan (Eds).
    The Linguistics of literacy.
    Amsterdam: John Benjamins.
  • Pryanka, Adinda. 2017. KPAI: Lemahnya Pengawasan Orang Tua Picu Tawuran.
    (online) (http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/11/28/p04pq
    1282kpai-lemahnya-pengawasan-orang-tua-picu-tawuran) diakses pada 30
    Mei 2018
  • Republik Indonesia. 2003. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
    Pendidikan Nasional
    . Jakarta: Depdiknas
  • Shandi, Tri Norma. 2012. Kemampuan Memahami Struktur Batin Puisi Karya
    Chairil Anwar pada Siswa Kelas XI Bahasa SMA Muhammadiyah 3 Jember
    Tahun Ajaran 2010/2011. Skripsi. FKIP Universitas Muhammadiyah Jember
  • Sulton. 1994. ‘Hambatan Pengajaran Membaca dan Menulis Permulaan di
    Sekolah Dasar’.
    Ilmu Pendidikan Tahun 21. No. 2
  • Susanti, Rita, Husni, Desma dan Fitriyani, Eka. 2014. ‘Perasaan Terluka Membuat
    Marah’.
    Jurnal Psikologi, Vol. 10, No. 2
  • Tim Penyusun. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.
  • Wikipedia. 2018. Puisi. (online) (https://id.wikipedia.org/wiki/Puisi) diakses pada
    1 Juni 2018
  • Yanti, Citra Salda. 2015. ‘Religiositas Islam dalam Novel Ratu yang Bersujud
    Karya Amrizal Mochamad Mahdavi’.
    Jurnal Humanika Vol. 3, No. 15
  • Yusran, M. 2013. ‘Penyelesaian Perkara Kekerasan “Kolektif” oleh Kepolisian’.
    Jurnal IUS Vol I, No. 3

Biodata Penulis
Perkenalkan, nama penulis adalah Zahid Zufar At Thaariq. Penulis lahir pada 26 Januari 1999 di Kabupaten Probolinggo. Sekarang tinggal di Perumahan IKIP Tegalgondo Asri Blok 2C No. 1, Malang. Penulis adalah mahasiswa program studi S1 Teknologi Pendidikan di Universitas Negeri Malang. Sebelum memasuki masa kuliah, penulis bersekolah di SD Laboratorium UM (2005-2011), SMP Negeri 18 Malang (2011-2014) dan SMA “Islam” Malang (2014-2017).
Penghargaan yang pernah diraih penulis sampai saat ini adalah sebagai peserta pada ajang “Musabaqah Tilawatil Qur’an” dengan cabang Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an tingkat Universitas Negeri Malang yang diselenggarakan oleh UKM Al-Qur’an Study Club dengan karya yang berjudul “Pendidikan dalam Islam” pada tahun 2017 dan sebagai Juara 2 dalam Lomba Esai Mahasiswa tingkat Jawa Timur yang diselenggarakan oleh MP3 dari Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional dengan karya yang berjudul “Sikap dan Solusi dari Dampak Buruk Smartphone sebagai Upaya dalam Mengantisipasi Nomophobia dan Kejahatan Cyber Bullying terhadap Anak-Anak” pada tahun 2018. Saat ini, di samping kuliah dan berkarya, penulis juga aktif berorganisasi di Karang Taruna RT 42 RW 09 Perum IKIP Tegalgondo Asri sebagai anggota dan di UKM Penulis UM sebagai anggota. Akun social media aktif yang dimiliki penulis antara lain instagram dengan akun @thoriqzahid dan facebook Thaariq Zahid Zufar At Thaariq II.

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya dan tips, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca tips belajar menulis dari penulis lain di menu Tips Belajar Menulis.

Baca esai tentang sastra dari penulis lain di menu Esai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *