Baca Karya & TipsCerpen

Cerpen – Cerita di Suatu Sore Musim Salju – Yopi Ana

Cerita di Suatu Sore Musim Salju
Cerpen karya Yopi Ana

Baca karya lain di menu Baca Karya & Tips

Awal Desember, saat Seoul digeluti oleh salju. Dingin dan basah. Alam seketika menjadi pucat, tak ada rona musim gugur yang tertinggal, tidak ada kuning apalagi merah, hanya dingin sekaligus beku. Butiran-butiran putih itu tampak angkuh menjatuhi ranting hitam dan kurus milik zelkova tua yang berdiri tidak jauh dari kedai kopi tempat kami bertemu.

“Aku yakin, lemparanku pasti mematahkan salah satu tulang rusuknya,” Min berkata penuh kemenangan setelah menyeruput kopi hitam yang dipesannya.

“Tidak sia-sia kau mengikuti klub baseball saat kita kuliah dulu,” sahut Ning ikut menyeruput minuman dalam cangkirnya, miliknya adalah latte dengan gambar hati sederhana.

“Tentu saja. Aku sudah membuang jauh pukulan baseball dirumahku dan hanya menyisakan bola-bolanya saja.”

Aku dan Ning menyambut jawaban Min dengan tawa renyah.

Tidak seperti kedua sahabatku, aku tidak merasa terlalu dingin, espresso milikku hanya kuhirup aromanya saja, namun lagi-lagi aromanya tidak begitu menyentuh penciumanku. Hambar.

“Lalu kali ini apalagi alasannya?”

“Selalu sama. Dia menuduhku tidur dengan laki-laki lain, kali ini teman baiknya.”

“Dia pasti sudah kehilangan akal sehatnya,” Ning menanggapi jawaban Min dengan sinis.

Kali ini juga sama dengan pertemuan kami terakhir kalinya, kira-kira di pertengahan musim gugur, saat daun-daun maple sedang bersolek dengan warna warni tubuhnya, pelipis disudut kiri mata Min dihiasi dengan warna memar yang cukup hitam karena lemparan vas bunga. Kali ini ada sedikit tambahan warna memar disudut kiri dahinya.

“Lalu pelipis dan dahimu ….”

“Karena lemparan bola baseball.”

Lagi, kami kembali tertawa seolah sedang menyaksikan sebuah komedi lucu yang sedang kami lakoni sendiri. Tawa kami lebih renyah.

“Dasar laki-laki berengsek!” Di sela-sela seruputan pada kopi hitamnya, aku masih mendengar makian Min.

“Benar, laki-laki memang semuanya berengsek!” Sambung Ning.

Seperti biasanya, aku hanya tersenyum kecil sesekali tertawa mendengar makian-makian kedua sahabatku dengan nada sarkastis. Sesekali juga aku ikut mengangguk mengiyakan makian-makian itu.

“Lalu bagaimana denganmu?”

Pertanyaan Min ikut membuatku memasang telinga. Aku penasaran, sejak pertemuan terakhir kami, cerita Ning adalah yang paling kutunggu. Dia belum memutuskan ending-nya dan berjanji akan menceritakan kepada kami tentang ending-nya di pertemuan selanjutnya, yaitu hari ini.

Dibandingkan dengan Min, sahabatku yang berasal dari Jepang, Ning yang berasal dari salah satu pulau di Indonesia tampak jauh lebih kuat dari fisiknya yang kadang terlihat lemah. Kulitnya yang berwarna kuning kecokelatan dipadu dengan sepasang mata hitam berkelopak ganda seakan menambah kesan wanita kuat pada sosoknya. Aku selalu menyukai sepasang matanya. Selalu, sejak pertemuan pertama kali di hari pertama kuliah di Seoul National University.

Aku bahkan menahan nafas sambil menunggu jawaban Ning yang menatap Min dengan ragu. Aku yakin jawabannya pasti mengecewakan. Setidaknya mengecewakan aku dan Min. Ekspresi wajahnya yang mudah terbaca mengatakan seperti itu.

“Aku … memaafkannya.”

“Apa?! Lelakimu itu bahkan lebih buruk dari lelakiku!”

Aku hanya menggelengkan kepalaku putus asa, menyetujui protes Min. Ini adalah sad ending, batinku.

“Banyak hal yang harus dipikirkan.”

“Maksudmu kehamilanmu?”

“…”

“Atau kehamilannya?”

“…”

“Kau harus menyelamatkan hidupmu, kehamilanmu bukan satu-satunya yang penting saat ini.”

Lagi-lagi aku mengangguk menyetujui kata-kata Min.

“Aku akan menjadi seorang ibu, bagaimana bisa aku hanya memikirkan hidupku sendiri?”

Kali ini pun aku setuju dengan kata-kata Ning. Setiap wanita memiliki naluri keibuan yang tidak bisa diabaikan. Sangat wajar jika Ning bersikap seperti itu. Hanya sedikit saja, aku memahami kata-kata Ning, juga sedikit berpihak padanya.

Aku berada pada dua belah pihak, pihak Min dan juga pihak Ning.

“Kau bodoh! Benar-benar bodoh! Dia bahkan belum bernyawa, masih belum terlalu terlambat. Dengarkan aku, Ning, rasa yang akan kau tanggung itu bahkan lebih buruk dari yang kurasakan. Setidaknya kau belajar dari hidupku!” Suara Min berang, sampai-sampai aku hanya bisa melebarkan mataku menatapnya tidak percaya. Selama persahabatan kami, ini adalah kali pertama aku melihatnya seperti itu, mata sipitnya melebar paksa begitu juga dengan kemarahan yang membuat kulitnya yang seputih salju memerah, terutama pada kedua tumpu pipinya.

“Tidak semudah itu Min.”

“Memangnya ada yang mudah didalam hidup ini? Hidup itu harus egois jika tidak kau akan menyesal nantinya.”

“…”

“Kau harus hidup bahagia Ning, masih ada kesempatan sebelum semuanya terlambat. Kau harus menjadi yang paling bahagia di antara kita bertiga Ning.”

“…”

“… Aku tidak ingin kehilangan orang yang berarti lagi hanya karena seorang laki-laki berengsek!”

Kami bungkam. Sebuah luka yang sangat dalam tampak begitu jelas pada tatapan Ning dan Min, sementara aku, tidak banyak yang kurasakan, selain penyesalan.

“Tidak, Min! Aku tidak akan meninggalkanmu, tidak akan pernah! Aku berjanji!”

Kesedihan lalu kerinduan, sedetik kemudian aku melihat perubahan tatapan mata Ning dan Min. Lalu rasa itu menyambar kedalam hatiku seperti salju diluar sana yang mulai mencair. Semakin kedinginan, semakin membeku.

Aku juga merindukan kalian, Min, Ning. Bisikku pelan hampir tidak terdengar.

***

Senja belum sepenuhnya datang. Dari balik awan yang bergelantungan di atas pohon zelkova tua, matahari tampak begitu memaksa untuk menyentuh tumpukan-tumpukan putih dipinggir jalan sepanjang kedai kopi, sedikit, namun cukup membuat tumpukan-tumpukan putih itu tampak berkilau. Indah, namun tidak mengusir dingin yang terasa hingga ke jantung.

Sama seperti sebelumnya, di sudut kedai kopi yang berdekatan dengan pohon zelkova tua, kami duduk menikmati masing-masing cangkir kopi kami. Ning dengan latte bergambar hati karya barista tampan pemilik kedai kopi, Min dengan kopi hitam kentalnya, dan aku dengan espresso.

Yang berbeda kali ini adalah aku tidak melihat pelipis dan dahi memar milik Min. Untuk pertama kali setelah sekian lama, aku melihat guratan wajah mulus khas wanita Jepang miliknya.

Ning yang pertama menyeruput latte miliknya. Aku bisa melihat hati diatasnya sudah tidak lagi berbentuk.

“Dasar keras kepala!” Min masih menyimpan kemarahan atas keputusan sad ending yang diambil Ning.

“Jangan memarahinya terus, dia sudah cukup banyak mengalami kesulitan,” Ning diam, aku yang membelanya.

“Itu karena sikap keras kepalanya, aku sudah mengingatkannya berulang kali! Gugurkan saja sebelum dia bernyawa!”

Aku tidak menjawab Min, tatapanku memperhatikan Ning lekat saat dia meletakkan cangkir latte-nya dengan tatapan yang sama sekali kosong, lalu Ning memandang jauh, cukup lama sampai aku menyadari kaca yang tampak pada kedua mata hitamnya.

“Tidak ada yang harus kau tangisi Ning!” Bisikku, namun Ning bergeming.

“Semua ini karena laki-laki brengsek itu! Dasar tidak tau diri!” Min masih saja tidak bisa menahan kemarahannya.

“Min, hentikan!”

Min tidak menggubrisku, “Apakah menurutmu aku harus membunuh laki-laki itu dengan melemparinya dengan seribu bola baseball?”

“Kubilang hentikan, Min!”

“Mengapa aku harus berhenti?! Rasanya aku akan sanggup membunuhnya saat ini juga!”

Aku mengabaikan Min. Perhatianku kembali tertuju pada Ning. Aku menatapnya dengan bimbang. Tatapan kosongnya masih setia, aku jadi menerka-nerka apa yang sedang dipikirkannya.

“Ning … pasti berat sekali ya?”

Lagi-lagi  Ning hanya bergeming.

“Kau menanyakan pertanyaan retorika!” ketus Min.

“Jika pada akhirnya seperti ini, kau tidak seharusnya mempertahankan semuanya.”

Di antara kami bertiga, kisah Ning dan laki-lakinya adalah yang paling tragis. Ning jatuh cinta pada laki-laki mata keranjang dari jurusan seni kontemporer. Cinta memang membutakan, meskipun Ning tahu jika laki-lakinya meniduri setiap wanita yang dikencaninya, dia menerimanya karena cinta, sampai semuanya benar-benar terlambat. Ning hamil dan sebelum dia mengatakan kebenarannya kepada keluarganya, adik Ning yang berusia dua tahun di bawahnya mengaku telah tidur dengan lelakinya dan sedang mengandung anak dari lelaki itu. Ning enggan menggugurkan kandungannya dan tetap merahasiakan kebenaran tentang ayah dari bayi yang ada di dalam rahimnya saat ini. Merelakan lelakinya untuk menikahi adiknya sendiri. Bahkan saat ini, dia menjadi bagian dari yang diasingkan oleh keluarganya.

“Kau pernah mengatakan kepadaku Ning, jika saat mencintai seseorang kita kehilangan terlalu banyak hal, itu sudah cukup menjadi alasan untuk mengakhirinya. Cinta itu bukan memberi dan menerima, melainkan saling memberi dan melengkapi. Kata-katamu itu … selalu kuingat, walaupun pada akhirnya aku dan juga Min gagal, lalu mengapa kau sekarang berjalan di atas jalan kegagalan yang seharusnya bisa kau hindari?”

Kata-kataku hanya berlalu seperti angin. Aku yakin, Ning tidak mendengarkanku, namun aku tetap ingin mengatakannya.

“Ning, aku dan Min adalah orang-orang yang dikalahkan oleh sesuatu yang bernama cinta. Kami menyerah, kau harus bertahan Ning karena kau telah memilih untuk menang.”

Kali ini tampaknya Min menyetujui kata-kataku, tidak ada protes terdengar dari bibirnya.
Untuk sebuah alasan yang sama-sama kami ketahui, kami terdiam. Cukup lama, namun tidak selama diam milik Ning.

“Menurutmu apa yang sedang dipikirkannya?”

Aku mengedikkan bahu menjawab pertanyaan Min, dalam hati aku pun bertanya apa yang sedang dipikirkan oleh Ning dengan tatapan kosongnya itu. Sampai sebuah suara membuyarkan Ning dan tatapan kosongnya.

Si barista tampan yang menggambar hati di atas latte milik Ning.

“Kali ini Anda datang sendiri?”

Ning mengangguk.

“Perkiraan cuaca mengatakan malam ini akan terjadi badai salju, aku rasa kedua teman Anda tidak akan datang hari ini,” sambung si barista tampan.

Ning tersenyum, kecil dan penuh arti.

“Memang, mereka memang tidak akan pernah datang kemari lagi,” kali ini senyum Ning penuh kesedihan yang membuat si barista mengerutkan keningnya, kemudian bertanya.

“Maksud Anda?”

“Mereka meninggalkanku.”

Aku dan Min terpaku. Saling pandang penuh bimbang. Lalu bungkam. Sama-sama menatap Ning yang kembali menatap kosong dan jauh.

Aku adalah orang pertama yang kalah, lelakiku meninggalkanku di hari pernikahan kami, lalu sebuah benturan mobil yang melaju kencang saat aku menyeberang jalan dengan gaun putih pernikahan untuk mengejarnya menghabisi hidupku tanpa ampun dan Min, minggu lalu berkelahi habis-habisan untuk membela diri dari tuduhan tidur dengan laki-laki lain oleh lelakinya, Min berakhir kali ini bukan vas bunga ataupun bola baseball melainkan sebuah pisau tajam yang menancap tepat pada dadanya. Kami kalah begitu saja.

Salju di luar sana semakin deras, sepertinya benar yang diperkirakan oleh ramalan cuaca, malam ini akan terjadi badai salju. Namun saat ini, badai itu sendiri sedang terjadi di dalam hati Ning. Membeku sekaligus membara.

Menjelang akhir Desember, saat Seoul masih digerayangi salju.

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya dan tips, buka menu Submit Karya & Tips.

Baca karya lain di menu Baca Karya & Tips

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *