Baca Karya & TipsCerpen

Cerpen – Klub Arisan Kesedihan – Yoga Palwaguna

Cerpen karya Yoga Palwaguna

Dua belas orang telah berkumpul. Hari ini adalah jadwal pengundian klub arisan kami. Namun, karena bulan ini adalah bulan penutupan, kami sudah tahu sama tahu siapa yang akan mendapatkan giliran. Semua orang bisa mengobrol dengan rileks tanpa beban. Mereka tak perlu lagi berharap-harap cemas.
Kali ini kami berkumpul di sebuah restoran di Jalan C. Marline, pemenang arisan bulan lalu, mentraktir kami semua sebagai bentuk rasa syukur. Kesedihan yang ia terima bulan kemarin benar-benar mantap, katanya pada kami. Marline bercerita, kesedihan itu berhasil membuatnya menangis tiga hari tiga malam. Nafsu makannya lenyap. Dia bahkan sempat tak sadarkan diri. Hidupnya yang selama ini terasa gersang kembali basah oleh air mata. Kesehariannya yang terasa hambar kembali penuh warna. Cerita janda super kaya itu membuatku semakin tak sabar untuk menerima kesedihanku sendiri.

Aku bergabung dengan Klub Arisan Kesedihan sekitar akhir tahun lalu, tepat ketika klub ini akan memulai periode arisan mereka yang ke-7. Waktu itu aku baru saja pulang dari acara amal di sebuah panti asuhan. Seseorang datang padaku, mengajakku bersalaman. Dia bilang Gabriel adalah namanya. Aku mengangguk dan tak banyak bertanya saat lelaki itu kemudian menyerahkan selembar kartu nama. Pada kertas itu kubaca, “KLUB ARISAN KESEDIHAN. Menghadirkan kembali tangis ke dalam hidupmu yang membosankan”.

Tiga hari setelah itu aku resmi menjadi anggota klub ini.

Selama dua belas bulan aku bergabung di klub ini, aku tak pernah lagi bertemu dengan Gabriel. Kontak terakhirku dengannya adalah ketika dia mengirimiku sebuah email berisi cara kerja Klub Arisan Kesedihan. Kata Gabriel melalui surat itu, aku hanya perlu datang ke komplek pemakaman tua di Jalan P. Di sana aku akan bertemu dengan sebelas anggota lain dari angkatan ketujuh klub yang dia buat ini. Setelah itu, kami diharuskan untuk menentukan tempat pertemuan selanjutnya dan melakukan pengundian pertama.

Gabriel tidak memberikan banyak detail tentang apa yang akan dia lakukan untuk mendatangkan kesedihan kepada si pemenang arisan di setiap bulannya. Dia hanya bilang bahwa ada sebuah tim rahasia. Dia dan timnya akan meneliti kehidupan setiap anggota klub secara diam-diam. Dari hasil penelitian itu mereka akan menentukan kesedihan seperti apa yang paling cocok bagi kami dan dengan cara apa kesedihan itu akan diberikan.

Sejak awal, Gabriel sudah menekankan bahwa tidak akan ada uang yang dipungut dari kami sedikit pun. Padahal kami semua setuju, jika memang harus, kami tidak akan keberatan untuk membayar sebanyak apapun itu. Asalkan kami bisa kembali merasakan kesedihan yang telah lama hilang dari kehidupan kami.

Sejak sebulan lalu aku sudah menuliskan lebih dari seratus kemungkinan kesedihan. Beberapa di antaranya: bangkrut, kanker, tertabrak motor lalu sebelah kaki diamputasi, rumah dibobol pencuri, terkena stroke. Aku benar-benar penasaran dan tak sabar. Apakah Gabriel benar-benar bisa menghadirkan kesedihan yang lain? Sesuatu yang tidak bisa kutebak? Untuk saat ini aku hanya bisa menunggu.

***

Aku mulai gelisah. Sudah berlalu tiga hari sedangkan kesedihan itu belum juga datang. Aku telah menghubungi anggota klub lain untuk meminta detail kesedihan yang mereka alami. Terutama perihal kapan kesedihan yang dijanjikan Gabriel itu tiba. Dari cerita mereka, kusimpulkan bahwa kesedihan itu selalu datang paling lambat tujuh hari setelah pengundian. Baiklah, mugkin aku yang terlalu tak sabar. Tak mungkin Gabriel mengingkari janjinya. Selama menunggu, aku akan melanjutkan “Daftar Kemungkinan Kesedihan” yang telah kubuat. Hanya itu yang membuatku tetap bersemangat.

***

Aku masih terus gelisah. Ini adalah hari kedelapan sedangkan kesedihan itu belum juga sampai. Kepalaku mulai dipenuhi oleh pikiran-pikiran buruk. Aku coba menghubungi Marline untuk menceritakan hal ini. Tetapi nomornya tidak bisa kuhubungi. Kucoba juga Steve dan Rina dan Nancy dan enam orang anggota klub lainnya dan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa kuhubungi.

Aku semakin gelisah.

Aku tak bisa tidur.

Hari kedelapan bahkan telah habis.

Kesedihan itu sungguh belum datang juga.

Pukul satu dini hari kukeluarkan mobil dari garasi. Sendiri kupacu mobilku ke Jalan P, ke tempat pertemuan pertama Klub Arisan Kesedihan. Tujuh kali aku bolak-balik, tak kutemukan pemakaman itu. Hanya ada rumah-rumah dan sekolah dan kantor dan toko oleh-oleh dan pos-pos ronda tapi tak ada pemakaman. Kutanyakan hal ini pada tiga orang lelaki yang sedang bermain kartu di salah satu pos ronda di mulut salah satu gang di Jalan P. Mereka menganggapku berhalusinasi. Tidak pernah ada pemakaman di sana. Tidak. Tidak pernah ada orang mati dan tidak pernah ada kesedihan di sana. Begitu katanya.

Lututku lemas seketika dan aku tak bisa berhenti gelisah. Kembali kupacu mobilku ke Jalan C, tempat aku terakhir kali bertemu Marline dan anggota klub lain.

Lega. Restoran itu benar-benar ada. Aku tidak gila.

Aku kemudian teringat sesuatu. Kukeluarkan telepon genggam dari saku. Layar-layar berganti tampilan dari home, ke galeri lalu ke folder kamera. Jempolku lesu. Marline tak ada di sana. Steve tak ada. Johan tak ada. Nancy tak ada. Lusi tak ada. Hanya ada aku.

***

Hari kesepuluh, aku kirimkan surat-surat ke alamat surel Gabriel. Surat-surat berisi pertanyaan dan tuntutan penjelasan atas jatah kesedihan yang tak juga didatangkan Gabriel kepadaku. Tetapi berapa kali pun kucoba, satu-satunya balasan untuk surat-suratku adalah pemberitahuan bahwa alamat yang kutuju tidak dapat ditemukan.

***

Hari kedua puluh satu, untuk ketiga kalinya aku kembali ke panti asuhan tempat Gabriel pertama kali mendatangiku. Tidak, panti asuhan itu tidak menghilang. Tetapi aku tidak bisa lagi mengingat kejadian itu. Aku tak bisa lagi mengingat wajah Gabriel atau pakaiannya atau di mana persisnya kami bertemu. Aku ingat dia memberiku sesuatu waktu itu tapi aku tak berhasil mengingat benda apakah itu. Sudah kucari di lemari, laci, tas, kamar mandi, saku semua baju dan saku semua celana. Tak kutemukan apa-apa. Aku hanya mengingat namanya. Gabriel. Dan janji yang hingga kini belum ia tepati: mendatangkan kesedihan.

***

Aku telah berhenti datang ke kantor. Semua gawaiku akhirnya mati setelah selama beberapa hari tak ada telepon yang kuangkat. Aku tak ingin berbicara dengan siapa-siapa kecuali lelaki itu. Rumahku akhirnya sepi, pintu selalu kukunci. Tak ada tamu yang kuterima. Aku tak ingin bertemu siapa-siapa.
Tak perlu waktu lama hingga akhirnya aku merasa muak tinggal di rumah. Aku pergi ke pantai. Terbang ke pulau. Aku lari ke gunung. Bersembunyi dalam hiruk pikuk kota-kota asing. Tapi aku tetap merasa hampa. Kegelisahan itu terus ada. Aku tak ingin berada di mana-mana.

Dadaku seolah diimpit sesuatu. Sakit. Aku merasa telah ditipu. Kesedihan itu seharusnya telah sampai padaku dua bulan lalu. Aku telah dikhianati.

Aku lumpuh. Tubuhku berhenti berfungsi. Ia tak lagi punya keinginan untuk hidup. Ia hanya menginginkan kesedihan. Dan ia tahu, betapa giat pun ia mencari, kesedihan itu tak akan pernah ia temukan.

Aku merasa putus asa.

Hingga akhirnya pada satu malam yang asin, angin membuat daun-daun kelapa menari dan pasir-pasir pantai hinggap di wajahku. Ada sesuatu pada mendekat-jauhnya air laut yang membuat mataku tak ingin pergi. Debur ombak hinggap di telingaku sebagai sebuah seruan. Undangan untuk pulang.
Asin air laut rupanya telah memanggil asin air mataku.

Untuk kali pertama dalam bertahun-tahun, aku akhirnya menangis. Pundakku berguncang dalam irama isakan yang merdu. Impit yang menyesakkan dadaku merangkak naik lalu berhambur dari liang mulut sebagai raung-raung panjang. Aku berbaring di atas empuk kasur pasir. Buih-buih ombak pasang-surut membelai tubuhku seperti lembut tangan ibu.

Pada saat itulah aku mulai berdoa. Aku meminta kepada langit agar ia memberikan apa yang aku butuhkan. Aku adukan padanya betapa lelah tubuhku mencari tanpa pernah menemukan apa-apa. Kukatakan bahwa dialah satu-satunya harapanku untuk mendapatkan apa yang kubutuhkan: sebuah kesedihan.

Beri aku kesedihan! Beri aku kesedihan, Tuhan!

Seseorang kemudian datang dengan langkah yang ringan. Seolah melayang. Ia duduk di sampingku, merangkul lalu merebahkan kepalaku di pangkuannya.

Kuamati mukanya dari balik mataku yang basah oleh tangis. Aku merasa aku mengenalinya. Lelaki itu. Dia adalah Gabriel.

Dari udara, ia memunguti doa-doaku dengan tangan kanan lalu dimasukkan ke sebuah sayatan bercahaya yang melintang di dahinya. Sepasang sayap muncul dari balik punggungnya.

Sesaat berikutnya ia terbang ke arah langit setelah berbisik padaku: telah kuterima bayaranmu, Sara.

 

Yoga Palwaguna,
Kawah Sastra Ciwidey

 

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya dan tips, buka menu Submit Karya & Tips.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *