Baca Karya & TipsCerpen

Cerpen – Mengagumi dalam Diam – Amalia Afriliani

Mengagumi dalam Diam
Cerpen karya Amalia Afriliani

Baca karya lain di menu Baca Karya & Tips

Di pagi hari aku bersyukur karena masih diberikan Allah kesempatan untuk mencintai dan mengagumi dalam diam, aku pun memandang langit pagi betapa indahnya langit itu dan alangkah bahagianya langit itu saat bertemu hari yang begitu cerah tanpa ada mendung. Dan para burung pun menjadi saksi akan indahnya pagi hari ini di saat angin, langit, hari yang cerah, dan pepohonan yang indah menjadi satu akan bersatunya kebahagiaan yang teramat dalam.

Di pagi ini aku pun melihat betapa semuanya tampak kebahagiaan, tetapi hanya hati inilah yang tak tampak ada kebahagian.

“Tok … Tok … bangun, nak, sudah subuh, ayo kita salat berjamaah, ayah sudah menunggu,” terdengar suara di balik pintu seorang ibu yang sedang membangunkan anaknya, ternyata ibu itu adalah ibu Farah.

“Iya, bu, aku udah bangun, kok. Aku ngambil air wudhu dulu ya, bu,” kata Farah.

“Cepat ya, nak, ibu dan ayah tunggu!”

Selesai mereka salat subuh berjamaah, mereka pun duduk di ruang makan untuk sarapan pagi.

“Ibu dan ayah tak usah khawatir ya, sekarang Farah sudah besar. Farah pun bisa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk dalam soal mencintai.”

Seketika suasana di ruang makan pun hening. Ayah Farah pun menatap Farah dengan tatapan yang tajam, “Farah, ayah tahu kau mampu dalam itu semua, nak, tapi ayah dan ibu mana yang mau melihat seorang putrinya mencintai dan mengagumi seseorang dalam diam selama 6 tahun dan tak ada jawaban dari itu semua. Akankah mereka tinggal diam atas apa yang terjadi kepada anaknya?”

Farah pun tertunduk diam tanpa ada satu kata pun keluar dari mulutnya. Jam pun sudah menunjukan pukul 07.00.

“Aku pamit kuliah dulu ya, ayah, ibu. Asalamualaikum.”

“Waalaikumusallam, hati-hati, nak,” kata ayah dan ibu Farah.

Di jalan pun Farah berpikir kembali atas apa yang dikatakan orang tuanya terhadapnya. Di dalam hatinya pun ia berkata, “Ayah dan ibu, maafkan Farah, Farah tak sanggup untuk melupakan seseorang yang Farah kagumi dalam diam selama 6 tahun ini, Farah akan menunggu dia walaupun 10 tahun sekalipun aku sanggup menunggunya,” kata Farah sambil meneteskan air matanya.

Sesampainya di kampus ada sahabat Farah menghampirinya. Sahabatnya itu bernama Aulia dan Waddah.

“Farah, kamu tahu enggak ada seorang yang akan datang nantinya ke kampus kita. Dia itu katanya anak pesantren yang kuliah dan dia mau pindah sejurusan di kelas kita,” kata Aulia menjelaskan kepada Farah, tetapi Farah pun tak peduli entah siapa pun yang pindah di kampusnya maupun sejurusan dengannya dia pun sama sekali tak peduli.

“Oooh, bagus akan ada banyak orang dong di jurusan kita,” kata Farah berkata kepada kedua sahabatnya itu.

“Bukan itu masalahnya, Farah. Orang yang pindah itu orang yang engkau kagumi selam bertahun-tahun,” kata Waddah menjelaskan kepada Farah, dan Farah pun terdiam tanpa ada satu katapun yang ia katakan.

Keesokan harinya Farah kembali hadir ke kampus, pada saat di jalan dia berpikir, “Ya Allah akankah aku sanggup setelah sekian lama aku tak bertemu dengannya dan dipertemukan kembali. Apakah aku kuat akan kenyataan ini dan takdir ini.”

Seketika, brugh … Farah pun terjatuh karena tersenggol oleh seorang pria yang berlari.

“Maaf, kamu nggak apa-apa?”

“Alhamdulillah aku nggak apa-apa.”

Farah pun menengadah ke atas dan saling bertatapan dengan seorang pria yang bersenggolan dan dia tadi. Suasana di situ pun hening karena seorang yang bersenggolan dan Farah itu adalah Farhan pria yang ia kagumi selama bertahun-tahun.

“Ya Allah, aku tak tahu apa rencana dan takdir-Mu selanjutnya,” seketika itu mereka pun sadar dari lamunan itu.

“Astaghfirullah, maaf,” kata Farhan.

“Iya aku juga minta maaf.” Farhan pun melamun seakan dia tahu dengan gadis ini dan ia pun sadar bahwa gadis yang dia senggol adalah Farah teman MTS-nya dulu.

“Kamu Farah, kan, yang satu sekolah dengan aku dulu di MTS?”

“Iya, aku Farah, Farhan.”

“Aku nggak nyangka, lho, bisa bertemu kamu dalam situasi yang tak terduga seperti ini,” kata Farhan.

“Iya, aku juga,” sontak Farah pun malu semalu-malunya di situ karena ia bertemu kembali dengan seorang yang dia kagumi selama bertahun-tahun ini.

“Bagaimana kabarmu, ibu dan ayahmu, Farah?” tanya Farhan.

“Alhamdulillah kami sekeluarga baik-baik saja, keluargamu apa kabar?”

“Alhamdulillah baik juga, Farah kamu mau kuliah ya?”

“Iya, memangnya kenapa?”

“Nggak apa-apa, sama aku juga.”

“Kudengar kau satu kuliah dan satu jurusan denganku.”

“Iya aku tahu, ayahmu yang bilang kepada ayahku bahwa kita satu kampus dan sejurusan.”

“Oh ayahmu dan ayahku sudah bertemu, tapi yang sejurusan denganmu bukan hanya aku tapi Aulia dan Waddah pun sejurusan dengan kita.”

“Oh benarkah? Syukurlah.”

Setelah sepulang kuliah Farah pun menceritakan apa yang ia alami hari ini kepada buku hariannya.

“Dear diary, aku hari ini sangat bersyukur karena aku sudah dipertemukan kembali oleh Allah kepada Farhan, seorang yang aku kagumi dalam diam selama bertahun-tahun. Aku tak menyangka akan dipertemukan kembali dengannya. Aku yakin ini bukan kebetulan tapi ini adalah takdir dari Allah Swt, dan lihatlah nanti aku akan menunggu takdir apa lagi yang akan dating. Aku akan menunggu semua itu,” kata Farah menulis di buku hariannya.

Tak terasa sudah 4 tahun mereka berkuliah bersama, tapi Farah merasa tak ada kemajuan dalam hal percintaan yang ia alami. Farah pun berkata dalam hati, “Ya Allah aku bersabar atas takdir ini selama 9 tahun aku mengaguminya dalam diam, akankah dia mempunyai rasa cinta kepadaku walaupun hanya sebutir pasir. Dan tak terasa aku dan Farhan sudah hampir tamat kuliah. Aku tak kunjung menyadari dia ada perasaan terhadapku, sampai kapan aku memendamnya,” kata Farah dalam hatinya.

Pada saat yang bersamaan ayah dan ibu Farah memanggil Farah karena ada yang akan mereka bicarakan. Farah pun ke ruang keluarga untuk berbicara kepada keluarganya. Ayah Farah pun berbicara, “Farah, ada yang ayah ingin sampaikan kepadamu, engkau tahu nak orang tua akan bahagia bila melihat anaknya bahagia dan engkau juga akan tahu jika melihat anaknya bersedih maka orang tuanya akan sangat bersedih jika melihat anaknya bersedih, ayah dan ibu tahu seberapa besar cintamu terhadap Farhan dan seberapa besar sayangmu terhadapnya, dan ayah merasa, rasa itu akan hilang pada dirimu. Ayah mohon kuatkanlah dirimu dan mohon sabarlah atas takdir dari Allah ini, nak. Mungkin Farhan bukan jodohmu, nak.” Tak terasa air mata Farah pun bercucuran.

“Hah, kenapa Ayah bicara begitu? Aku tahu, yah, walaupun badai dan bunga sekali pun aku tetap mencintai Farhan bagaimanapun caranya,”

“Tidak, nak, sudah cukup ayah melihatmu menangis dan menderita selama bertahun-tahun atas cinta yang tak terbalaskan. Bagaimana caranya katakan kepada ayah, kamu bisa mencintainya seperti apa lagi, nak, tidak ada harapan lagi untukmu karena Farhan akan melamar wanita yang dicintainya minggu depan.”

Farah pun tak kuasa membendung air matanya dan tak kuasa menahan rasa sakit hati yang datang pada saat itu. Farah pun lari dan pergi ke kamarnya, dia pun hanya bisa berdoa kepada Allah akan hal dan takdir yang terjadi kepadanya. Farah pun kembali menuliskan di buku hariannya.

“Dear diary, aku tak kuasa dan sanggup merasakan sakitnya hati ini setelah sekian lama aku mengaguminya inilah hasil yang aku dapat, akankah aku sanggup untuk melupakannya. Dan di sini aku hanya bisa pasrah dan berdoa agar aku dapat titik terang dari masalah cinta yang kuhadapi. Sebelum aku pergi aku akan membuat surat pengakuanku kepada Farhan lebih dulu, aku percaya kepada Allah yang maha membolak-balikan hati mengagumi Farhan dalam diam adalah caraku untuk menjaga hati jadi aku pun cukup diam, jika Allah berkehendak Farhan adalah jodoh yang terbaik di antara yang terbaik maka dia akan menjemputku bersama ayah dan ibunya.”

Setelah keesokan hari Farah pergi bertemu dengan kedua sahabatnya, Aulia dan Waddah, dan menceritakan apa yang terjadi.

“Farah, kami pun tahu betapa sayangnya Allah terhadapmu. Sabarlah Farah kami akan mendoakan yang terbaik untukmu.”

“Terima kasih, wahai sahabatku, aku akan pergi besok jadi aku hanya menitipkan surat ini agar kalian bisa menyampaikan kepada Farhan.”

“Iya, kami akan menyampaikan suratmu Farah, dan jaga dirimu baik-baik di sana.”

Mereka pun saling berpelukan.

“Baik, kalian juga, ya sudah aku pulang dulu.” Di saat yang bersamaan kedua sahabat Farah Aulia dan Waddah langsung pergi ke rumah Farhan untuk menyampaikan surat dari Farah.

Tok … tok … tok. Farhan pun membuka pintu.

“Ada apa, kenapa kalian terlihat panik?”

“Kepanikan tak akan masalah pada kami yang penting adalah perasaan seseorang. Ini surat dari Farah.”

“Memangnya Farah kenapa?”

“Kau segera bacalah surat ini dan kau akan tahu jawaban dari semua yang kau pertanyakan,” kata Aulia menjelaskan kepada Farhan.

“Kami pergi dulu. Asalamualaikum.”

“Waalaikumusallam.”

Ketika sahabat Farah pergi, Farhan pun duduk di kursi teras sambil membaca surat dari Farah.

“Asalamualaikum Farhan, aku tahu aku bukan seorang wanita yang sempurna maka aku akan berusaha menjadi wanita yang sempurna bagi agama. Farhan, apakah kau tahu bahwa aku mencintaimu dalam diam selama 10 tahun. 3 tahun saat kita bersekolah di MTS, 3 tahun saat kau di pesantren, dan 4 tahun saat kita kuliah bersama. Dan kau tahu aku menjalani rasa cinta ini sendiri begitu beratnya berjuang selama bertahun-tahun dan kuharap engkau masih ada rasa cinta terhadapku walaupun sekecil butiran pasir. Farhan, kuharap kau tidak akan marah setelah membaca surat dariku karena perasaan ini dari Allah. Farhan, kenapa aku berani mencintaimu selama 10 tahun? Kenapa? Karena Allah menakdirkan aku mencintai alim ulama sepertimu. Farhan, kenapa Allah menakdirkan aku mencintaimu? Karena dia sayang kepadaku, karena dia tahu mana yang baik terhadapku. Farhan engkau tahu kenapa Allah menakdirkan aku mengagumimu dalam diam selama bertahun-tahun? Karena Allah tahu itulah takdir yang dia titipkan kepadaku, dan dia tahu walaupun beribu banyak wanita yang mencintaimu sebaik diriku tapi akulah salah satu dari mereka yang diberikan Allah rasa cinta ini karena dia tahu cinta itu saling melengkapi satu sama lain. Dan aku berharap kepadamu Farhan jika kau sudah tahu ini semua kuharapkan jangan marah kepadaku karena ini semua adalah takdir dari Allah swt. Sekian dulu suratku, Farhan, kuharap kita bisa bertemu kembali dan engkau pun akan menikahi gadis yang kau cintai, aku pun ikut bahagia mendengarnya.
Wassalamualaikum ….

~FARAH~”

Tak terasa hati Farhan pun begetar ketika membaca surat ini, tanpa sadar ayah dan ibu Farhan pun melihat Farhan menangis.

“Ada apa, Farhan, kenapa engkau menangis?”

“Ayah, ibu, coba ayah dan ibu lihat ini. Jika aku tahu dia mencintaiku selama ini maka aku pun akan berjuang bersamanya.”

Ayah dan ibu Farhan pun membaca surat dari Farah.

“Kejar, nak. Kejar cinta yang sudah Allah takdirkan kepadamu. Perjuangkan cinta dari Allah ini, dia berjuang untukmu 10 tahun cepat. Perjuangkan cinta dari allah itu, nak. Ayah dan ibu akan mendukungmu dan Farah, nak.”

Seketika suasana berubah dan mencair.

“Ayah, ibu, maafkan aku, aku menyadari cintaku yang sesungguhnya. Aku akan mengejar Farah.”

“Kejar, nak, dia adalah cinta yang murni yang dititipkan Allah kepadamu. Kau harus memperjuangkannya. Biarlah Ayah yang mengurus dan membatalkan acara lamaran kau dengan Karin. Cepat, nak, sebelum Farah pergi.”

“Baik, ayah, ibu, aku mohon doa kalian terhadapku dan mohon doakan agar aku dipermudah untuk mendapatkannya.” Seketika itu Farhan bergegas pergi menuju rumah Farah.

Sesampainya di rumah Farah, ternyata Farah sudah pergi.

“Farhan, anakku Farah sudah menuju bandara. Dia mungkin sebentar lagi akan berangkat,” kata ayah Farah.

“Ayah, ibu, aku mohon doa restu kalian agar kau menyetujui aku menikahi Farah dan aku akan membahagiakannya.”

“Iya, nak, kami mengizinkan dan mendoakan kalian selalu. Cepat pergi nak perjuangakan cinta Farah, sebentar lagi dia berangkat.”

“Baik, ayah, ibu, saya berangkat dulu.”

Di jalan pun Farhan meneteskan air mata betapa melajunya mobil yang dibawanya.

“Ya Allah, aku baru merasa cinta hari ini betapa besar rasa cinta sehari yang aku rasakan, dan aku juga baru hari ini merasakan rasa sakit hati betapa sakitnya ya Allah, dan aku pun baru merasakan itu sehari. Bagaimana dengan Farah yang merasakan ini selama bertahun-tahun ya Allah, jika engkau mengizinkan kami bersama tolong bantu hamba untuk memperjuangkannya ya Allah,” kata Farhan dalam hati.

Di saat di bandara Farhan pun berkeliling mencari Farah, setelah berberapa lama Farah pun tak kunjung dapat dan Farhan pun nekat melakukan hal yang tak diinginkan dia pun masuk ke dalam lapangan pesawat yang hendak berangkat dan ingin bergantung di pesawat itu. Para petugas dan pihak keamanan yang lain pun sontak kaget dan tiba-tiba menjeda keberangkatan Farah yang mendengar keadaan di luar pun bergegas hendak keluar dari pesawat.

Seketika Farah keluar dari pesawat dan melihat Farhan tergantung di roda pesawat pun turun ke bawah dan menghampiri Farhan dengan keadaan Farhan yang terluka.

“Farhan, aku mohon sadar, Farhan, aku mencintaimu Farhan. Ya Allah aku mohon kepadamu sadarkan Farhan, ya Allah. Farhan, bangun Farhan, aku mohon.”

Keadaan di bandara pun terharu melihat mereka berdua. Farhan pun bangun.

“Farah, maafkan aku, aku tak tahu kau mencintaiku selama ini, aku akan menebus rasa cintamu itu, Farah, jawab aku maukah kau menikah denganku?”

“Iya, Farhan. Aku mau tapi kau harus berjanji denganku kau harus hidup dan selamat.” Farhan pun tersenyum mendengar jawaban dari Farah.

Sesampainya di rumah sakit keadaan Farhan sangat kritis karena luka yang ia alami sangat parah. Di saat yang bersamaan keluarga Farah dan Farhan berkumpul untuk berbicara masalah pernikahan Farhan dan Farah yang akan dilaksanakan secepatnya.

Pada saat itu dokter keluar dari ruangan dan berkata, “Farhan sudah siuman dan dia masih dalam keadaan kritis karena keadaan luka yang ada pada ginjalnya dia harus dioperasi dan harus ada yang mendonorkan ginjal untuknya.” Ibu dan ayah Farhan pun sontak kaget dengan keadaan yang dialami Farhan, ibu dan ayah Farhan pun tak mampu mendonorkan ginjal mereka karena ibu Farhan sudah mendonorkan ginjalnya kepada ayah Farhan.

“Ya Allah, cobaan apa lagi yang engkau beri, dan anak kami akan bernasib sama seperti kami ya Allah,” kata orang tua Farhan, dan di situ ayah dan ibu Farah mencoba menenangkan keluarga Farhan.

“Ayah, ibu, aku yang akan mendonorkan ginjalku kepada Farhan, kalian tak usah khawatir, aku bisa hidup bersama dengan Farhan. Aku pun akan sangat bahagia bersamanya.” Mereka pun menangis akan keputusan yang diambil oleh Farah.

“Ayah, ibu, ayah pernah berkata orang tua mana yang tak bahagia melihat anaknya bahagia, jadi izinkan aku untuk mendonorkan ginjalku kepada Farhan agar aku bisa bahagia bersamanya.”

“Ya Allah. Nak, mungkin ini jalan dan takdir yang Allah berikan kepadamu, ayah dan ibu mengizinkan jika menyangkut kebahagiaanmu. Dan ingat janji kepada ayah dan ibu untuk sehat kembali.”

“Iya, yah, aku berjanji.” Mereka pun berpelukan.

Ayah dan ibu Farhan pun bersyukur atas di berikannya seorang seperti Farah yang berhati mulia akan menjadi bagian dari keluarga mereka.

“Nak Farah, kami berhutang budi kepadamu, dan tolong sehat kembali agar kami dapat membalas kebaikanmu, nak.”

“Ayah dan ibu tak perlu membalasnya. Aku pun senang aku bisa bersama dengan Farhan itu pun sudah cukup bagiku.” Farah pun dicium oleh ibunya dan ibu Farhan.

Setelah beberapa jam melakukan operasi, Alhamdulillah operasinya berjalan lancar dan menunggu Farhan dan Farah siuman. Beberapa saat kemudian Farah dan Farhan pun siuman. Betapa bahgianya kedua keluarga melihat cinta dan takdir yang Allah berikan kepada mereka.

Beberapa minggu kemudian Farhan dan Farah pun akhirnya menikah dan resmi menjadi sepasang suami-istri.

“Farhan, aku tak percaya aku bisa memiliki dan menikah denganmu, aku sangat bersyukur kepada Allah dari sekian lama aku menunggu dan inilah jawaban dari takdir itu semua.”

“Farah, aku pun sangat bersyukur kepada Allah karena dia mengirimkan seorang wanita yang hatinya seperti mutiara sepertimu, dan aku akan berjanji kepadamu aku tidak akan pernah mengecewakanmu, Farah.”

Sekian dari cerita cinta Islami mengagumi dalam diam, Farah pun mendapatkan buah dari kesabaran yang ia hadapi selama ini.

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya dan tips, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca karya lain di menu Baca Karya & Tips

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *