Baca Karya & TipsCerpen

Cerpen – Permintaan Terakhir – Kartina

Cerpen karya Kartina.

“Kau tahu apa yang sedang aku pikirkan? Tentu tidak bukan?”

Itulah pertanyaan pertamaku, sebelum aku menulis. Pikirkanlah dalam dan semakin dalam pemikiranmu membuat sesuatu yang kau pikirkan hilang setelahnya.

Tentu tidak pernah ada manusia yang benar-benar bisa membaca pemikiran manusia lainnya. Jikalau ada, pasti meleset. Karena manusia lainnya akan menolak semua pendapat manusia yang satunya. Di sinilah peran bohong bekerja. Saat manusia yang satu mendeteksi kenyataan sesuai perilakunya, manusia yang lain menolak karena dianggap terlalu lemah perilakunya bisa disimpulkan. Jelas, bukan sebuah pemikiran yang dibaca manusia lainnya. Akan tetapi, perilaku yang mencerminkan pemikiran.

“Terlalu rumit? Tentu tidak!”

***

Dia pernah memintaku untuk hidup bersamanya dalam satu rumah. Tidak terlalu mewah, dia telah membeli sebuah apartemen mungil di lantai 50, di lorong ketiga, nomor 588 pusat kota ini. Dan isinya sesuai dengan yang aku keluhkan kepadanya. Semua disusun sesuai impianku. Sampai, aku merasa hidup dalam imajinasinya.

Ruangan itu hangat, dia meletakkan ranjang tidur di tengah ruangan dan menghadapkannya ke jendela kaca besar. Aku selalu menyukai jendela. Karena aku bisa menghirup udara di sampingnya dan membuat aku bisa menatap keluar dengan leluasa. Di luar, ada kemacetan di tengah panas saat siang. Ada kerlap-kerlip lampu dalam sunyi yang dingin. Lalu pandanganku hanya mencari satu titik pisah antara langit dan bumi. Di ujungnya, aku melihat atas dan bawah dari pertengahan. Ditambah tirai biru muda yang tipis, aku setia menunggunya pulang dan menyapaku. Di sisi kanan ranjang itu, ada dua kursi santai yang saling berhadapan, dengan dipisahkan meja rendah. Di atasnya terletak vas bunga berwarna biru muda yang berisi seikat bunga mawar putih. Di sanalah, aku menanti Dewa dalam tulisan.

Ruangan itu dikelilingi jendela kaca besar, tidak berbeda dengan kamar mandi. Meskipun sederhana, lantai kamar mandi itu terbuat dari marmer kasar layaknya kolam renang di tengah hutan, di dalamnya terdapat cermin hias lengkap dengan segala kebutuhan mandi dan berdandan.

Kumasuki lebih dalam ruang itu. Benar. Sekitar lima langkah, aku dapat melihat lemari dinding besar berkayu jati, bercorak bunga mawar, dan berisi kebutuhan wanita. Di rak paling bawah, aku temui jajaran sepatu yang begitu rapi, naik sedikit, aku menemui gaun-gaun berbagai warna dengan model terbaru dan semuanya lengan panjang. Kembali aku berdiri tegak dan menghadap ke kanan, aku melihat koleksi tas berbagai merk terduduk manis di sana.

Belum selesai dengan keterkejutanku, dia memelukku dengan erat dari belakang dan memperlihatkan padaku laci mungil yang terselip di antara gantungan baju hangat. Laci itu ditariknya sampai memperlihatkan isi di dalamnya. Sungguh. Aku begitu terkejut melihat cahaya gemerlapan ditimpa sinar lampu kamar mandi yang temaran layaknya lampu taman. Tangan kirinya tidak lepas sedikitpun dari tubuhku. Sepertinya dia mengerti bahwa aku tidak akan sanggup berdiri menatap semua kemegahan itu. Dengan gugup, gemetar, dan hampir terjatuh, aku berbalik dari keterkejutanku dan mencium bibirnya. Aku tenggelam dalam pelukannya. Tanpa menunggu, dia mengangkat tubuhku yang lemas ke ranjang putih beraroma mawar.

“Apa semua ini milikku?”

“Apa yang harus aku jawab untukmu? Semua ini ditambah dengan seratus persen saham kota Bandung tidak akan pernah cukup untuk membayar apa yang telah kau berikan padaku. Aku hanya berusaha membuatmu tersenyum”.

“Terima kasih. Lalu apa yang kau minta dariku?” sedikitpun aku tidak beranjak dari dada bidangnya. Di sanalah biasa kunikmati hubungan dengan uang itu.

“Kau menganggap aku membeli dirimu? Aku tidak minta apa pun”. Dia menarik tubuhku lebih rapat dan aku merasa ada gairah di sana.

“Tapi!! Ini semua terlalu mahal untuk diberi cuma-cuma. Lagian, aku tidak menerima pemberian yang bukan hasil keringatku sendiri”.

“Aku pengusaha dan kau tahu betapa pelitnya seorang pengusaha yang sedang merintis kariernya. Tapi, aku tidak pernah menganggap hubungan kita adalah bisnis, meskipun awalnya memang iya. Aku tidak berniat membelimu dan meminta kau membayar semua ini. Tidak. Aku hanya ingin kau diam dan hanya menungguku di sini”.

Seketika aku bangkit dan menghujam matanya. Dia ingin aku diam. Diam dalam arti wanita belian, seperti gundik. Hidup dalam ketakutan meskipun mewah dan bisa membeli keinginan. Diam berarti menunggu dan keluar dari dunia yang membesarkan aku. Yang mengajarkan aku mengais serupiah demi serupiah dengan keringat di siang bahkan malam hari, yang membuat aku mengerti lelaki hidung belang yang bajingan, yang membuat aku sadar bahwa lenguhan di samping kamarku dulu adalah wujud kepuasan, dan yang sampai sekarang membuatku hidup dengan tarif mahal dan dicari banyak lelaki. Dia menyuruhku diam. Jelas itu tidak mungkin. Aku ingin seperti gadis Jepara, atau Siti Soendari, atau Ang Sai Mei, atau Kartini. Aku tidak ingin seperti babu belian yang bisa diperintahkan dengan uang.

“Aku tahu pemikiranmu. Kau pasti tidak setuju. Aku tidak memaksa, kau tak perlu menjawab iya dan menjadi merah seperti api. Lena, sayang…. Aku ingin bisnis ini berakhir indah bukan hanya diranjang, tetapi dalam hidup yang kau impikan. Dan aku mewujudkan impianmu”.

Dia tak enggan sedikitpun untuk menyentuhku lagi. Bahkan tidak ada raut bersalah sedikit pun di wajahnya. Dia hanya tersenyum dan memelukku dan lagi malam itu. Kemudian, aku larut dalam manisnya cucuran putih susu dari ujung kehidupannya.

Bersama hujan di luar sana, pikiranku kembali kacau mendengar kepuasan bumi. Dalam jeritan-jeritannya aku mengingat kejadian lalu, ketakutanku pada hidup yang aku bayangkan sendiri, ketidaksiapanku berubah dari wanita yang dihargai mahal menjadi wanita yang disegani kalangan gurita bisnis, dan keraguanku pada hubungan ini yang akan menjadikan aku sah milik pribadi. Hal yang aku harapkan sejak kecil sebelum mengerti dunia-dunia fantasi lelaki.

***

Dalam kerumitan pikir ketika menuangkan cerita, aku tersentak dengan bunyi pesan masuk dari ponsel pintarku.

“Kamar 752. Pukul 20.35 WIB. Dengan gaun merah legam dan secangkir anggur. Jangan terlambat”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *