Baca Karya FiksiCerpen

Cerpen – Wanita yang Mengalahkanmu – Kartina

Cerpen karya Kartina

“Fajar yang mana, yang akan kau pilih untuk kita nikmati bersama? Karena … tidak akan ada senja yang indah lagi seperti berabad-abad lalu ….”

“Yang mana pun itu, aku tetap suka, tetapi apakah senja berabad lalu benar-benar tidak akan kembali?”

“Apa yang kau cari dari warna merah kekuningan yang diselimuti biru itu? Indah tidak! Apalagi menghadirkan ketenangan.”

“Bukan senja yang membuat tenang, tetapi cara menikmatinya. Nyaman sekali.”

“Tidak mungkin! Itu tidak benar!” Dan aku masih tetap duduk menatapmu.

***

Aku semakin bisa menikmati cairan putih susu itu karena aku belajar cara mengeluarkannya dari kehampaan yang terus mendesak. Ada rasa-rasa di antaranya yang mendukung untuk cairan itu keluar. Seperti mendaki, aku terus berjalan ke atas karena rasa ingin tahu yang membeludak tentang sesuatu yang ada di ujungnya. Jauh dan tinggi semakin kudaki karena rasa-rasa itu.

Pada tahap pertama, aku telah siap dengan perlengkapan, perbekalan, dan peralatan mendaki. Aku membawa perlengkapan dan peralatan yang mendukung saat aku berjalan. Dengan sepatu aku bisa menikmati tanah yang basah bahkan tandus sekalipun tanpa melukai langsung kakiku. Di sepanjang jalan, aku melihat tanah kekuningan yang gersang akibat gerakan tektonik dan vulkanik membuat cahaya matahari semakin berguna. Aku susuri tanah itu dengan rasa-rasa ingin tahu tentang sesuatu di atasnya. Semakin kususuri semakin aku menemukan yang lain, ada perbukitan. Perbukitan yang memaksa aku untuk mendaki agar sampai ke atasnya. Perbukitan itu ditumbuhi banyak pohon dan tanaman lumut, segar sekali udaranya. Di perbukitan itu aku istirahat sejenak untuk menikmatinya, di bawah pepohonan yang ranting-ranting nakalnya dapat melukai kulitku. Dia bisa menyayat, menggores, bahkan tanpa sabar bisa mencabik permukaan kulitku, tapi aku sudah siap dengan pakaian yang mendukung. Maka aku duduk dan meneguk air mineral perbekalan. Sungguh … nikmat sekali ….

Setelah beristirahat cukup, aku tidak ingin langsung pergi meninggalkan perbukitan indah ini. Aku luangkan sejenak pikiran dan mencoba melangkah untuk melihat sekeliling. Maka mulailah aku berjalan di antara tanaman lumut yang sedikit membuat langkahku tertatih karena licinnya. Dari perbukitan ini aku bisa melihat tempat awal aku memulai perjalanan. Tempat itu di bawah, terlihat kecil di antara pepohonan dan rumah lainnya. Dan saat aku melihat ke sisi lainnya ada hutan belantara di sana. Aku sudah menduga karena hutan itu ada dalam peta dan ke sana lah aku akan berjalan. Masih sangat jauh karena aku harus menuruni perbukitan ini terlebih dahulu. Akhirnya aku memutar badan dan sungguh sangat terkejut karena pemandangan di belakangku adalah bukit kecil lagi. Aku terheran melihat bukit di atas bukit ini. Dengan rasa-rasa yang membeludak aku menuju ke atasnya. Di sana hanya ada tanah gersang yang ujungnya melingkar bukan lancip seperti segitiga. Unik sekali dan tanpa berpikir, aku pun menghirup udara sekitar.

Lama sudah aku menjelajah perbukitan dan bukit di atas perbukitan itu sampai suara alarm jam tanganku mengagetkan. Setelah mematikan dan sadar pada tujuanku ke perbukitan ini, aku pun meneruskan perjalanan. Mulai kuturuni sisi lain tempat aku menaiki perbukitan tadi dan kembali kudapati hal yang sama seperti di sisi lain perbukitan tadi, pemadangan tanah gersang ditimpa cahaya matahari. Dengan pemandangan itu aku telusuri jalanku dan tak lama kutemui padang ilalang dengan warna kekuningan dipadu coklat susu pada ujungnya. Tetap saja cahaya matahari membuatnya menjadi kuning langsat. Kutelusuri dan kusingkap setiap belaian mesranya dan semakin aku berjalan semakin kurasa dia juga menikmati kehadiranku karena tidak ada binatang apa pun yang keluar dari sisinya seolah terganggu akan kehadiranku. Aku merasai setiap belaian dari setiap pucuk yang melambai manja kepadaku. Dan langit semakin gagah dengan arogan keberadaannya.

Keluar dari padang ilalang manja itu aku menemui kubangan air yang tidak bening maupun kotor. Kubangan itu hanya selebar tempatnya dan saat aku menatap ke dalamnya sebagai cermin, aku melihat kedalamann kubangan itu tidak begitu jauh. Aku kembali tegak dan menikmati sekitarnya, sungguh sepi dan tiada mata manusia sepasang pun kudapati. Pada tahap ini lah aku langsung membuka pakaian yang menolongku dari serangan ranting-ranting nakal di sepanjang jalan ke kubangan ini tadi dan meninggalkan bagian dalamnya.

Kurasakan airnya dingin dan menyegarkan badanku di siang menuju sore yang panas ini. Aroma matahari yang melekat pada tubuhku hilang digantikan aroma air danau yang menyegarkan. Kuselami semakin, semakin, semakin, dan semakin dalam sampai kedua kakiku lelah bergerak menyelaminya. Akhirnya aku menepi, keluar dari kubangan itu, dan merentangkan tubuhku di siram cahaya matahari lagi. Terasa hangat, hangat, hangat, bahkan sangat hangat di tubuhku. Setelah puas berjemur, kutarik selendang tipis dari tas perlengkapan, dan membuka kotak makan yang telah kusiapkan. Pertama, tentu aku meneguk air minral dahulu baru menikmati makan siang yang terlalu sore untuk kusebut makan siang. Isinya dua helai roti tawar dengan selada, potongan tomat, timun, bawang bombay, daging cincang, dan keju yang kemudian kusiram dengan saus sambal serta mayones di sekitarnya. Sungguh nikmat sekali … kunikmati setiap gigitannya dan rasanya membuatku lupa akan perjalanan ini. Gigitan demi gigitan disambut dengan pemandangan sekeliling yang indah. Dari tempatku duduk, aku masih bisa melihat perbukitan dan bukit di atasnya dengan jelas diselimuti pepohonan, aku masih bisa melihat ilalang manja yang melambai, dan dalam hati aku ingin kembali lagi ke sana dengan rasa-rasa yang berbeda.

Senja kemudian turun perlahan dan aku melanjutkan perjalanan lagi. Aku kembali menyusuri jalan setapak yang sengaja dibuat untuk para pendaki seperti aku. Jejak tersebut segaris karena di setiap sisinya ada rumput-rumput rendah dengan tanaman biji-bijian yang tidak aku tau namanya. Sungguh indah semua pemandangan yang tersaji dan aku masih terus berjalan di antaranya. Senja indah sore itu mengiringi langkah kakiku mendaki tempat yang kutuju. Kupersiapkan kaki dan mentalku untuk melihat dan memenuhi rasa-rasa ingin tahu yang membeludak ini. Langkah-demi-langkah-demi-langkah-dan-setiap-langkah-aku-melangkah-di-antara-langkah-langkah-yang-kuciptakan.

Perjuangan, pertahanan, dan pertaruhan segalanya dibalas pemandangan yang sangat–sangat–sangat indah di sini. Dan aku memutuskan untuk menikmatinya dengan bermalam di sini.

***

“Tentu tiada lagi pernah ada rasa-rasa ingin tahuku tentang senja yang hilang dan fajar yang dipilih karena aku mulai suka hanya dengan memandangi tubuhmu.”

“Apa yang kau katakan?”

“Aku bertanya, apakah engkau tahu mengapa namamu Lena?”

“Ha … ha … ha … ha … itu hanya nama kecilku dan tentu orang tuaku yang tahu karena dia yang memberinya.”

“Baiklah Lena, aku ingin menjadi Dewamu” Dan fajar hilang di antara sinar-sinar percaya yang berganti diselimuti awan rendah.

 

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, esai, atau tips menulis. Untuk mengirim karya dan tips, buka menu Submit Karya & Tips.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *