Baca Karya FiksiCerpen

Cerpen – Hujan di Belantara Cinta – Kartina

Cerpen karya Kartina.

Cairan putih susu itu muncul di ujung kehidupannya. Cairan berlendir yang mengingatkan aku pada sebuah janji terucap dulu itu.

Setelah ini, aku akan menikahimu, secepat yang aku bisa”. Perkataan itu selalu terngiang di otakku.

“Apakah dia tidak berpikir untuk kenikmatan ini? Apakah dia tidak ingin membayar untuk kesuksesanku menjadikannya lelaki sejati? Lalu, apakah yang harus aku jawab?” Kemudian aku hanya diam.

Tertegun menyaksikan peluh yang bertabur di antara wajah dan seluruh tubuhnya. Dia selalu menikmati ini. Detik demi detik dirasakannya penuh cinta tanpa setetes kebencian. Aku tidak pernah mengerti. Sudah berulang kali, ya. Aku tidak pernah mengerti dan tetap tak bisa merasakan fantasinya. Jutaan bayangan yang menghiasi langit, ribuan lampu bergemerlapan, jeritan buas dari para pelayan, dan raungan takut ataupun kenikmatan dari para pelanggan. Semua itu kudengar dalam satu tarikan nafas. Entah bagaimana cara dia melakukannya. Jelas aku tidak pernah mengerti.

Cairan itu kembali keluar. Dia seolah tidak ingin lagi berada di dalam kehampaan sang empunya. Ataukah, dia kesepian?

Nafasnya terengah, hampir terputus, dan tidak terdengar. Tubuhnya lunglai tidak lagi berdaya. Aku melihat ada raut ketakutan di sudut matanya. Namun, dia pandai menutupi keadaan. Pancaran senyum selalu dibuangnya melalui celah tipis bibir indah itu. Tidak lama, aku mencari kehidupanku sendiri. Kehidupan yang baru beberapa hari ini kutemukan di tumpukan nyawanya. Ku sulut sebatang dan ku hisap dalam-dalam. Aku merasa tenang sejenak. Tubuhku mendapatkan apa yang ia inginkan. Kekuatan.

Aku rindu pada jiwaku di depan pelukan sang Dewa. Dia selalu mengerti aku bukan seperti sang empunya ini. Dewa seolah yakin setiap kali hendak menggahiku. Dia tersenyum pantas sambil membawa sebongkah permata di hadapanku. Aku sudah pasti tersenyum. Dia selalu datang tidak terduga. Tidak pernah tertinggal pesananku, sebuah kehangatan berbalut kemesaraan.

Kali ini sama, dia memelukku dari belakang dengan kecupan di pipi kanan. Selalu kanan, seperti tidak ada tempat lain yang ingin dicobanya. Dia datang tidak dengan nafsu. Bukan pula hasrat. Tetapi kedamaian…. Maka, aku sebut dia Dewa. Sang pemilik jiwa.

***

Di luar, hujan belum selesai. Sang hujan masih ingin bercumbu dengan bumi. Dingin yang dirasakan penghuni bumi tidak berarti apapun bagi kemesraan mereka. Dia datang hanya beberapa hari sekali di luar musim hujan. Namun kini, dia datang hampir setiap hari. Dia gagah sekali mencumbu sang bumi. Nafasnya tidak pernah tersengal-sengal, selalu saja hebat dalam berbagai permainan. Aku sebagai tokoh utama serba tahu tidak pernah ingin mengerti jurus apa yang digunakan hujan untuk menyenangkan sang bumi. Yang aku lihat, sang bumi selalu merasa terpuaskan, jika hujan datang. Dan aku hanya turut bahagia.

Malam semakin larut ketika hujan telah sepuluh kali menyemburkan cairan itu pada tubuh sang bumi. Sang bumi pun tidak berontak meski tubuhnya telah lelah. Semua bagian telah basah bahkan lorong di bawah sudut yang terlipat pun telah becek dengan bau tidak sedap. Bumi masih siap untuk beberapa adegan panas yang mampu membahagiakan hujan. Kerapkali hujan di atas memimpin permainan. Dia tidak pernah ingin kalah meskipun sekedar menyenangkan bumi. Mereka selalu punya cerita di tengah kegiatan itu. Ketika badai menerpa, tandanya titik kepuasan hujan hampir tercapai hingga halilintar menghantam. Dia bahagia. Sekujur tubuh itu rebah. Sang bumi dengan sabar meminta udara menyapu beberapa bagian yang sudah tidak biasa.

Dingin masih terus menusuk tulangku. Tanpa sehelai benang, aku masih tergeletak manis di antara tubuh yang kelelahan ini. Malam ini bersama hujan yang sedang menggagahi bumi, aku menikmati sentuhan yang telah lama kurindukan. Sudah beberapa bulan ini, Dewa tidak menemuiku. Aku bahkan tidak juga mencoba mencarinya. Kami tidak pernah berusaha untuk menunjukkan bahwa kami saling membutuhkan satu sama lain. Ya, gengsi yang begitu tinggi. Pekerjaan yang berbeda membuat kami punya kesibukan yang sulit untuk disatukan. Selalu tidak pernah ada waktu untuk bercanda, meskipun hanya sepuluh menit.

***

Dengan penuh cinta, aku merasa dia berbeda karena hormon bahagiaku lebih besar dari emosi membuat pikiranku tentang dia adalah yang baik-baik saja. Senduku menanti di depan tirai, di antara sayup-sayup tangisan anak entah dari mana asalnya. Aku pun bangkit dari mimpi semalam yang membuat aku lebih dari seorang wanita di hadapan pria-pria. Dengan sesak aku meraih agenda dan membaliknya. Kutemukan secarik janji di sana….

“Lena? Bermimpikah engkau semalam? Adakah aku di sana? Di dalam mimpimu? Aku melihat engkau manis seperti biasa bahkan lebih manis dari rindu. Lena, janganlah engkau pandangi hujan yang hampa dan menceritakannya pada manusia tiada guna”.

“Lena sayang, berhentilah menulis cerita yang tidak masuk akal. Semua orang hanya pura-pura, bahwa mereka mengerti apa yang kau tulis. Lena, keluarlah dari mimpi-mimpi yang kau bangun tentang dosa dan pendosa. Mereka tidak pernah ada, itu hanya buatan orang bodoh yang merasa kalah dalam hidup”.

Lena sayangku, kau tidak seperti wanita pada umunya yang dibangun dengan budaya.

 

 

Tulis.me dengan senang hati menerima karyamu untuk dimuat di sini. Karya dapat berupa cerpen, puisi, atau esai. Untuk mengirim karya, buka menu Submit Karya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *